Laman


Kamis, 06 September 2012

The Way You Learn How to Accept


Seperti orang pada umumnya, setiap malam kamu selalu tidur, tidur lelap, tak perduli apakah tidurmu memenuhi standar kuantitas dan kualitas tidur orang di dunia ini pada umumnya atau kah tidak. Kamu terlalu terlelap memaknai tidur bagi dirimu sendiri.


 Tidur bagimu adalah persembunyian yg paling aman, persembunyian dari kenyataan yang terus mengejar.  Kamu tahu, kenyataan tidak selalu mampu menjadi teman yang baik, menemanimu berjalan sesuai langkah yang bisa kamu jejak, kadang ia berlari, dan kamu lelah, lalu tidur mnjadi satu-satunya tempat kamu melupakan segalanya untuk sejenak, semacam dimensi lain yang bisa dijadikan sebagai markas persembunyian yg paling aman.  Sampai beberapa saat kemudian kamu harus bangun, untuk kenyataan.


Kamu rapatkan lagi kepalamu dengan bantal, seolah memaksanya untuk menina bobokan dirimu agar kamu bisa tertidur, kamu pejamkan matamu membunuh insomnia, kamu hanya ingin tidur, sebentar pun tak mengapa. Batinmu butuh tidur, melebihi kebutuhan tubuhmu sendiri untuk itu. Meski kamu tahu, bahwa tidur tidak selalu menjanjikan ketenangan, kadang kamu harus memainkan peran menghadapi hal yang menakutkan atau hal paling menyedihkan yang tidak bisa kamu bayangkan bila benar-benar terjadi dalam hidup nyatamu. Namun sejak awal kamu mengerti  bahwa tidur adalah tempat yang paling aman, semua yg menakutkan dan menyedihkan hanyalah kamuflase, kamu terbangun dan masih bisa bersyukur bahwa itu hanyalah mimpi buruk, kamu bisa menghentikan kehidupan di alam tidurmu ketika kamu akan memulai hari nyatamu.


Hingga suatu malam, kamu mengalami hal menakutkan lagi, hal menyedihkan lagi, dan kamu berusaha keras untuk bangun, atau setidaknya berharap ada seseorang yg berbaik hati membangunkanmu dari mimpi buruk ini meski ayam jantan bahkan belum memberi salam pada matahari. Tidak ada yang berubah, tidak ada ambang kesadaran yang kamu lewati seperti jika kamu baru terbangun dari tidurmu. Dan akhirnya kamu sadar bahwa kamu tidak sedang tidur, tiada siapapun yang perlu untuk dibangunkan, kamu tidak sedang berada pada persembunyianmu yang paling aman itu, ya, kali ini kamu tidak tidur, kamu tidak sedang bermimpi buruk, ini nyata, kamu.. sedari tadi sedang mencoba berdamai dengan kenyataan..


Tidur, kamu ingin tidur, kamu ingin pergi ke ruang yang mungkin memang paling aman, tapi hanya mampu sesaat saja menyembunyikanmu dari kenyataan. Sampai akhirnya kamu sadar bahwa tidur ataupun tidak, tidak ada pilihan terbaik selain berdamai dengan kenyataan. That's the way you learn how to accept the reality.


Tanjung, 27 agustus 2012

0 komentar: