Laman


Kamis, 14 Maret 2013

Physicfighter10 goes to Dieng !

Indonesia tanah air beta !
Halo semuanyaaaa.. di tengah-tengah keroyokan tugas kuliah di semester 6 yang menyibukkan ini  entah kenapa rasanya tiba-tiba saya ingin menulis, mungkin sebagai pelarian, atau hiburan juga barangkali. Karena saya hanya sedang ingin menulis, maka saya akan menulis apa saja yang bisa ditulis. Menulis apa yaaaaa.... #berpikir
Hmmmm... rasanya sudah cukup lama juga saya vakum dari dunia keblogspotan dengan tulisan yang bergenre jalan-jalan.  Jadi kali ini mungkin saya akan menulis tentang perjalanan saya bersama teman-teman Lepo Mania ke Dieng beberapa waktu yang lalu. Jalan-jalan men !
Pada kenal gak sih sama yang namanya Lepo Mania? Lepo mania itu isinya adalah anak-anak Physicfighter10 yang suka jalan-jalan ngalor ngidul kemana-mana. Lha Physicfighter 10 itu apa? Physicfighter 10 adalah komunitas yang berisi kumpulan mahasiswa yang  sejak tahun 2010 dipersatukan pada jurusan kuliah yang sama di FMIPA Universitas Negeri Yogyakarta, yaitu jurusan pendidikan Fisika. Tidak perduli perkara masuk jurusan fisika itu adalah karena nyasar, salah klik waktu mendaftar online SNMPTN,  salah jurusan, unsur keterpaksaan, keinginan luhur dari hati,  atau apalah yang  lainnya, yang jelas selama ini Physicfigter10 menuntut ilmu dibawah atap yang sama untuk bersama-sama mempersiapkan diri menjadi pendidik bangsa Indonesia di masa depan. #tsaaaaahhh.. haha
Terlahir sebagai cicit-cicit yang hampir setiap harinya harus dipusingkan dengan warisan rumus-rumus besar karya mbah Albert Einstein dan kawan-kawan,  mungkin menjadi salah satu faktor yang membuat anak-anak di komunitas ini senang sekali mencari hiburan atau refreshing untuk sejenak melepaskan diri dari yang namanya matfis, kuantum dan lain-lain sejenisnya, salah satu bentuknya adalah melalui jalan-jalan. Karena itulah, setiap kali ada kesempatan, para Lepo mania ini sering sekali mengadakan acara mengukur jalan dengan naik motor ke berbagai wilayah di sekitar Yogyakarta, diantaranya Temanggung, Gunung Kidul, Tawangmangu, Magetan, Kebumen, Kulonprogo, Purworejo, dan yang terakhir ini adalah ke Dieng. Konsep yang diusung selama perjalanan ini adalah Touring, jadi ya kemana-mananya naik motor saja, kalau bensinnya habis ya ngisi sama-sama, kalo ban motornya ada yang gembos ya cari tukang tambal sama-sama, kalo ada yang nyasar ditengah-tengah perjalanan ya yang nyasar harus kreatif menemukan jalan untuk kembali ke rombongan dan yang lainnya harus mengarahkan agar yang nyasar bisa segera kembali kejalan yang benar, kalo pada gak tau jalan semuanya ya harus cari jalan sama-sama. Faktanya, touring-touring jauh yang selama ini kami lakukan justru  ternyata seringkali tidak seorangpun dari kami tahu arah tepatnyanya, jadi ya hanya mengandalkan papan petunjuk jalan saja. Berikut ini adalah foto touring kami di beberapa tempat.
 
 







Nah untuk yang kali ini saya akan menceritakan touring ke Diengnya saja, yang lainnya biar foto saja yang menceritakan, heheheee. Pergi ke Dieng adalah salah satu kalimat yang tertera dalam list Things to do before I die yang saya punya, tempat ini sudah cukup lama menawan hati saya, Alhamdulillah sudah terlaksana, meskipun dalam list itu sebenarnya saya menuliskan pergi ke Dieng pada bulan Juli 2012, baru bisa terlaksana di bulan januari 2013 yang lalu, hehe. ya tidak apa-apa, yang penting sudah kesampaian :p
Garis start kami dimulai dari Dekanat selatan FMIPA UNY di pagi hari selasa 15 Januari 2013. Ada 15 anak yang akan ikut touring kali ini. Perjalanan pun dimulai ! Rencananya, kami akan menginap di rumah Deni, di daerah Kaliwiro Wonosobo, baru besok paginya berangkat ke Dieng. Sebelum sampai di rumah Deni kami mampir dulu ke rumah Heru di Kulonprogo dan rumah Jojo di Purworejo, kebetulan Jojo sedang mengadakan acara syukuran pelengserannya sebagai ketua Hima (Lho kok disukurke ? hehe :p ) pokokmen dalam rangka mengakhiri masa jabatannya di Hima mungkin.  Siang harinya kami langsung cuuus melanjutkan perjalanan ke rumahnya Deni, lewat waduk wadas lintang, teruuuuus aja ngikutin jalan yang berkelok-kelok dan bikin pusing, ditambah hujan yang sekali sekali menghadang kami di tengah jalan. Lucunya, mbak Deni sang pemilik rumah justru tidak bersama kami, karena tadi paginya masih ada keperluan di jogja, diapun memutuskan untuk menyusul dan tidak berangkat ke rumahnya bersama kami. Jadi, mau tidak mau kami harus mencari-cari sendiri dimana rumahnya.
Sore harinya kami tiba di rumah Deni, keluarganya menyambut kami dengan sangat hangat. Hehe, padahal kami sudah bikin ricuh banget, bayangin aja men 15 orang tumplek blek disitu. Sore berganti malam dan malampun berganti pagi. Perjalanan pun dilanjutkan ! Dieeeeenggg... can’t wait to see you.... !
Dieng masih sekitar 3 jam dari rumah Deni, motor kami pun melaju menuju kota Wonosobo, dan terus menuju ke daerah pegunungan, sampailah kami memasuki kawasan lembah Dieng. Subhanallaaahh.. indahnyaaaa... rasanya seperti berada di negeri indah di atas awan, motor kami terus melaju perlahan di jalan yang berkelok-kelok dan mendaki, dengan pemandangan hijau yang menyejukkan di kiri kanan jalan, disambut indahnya persawahan, perkebunan carica, wortel, kubis, dan lain-lain. Saat itu sedang gerimis, jadi kami harus ekstra hati-hati dan tetap konsentrasi dalam mengemudikan kendaraan, karena selain licin, banyak jurang juga di sisi kiri dan kanan jalan.
Sampailah kami di Kawah Sikidang. Kawah Sikidang adalah sebuah Kawah yang airnya selalu mendidih dan menyemburkan gas yang beraroma  belerang. Disebut Sikidang karena semburannya selalu berpindah-pindah tempat, seolah melompat-lompat seperti Kijang yang sedang berlari. Kawah Sikidang tidak berada di puncak gunung, melainkan di daratan yang menyerupai sebuah sumur, sehingga wisatawan dapat menyaksikan aktifitas kawah ini dari jarak yang cukup dekat,bahkan sampai di bibir kawah. Karena kawah ini menyemburkan gas yang beraroma belerang, otomatis tempat ini penuh dengan aroma belerang, dan kata orang-orang, di tempat ini wisatawan dilarang mengucapkan kata “bau”, Ooopps keceplosan ya.. :p




 Setelah itu, kami ke Telaga Warna yang jaraknya tidak begitu jauh dari Kawah Sikidang, jarak antar tempat wisata di tempat ini memang bisa dikatakan saling berdekatan. Telaga warna adalah sebuah telaga yang sering memunculkan nuansa warna merah, hijau, biru, putih, dan lembayung, namun warna-warna tersebut akan lebih jelas terlihat jika kita melihatnya dari tempat yang lebih tinggi, waktu itu kami tidak sempat naik ke tempat tinggi tersebut, jadi kami menikmati keindahannya dari sisi telaga saja. Selain telaga warna, disana juga ada goa semar, goa jaran, dan goa apa lagi yaa.. saya lupa.. 


Nah setelah itu, Lepo mania ini melaju lagi ke Candi Gatotkaca. Melihat Candi dengan background lembah dan pegunungan yang serba hijau seperti ini rasanya sesuatu banget deh pokoknya, Tuhan memang hebat sekali melukis alam ini..



Pukul 12 siang harinya kami memutuskan untuk pulang, supaya tidak kemalaman sesampainya nanti di Jogja. Sebelum benar-benar meninggalkan Wonosobo, kami mampir dulu ke toko oleh-oleh untuk membeli manisan Carica dan makan mie ongklok, makanan khas dari Dieng, hmmmm... nyammiii...
Rute perjalanan pulang yang kami tempuh tidak sama seperti rute perjalanan yang kami lewati kemarin, kali ini kami melewati rute yang lebih pendek untuk sampai ke Jogja. Hujan rupa-rupanya masih setia menemani perjalanan pulang kami, tapi tidak mengapa, kehujanan bersama kawan-kawan dengan suasana kebersamaan seperti ini rasanya malah lebih hangat. Kami tiba di Purworejo di rumah Ryan pada pukul 5, pukul 7 nya kami kembali melewati Kulonprogo dan sampailah kami kembali di kota Jogja sekitar jam setengah 9 malam. Alhamdulillaaah..
Indonesia tanah air beta !
Nah begitulah cerita saya kali ini, barangkali juga bisa dianggap sebagai ajang ngiming-ngimingi buat temen2  yang belum pernah ke Dieng supaya segera pergi ke Dieng, hihiii.. kesana deh, nikmatin indahnya Indonesia, indahnya ciptaan Tuhan, dijamin gak bakalan nyesel. What a beautiful place !

Jogja, 15 Maret 2013

Senin, 11 Februari 2013

“Akan kudengarkan, sampai dimanapun chapternya”



Di sore yang gerimis itu, sepulang bernostalgia di sekolah masa lalu, rombongan anak muda yang sudah lama tidak saling bertemu itu mulai kembali memisahkan diri. Beberapa memilih pulang ke rumah mereka masing-masing, sementara dua orang makhluk ini menghentikan motor mereka di deretan warung sederhana di taman kota yang tidak jauh dari sekolah masa lalu mereka itu, seperti belum habis melepas rindu. Aku dan kamu, itulah mereka.

Aku memilih sepiring batagor, dan aku tahu jika pergi ke tempat ini kamu pasti mencari bakso ceker, makanan  yang entah sejak kapan menjadi makanan favoritmu itu, yang aku tahu kamu hendak melepas rindu dengannya layaknya melepas rindu dengan seorang kawan lama seperti yang sedang kamu lakukan sekarang.

                Seperti dua orang kembar yang terpisah 10 tahun lamanya, kita bernostalgia membuka cerita-cerita lama, berbicara tentang masa-masa sekolah dan kuliah yang sedang kita jalani sekarang, tentang “kambink” tokoh yang ada dalam buku cerita hidupmu, dan tentang banyak hal lainnya. Kadang kita terlalu menggebu-gebu, sampai beberapa orang memperhatikan kita seolah kita ini adalah alien yang sedang asik bermain di planet bumi, dengan bahasa yang barangkali  hanya kita berdua saja yang paham, biarkan saja.

                “Jangan berubah ya” katamu sedikit serius di sela-sela obrolan kita pada hari itu.

                “Jangan berubah bagaimana?” tanyaku bingung mengenai perubahan apa yang dimaksudkan oleh orang dihadapanku itu.

                “Jangan berubah,  jangan lupakan kawan” jawabmu seperti seorang pelaut yang baru saja dikalahkan oleh gelombang dahsyat ditengah lautan luas bernama persahabatan, seolah aku adalah teluk tenang tempat kamu berharap untuk tidak menemukan gelombang dahsyat yang menerjang. Tanpa kamu sadari, kamu sendiri adalah salah satu  inspirasi bernilai tinggi yang aku temukan, pelaut yang datang dan membuat lukisan pasir dengan jejak langkahmu diatas pantaiku, menetap berkawan, mendirikan mercusuar hingga aku menjadi terang saat malam datang.

                “Aku tidak berubah, kalaupun nanti aku berubah dan mulai melenceng  ke arah yang salah, tugasmu adalah mengingatkanku. Ingat ya, teman menusuk dari belakang, tapi sahabat akan menampar dari depan...” jawabku sambil tersenyum.

                “Hehe.. sepakat, ingatkan aku juga yaa..”

                “Sip”

            “janji ?” tanyamu menawarkan perjanjian sambil menyodorkan jari kelingking kananmu dihadapanku.

            “Janji”  jawabku  mantap  menyetujui perjanjian kelingking itu, perjanjian yang sudah saling dimengerti tanpa perlu hitam di atas putih lagi.

                Kamu bercerita lagi, seolah stok buku ceritamu selalu tersedia dan tidak pernah habis dalam gudang cerita kehidupanmu. Itu, stok ceritamu itu yang selalu kurindukan, dari seorang kamu yang selama ini lebih pandai menuangkan bahagiamu, kesalmu, sedihmu, hingga kamu tetap mampu berdiri seimbang, tanpa menumpuk dan memenjarakannya dalam diri kamu, membiarkannya lepas agar terlepas, karena kamu adalah satu makhluk pecinta kebebasan. 

“Gantian kamu yang cerita” pintamu setelah selesai bercerita tentang kambink, satu tokoh ajaib yang sudah lama kukenal dalam buku cerita klasikmu.

                “Tidak ada yang perlu diceritakan” kataku sambil sibuk dengan batagor dihadapanku.

                “Ayolah, cerita saja..” desakmu. Aku terdiam sebentar, selain karena aku masih saja tidak bisa seperti kamu yang pandai mengaplikasikan konsep lepas agar terlepas, ada suatu hal yang kukhawatirkan, entah karena belum atau mungkin malah lupa kumengerti sebagai seorang sahabat.

                “Kamu pasti sudah bosan mendengarnya” jawabku sambil tersenyum.

                “Enggak! ” buru-buru kamu menyangkal ucapanku, air mukamu sedikit berubah, mungkin kamu tidak terima, dan seperti ada sesuatu yang ingin kamu terangkan padaku.

                “Iya, mungkin kamu sudah bosan...” kataku lagi.

“Bukannya aku kan yang selama ini sering nanya duluan ke kamu tentang cerita kamu?” tanyamu, aku mengangguk perlahan. Ya, kamu benar, lalu bagaimana bisa aku mengira kamu bosan dan tidak lagi mau mendengarkan.

                “Memangnya kamu bosan ya mendengar ceritaku yang sama selama lima tahun waktu itu?” tanyamu lagi. Aku memutar sejenak lima tahun yang kamu maksud itu dalam pikiranku,  saat kamu memperdengarkan salah satu isi ceritamu yang sempat stagnan pada suatu chapter selama lima tahun karena kamu belum bisa menulis cerita pada chapter selanjutnya, pada saat itu sungai inspirasimu berhenti mengalir, tapi saat ini aku ingin kamu tahu bahwa bukan kamu seorang saja yang pernah merasakannya. 

“Enggak..” jawabku menggeleng, karena seingatku aku memang tidak bosan sama sekali dengan cerita yang kamu perdengarkan itu, justru selalu kutunggu-tunggu. Aku seperti baru tersadar akan sesuatu.
“Nah, aku juga enggak. Itulah gunanya sahabat, mendengarkan sahabatnya yang lain, apapun ceritanya, sampai dimanapun chapternya”  Kamu seolah melaunching best quotes terbarumu tentang persahabatan, simple, tapi mengena, dan aku berjanji untuk mencatatnya baik-baik dalam lembaran memoriku.

“Aku cuma khawatir kamu merasa bosan mendengarkanku dengan cerita yang masih sama, yang aku sendiri nggak tau kapan akan berganti bagian.  Kamu sudah terlalu banyak mendengarkan dan menunjukkan jalan, tapi sampai saat inipun aku masih berdiri di tempat yang sama, masih menulis cerita pada chapter yang sama... ” kataku mengeluarkan apa yang harusnya kukeluarkan, lepas agar terlepas, seperti yang selama ini kamu lakukan.

“Enggak, sama sekali enggak. Ceritakanlah sampai dimanapun chapter kamu, kamu tidak perlu menghindari dan menyembunyikannya seperti itu” katamu bersungguh-sungguh.

“Serius...?” tanyaku pelan-pelan. Kamu mengangguk mantap.

“Terima kasih, terima kasih karena sudah mengerti” kataku. Kamu mengangguk sambil tersenyum, kamu selalu berhasil memahami seperti biasanya, sejak dulu. Obrolan di sore hari itupun berlanjut kembali, seiring dengan sisa-sisa gerimis yang tetap enggan berubah menjadi hujan bahkan hingga senjapun datang.

Ya, seorang sahabat itu mendengarkan. Namun ia tahu bahwa ia bukan mendengarkan cerita khayal yang diperankan oleh Rapunzel, Peterpan, atau Tinker Bell dalam cerita khayal yang habis sekali baca yang selalu berganti dari cerita satu ke cerita lainnya. Ia mendengarkan cerita hidup, cerita hidup yang diperankan oleh anak manusia, cerita hidup yang tidak bisa ditebak setiap bagiannya bahkan pula ujung ceritanya. Dan ia paham, beberapa lembaran atau mungkin banyak lembaran dalam buku cerita itu mungkin memang masih berada dalam satu chapter yang sama, namun ia akan tetap mendengarkan, karena itu adalah bagian dari cerita hidup sahabatnya.



Didedikasikan untuk salah seorang sahabat terbaik saya, Dewi Rosani.

 Tanjung, 01 Februari 2013



Senin, 28 Januari 2013

LILIN YANG MALANG



Hari ini, Yogyakarta pada pukul 16.30 gelap sekali, awan hitam menggantung dilangit sore. Untuk besok masih memungkinkan, tapi untuk sore kali ini nyaris mustahil  untuk sekedar berharap akan kedatangan senja yang emas seperti biasanya. Hujan besar pasti akan datang, pikirku. Benar saja, hujan deras plus angin ribut pun menghantam kota ini kemudian, dan parahnya lagi listrik di kota inipun ikut padam, mencekam. 

Duduklah aku di kamar berkawan dengan kegelapan. Kunyalakan handphone yang rencananya akan kurekrut menjadi kawan selanjutnya agar aku tidak bosan dalam dunia kegelapan, kupandangi layarnya dengan animasi aneh yang tidak bisa diam, tidak ada apapun yang menarik disana. Perlahan aku berdiri, dengan bumi yang terasa selalu bergoyang dikepalaku sejak beberapa hari yang lalu, kuputuskan untuk keluar kamar. Tak lama Nisa naik ke lantai atas kos membawa makanan dari India yang dia dapat dari temannya, berkumpullah kami dikamar mba Fitri yang jaraknya terpisah 2 kamar dari kamarku, ditemani sebatang lilin, ya sebatang lilin dengan cahayanya yang memancarkan kehangatan. 

                Ada tujuh orang yang berkumpul di kamar itu, masih dengan sebatang lilin, sebatang lilin yang sudah cukup untuk membuat tujuh orang ini berkumpul dan merasa nyaman. Kebanyakan dari kami takut dengan kegelapan, sampai beberapa orang memutuskan untuk tidak kembali ke kamar, dan lilin itu sepertinya berjasa untuk setidaknya menghapuskan ketakutan.

                Listrik pun tak lama hidup, semua berseru Alhamdulillah. Lilin putih belum padam, satu persatu mulai meninggalkan perkumpulan yang sempat temaram. Akupun demikian, kuputuskan untuk kembali ke kamar.  Namun langkahku terhenti tepat sebelum aku memutar kunci untuk membuka kamar, sayup-sayup kudengar suara khas Nisa disana, “tiup lilinnya... tiup lilinnya...tiup lilinnya sekarang juga, sekarang juga....” Lilin itu pasti sudah mati dalam hembusan nafas nisa, pikirku.

Padamnya lilin menyalakan memoryku di masa lalu, masa dimana aku kecil senang sekali mendekati lilin lalu memain-mainkan lelehannya ataupun menggoda api yang meliuk-liuk diterpa angin dengan cara meniup-niupnya hingga kadang hampir mati oleh karbondioksida yang kukeluarkan. Entahlah, tapi aku senang menunggu nyala lampu dengan cara semacam itu.

Dalam gelap, terdengar suara sebatang korek tengah beradu dengan suatu zat di bagian pinggir kotak pembungkusnya. Cheezzzz... api menyala dalam gelap, usianya diperpanjang ketika dipindahkan ke sumbu sebatang lilin. Satu sumber cahaya kecil itu kemudian bisa membuat semua orang yang ada disekitarnya untuk berkumpul, melupakan segala aktivitas mereka sebelumnya sejenak seolah tidak ada pilihan lain selain menjadi salah satu orang yang ikut menemani nyala lilin bersama yang lainnya. Hangatnya cahaya lilin menjadi pemancing obrolan hangat yang kemudian tercipta disana, semua orang membicarakan banyak hal, baik hal ringan maupun hal kompleks, membagi cerita yang belum tentu akan terbagi jika lilin itu tidak menyatukan mereka disana. Setidaknya hal-hal semacam itulah yang terjadi ketika listrik mengharuskan kita untuk berkawan sementara dengan kegelapan. Kegelapan seakan enggan beranjak bahkan ketika malam semakin larut bersama anginnya yang menyentuh kulit, tetapi menjadi tidak berarti karena obrolan di saat seperti itu bisa jadi lebih dari sekedar cukup untuk menghangatkan suasana. Dan lilin putih telah menyala separuh jalan, separuh lagi usianya. Lelehannya yang meluber kesana kemari menjadi bukti pengorbanannya.

                “Emang udah nasibnya kaya begitu kali, End...” kata Nisa pada malam harinya setelah kukatakan padanya bahwa lilin itu ternyata memang malang, ia menyala dalam gelap, cahaya temaramnya itu bisa membuat semua orang berkumpul menjadi lebih dekat dan lebih akrab dengan obrolan-obrolan hangat, sebagian anak kecil seperti aku kecil bahkan senang bermain-main dengan nyalanya. Bagaimanapun ia membuat penantian akan nyalanya listrik bisa menjadi suatu hal yang lebih baik bahkan mungkin menyenangkan dengan cara yang semacam ini.

 Dan disana, sebatang lilin putih kecil tengah berkorban membakar dirinya sendiri demi menjaga api kehangatan agar tetap menyala ditengah orang-orang yang bahkan mungkin tidak sadar dengan dirinya yang sebentar lagi akan habis dimakan gelap dan waktu.

                Lilin yang malang, mungkin memang beginilah caranya mengajarkan sebuah pengorbanan.
Jogja, 12 mei 2012

Rabu, 05 Desember 2012

TENTANG HUJAN


Bila ada seseorang yang sedang bermain Question of Life lalu menanyakan pada saya mana yang akan saya pilih diantara hujan dan gerimis, maka saya akan memilih hujan! Hujan, saya suka dengan hujan, suka sekali. Waktu kecil, salah satu hal yang paling saya suka adalah bermain hujan-hujanan, meski seringkali dimarahi oleh orang tua saya sebagaimana yang dilakukan oleh para orang tua pada umumnya yang tidak membiarkan anak mereka bermain hujan-hujanan karena khawatir mereka jatuh sakit. Saya akan sangat senang bila terperangkap hujan ketika akan pulang dari sekolah, kenapa? Karena itu artinya kemungkinan besar saya bisa bermain hujan-hujanan. Jam sekolah berakhir, dan saya harus pulang, dan setiba dirumah nanti saya akan berkata pada mama bahwa saya sudah menunggu beberapa saat namun hujan tidak juga reda, dan satu lagi, saya tidak membawa payung, jadi.. mau tidak mau saya harus pulang sambil hujan-hujanan. Dan saya suka itu, berada dibawah hujan ! :D

Selain itu, hujan juga adalah rizki kan? Hujan adalah ribuan tetes air, dan kita butuh air, coba saja bayangkan jika hujan tidak turun, maka tidak akan ada air, tumbuhan akan mati, tanah akan kering kerontang, air menjadi langka dan orang-orang akan repot berjalan kemana-mana hanya ntuk mencari air, air yang merupakan sumber kehidupan bagi makhluk hidup di bumi, jadi hujan adalah salah satu cara Tuhan untuk memberi kita hidup.

Daripada gerimis, saya lebih suka hujan. Gerimis bagi saya adalah simbol keraguan, sedangkan hujan adalah kepastian, meski ia tidak selalu datang disaat yang tepat. Seandainya ada orang yang mau pergi ke suatu tempat di luar sana , lalu gerimis datang, maka ada kemungkinan orang itu akan menjadi ragu apakah ia harus tetap pergi atau tidak, sementara ternyata gerimis tetaplah gerimis, ia tidak berhenti turun namun tidak pula berubah wujud menjadi hujan, ia ragu, begitu pula orang-orang yang bernaung dibawahnya, mengikuti keraguan.

Sementara hujan adalah kepastian, jika ia turun dengan derasnya, maka kita bisa memastikan untuk tidak jadi pergi, atau kalaupun ingin pergi maka kita bisa menyiapkan jas hujan atau payung terlebih dulu agar tetap bisa berjalan ditengah hujan. Ia pasti dan tidak ragu, meski kadang ia datang disaat yang tidak tepat, tidak mengapa.

Kadang, karena hujan maka orang tidak akan pergi kemana-mana, mereka bernaung disuatu tempat, berkumpul dengan orang lainnya, berbagi banyak hal tentang hidup, dan duduk ditemani secangkir teh hangat diatas meja. Karena hujan memberi mereka waktu, memberi mereka ruang, memberi mereka tempat untuk duduk bersama, saling mendengarkan dan perduli satu sama lain, dan sejenak melupakan langkah-langkah sibuk mereka.

Satu lagi, hujan adalah tempat paling aman untuk menangis. Jika sedang ingin menangis dan takut malu jika ketahuan orang lain, lari saja ke hujan , menangislah sambil hujan-hujanan, orang-orang tidak akan tahu karena air mata yang mengalir dipipi itu akan bercampur dengan air hujan, hujan menyamarkan air mata itu, bahkan menutupinya hingga tak terlihat sama sekali.

 Hujan bukan hal yang harus selalu dihindari, apalagi ditakuti. Bahkan ketika akan berakhir pun hujan masih memberi keindahan, dengan sisa-sisa butirannya yang secara ajaib mampu mendispersi cahaya matahari menjadi warna-warni indah di langit di atas sana.

Ini bulan november, sudah mulai musim hujan. Gun n Roses bahkan memiliki November Rain dalam album mereka. Banyak hujan di bulan November, sebagian orang takut dan akan berlari dari hujan, sebagian lagi senang berada di tepi jendela kamar memandangi tiap tetesnya yang turun dari langit , sebagian lagi menikmati tiap tetes hujan dengan membiarkan dirinya menyatu didalamnya. Selamat menikmati hujan ! :D










Jogja, 22 November 2012 23.40