Laman


Kamis, 14 Maret 2013

Physicfighter10 goes to Dieng !

Indonesia tanah air beta !
Halo semuanyaaaa.. di tengah-tengah keroyokan tugas kuliah di semester 6 yang menyibukkan ini  entah kenapa rasanya tiba-tiba saya ingin menulis, mungkin sebagai pelarian, atau hiburan juga barangkali. Karena saya hanya sedang ingin menulis, maka saya akan menulis apa saja yang bisa ditulis. Menulis apa yaaaaa.... #berpikir
Hmmmm... rasanya sudah cukup lama juga saya vakum dari dunia keblogspotan dengan tulisan yang bergenre jalan-jalan.  Jadi kali ini mungkin saya akan menulis tentang perjalanan saya bersama teman-teman Lepo Mania ke Dieng beberapa waktu yang lalu. Jalan-jalan men !
Pada kenal gak sih sama yang namanya Lepo Mania? Lepo mania itu isinya adalah anak-anak Physicfighter10 yang suka jalan-jalan ngalor ngidul kemana-mana. Lha Physicfighter 10 itu apa? Physicfighter 10 adalah komunitas yang berisi kumpulan mahasiswa yang  sejak tahun 2010 dipersatukan pada jurusan kuliah yang sama di FMIPA Universitas Negeri Yogyakarta, yaitu jurusan pendidikan Fisika. Tidak perduli perkara masuk jurusan fisika itu adalah karena nyasar, salah klik waktu mendaftar online SNMPTN,  salah jurusan, unsur keterpaksaan, keinginan luhur dari hati,  atau apalah yang  lainnya, yang jelas selama ini Physicfigter10 menuntut ilmu dibawah atap yang sama untuk bersama-sama mempersiapkan diri menjadi pendidik bangsa Indonesia di masa depan. #tsaaaaahhh.. haha
Terlahir sebagai cicit-cicit yang hampir setiap harinya harus dipusingkan dengan warisan rumus-rumus besar karya mbah Albert Einstein dan kawan-kawan,  mungkin menjadi salah satu faktor yang membuat anak-anak di komunitas ini senang sekali mencari hiburan atau refreshing untuk sejenak melepaskan diri dari yang namanya matfis, kuantum dan lain-lain sejenisnya, salah satu bentuknya adalah melalui jalan-jalan. Karena itulah, setiap kali ada kesempatan, para Lepo mania ini sering sekali mengadakan acara mengukur jalan dengan naik motor ke berbagai wilayah di sekitar Yogyakarta, diantaranya Temanggung, Gunung Kidul, Tawangmangu, Magetan, Kebumen, Kulonprogo, Purworejo, dan yang terakhir ini adalah ke Dieng. Konsep yang diusung selama perjalanan ini adalah Touring, jadi ya kemana-mananya naik motor saja, kalau bensinnya habis ya ngisi sama-sama, kalo ban motornya ada yang gembos ya cari tukang tambal sama-sama, kalo ada yang nyasar ditengah-tengah perjalanan ya yang nyasar harus kreatif menemukan jalan untuk kembali ke rombongan dan yang lainnya harus mengarahkan agar yang nyasar bisa segera kembali kejalan yang benar, kalo pada gak tau jalan semuanya ya harus cari jalan sama-sama. Faktanya, touring-touring jauh yang selama ini kami lakukan justru  ternyata seringkali tidak seorangpun dari kami tahu arah tepatnyanya, jadi ya hanya mengandalkan papan petunjuk jalan saja. Berikut ini adalah foto touring kami di beberapa tempat.
 
 







