Harusnya,
harusnya, dan harusnya, kepala gadis itu sudah sesak dipenuhi oleh kata
harusnya yang ia ucapkan dengan lirih pada posisi yang sama di tiap harinya. Baginya,
harusnya kemarin tidak seperti itu, harusnya dulu tidak ada awal mula itu,
harusnya ia tidak menjadi seperti ini. Tiada siapa yang salah, sejauh ini hanya
itu yang ia tahu. Bukannya tak pernah mau mencari akarnya, tapi ia terlalu
lelah mendapati jawaban-jawaban irasional, jawaban yang tidak dapat sama sekali
dicerna oleh akal, jawaban yang tidak berdasar, jawaban yang tidak berlogika.
Hanya ada satu bagian di dalam tubuhnya yang dapat mencerna jawaban itu, hanya
satu dari sekian banyak organ pun saraf yang berseliweran di dalam tubuhnya
yang bisa mengerti jawaban itu, hati. Hati yang terlalu pintar untuk memahami,
ataukah hati yang telah menjelma sebagai satu-satunya suatu zat aneh yang bisa
paham diatas ketidakrasionalan yang hampir sempurna, entah mana yang benar.
Ia
masih berdiri diatas sana. Sebelah kakinya tak beralas menginjak bumi, sebelah
lagi melayang di udara, seraya terlentang kedua tangannya menyeimbangkan posisi
yang dibuatnya sekarang. Sesekali ia oleng ke kiri dan kekanan hampir terjatuh
ketika angin menubruk tubuhnya hingga menciut. Sebentar-sebentar kepalanya
mendongak keatas. Dengan satu kali lompatan ia ingin melesat menembus awan,
atau menaiki tangga yang jumlah anaknya tak lagi bisa dihitung, untuk kemudian
akhirnya menemukan dunia baru disana yang entah berada di langit keberapa. Yang
jelas disana akan ada cengkerama hangat orang itu dengan Ratu Luna, Raja
Canopus, Ratu Capella, Raja Sirius, Raja Antares, dan Ratu Raja lain pemilik
istana-istana di negeri biru nan damai. Sebuah dunia baru yang mampu membuatnya
tersenyum, sebuah dunia baru yang meretas kegalauan, sebuah dunia baru diatas
bumi, sebuah dunia khayal diatas nyata, sebuah dunia baru yang berdiri diatas ketidakrasioanalan
alam sadarnya.
Harusnya,
harusnya kedua kakiku menjejak bumi yang nyata, dan semua akan seimbang...
begitu katanya. Namun entah kekuatan dahsyat macam apa yang membuatnya terus
saja membentuk sudut alpha 45 derajat pada kedua kakinya hingga ia harus bersusah
payah bertahan dengan cara semacam itu hingga bahkan sesekali tubuhnya limbung
dihantam angin. Ada sesuatu yang tidak bisa dinalar, sesuatu yang berhenti
dibatas pintu masuk gerbang logika, antara percaya dan tidak, ia masih meyakini
tentang dunia baru diatas sana, dunia yang tidak akan pernah ada. Harusnya,
lagi-lagi ia hanya bisa berkata harusnya... harusnya ia sadar betul akan hal
itu, harusnya ia berhenti meyakini keberadaan orang itu pun dunia konyol diatas
sana...
Harusnya,
harusnya aku berhenti menjadi bodoh dan irasional macam ini... begitu katanya. Namun
entah kenapa hatinya bisa memiliki kemampuan luar biasa hingga diluar batas
ambang normal untuk merasionalkan semua ini. Ia menangis sejadinya, menangisi hati yang tak
sejalan dengan logika, menangis untuk jawaban yang tak cukup mampu ia pahami bahkan
hingga detik ini, untuk jawaban yang hanya bisa dipahami oleh satu organ tak terlihat bernama hati.
Sampai
detik ini, harusnya, harusnya kedua kakiku menjejak bumi... begitu katanya,
lirih, pada posisi yang sama ditiap harinya.
Jogja, 21 Mei 2012


0 komentar:
Posting Komentar