Laman


Kamis, 04 Juli 2013

TERLALU MAHAL UNTUK SEKEDAR SENSASI


Beberapa hari lalu secara tidak sengaja google menuntun saya menemukan sebuah artikel menarik bertajuk Foto Menyentuh: Pengantin Wanita Menangis di Makam Ayahnya. Artikel itu menarik bagi saya, dan menjadi lebih menarik lagi setelah menyimak tanggapan-tanggapan orang di dunia maya setelah berita tersebut disebarluaskan. Berikut saya tampilkan cuplikan teks dari artikel yang saya baca.

Foto tersebut ditampilkan dalam akun Facebook perusahaan fotografi Zander & Breck Photography. Adalah fotografer bernama Kari Wieringa yang membuat foto itu saat kliennya bernama Paige Eding menikah 7 Juni lalu.
Sebelum pergi ke gereja untuk menikah, Paige yang sudah memakai gaun pengantin meminta agar bisa datang ke kuburan ayahnya terlebih dulu. Ayah Paige, Mark Winia, meninggal 18 bulan lalu dalam usia 45 tahun karena sakit infeksi paru-paru.
Dengan dandanan sudah siap berjalan di altar, Paige mendatangi makam ayahnya. Dia kemudian menjadi sangat emosional saat tiba di depan kuburang sang ayah. Wanita 23 tahun itu terduduk lemas dan tampak menangis. Momen itu diabadikan oleh Kari sang fotografer.
Foto yang menampilkan kesedihan Paige tersebut kemudian ditaruh Kari di akun Facebook perusahaan fotografinya seminggu setelah pernikahan. Tentunya sudah dengan izin sang mempelai wanita. Tidak lama setelah ditampilkan di Facebook, foto tersebut langsung menjadi buah bibir.

Banyak orang menanggapi foto tersebut dengan komentar positif namun banyak pula yang menanggapinya dengan komentar negatif. Yah sah-sah saja mengingat semua orang merdeka untuk bersuara. Dan “Paige hanya sekedar mencari sensasi”. Wooow, kalimat tersebut sukses menyita perhatian saya. Mencari sensasi dalam moment seperti ini? Mungkinkah?

Menurut apa yang dikatakan oleh sebagian  orang, anak perempuan biasanya memiliki rasa sayang yang amat besar kepada ayahnya. Sebagai seseorang yang terlahir sebagai seorang perempuan saya turut mengiyakan apa yang mereka katakan tentang hal ini. Sosok ayah, bapak, abah, abi, daddy, papa, atau apalah gelar yang diberikan anak kepada lelaki terhormat ini, adalah sosok seorang laki-laki yang membimbing, melindungi, mengayomi, dan membuat anak perempuannya merasa aman.

Dan tentang pernikahan. Katakan saja bahwa saya tidak tahu banyak tentang pernikahan karena saya sendiri belum mengalami :p. Sedikit yang saya tahu tentang pernikahan barangkali adalah nilainya,  dan “penting” adalah representasi nilai kualitatif yang saya tahu untuk sebuah pernikahan.

Dalam sebuah momen penting, setiap orang pasti ingin dihadiri oleh orang yang berperan penting pula dalam hidupnya.  Dan dalam kondisi normal, saya rasa tidak ada seorang anak perempuanpun yang ingin menikah tanpa dihadiri oleh ayahnya. Bagaimana tidak? Seorang putri yang dalam hitungan belasan bahkan puluhan tahun telah dilindungi dan didampingi oleh seorang laki-laki dengan titel ayah kini harus berpindah dibawah perlindungan dan bimbingan laki-laki lainnya. Permohonan izin untuk hal itu, pastilah menjadi kalimat  yang ingin ia ucapkan langsung kepada orang yang seharusnya, hanya kepada ayahnya saja dan bukan melalui orang lain sebagai wakilnya. Seperti orang ingin berupacara, dengan ayahnya saja yang bisa menempati posisi sebagai inspektur upacara.

Adalah sebuah hak, mengatakan bahwa adegan gadis yang berhasil ditahan dalam sebuah jepretan kamera tersebut hanyalah sensasi belaka. Tapi tahukah apa rasanya kehilangan dan merindukan seseorang yang tidak mungkin kembali?  Banyak dari orang-orang mengaku mengerti akan hal ini tapi nyatanya gagal dalam hal turut merasakan. Setiap orang pernah kehilangan, setidaknya itu membuat saya yakin bahwa semua orang pasti tahu bagaimana rasanya kehilangan walaupun bukan ia yang mengalaminya secara langsung, dan nyatanya mungkin saya keliru. Jika saya benar, bagaimana bisa airmata kerinduan akan sosok yang telah hilang dari gadis itu dikatakan oleh sebagian orang sebagai harga yang pantas untuk sebuah sensasi? Pernikahan itu penting, dan rasa  kehilangan kadang membekas lama dalam hati seseorang. Tidak secuilpun dari kedua hal tersebut memungkinkan untuk dijadikan sebagai modal  untuk sekedar mencari sensasi bagi seseorang. Setidaknya itu kata saya, terserah apa kata mereka.

Jogja, 4 Juli 2013.

............
Suatu hari saat mata semua orang tertuju padamu dan orang yang sedang duduk disampingmu, mata kamu akan mencari-cari seseorang, lalu kamu sadar bahwa indra penglihatanmu tidak cukup mampu untuk menembus jiwa yang tidak lagi menempati raga. Hatimu yang akan merasa, bahwa ia hadir disana, menjadi inspektur dalam upacaramu dan menempati posisi yang seharusnya. Lalu moment itu akan berjalan sempurna.
............

0 komentar: