Laman


Senin, 21 Mei 2012

Harusnya, harusnya kedua kakiku menjejak bumi.



Harusnya, harusnya, dan harusnya, kepala gadis itu sudah sesak dipenuhi oleh kata harusnya yang ia ucapkan dengan lirih pada posisi yang sama di tiap harinya. Baginya, harusnya kemarin tidak seperti itu, harusnya dulu tidak ada awal mula itu, harusnya ia tidak menjadi seperti ini. Tiada siapa yang salah, sejauh ini hanya itu yang ia tahu. Bukannya tak pernah mau mencari akarnya, tapi ia terlalu lelah mendapati jawaban-jawaban irasional, jawaban yang tidak dapat sama sekali dicerna oleh akal, jawaban yang tidak berdasar, jawaban yang tidak berlogika. Hanya ada satu bagian di dalam tubuhnya yang dapat mencerna jawaban itu, hanya satu dari sekian banyak organ pun saraf yang berseliweran di dalam tubuhnya yang bisa mengerti jawaban itu, hati. Hati yang terlalu pintar untuk memahami, ataukah hati yang telah menjelma sebagai satu-satunya suatu zat aneh yang bisa paham diatas ketidakrasionalan yang hampir sempurna, entah mana yang benar.

                Ia masih berdiri diatas sana. Sebelah kakinya tak beralas menginjak bumi, sebelah lagi melayang di udara, seraya terlentang kedua tangannya menyeimbangkan posisi yang dibuatnya sekarang. Sesekali ia oleng ke kiri dan kekanan hampir terjatuh ketika angin menubruk tubuhnya hingga menciut. Sebentar-sebentar kepalanya mendongak keatas. Dengan satu kali lompatan ia ingin melesat menembus awan, atau menaiki tangga yang jumlah anaknya tak lagi bisa dihitung, untuk kemudian akhirnya menemukan dunia baru disana yang entah berada di langit keberapa. Yang jelas disana akan ada cengkerama hangat orang itu dengan Ratu Luna, Raja Canopus, Ratu Capella, Raja Sirius, Raja Antares, dan Ratu Raja lain pemilik istana-istana di negeri biru nan damai. Sebuah dunia baru yang mampu membuatnya tersenyum, sebuah dunia baru yang meretas kegalauan, sebuah dunia baru diatas bumi, sebuah dunia khayal diatas nyata, sebuah dunia baru yang berdiri diatas ketidakrasioanalan alam sadarnya.

                Harusnya, harusnya kedua kakiku menjejak bumi yang nyata, dan semua akan seimbang... begitu katanya. Namun entah kekuatan dahsyat macam apa yang membuatnya terus saja membentuk sudut alpha 45 derajat pada kedua kakinya hingga ia harus bersusah payah bertahan dengan cara semacam itu hingga bahkan sesekali tubuhnya limbung dihantam angin. Ada sesuatu yang tidak bisa dinalar, sesuatu yang berhenti dibatas pintu masuk gerbang logika, antara percaya dan tidak, ia masih meyakini tentang dunia baru diatas sana, dunia yang tidak akan pernah ada. Harusnya, lagi-lagi ia hanya bisa berkata harusnya... harusnya ia sadar betul akan hal itu, harusnya ia berhenti meyakini keberadaan orang itu pun dunia konyol  diatas sana...

                Harusnya, harusnya aku berhenti menjadi bodoh dan irasional macam ini... begitu katanya. Namun entah kenapa hatinya bisa memiliki kemampuan luar biasa hingga diluar batas ambang normal untuk merasionalkan semua ini.  Ia menangis sejadinya, menangisi hati yang tak sejalan dengan logika, menangis untuk jawaban yang tak cukup mampu ia pahami bahkan hingga detik ini, untuk jawaban yang hanya bisa dipahami oleh satu organ tak terlihat bernama hati.

                Sampai detik ini, harusnya, harusnya kedua kakiku menjejak bumi... begitu katanya, lirih, pada posisi yang sama ditiap harinya.
Jogja, 21 Mei 2012

0 komentar: