Laman


Selasa, 18 Maret 2014

ANDAI KAMU GADIS KOTA INI

Nada telepon itu berdering kembali, aku sudah tahu ini akan terjadi sejak  beberapa menit yang lalu ketika kupencet tombol merah untuk mengakhiri pembicaraan kita yang sebenarnya masih menggantung itu. Aku tahu kamu benci mengakhiri pembicaraan dengan cara semacam ini. Kalau boleh aku menebak, kamu pasti marah-marah diujung sana, atau bahkan mungkin menangis dibawah bantal. Maaf harus membuatmu seperti ini lagi.

Kubiarkan nada panggil itu menggema didalam ruangan yang seolah tak berpenghuni hingga akhirnya tak terdengar lagi. Stok sabarmu kali ini moga-moga sudah habis dan tak tersisa lagi untukku, hingga akhirnya amarah yang tak tersalurkan itu mengakhiri emosimu dalam diam yang lama-kelamaan mengendap menjadi benci. Tinggalkan aku dan bencilah aku sesuka hatimu. Ini memang keanehan, tapi sungguh hanya keanehan inilah yang sanggup diterjemahkan oleh hatiku saat ini tanpa aku sendiri mengerti kenapa bisa seperti ini. Bukan aku membencimu, bukan aku tak sayang padamu, bukan aku tak suka setiap jengkal langkahmu, bukan aku ingin membungkam tawamu saat berada disisiku.

Ijinkan aku memperbincangkan kita dan kota ini. Aku lahir di kota ini. Aku mencintai kota ini seperti kamu mencintai kota ini sepenuh hatimu, seolah ragamu terlahir di kota ini sama sepertiku. Namun aku tahu bahwa kota ini hanyalah persinggahan bagimu,  cepat atau lambat kamu pasti akan kembali untuk mereka yang juga kamu cinta disana. Sekalipun berada disini membuatmu nyaman sehangat berselimut dalam hujan, kamu harus bangun dan mengambil payung berjalan dibawah hujan untuk mereka yang sedang menunggumu pulang. 

“Aku ingin tinggal disini” bukan sekali dua kamu ucapkan kalimat ini. Terkadang kalimat itu terucap  pasti dengan senyuman, kamu cinta kota ini bahkan sebelum kamu memulai 4 tahunmu disini, entah bagaimana bisa, begitu katamu. Di lain waktu, kalimat itu terucap ragu dengan tatapan kosong dari matamu. “Pulang” menjadi konsep yang kamu inginkan sekaligus kamu takutkan. Siapa yang bisa menerjemahkan seperti apa rasanya menikmati sensasi menyelami indahnya lautan namun masih merasa ngeri saat menyadari kamu berada semakin jauh dari alam nyatamu diatas sana? Seperti itulah yang barangkali kamu rasakan. 

        “Bukannya selama ini kamu bilang kita harus yakin dan pasti akan temukan jalan?” getir dan retorikal kamu bertanya seolah meminta pertangggungjawaban atas apa yang pernah aku yakinkan. Barangkali saat itu aku salah, aku tutup mataku sendiri saat sebuah akhir telah tampak dipelupuk mataku bahkan sebelum sebuah awal benar-benar kita mulai.

“Atau jangan-jangan kamu memang membenciku? Kamu benar-benar membenciku?” setengah terisak kamu bertanya. Tidak, sungguh. Bagaimana bisa kamu berpikir aku sebenci itu padamu saat aku rela habiskan sebagian waktuku untuk kamu selama ini, untuk percakapan diujung telepon tengah malam hingga pagi yang dulu rela kita alami.

“Kamu takut pada jarak? ” pertanyaan ketigamu laksana serangan bertubi-tubi sebelum aku sempat menjawab pertanyaan pertama dan keduamu. Sabar, biarkan aku menjawabnya. Barangkali kali ini kamu benar, aku gentar terhadap ribuan kilometer yang nanti harus membentang diantara kita saat kuyakini bahwa kebersamaan adalah harga mati.

“Kita akan temukan jalan, kan?” lanjutmu lagi. Hey, sesungguh itukah kamu mau bertahan disini? Kali ini ijinkan aku untuk sedikit sok tahu, mimpimu masih panjang dan banyak yang harus kamu lakukan untuk mereka yang kamu cinta disana, bukan begitu? aku tidak yakin benarkah aku adalah alasan yang tepat bagimu untuk tetap tinggal. Kalimat ini lagi-lagi terhenti ditenggorokan, tercekat tanpa sempat menjelma sebagai kata-kata yang seharusnya sampai diindra dengarmu. Biarlah, toh sekalipun kukatakan demikian, barangkali dimatamu aku tetaplah tampak sebagai makhluk egois yang tidak mau menunggumu menyelesaikan mimpi-mimpi dan segala hal yang ingin kamu wujudkan.

“Bekas lukamu itu... bekas lukamu itulah yang mengingatkanmu akan sakitnya kehilangan dan lantas membuatmu enggan meneruskan. Aku adalah ketidakpastian yang nyata bagimu. Menemukan celah untuk berhenti sebelum semuanya penuh dengan keterlanjuran adalah kebenaran tertinggimu saat ini” pelan kamu lantas menyimpulkan sendiri setelah segelontor pertanyaan-pertanyaanmu itu tak mendapat satu kata pun sebagai jawaban. Ah, entah kesialan macam apa yang mencekat tenggorokanku hingga tak ada yang sanggup aku luncurkan dari bibirku sebagai respon dari pernyataanmu. Ingin kukatakan betapa sok tahunya kamu bisa-bisanya berkata seperti itu, namun kemudian aku tersadar, setelah itu lalu apa? kalimat apa yang selanjutnya akan kugunakan untuk menyangkal? Tak kutemukan kalimat yang tepat untuk memicu perdebatan ini, entah karena aku masih butuh waktu untuk menemukan jawaban atau entah karena aku memang telah kalah dan membenarkan pernyataanmu tanpa sadar.

Aku rasa kamu tidak perlu didebat, komunikasi yang terbangun walau hanya dengan satu arah ini sudah mampu memberimu segalanya yang ingin kamu dengar. Barangkali cara ini akan membuat tetesan air diatas payungmu tidak akan sederas yang kamu takutkan, kamu akan dibersamai dengan hujan yang lebih ringan untuk pulang. Kamu diam, mengerti kemana akan pergi setelah tidak cukup alasan lagi bagimu untuk tetap tinggal. Kamu titipkan satu kalimat tanya yang untuk kesekian kalinya lagi-lagi membuatku terdiam. Namun diamku kali ini bukan karena sesuatu yang mencekat tenggorokan, diamku kali ini tak beralasan, aku tidak tahu jawabannya.

“Andai aku gadis kota ini, apakah akan tetap seperti ini ceritanya?”

Tanpa mau menunggu apa-apa lagi, kamu berbalik pergi.

Yogyakarta, 18 Maret 2014

NB : Belum tentu aku itu aku, belum tentu aku itu kamu, juga dia. J

2 komentar:

Arufa mengatakan...

suka deh baca tulisan nya Endah :)

ini sekedar fiksi atau kamu=aku, aku=kamu??? hehehe

Endah Tri Wahyuni mengatakan...

hehe.. makasih mbaa.. yah mbak alfa kok bs membaca sudut pandang yg aku bolak balik sih, kan ga seruuuu.. wkwkwk