skip to main |
skip to sidebar
Seperti orang pada umumnya, setiap malam kamu selalu tidur, tidur lelap, tak perduli apakah tidurmu memenuhi standar kuantitas dan kualitas tidur orang di dunia ini pada umumnya atau kah tidak. Kamu terlalu terlelap memaknai tidur bagi dirimu sendiri.
Tidur bagimu adalah persembunyian yg paling aman, persembunyian dari kenyataan yang terus mengejar. Kamu tahu, kenyataan tidak selalu mampu menjadi teman yang baik, menemanimu berjalan sesuai langkah yang bisa kamu jejak, kadang ia berlari, dan kamu lelah, lalu tidur mnjadi satu-satunya tempat kamu melupakan segalanya untuk sejenak, semacam dimensi lain yang bisa dijadikan sebagai markas persembunyian yg paling aman. Sampai beberapa saat kemudian kamu harus bangun, untuk kenyataan.
Kamu rapatkan lagi kepalamu dengan bantal, seolah memaksanya untuk menina bobokan dirimu agar kamu bisa tertidur, kamu pejamkan matamu membunuh insomnia, kamu hanya ingin tidur, sebentar pun tak mengapa. Batinmu butuh tidur, melebihi kebutuhan tubuhmu sendiri untuk itu. Meski kamu tahu, bahwa tidur tidak selalu menjanjikan ketenangan, kadang kamu harus memainkan peran menghadapi hal yang menakutkan atau hal paling menyedihkan yang tidak bisa kamu bayangkan bila benar-benar terjadi dalam hidup nyatamu. Namun sejak awal kamu mengerti bahwa tidur adalah tempat yang paling aman, semua yg menakutkan dan menyedihkan hanyalah kamuflase, kamu terbangun dan masih bisa bersyukur bahwa itu hanyalah mimpi buruk, kamu bisa menghentikan kehidupan di alam tidurmu ketika kamu akan memulai hari nyatamu.
Hingga suatu malam, kamu mengalami hal menakutkan lagi, hal menyedihkan lagi, dan kamu berusaha keras untuk bangun, atau setidaknya berharap ada seseorang yg berbaik hati membangunkanmu dari mimpi buruk ini meski ayam jantan bahkan belum memberi salam pada matahari. Tidak ada yang berubah, tidak ada ambang kesadaran yang kamu lewati seperti jika kamu baru terbangun dari tidurmu. Dan akhirnya kamu sadar bahwa kamu tidak sedang tidur, tiada siapapun yang perlu untuk dibangunkan, kamu tidak sedang berada pada persembunyianmu yang paling aman itu, ya, kali ini kamu tidak tidur, kamu tidak sedang bermimpi buruk, ini nyata, kamu.. sedari tadi sedang mencoba berdamai dengan kenyataan..
Tidur, kamu ingin tidur, kamu ingin pergi ke ruang yang mungkin memang paling aman, tapi hanya mampu sesaat saja menyembunyikanmu dari kenyataan. Sampai akhirnya kamu sadar bahwa tidur ataupun tidak, tidak ada pilihan terbaik selain berdamai dengan kenyataan. That's the way you learn how to accept the reality.
Tanjung, 27 agustus 2012
Somewhere
It's my life... I'm the one who will paint it...
Laman
Kamis, 06 September 2012
The Way You Learn How to Accept
Seperti orang pada umumnya, setiap malam kamu selalu tidur, tidur lelap, tak perduli apakah tidurmu memenuhi standar kuantitas dan kualitas tidur orang di dunia ini pada umumnya atau kah tidak. Kamu terlalu terlelap memaknai tidur bagi dirimu sendiri.
Tidur bagimu adalah persembunyian yg paling aman, persembunyian dari kenyataan yang terus mengejar. Kamu tahu, kenyataan tidak selalu mampu menjadi teman yang baik, menemanimu berjalan sesuai langkah yang bisa kamu jejak, kadang ia berlari, dan kamu lelah, lalu tidur mnjadi satu-satunya tempat kamu melupakan segalanya untuk sejenak, semacam dimensi lain yang bisa dijadikan sebagai markas persembunyian yg paling aman. Sampai beberapa saat kemudian kamu harus bangun, untuk kenyataan.
