Beberapa hari lalu secara tidak
sengaja google menuntun saya menemukan sebuah artikel menarik bertajuk Foto
Menyentuh: Pengantin Wanita Menangis di Makam Ayahnya. Artikel itu menarik bagi
saya, dan menjadi lebih menarik lagi setelah menyimak tanggapan-tanggapan orang
di dunia maya setelah berita tersebut disebarluaskan. Berikut saya tampilkan
cuplikan teks dari artikel yang saya baca.
Foto tersebut ditampilkan dalam
akun Facebook perusahaan fotografi Zander & Breck Photography. Adalah
fotografer bernama Kari Wieringa yang membuat foto itu saat kliennya bernama
Paige Eding menikah 7 Juni lalu.
Sebelum pergi ke gereja untuk
menikah, Paige yang sudah memakai gaun pengantin meminta agar bisa datang ke
kuburan ayahnya terlebih dulu. Ayah Paige, Mark Winia, meninggal 18 bulan lalu
dalam usia 45 tahun karena sakit infeksi paru-paru.
Dengan dandanan sudah siap
berjalan di altar, Paige mendatangi makam ayahnya. Dia kemudian menjadi sangat
emosional saat tiba di depan kuburang sang ayah. Wanita 23 tahun itu terduduk
lemas dan tampak menangis. Momen itu diabadikan oleh Kari sang fotografer.
Foto yang menampilkan kesedihan
Paige tersebut kemudian ditaruh Kari di akun Facebook perusahaan fotografinya
seminggu setelah pernikahan. Tentunya sudah dengan izin sang mempelai wanita.
Tidak lama setelah ditampilkan di Facebook, foto tersebut langsung menjadi buah
bibir.
Banyak orang menanggapi foto
tersebut dengan komentar positif namun banyak pula yang menanggapinya dengan
komentar negatif. Yah sah-sah saja mengingat semua orang merdeka untuk
bersuara. Dan “Paige hanya sekedar mencari sensasi”. Wooow, kalimat tersebut
sukses menyita perhatian saya. Mencari sensasi dalam moment seperti ini?
Mungkinkah?
Menurut apa yang dikatakan oleh
sebagian orang, anak perempuan biasanya
memiliki rasa sayang yang amat besar kepada ayahnya. Sebagai seseorang yang
terlahir sebagai seorang perempuan saya turut mengiyakan apa yang mereka
katakan tentang hal ini. Sosok ayah, bapak, abah, abi, daddy, papa, atau apalah
gelar yang diberikan anak kepada lelaki terhormat ini, adalah sosok seorang
laki-laki yang membimbing, melindungi, mengayomi, dan membuat anak perempuannya
merasa aman.
Dan tentang pernikahan. Katakan
saja bahwa saya tidak tahu banyak tentang pernikahan karena saya sendiri belum
mengalami :p. Sedikit yang saya tahu tentang pernikahan barangkali adalah
nilainya, dan “penting” adalah
representasi nilai kualitatif yang saya tahu untuk sebuah pernikahan.
Dalam sebuah momen penting,
setiap orang pasti ingin dihadiri oleh orang yang berperan penting pula dalam
hidupnya. Dan dalam kondisi normal, saya
rasa tidak ada seorang anak perempuanpun yang ingin menikah tanpa dihadiri oleh
ayahnya. Bagaimana tidak? Seorang putri yang dalam hitungan belasan bahkan
puluhan tahun telah dilindungi dan didampingi oleh seorang laki-laki dengan
titel ayah kini harus berpindah dibawah perlindungan dan bimbingan laki-laki
lainnya. Permohonan izin untuk hal itu, pastilah menjadi kalimat yang ingin ia ucapkan langsung kepada orang
yang seharusnya, hanya kepada ayahnya saja dan bukan melalui orang lain sebagai
wakilnya. Seperti orang ingin berupacara, dengan ayahnya saja yang bisa
menempati posisi sebagai inspektur upacara.
Adalah sebuah hak, mengatakan
bahwa adegan gadis yang berhasil ditahan dalam sebuah jepretan kamera tersebut
hanyalah sensasi belaka. Tapi tahukah apa rasanya kehilangan dan merindukan
seseorang yang tidak mungkin kembali?
Banyak dari orang-orang mengaku mengerti akan hal ini tapi nyatanya gagal
dalam hal turut merasakan. Setiap orang pernah kehilangan, setidaknya itu
membuat saya yakin bahwa semua orang pasti tahu bagaimana rasanya kehilangan walaupun
bukan ia yang mengalaminya secara langsung, dan nyatanya mungkin saya keliru.
Jika saya benar, bagaimana bisa airmata kerinduan akan sosok yang telah hilang
dari gadis itu dikatakan oleh sebagian orang sebagai harga yang pantas untuk
sebuah sensasi? Pernikahan itu penting, dan rasa kehilangan kadang membekas lama dalam hati
seseorang. Tidak secuilpun dari kedua hal tersebut memungkinkan untuk dijadikan
sebagai modal untuk sekedar mencari sensasi
bagi seseorang. Setidaknya itu kata saya, terserah apa kata mereka.
Jogja, 4 Juli 2013.
............
Suatu hari saat mata semua orang tertuju padamu dan orang yang sedang
duduk disampingmu, mata kamu akan mencari-cari seseorang, lalu kamu sadar bahwa
indra penglihatanmu tidak cukup mampu untuk menembus jiwa yang tidak lagi menempati raga.
Hatimu yang akan merasa, bahwa ia hadir disana, menjadi inspektur dalam upacaramu dan
menempati posisi yang seharusnya. Lalu moment itu akan berjalan sempurna.
............



0 komentar:
Posting Komentar