Laman


Jumat, 18 April 2014

SENJA KESEKIAN



Wanita itu masih asyik mengarahkan pandangannya kearah barat, menatap anggunnya warna senja lekat-lekat sambil mengayun-ayunkan kakinya ringan. Duduk diteras lantai dua di sore hari begini menjadi salah satu hal favorit yang dia lakukan semenjak tinggal di kota ini.

Ada hal yang sedikit janggal sebenarnya. Kenapa tidak dari dulu saja ia menjadi pecinta senja? Bukankan senja sudah ribuan kali menyapanya bahkan  sebelum ia berada di kota ini? Sederhana saja jawabannya.  Tempat tinggalnya saat ini memungkinkannya untuk melihat langit senja secara lebih leluasa. Beda halnya dengan dulu, memiliki rumah dengan satu lantai tidak memungkinkan pandangannya untuk melampaui atap-atap rumah tetangga ataupun pepohonan demi mengantar matahari pulang. Dulu, pamitnya matahari tidak semesra, sehangat, dan seindah ini.  Jadi ini hanya perkara ketinggian  tempat ia berpijak. Alasan ini bahkan tidak filosofis sama sekali bukan? Syukurnya cukup logis.

Ia mengambil sebuah buku dan pena yang sejak tadi tergeletak disampingnya. Ia tutup matanya sejenak seperti sedang berusaha mencari-cari sesuatu untuk diundang kedalam permainan jemarinya sesaat lagi. Perlahan, ujung pena itu mulai menyentuh permukaan kertas untuk sesuatu yang butuh ia tuliskan.


Hai kamu, ini senja kesekian yang saya nikmati setelah saya dan kamu memutuskan untuk membuat rute baru yang tidak lagi sama, rute baru yang mengharuskan kita untuk berjalan sendiri-sendiri dengan istilah “aku dan kamu” yang tidak lagi bisa disebut dengan “kita”. Bagaimana rasanya? Apa kabar kamu sekarang? Saya yakin kamu baik-baik saja disana, jauh lebih baik daripada saya. 
Kamu sehat saja bukan? Masih sering makan mie tengah malam saat kelaparan? Masih malas mencuci tangan sebelum makan? Adakah yang protes marah saat kebiasaan burukmu ini kamu ulang lagi untuk kesekian kalinya?
Ohya, jangan lupa untuk mencabut beberapa helai rambut putihmu yang tumbuh terlalu dini itu. Mereka butuh dienyahkan setiap bulan sekali. Kalau tidak, kamu bisa jadi akan terlihat sebagai seorang kakung berwajah muda diantara teman-temanmu. Don’t be so stress, stressmu itu bisa membuat zat penghitam rambut dari dalam tubuhmu bekerja tidak maksimal, akibatnya ada beberapa helai yang tidak ikut terhitamkan, bukan begitu? :D Iya iya, saya tahu sifat cuekmu tidak akan membuat hal semacam itu menjadi masalah yang berarti bagi kamu. 


            Jemari itu berhenti menari sejenak, matanya kembali mengarah ke arah barat mencari-cari bola raksasa, semburat merahnya dilangit seolah-olah menjadi layar pemutar masa lalu yang sedang ia ingat-ingat. Ia tersenyum sejenak.



Tapi toh demikian, saya tidak keberatan memberi nama sepasang boneka kertas dikamar saya dengan nama Uti dan Kakung, seolah rela menua bersama kamu walau harus diusia ini. 


Ia tertawa kecil mengingat apa yang pernah terlewati. Namun kemudian terdiam sejenak, air mukanya berubah perlahan, ingatan lain tiba-tiba memutar lengkung senyumnya hampir seratus delapan puluh derajat.
                “Kenapa tidak dicopot saja nama itu? untuk apa masih membiarkannya terpajang di kamarmu seperti ini?” seorang sahabat pernah memarahinya suatu hari.
               “Itu tidak ada artinya. Jangan menjudge sesuatu hanya karena sesuatu tampak diluar.” jawabnya.
               “Apalagi? Wallpaper Hpmu yang memasang wajahnya yang tidak pernah kamu ganti? Fotonya yang masih berjejer rapi di galeri HPmu, lalu.. nama kontak yang masih bertuliskan nama panggilan sayangmu buat dia itu juga belum kamu ganti. Apalagi? Ada lagi hal-hal lain yang tanpa kamu sadari memblok jalanmu sendiri untuk melupakannya?”  
               Saat itu ingin ia membela diri karena tak terima, tapi hanya bisa diam karena tak tahu harus berkata apa, tidak satu katapun yang bisa terangkai dari mulutnya untuk menjadi pembela.
              “Kamu tidak bergerak, bahkan satu inci pun tidak.” Ia menelan ludah pahit kala teringat kalimat itu.


Seorang sahabat pernah memarahi saya, katanya saya harus melepas nama kita di boneka itu. Kenapa harus begitu? kenapa saya harus sesegera mungkin melupakan kamu? Saya tidak pernah memaksa diri saya untuk jatuh cinta sama kamu, lalu kenapa untuk melupakan kamu harus  memaksakan diri? Bukankah sudah ada rentang waktu tertentu yang menjadi  plot dari setiap adegan yang kita alami, tanpa harus dipaksa lebih cepat datangnya.


 Setitik air matanya jatuh diatas kertas. Ia tahu, logikanya lumpuh saat ia menuliskan kalimat penenang itu. Logika yang mengerti bahwa melupakan masa lalu sesegera mungkin adalah sebuah keharusan jika memang masa lalu itu nyatanya menjadi penghalang bagi masa depannya. 
         Kalau saja di hari terakhir kita bertemu itu ada sergahan kata ‘jangan pergi’ yang kamu tindakan dengan tepat, saya pastikan saya akan menghambur kembali dan tidak akan pergi.
Tapi untuk apa? Untuk apa jika pada akhirnya mungkin akan berpisah kembali? Ia bertanya pada dirinya sendiri didalam hati sambil menatap matahari seolah berharap akan menemukan jawaban disana. Matahari semakin mendekat dengan kaki langit, cepat-cepat bersembunyi dibalik arakan awan seakan malu karena tak bisa memberi jawaban atas pertanyaan yang terpancar dari mata sang gadis yang setiap sore setia mengantarnya pulang itu. Pertanyaan yang sama, disetiap sore sejak beberapa bulan terakhir, getir memang. 
            
           Saya benci adegan yang harus kita mainkan saat ini...

Gadis itu tak pandai memaksakan diri untuk bermain dalam adegan yang telah menanti untuk ia mainkan di bagian berikutnya. Sekalipun mengamini datangnya adegan kebebasan dari penjara yang ia cinta sekaligus ia rutuk itu, ia tetap tak kuasa memaksa adegan itu datang lebih awal jika memang belum tiba saatnya. Persis seperti tak kuasanya ia memaksa matahari untuk secepatnya berada pada altitude kurang dari 10 derajat dari kaki langit barat ketika ia baru saja mengucap selamat pagi kepada dunia.
Langit mulai berganti warna, menggusur cahaya senja hingga tak lagi mampu meneranginya menulis, tulisan yang tak akan terbaca oleh seseorang disana. Tulisan itu hanya akan menjadi penanda, jejak atas penyesuaian perasaannya yang lama-kelamaan akan mampu sejajar merdeka dengan logika, jejak atas adegan demi adegan yang tak lagi menanti dimainkan karena pada akhirnya berhasil ia mainkan tanpa terpaksa.
 Ia tutup bukunya, sembari beranjak pergi sebelum siluet tubuhnya benar-benar hilang ditelan gelap. Tulisan tangan itu akan selesai sempurna ketika ia tidak punya apa-apa lagi untuk dituliskan, untuk dikenangkan. Saat itu, adegan kebebasan itu barangkali telah dimulai, meski entah pada hitungan senja yang keberapa.


Yogyakarta, 10 April 2014

NB: Belum tentu yang saya tulis itu aku, belum tentu yang saya tulis itu kamu.

Selasa, 18 Maret 2014

ANDAI KAMU GADIS KOTA INI

Nada telepon itu berdering kembali, aku sudah tahu ini akan terjadi sejak  beberapa menit yang lalu ketika kupencet tombol merah untuk mengakhiri pembicaraan kita yang sebenarnya masih menggantung itu. Aku tahu kamu benci mengakhiri pembicaraan dengan cara semacam ini. Kalau boleh aku menebak, kamu pasti marah-marah diujung sana, atau bahkan mungkin menangis dibawah bantal. Maaf harus membuatmu seperti ini lagi.

Kubiarkan nada panggil itu menggema didalam ruangan yang seolah tak berpenghuni hingga akhirnya tak terdengar lagi. Stok sabarmu kali ini moga-moga sudah habis dan tak tersisa lagi untukku, hingga akhirnya amarah yang tak tersalurkan itu mengakhiri emosimu dalam diam yang lama-kelamaan mengendap menjadi benci. Tinggalkan aku dan bencilah aku sesuka hatimu. Ini memang keanehan, tapi sungguh hanya keanehan inilah yang sanggup diterjemahkan oleh hatiku saat ini tanpa aku sendiri mengerti kenapa bisa seperti ini. Bukan aku membencimu, bukan aku tak sayang padamu, bukan aku tak suka setiap jengkal langkahmu, bukan aku ingin membungkam tawamu saat berada disisiku.

Ijinkan aku memperbincangkan kita dan kota ini. Aku lahir di kota ini. Aku mencintai kota ini seperti kamu mencintai kota ini sepenuh hatimu, seolah ragamu terlahir di kota ini sama sepertiku. Namun aku tahu bahwa kota ini hanyalah persinggahan bagimu,  cepat atau lambat kamu pasti akan kembali untuk mereka yang juga kamu cinta disana. Sekalipun berada disini membuatmu nyaman sehangat berselimut dalam hujan, kamu harus bangun dan mengambil payung berjalan dibawah hujan untuk mereka yang sedang menunggumu pulang. 

“Aku ingin tinggal disini” bukan sekali dua kamu ucapkan kalimat ini. Terkadang kalimat itu terucap  pasti dengan senyuman, kamu cinta kota ini bahkan sebelum kamu memulai 4 tahunmu disini, entah bagaimana bisa, begitu katamu. Di lain waktu, kalimat itu terucap ragu dengan tatapan kosong dari matamu. “Pulang” menjadi konsep yang kamu inginkan sekaligus kamu takutkan. Siapa yang bisa menerjemahkan seperti apa rasanya menikmati sensasi menyelami indahnya lautan namun masih merasa ngeri saat menyadari kamu berada semakin jauh dari alam nyatamu diatas sana? Seperti itulah yang barangkali kamu rasakan. 

        “Bukannya selama ini kamu bilang kita harus yakin dan pasti akan temukan jalan?” getir dan retorikal kamu bertanya seolah meminta pertangggungjawaban atas apa yang pernah aku yakinkan. Barangkali saat itu aku salah, aku tutup mataku sendiri saat sebuah akhir telah tampak dipelupuk mataku bahkan sebelum sebuah awal benar-benar kita mulai.

“Atau jangan-jangan kamu memang membenciku? Kamu benar-benar membenciku?” setengah terisak kamu bertanya. Tidak, sungguh. Bagaimana bisa kamu berpikir aku sebenci itu padamu saat aku rela habiskan sebagian waktuku untuk kamu selama ini, untuk percakapan diujung telepon tengah malam hingga pagi yang dulu rela kita alami.

“Kamu takut pada jarak? ” pertanyaan ketigamu laksana serangan bertubi-tubi sebelum aku sempat menjawab pertanyaan pertama dan keduamu. Sabar, biarkan aku menjawabnya. Barangkali kali ini kamu benar, aku gentar terhadap ribuan kilometer yang nanti harus membentang diantara kita saat kuyakini bahwa kebersamaan adalah harga mati.

“Kita akan temukan jalan, kan?” lanjutmu lagi. Hey, sesungguh itukah kamu mau bertahan disini? Kali ini ijinkan aku untuk sedikit sok tahu, mimpimu masih panjang dan banyak yang harus kamu lakukan untuk mereka yang kamu cinta disana, bukan begitu? aku tidak yakin benarkah aku adalah alasan yang tepat bagimu untuk tetap tinggal. Kalimat ini lagi-lagi terhenti ditenggorokan, tercekat tanpa sempat menjelma sebagai kata-kata yang seharusnya sampai diindra dengarmu. Biarlah, toh sekalipun kukatakan demikian, barangkali dimatamu aku tetaplah tampak sebagai makhluk egois yang tidak mau menunggumu menyelesaikan mimpi-mimpi dan segala hal yang ingin kamu wujudkan.

“Bekas lukamu itu... bekas lukamu itulah yang mengingatkanmu akan sakitnya kehilangan dan lantas membuatmu enggan meneruskan. Aku adalah ketidakpastian yang nyata bagimu. Menemukan celah untuk berhenti sebelum semuanya penuh dengan keterlanjuran adalah kebenaran tertinggimu saat ini” pelan kamu lantas menyimpulkan sendiri setelah segelontor pertanyaan-pertanyaanmu itu tak mendapat satu kata pun sebagai jawaban. Ah, entah kesialan macam apa yang mencekat tenggorokanku hingga tak ada yang sanggup aku luncurkan dari bibirku sebagai respon dari pernyataanmu. Ingin kukatakan betapa sok tahunya kamu bisa-bisanya berkata seperti itu, namun kemudian aku tersadar, setelah itu lalu apa? kalimat apa yang selanjutnya akan kugunakan untuk menyangkal? Tak kutemukan kalimat yang tepat untuk memicu perdebatan ini, entah karena aku masih butuh waktu untuk menemukan jawaban atau entah karena aku memang telah kalah dan membenarkan pernyataanmu tanpa sadar.

Aku rasa kamu tidak perlu didebat, komunikasi yang terbangun walau hanya dengan satu arah ini sudah mampu memberimu segalanya yang ingin kamu dengar. Barangkali cara ini akan membuat tetesan air diatas payungmu tidak akan sederas yang kamu takutkan, kamu akan dibersamai dengan hujan yang lebih ringan untuk pulang. Kamu diam, mengerti kemana akan pergi setelah tidak cukup alasan lagi bagimu untuk tetap tinggal. Kamu titipkan satu kalimat tanya yang untuk kesekian kalinya lagi-lagi membuatku terdiam. Namun diamku kali ini bukan karena sesuatu yang mencekat tenggorokan, diamku kali ini tak beralasan, aku tidak tahu jawabannya.

“Andai aku gadis kota ini, apakah akan tetap seperti ini ceritanya?”

Tanpa mau menunggu apa-apa lagi, kamu berbalik pergi.

Yogyakarta, 18 Maret 2014

NB : Belum tentu aku itu aku, belum tentu aku itu kamu, juga dia. J

Rabu, 12 Maret 2014

Obat Masuk Angin pun Tak Sempat Bicara


Tiada yang mengerti, dan mungkin diapun tidak memahami, betapa tidak nyamannya matamu memandang kepingan-kepingan kendi kalian yang kini pecah berantakan, betapa sulitnya kamu memutuskan untuk tetap tinggal atau justru pergi. Kamu bukannya tidak sadar bahwa kendi kalian telah retak sebelumnya, sedikit ketidakhati-hatian akan membuatnya jatuh dan pecah menjadi berkeping-keping seperti saat ini. Entah perekat semacam apa lagi yang bisa menyatukannya.

Kamu dan dia diam sembari  membiarkan waktu bergulir, berharap kebisuan yang kalian cipta lambat laun bersedia menjadi perekat kepingan itu hingga utuh kembali. Waktu dan kebisuan mampu menjadi komposisi perekat kendi kalian, tidak sekarang tapi nanti, saat kalian sama-sama menyadari bahwa kalian butuh bersama dan bukannya berjalan sendiri sendiri, itu yang kamu pikir. Namun sayang, waktu dan kebisuan kalian hambar, tak ada unsur yang mampu menjadi semacam zat perekat dari keduanya.

Dia enggan bersuara dan tak mampu pula kamu berbicara, tidak pula obat masuk angin yang kamu selipkan di tasmu saat hari terakhir kalian berjumpa. Hari dimana dia gagal memahami inginmu untuk kesekian kalinya, hari dimana kamu gagal memahami inginnya untuk kesekian kalinya, paling gagal, paling fatal, itu bahasa yang sanggup kamu baca dari matanya.

Beberapa hari sebelum hari itu dia masuk angin, dibungkus angin disepanjang perjalanan sepulang beraktivitas membuat angin malam kerap kali menyerang tubuhnya.  Sebenarnya itu bukan hal yang baru baginya, juga bagimu yang telah terbiasa setiap malam menunggu ia pulang lalu mendengar sesekali ia bercerita tentang masuk anginnya, baik lewat telpon atau rangkaian huruf yang tertera dilayar kaca. Ya, karena kalian memang masih harus berada di dua tempat yang berbeda. Sekalipun tempat menunggumu bukanlah tempat ia pulang, bagimu dan baginya ketidakrasionalan cinta mampu menghapus dimensi jarak hingga seolah tak ada.

Malam itu ia kembali bercerita bahwa masuk angin keparat itu kembali menyerang tubuhnya, tak ada yang mampu kamu lakukan selain memastikan bahwa stok obat masuk angin yang beberapa waktu lalu  kamu beli untuknya itu masih ada disana. Cinta juga ternyata rasional, jarak tetaplah jarak, dua manusia yang berada di tempat  terpisah tidaklah mampu berhadap-hadapan untuk saling menolong secara langsung satu sama lain karenanya.

“Hadeeehh.. kamu itu kaya mak-mak” protesnya gemas di suatu hari saat kamu membelikannya berbagai macam obat-obatan darurat yang sewaktu-waktu mungkin saja ia butuhkan ditengah malam, saat kebanyakan toko sudah tutup, atau saat kondisi tubuhnya terlalu kelelahan hingga enggan untuk mencari obat sendiri keluar. Kamu tahu, tidak pernah baginya terpikirkan hal-hal semacam itu, dan kamupun bukannya tidak sadar bahwa saat itu wujudmu pasti tampak sebagai makhluk terlebay yang pernah ia kenal dalam hidupnya. Tapi kamu hanya tertawa mendengar gerutunya, memilih tidak perduli dan tetap memberikan obat-obatan itu padanya. Bagimu, memastikan bahwa ia tidak kekurangan apapun saat ia membutuhkan adalah hal yang lebih penting untuk kamu lakukan.

Harusnya stok obat masuk angin itu ada ditangannya saat ini. Kamu sengaja membeli lagi sebelum bertemu dengannya suatu hari. Obat masuk anginnya yang dulu pasti sudah habis, sedangkan malam-malam selanjutnya masih mengharuskan ia pulang terbungkus angin malam, begitu pikirmu. Karenanya, hati-hati kamu selipkan obat itu didalam tasmu.

Siapa yang mengira, pertengkaran kalian di hari itu ternyata terlalu hebat, pekat dan amarah tak memberi kesempatan apapun  untuk mencairkan, termasuk obat masuk angin yang kamu bawa, ia bahkan tak sempat keluar dari tempatnya. Dia buru-buru emosi,  kamu buru-buru melangkah pergi. Dan kamu tidak menyangka, langkah kakimu tanpa disertai sergahan “jangan” darinya kali ini meruntuhkan apa yang kalian bangun selama ini. Egoisme yang sama-sama tinggi berubah menjadi semacam dua kepal tangan dengan kekuatan yang lebih dari cukup untuk menghancurkan kendi kalian yang telah retak hingga akhirnya menjadi berkeping-keping. Tak ada kata yang mampu menyatukan sekalipun kamu sudah mencoba memungut kepingan-kepingan itu, tidak sempat pula obat masuk angin yang kamu bawa itu berbicara untuk setidaknya menjadi saksi dan menjelaskan bahwa keadaan terburuk ini pun bukanlah inginmu, tidak pula waktu dan kebisuan yang kalian cipta sanggup menjadi perekat, tak ada yang sanggup menyelamatkan. Pada akhirnya kalian mengerti, menyelamatkan diri kalian masing-masing melalui jalan berbeda menjadi pilihan paling tepat sebelum kalian semakin jengah tak bisa kemana-kemana karena tujuan yang mungkin sudah tak lagi sama.

Jogjakarta, 11 Maret 2014

NB: Belum tentu yang kamu baca itu aku, belum tentu yang kamu baca itu kamu, apalagi dia. :)