Nah untuk yang kali ini saya akan menceritakan touring ke Diengnya saja, yang lainnya biar foto saja yang menceritakan, heheheee. Pergi ke Dieng adalah salah satu kalimat yang tertera dalam list Things to do before I die yang saya punya, tempat ini sudah cukup lama menawan hati saya, Alhamdulillah sudah terlaksana, meskipun dalam list itu sebenarnya saya menuliskan pergi ke Dieng pada bulan Juli 2012, baru bisa terlaksana di bulan januari 2013 yang lalu, hehe. ya tidak apa-apa, yang penting sudah kesampaian :p
Garis start kami dimulai dari Dekanat selatan FMIPA UNY di pagi hari selasa 15 Januari 2013. Ada 15 anak yang akan ikut touring kali ini. Perjalanan pun dimulai ! Rencananya, kami akan menginap di rumah Deni, di daerah Kaliwiro Wonosobo, baru besok paginya berangkat ke Dieng. Sebelum sampai di rumah Deni kami mampir dulu ke rumah Heru di Kulonprogo dan rumah Jojo di Purworejo, kebetulan Jojo sedang mengadakan acara syukuran pelengserannya sebagai ketua Hima (Lho kok disukurke ? hehe :p ) pokokmen dalam rangka mengakhiri masa jabatannya di Hima mungkin.  Siang harinya kami langsung cuuus melanjutkan perjalanan ke rumahnya Deni, lewat waduk wadas lintang, teruuuuus aja ngikutin jalan yang berkelok-kelok dan bikin pusing, ditambah hujan yang sekali sekali menghadang kami di tengah jalan. Lucunya, mbak Deni sang pemilik rumah justru tidak bersama kami, karena tadi paginya masih ada keperluan di jogja, diapun memutuskan untuk menyusul dan tidak berangkat ke rumahnya bersama kami. Jadi, mau tidak mau kami harus mencari-cari sendiri dimana rumahnya.
Sore harinya kami tiba di rumah Deni, keluarganya menyambut kami dengan sangat hangat. Hehe, padahal kami sudah bikin ricuh banget, bayangin aja men 15 orang tumplek blek disitu. Sore berganti malam dan malampun berganti pagi. Perjalanan pun dilanjutkan ! Dieeeeenggg... can’t wait to see you.... !
Dieng masih sekitar 3 jam dari rumah Deni, motor kami pun melaju menuju kota Wonosobo, dan terus menuju ke daerah pegunungan, sampailah kami memasuki kawasan lembah Dieng. Subhanallaaahh.. indahnyaaaa... rasanya seperti berada di negeri indah di atas awan, motor kami terus melaju perlahan di jalan yang berkelok-kelok dan mendaki, dengan pemandangan hijau yang menyejukkan di kiri kanan jalan, disambut indahnya persawahan, perkebunan carica, wortel, kubis, dan lain-lain. Saat itu sedang gerimis, jadi kami harus ekstra hati-hati dan tetap konsentrasi dalam mengemudikan kendaraan, karena selain licin, banyak jurang juga di sisi kiri dan kanan jalan.
Sampailah kami di Kawah Sikidang. Kawah Sikidang adalah sebuah Kawah yang airnya selalu mendidih dan menyemburkan gas yang beraroma  belerang. Disebut Sikidang karena semburannya selalu berpindah-pindah tempat, seolah melompat-lompat seperti Kijang yang sedang berlari. Kawah Sikidang tidak berada di puncak gunung, melainkan di daratan yang menyerupai sebuah sumur, sehingga wisatawan dapat menyaksikan aktifitas kawah ini dari jarak yang cukup dekat,bahkan sampai di bibir kawah. Karena kawah ini menyemburkan gas yang beraroma belerang, otomatis tempat ini penuh dengan aroma belerang, dan kata orang-orang, di tempat ini wisatawan dilarang mengucapkan kata “bau”, Ooopps keceplosan ya.. :p




 Setelah itu, kami ke Telaga Warna yang jaraknya tidak begitu jauh dari Kawah Sikidang, jarak antar tempat wisata di tempat ini memang bisa dikatakan saling berdekatan. Telaga warna adalah sebuah telaga yang sering memunculkan nuansa warna merah, hijau, biru, putih, dan lembayung, namun warna-warna tersebut akan lebih jelas terlihat jika kita melihatnya dari tempat yang lebih tinggi, waktu itu kami tidak sempat naik ke tempat tinggi tersebut, jadi kami menikmati keindahannya dari sisi telaga saja. Selain telaga warna, disana juga ada goa semar, goa jaran, dan goa apa lagi yaa.. saya lupa.. 


Nah setelah itu, Lepo mania ini melaju lagi ke Candi Gatotkaca. Melihat Candi dengan background lembah dan pegunungan yang serba hijau seperti ini rasanya sesuatu banget deh pokoknya, Tuhan memang hebat sekali melukis alam ini..



Pukul 12 siang harinya kami memutuskan untuk pulang, supaya tidak kemalaman sesampainya nanti di Jogja. Sebelum benar-benar meninggalkan Wonosobo, kami mampir dulu ke toko oleh-oleh untuk membeli manisan Carica dan makan mie ongklok, makanan khas dari Dieng, hmmmm... nyammiii...
Rute perjalanan pulang yang kami tempuh tidak sama seperti rute perjalanan yang kami lewati kemarin, kali ini kami melewati rute yang lebih pendek untuk sampai ke Jogja. Hujan rupa-rupanya masih setia menemani perjalanan pulang kami, tapi tidak mengapa, kehujanan bersama kawan-kawan dengan suasana kebersamaan seperti ini rasanya malah lebih hangat. Kami tiba di Purworejo di rumah Ryan pada pukul 5, pukul 7 nya kami kembali melewati Kulonprogo dan sampailah kami kembali di kota Jogja sekitar jam setengah 9 malam. Alhamdulillaaah..
Indonesia tanah air beta !
Nah begitulah cerita saya kali ini, barangkali juga bisa dianggap sebagai ajang ngiming-ngimingi buat temen2  yang belum pernah ke Dieng supaya segera pergi ke Dieng, hihiii.. kesana deh, nikmatin indahnya Indonesia, indahnya ciptaan Tuhan, dijamin gak bakalan nyesel. What a beautiful place !

Jogja, 15 Maret 2013