Kamu rapatkan lagi kepalamu dengan bantal, seolah memaksanya untuk menina bobokan dirimu agar kamu bisa tertidur, kamu pejamkan matamu membunuh insomnia, kamu hanya ingin tidur, sebentar pun tak mengapa. Batinmu butuh tidur, melebihi kebutuhan tubuhmu sendiri untuk itu. Meski kamu tahu, bahwa tidur tidak selalu menjanjikan ketenangan, kadang kamu harus memainkan peran menghadapi hal yang menakutkan atau hal paling menyedihkan yang tidak bisa kamu bayangkan bila benar-benar terjadi dalam hidup nyatamu. Namun sejak awal kamu mengerti bahwa tidur adalah tempat yang paling aman, semua yg menakutkan dan menyedihkan hanyalah kamuflase, kamu terbangun dan masih bisa bersyukur bahwa itu hanyalah mimpi buruk, kamu bisa menghentikan kehidupan di alam tidurmu ketika kamu akan memulai hari nyatamu.
Hingga suatu malam, kamu mengalami hal menakutkan lagi, hal menyedihkan lagi, dan kamu berusaha keras untuk bangun, atau setidaknya berharap ada seseorang yg berbaik hati membangunkanmu dari mimpi buruk ini meski ayam jantan bahkan belum memberi salam pada matahari. Tidak ada yang berubah, tidak ada ambang kesadaran yang kamu lewati seperti jika kamu baru terbangun dari tidurmu. Dan akhirnya kamu sadar bahwa kamu tidak sedang tidur, tiada siapapun yang perlu untuk dibangunkan, kamu tidak sedang berada pada persembunyianmu yang paling aman itu, ya, kali ini kamu tidak tidur, kamu tidak sedang bermimpi buruk, ini nyata, kamu.. sedari tadi sedang mencoba berdamai dengan kenyataan..
Tidur, kamu ingin tidur, kamu ingin pergi ke ruang yang mungkin memang paling aman, tapi hanya mampu sesaat saja menyembunyikanmu dari kenyataan. Sampai akhirnya kamu sadar bahwa tidur ataupun tidak, tidak ada pilihan terbaik selain berdamai dengan kenyataan. That's the way you learn how to accept the reality.
Tanjung, 27 agustus 2012
Total Tayangan Halaman
Lencana Facebook
Lencana Facebook
About this blog
welcome to my blog...
welcome to my words...
welcome to my world...^^
welcome to my words...
welcome to my world...^^
That's who I am...
Somewhere
This is who I am
- Endah Tri Wahyuni
- A little girl in a big world. A dreamer. Love music, travelling, writing, reading, skygazing, firework, beach, mountain. Unbreakable. Mistaken. Careless. Moody. Strong enough. Friendly. Have so much to be thankfull for. Deserve to be happy. Best daughter wanna be.
Labels
- Family (4)
- Friendship (5)
- Indonesia (3)
- Jurnalism (3)
- Love (17)
- My Birthday (3)
- My Mind and Soul (37)
- sirius (1)
- Travelling (7)
Entri Populer
-
Dewi Lestari yang dikenal dengan nama pena Dee adalah salah satu penulis favorit saya. Yah, mungkin belum cukup list bacaan saya untuk dik...
-
Hmmm... ngomongin band favorit Indonesia, omonganku gak bakalan jauh-jauh dari yang namanya Sheila On 7. Buat aku, Sheila on 7 adalah ...
-
“Kamu hanya butuh waktu. Luka dibadan saja butuh waktu untuk sembuh.” Kata seorang sahabat dalam perbincangan kami pada suatu malam...
-
Tiada yang mengerti, dan mungkin diapun tidak memahami, betapa tidak nyamannya matamu memandang kepingan-kepingan kendi kalian yang kini ...
-
Tadi pagi, di sela-sela sarapan sebelum berangkat ke kantor, tidak sengaja tangan saya yang sedang memegang remote control menemukan channe...
-
I know you're somewhere out there Somewhere far away I want you back I want you back My neighbors think I'm crazy But they don...
-
Sebenarnya cukup terlambat jika baru sekarang saya menuliskan cerita perjalanan terbaru saya bersama teman-teman Lepo mania ke Puerto Rico...
-
"Dunia adalah sebuah buku, dan anda yang tidak melakukan travelling kemana-mana hanya membaca satu halaman saja." (Sa...
-
Tahun ini Hima Fisika FMIPA UNY kembali menyuguhkan rentetan acara dan lomba jurnalistik dalam Pekan Jurnalistik Fisika (PJF). Kali ini Pe...
-
Beberapa tahun yang lalu, saya pernah menceritakan tentang sebuah kampung kepada seseorang. Saya bercerita tentang bagaimana kampung it...
Thanks
Thanks for inviting my blog ! ^^
Pengikut
Diberdayakan oleh Blogger.


0 komentar:
Posting Komentar