Laman


Selasa, 18 Maret 2014

ANDAI KAMU GADIS KOTA INI

Nada telepon itu berdering kembali, aku sudah tahu ini akan terjadi sejak  beberapa menit yang lalu ketika kupencet tombol merah untuk mengakhiri pembicaraan kita yang sebenarnya masih menggantung itu. Aku tahu kamu benci mengakhiri pembicaraan dengan cara semacam ini. Kalau boleh aku menebak, kamu pasti marah-marah diujung sana, atau bahkan mungkin menangis dibawah bantal. Maaf harus membuatmu seperti ini lagi.

Kubiarkan nada panggil itu menggema didalam ruangan yang seolah tak berpenghuni hingga akhirnya tak terdengar lagi. Stok sabarmu kali ini moga-moga sudah habis dan tak tersisa lagi untukku, hingga akhirnya amarah yang tak tersalurkan itu mengakhiri emosimu dalam diam yang lama-kelamaan mengendap menjadi benci. Tinggalkan aku dan bencilah aku sesuka hatimu. Ini memang keanehan, tapi sungguh hanya keanehan inilah yang sanggup diterjemahkan oleh hatiku saat ini tanpa aku sendiri mengerti kenapa bisa seperti ini. Bukan aku membencimu, bukan aku tak sayang padamu, bukan aku tak suka setiap jengkal langkahmu, bukan aku ingin membungkam tawamu saat berada disisiku.

Ijinkan aku memperbincangkan kita dan kota ini. Aku lahir di kota ini. Aku mencintai kota ini seperti kamu mencintai kota ini sepenuh hatimu, seolah ragamu terlahir di kota ini sama sepertiku. Namun aku tahu bahwa kota ini hanyalah persinggahan bagimu,  cepat atau lambat kamu pasti akan kembali untuk mereka yang juga kamu cinta disana. Sekalipun berada disini membuatmu nyaman sehangat berselimut dalam hujan, kamu harus bangun dan mengambil payung berjalan dibawah hujan untuk mereka yang sedang menunggumu pulang. 

“Aku ingin tinggal disini” bukan sekali dua kamu ucapkan kalimat ini. Terkadang kalimat itu terucap  pasti dengan senyuman, kamu cinta kota ini bahkan sebelum kamu memulai 4 tahunmu disini, entah bagaimana bisa, begitu katamu. Di lain waktu, kalimat itu terucap ragu dengan tatapan kosong dari matamu. “Pulang” menjadi konsep yang kamu inginkan sekaligus kamu takutkan. Siapa yang bisa menerjemahkan seperti apa rasanya menikmati sensasi menyelami indahnya lautan namun masih merasa ngeri saat menyadari kamu berada semakin jauh dari alam nyatamu diatas sana? Seperti itulah yang barangkali kamu rasakan. 

        “Bukannya selama ini kamu bilang kita harus yakin dan pasti akan temukan jalan?” getir dan retorikal kamu bertanya seolah meminta pertangggungjawaban atas apa yang pernah aku yakinkan. Barangkali saat itu aku salah, aku tutup mataku sendiri saat sebuah akhir telah tampak dipelupuk mataku bahkan sebelum sebuah awal benar-benar kita mulai.

“Atau jangan-jangan kamu memang membenciku? Kamu benar-benar membenciku?” setengah terisak kamu bertanya. Tidak, sungguh. Bagaimana bisa kamu berpikir aku sebenci itu padamu saat aku rela habiskan sebagian waktuku untuk kamu selama ini, untuk percakapan diujung telepon tengah malam hingga pagi yang dulu rela kita alami.

“Kamu takut pada jarak? ” pertanyaan ketigamu laksana serangan bertubi-tubi sebelum aku sempat menjawab pertanyaan pertama dan keduamu. Sabar, biarkan aku menjawabnya. Barangkali kali ini kamu benar, aku gentar terhadap ribuan kilometer yang nanti harus membentang diantara kita saat kuyakini bahwa kebersamaan adalah harga mati.

“Kita akan temukan jalan, kan?” lanjutmu lagi. Hey, sesungguh itukah kamu mau bertahan disini? Kali ini ijinkan aku untuk sedikit sok tahu, mimpimu masih panjang dan banyak yang harus kamu lakukan untuk mereka yang kamu cinta disana, bukan begitu? aku tidak yakin benarkah aku adalah alasan yang tepat bagimu untuk tetap tinggal. Kalimat ini lagi-lagi terhenti ditenggorokan, tercekat tanpa sempat menjelma sebagai kata-kata yang seharusnya sampai diindra dengarmu. Biarlah, toh sekalipun kukatakan demikian, barangkali dimatamu aku tetaplah tampak sebagai makhluk egois yang tidak mau menunggumu menyelesaikan mimpi-mimpi dan segala hal yang ingin kamu wujudkan.

“Bekas lukamu itu... bekas lukamu itulah yang mengingatkanmu akan sakitnya kehilangan dan lantas membuatmu enggan meneruskan. Aku adalah ketidakpastian yang nyata bagimu. Menemukan celah untuk berhenti sebelum semuanya penuh dengan keterlanjuran adalah kebenaran tertinggimu saat ini” pelan kamu lantas menyimpulkan sendiri setelah segelontor pertanyaan-pertanyaanmu itu tak mendapat satu kata pun sebagai jawaban. Ah, entah kesialan macam apa yang mencekat tenggorokanku hingga tak ada yang sanggup aku luncurkan dari bibirku sebagai respon dari pernyataanmu. Ingin kukatakan betapa sok tahunya kamu bisa-bisanya berkata seperti itu, namun kemudian aku tersadar, setelah itu lalu apa? kalimat apa yang selanjutnya akan kugunakan untuk menyangkal? Tak kutemukan kalimat yang tepat untuk memicu perdebatan ini, entah karena aku masih butuh waktu untuk menemukan jawaban atau entah karena aku memang telah kalah dan membenarkan pernyataanmu tanpa sadar.

Aku rasa kamu tidak perlu didebat, komunikasi yang terbangun walau hanya dengan satu arah ini sudah mampu memberimu segalanya yang ingin kamu dengar. Barangkali cara ini akan membuat tetesan air diatas payungmu tidak akan sederas yang kamu takutkan, kamu akan dibersamai dengan hujan yang lebih ringan untuk pulang. Kamu diam, mengerti kemana akan pergi setelah tidak cukup alasan lagi bagimu untuk tetap tinggal. Kamu titipkan satu kalimat tanya yang untuk kesekian kalinya lagi-lagi membuatku terdiam. Namun diamku kali ini bukan karena sesuatu yang mencekat tenggorokan, diamku kali ini tak beralasan, aku tidak tahu jawabannya.

“Andai aku gadis kota ini, apakah akan tetap seperti ini ceritanya?”

Tanpa mau menunggu apa-apa lagi, kamu berbalik pergi.

Yogyakarta, 18 Maret 2014

NB : Belum tentu aku itu aku, belum tentu aku itu kamu, juga dia. J

Rabu, 12 Maret 2014

Obat Masuk Angin pun Tak Sempat Bicara


Tiada yang mengerti, dan mungkin diapun tidak memahami, betapa tidak nyamannya matamu memandang kepingan-kepingan kendi kalian yang kini pecah berantakan, betapa sulitnya kamu memutuskan untuk tetap tinggal atau justru pergi. Kamu bukannya tidak sadar bahwa kendi kalian telah retak sebelumnya, sedikit ketidakhati-hatian akan membuatnya jatuh dan pecah menjadi berkeping-keping seperti saat ini. Entah perekat semacam apa lagi yang bisa menyatukannya.

Kamu dan dia diam sembari  membiarkan waktu bergulir, berharap kebisuan yang kalian cipta lambat laun bersedia menjadi perekat kepingan itu hingga utuh kembali. Waktu dan kebisuan mampu menjadi komposisi perekat kendi kalian, tidak sekarang tapi nanti, saat kalian sama-sama menyadari bahwa kalian butuh bersama dan bukannya berjalan sendiri sendiri, itu yang kamu pikir. Namun sayang, waktu dan kebisuan kalian hambar, tak ada unsur yang mampu menjadi semacam zat perekat dari keduanya.

Dia enggan bersuara dan tak mampu pula kamu berbicara, tidak pula obat masuk angin yang kamu selipkan di tasmu saat hari terakhir kalian berjumpa. Hari dimana dia gagal memahami inginmu untuk kesekian kalinya, hari dimana kamu gagal memahami inginnya untuk kesekian kalinya, paling gagal, paling fatal, itu bahasa yang sanggup kamu baca dari matanya.

Beberapa hari sebelum hari itu dia masuk angin, dibungkus angin disepanjang perjalanan sepulang beraktivitas membuat angin malam kerap kali menyerang tubuhnya.  Sebenarnya itu bukan hal yang baru baginya, juga bagimu yang telah terbiasa setiap malam menunggu ia pulang lalu mendengar sesekali ia bercerita tentang masuk anginnya, baik lewat telpon atau rangkaian huruf yang tertera dilayar kaca. Ya, karena kalian memang masih harus berada di dua tempat yang berbeda. Sekalipun tempat menunggumu bukanlah tempat ia pulang, bagimu dan baginya ketidakrasionalan cinta mampu menghapus dimensi jarak hingga seolah tak ada.

Malam itu ia kembali bercerita bahwa masuk angin keparat itu kembali menyerang tubuhnya, tak ada yang mampu kamu lakukan selain memastikan bahwa stok obat masuk angin yang beberapa waktu lalu  kamu beli untuknya itu masih ada disana. Cinta juga ternyata rasional, jarak tetaplah jarak, dua manusia yang berada di tempat  terpisah tidaklah mampu berhadap-hadapan untuk saling menolong secara langsung satu sama lain karenanya.

“Hadeeehh.. kamu itu kaya mak-mak” protesnya gemas di suatu hari saat kamu membelikannya berbagai macam obat-obatan darurat yang sewaktu-waktu mungkin saja ia butuhkan ditengah malam, saat kebanyakan toko sudah tutup, atau saat kondisi tubuhnya terlalu kelelahan hingga enggan untuk mencari obat sendiri keluar. Kamu tahu, tidak pernah baginya terpikirkan hal-hal semacam itu, dan kamupun bukannya tidak sadar bahwa saat itu wujudmu pasti tampak sebagai makhluk terlebay yang pernah ia kenal dalam hidupnya. Tapi kamu hanya tertawa mendengar gerutunya, memilih tidak perduli dan tetap memberikan obat-obatan itu padanya. Bagimu, memastikan bahwa ia tidak kekurangan apapun saat ia membutuhkan adalah hal yang lebih penting untuk kamu lakukan.

Harusnya stok obat masuk angin itu ada ditangannya saat ini. Kamu sengaja membeli lagi sebelum bertemu dengannya suatu hari. Obat masuk anginnya yang dulu pasti sudah habis, sedangkan malam-malam selanjutnya masih mengharuskan ia pulang terbungkus angin malam, begitu pikirmu. Karenanya, hati-hati kamu selipkan obat itu didalam tasmu.

Siapa yang mengira, pertengkaran kalian di hari itu ternyata terlalu hebat, pekat dan amarah tak memberi kesempatan apapun  untuk mencairkan, termasuk obat masuk angin yang kamu bawa, ia bahkan tak sempat keluar dari tempatnya. Dia buru-buru emosi,  kamu buru-buru melangkah pergi. Dan kamu tidak menyangka, langkah kakimu tanpa disertai sergahan “jangan” darinya kali ini meruntuhkan apa yang kalian bangun selama ini. Egoisme yang sama-sama tinggi berubah menjadi semacam dua kepal tangan dengan kekuatan yang lebih dari cukup untuk menghancurkan kendi kalian yang telah retak hingga akhirnya menjadi berkeping-keping. Tak ada kata yang mampu menyatukan sekalipun kamu sudah mencoba memungut kepingan-kepingan itu, tidak sempat pula obat masuk angin yang kamu bawa itu berbicara untuk setidaknya menjadi saksi dan menjelaskan bahwa keadaan terburuk ini pun bukanlah inginmu, tidak pula waktu dan kebisuan yang kalian cipta sanggup menjadi perekat, tak ada yang sanggup menyelamatkan. Pada akhirnya kalian mengerti, menyelamatkan diri kalian masing-masing melalui jalan berbeda menjadi pilihan paling tepat sebelum kalian semakin jengah tak bisa kemana-kemana karena tujuan yang mungkin sudah tak lagi sama.

Jogjakarta, 11 Maret 2014

NB: Belum tentu yang kamu baca itu aku, belum tentu yang kamu baca itu kamu, apalagi dia. :)

Jumat, 27 Desember 2013

SHADOW

Tidak banyak orang bisa mengerti seperti apa rasanya menjadi bayangan, seperti apa rasanya menjadi objek yang tak benar-benar ada. Kamu tidak pernah tahu, akankah bayangan itu hanya akan tetap menjadi bayangan, akankah bayangan itu berubah menjadi nyata.

Tidak ada yang salah ketika sebuah awal telah diputuskan bersama, ketika kalian jatuh-sejatuhnya. Tidak ada yang salah dengan keberadaan dua anak manusia yang sama-sama telah menemukan seorang kawan untuk berlari disampingnya, mencari arah baru sejauh-jauhnya agar lupa jalan kembali ke tempat yang katanya mereka tidak ingin kembali.  Konsep untuk saling menyelamatkan barangkali tidak salah jika disebut sebagai alasan awal mengapa kalian berlari bersama saat itu. Tidak ada yang salah pula ketika misi penyelamatan pada akhirnya berubah menjadi misi menjatuhkan hati, itu anggapan kalian saat itu.

Sesekali kalian berhenti sejenak untuk bercengkerama di sepanjang jalan yang hanya milik kalian, bahagia diatas jejak-jejak langkah yang hanya milik kalian pula, tanpa seorangpun tahu bahwa disitu ada jalan, disitu ada kalian, entah karena kalian tidak ingin membaginya atau memang mereka tidak perlu tahu tentang hal ini. Kamu mengerti, deklarasi menjadi tidak begitu penting lagi saat ini, kamu bahagia, dia bahagia, itu cukup, itu anggapanmu. Kamu butuh dia yang bisa menutup rasa lamamu yang terlampau berkarat, dia yang mampu membuatmu jatuh pada hati yang baru.

Andai saja jejak langkah yang sudah kalian lalui cukup untuk membayar masa lalu, maka tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi. Tapi entah kenapa dia harus menjadi bagian yang tidak terselamatkan dalam hal ini. Jejak langkahmu disampingnya hanyalah sepersekian dari jejak langkah yang pernah ia lalui dimasa lalu, kamu bukannya tidak paham akan hal itu, kamu bukannya tidak paham dengan resiko yang kamu ambil saat kamu memutuskan untuk berlari disampingnya, kamu bukannya tidak sadar dengan apa yang selama ini kamu takutkan.

Terlanjur, terlanjur kamu masuk kedalam cerita ini, terlanjur kamu jatuh hati. Kamu seperti sedang berdiri diujung menara, melangkah kedepan kamu jatuh, kebelakangpun juga sama. Kamu diam ditempat sembari membuat bayangan dibawah sana sambil memikirkan resiko baru yang harus kamu ambil. Moga-moga kamu tidak sampai membatu karena itu. Tapi hati punya pilihannya sendiri. Jika kamu terpikir akan hal itu, seharusnya kamu tidak perlu sampai membatu karena terlalu lama memikirkan  apa yang harus kamu lakukan selanjutnya.


Tidak banyak orang bisa mengerti seperti apa rasanya menjadi bayangan, seperti apa rasanya menjadi objek yang tak benar-benar ada. Kamu tidak pernah tahu, akankah bayangan itu hanya akan tetap menjadi bayangan, akankah bayangan itu berubah menjadi nyata.

Jogja, 28 Desember 2013

Rabu, 06 November 2013

Selamat Ulang Tahun


Malam itu hujan, seseorang tengah mengendarai motornya dengan mengenakan jas hujan yang membuatnya tampak lebih mirip dengan batman jadi-jadian di musim hujan, di pundaknya tergantung ransel berisi  setumpuk kertas yang menyita perhatiannya sampai detik itu. Beberapa hal tengah membuntutinya sejak hari-hari sebelumnya, terlalu banyak yang menyita, kertas, kepingan puzzle yang tiada wujudnya, musim, dan setiap inci perubahan yang hampir tidak ia perdulikan. Deru motornya terus melaju dan menyatu dengan rintik yang masih menyisa di kota itu, tanpa tahu setelah pukul 00.00 diawal tanggal baru nanti nanti apakah langit berubah menjadi lebih cerah ataukah masih sama saja. 

Ia hampir lupa seperti apa rasanya menunggu detik-detik pergantian usia yang dulu dianggapnya sebagai sesuatu yang sakral, dimana ia terbiasa menunggu waktu mengantarkannya tepat pukul 00.00 sambil menghitung mundur ditemani pekat malam di awal tanggal yang dianggapnya sanggup menjanjikan terwujudnya segala keinginan.

Banyak hal di hari-hari sebelumnya yang telah hilang, siapa sangka ia mendadak berubah menjadi orang yang semakin asik dengan dunianya sendiri, tanpa perduli dengan orang-orang yang memprotes dan berkata jangan, bertanya-tanya dalam hati apakah orang-orang yang terlampau peka atau ialah yang kini tampak menjadi makhluk paling tidak peka ditengah banyak hal yang menuntut kepekaannya dalam segala hal. 

Menjelang awal hari yang mereka sebut spesial, ternyata masih belum juga berhasil bermetamorfosa menjadi sebuah penantian yang spesial baginya. Hari ini terlalu lelah, jika sanggup menunggu dan tidak tertidur ya syukur,  jika tertidur pun tak lagi menjadi masalah baginya, pekat malam di pukul 00.00 tidak  selalu sanggup menjanjikan keinginan yang terwujud.

Ia tidak ingin mencipta apa-apa lagi sebagai simbol bergantinya usia, tanpa itu, kedua angka kembar itu sudah sah. Jika ada yang harus diminta, maka ia meminta hal-hal yang hilang hanyalah hilang sesaat saja, sebagaimana barang tercuri yang dikembalikan oleh pencurinya yang tadinya khilaf lalu kini insaf. Lucunya, ia sendiri tidak  tahu pasti, apa yang hilang dan apa pula yang menghilangkan , ia hanya ingin sesuatu yang hilang itu agar kembali ketempatnya. Tak mengapa, itu harapan untuk tanggal spesial, Tuhan Maha Tahu, lebih mengetahui apa yang ia minta meski ia sendiri tak bisa mendefinisikan apa yang sedang ia pinta.

Tak harus mensakralkan pukul 00.00, tak harus meminta di hari itu, tak harus mengandalkan pekat malam di awal tanggal itu sebagai lambang yang menjanjikan perwujudan keinginan dari segala harapan. Memintalah kapan saja, nikmatilah setiap detik yang ada. Saat ia menuliskan tulisan ini sambil meminta, 4 November di tahun ini bahkan sudah tak lagi ada.   

Selamat Ulang Tahun :D
Selamat menerima kembali sesuatu yang hilang, selamat menikmati hidup sehidup-hidupnya ! :D

Jogja, 6 November 2013


Sabtu, 21 September 2013

I'm Always on The Way Back Home


Sebagaimana yang selama ini saya percaya, bahwa dimanapun berada dan sejauh apapun seseorang melangkah, ia pasti selalu memiliki orang-orang yang disebut dengan keluarga, ia pasti selalu memiliki tempat untuk pulang...

Jogja, 21 September 2013
                  Keluarga baru lagi. Itulah yang diberikan Tuhan kepada saya bahkan sebelum sempat saya meminta. Ya, Tuhan tahu apa yang  kita perlu bahkan ketika kita sendiri belum sempat meminta itu kepadaNya. Perihal tuntutan akademis untuk melaksanakan KKNPPL akhirnya mempertemukan saya dengan 15 orang mahasiswa lain dengan latar jurusan berbeda-beda yang juga ditugaskan ke SMAN 2 Bantul, yang pada akhirnya menjadi keluarga baru bagi saya. 

                      Tak terasa waktu berjalan begitu cepat. KKNPPL  yang beberapa bulan lalu lebih banyak kami anggap sebagai beban berat akhirnya berakhir di bulan september ini. KKNPPL yang menyimpan beban yang disatu sisi melegakan namun disisi lain rasanya enggan untuk ditinggalkan.  Beban yang menyatukan keenambelas orang ini dalam suatu kebersamaan yang terlalu manis untuk dikenang, yang nyatanya menyedihkan untuk ditinggalkan. Entah ini keberuntungan macam apa, disaat beberapa teman saya di kelompok KKNPPL lain berkeluh kesah tentang masalah-masalah dalam kelompoknya, saya justru bersyukur karena dibersamai oleh orang-orang yang ringan tangannya dalam pekerjaan, nyaman pundaknya untuk bersandar, mudah terlepas bebannya oleh tawa kebersamaan, dan tak ketinggalan, senantiasa seiya sekata dalam kerempongan. 

                Ah, saya pasti akan sangat merindukan kalian teman-teman. Yogi, pak ketua, si om, yang penyabar tapi juga kadang rempong. Yeni, si mbok, si belahan jiwa yang banyak kesamaan selera dengan saya. Diani, si mamol, anak gunung yang anggun dan sregep nulis diary kkn. Akhor, teman duet saya bernyanyi dan main gitar di kontrakan karena kami memiliki banyak kesamaan dalam selera musik. Sri, Sisrol yang selalu jadi juara tercepat menghabiskan makanan dibanding teman-teman semeja makannya. Erni, Ern anak kecil unyu rekan small circlenya mba endach. Sigit, yang jari telunjuknya setiap subuh setia membangunkan teman-temannya di kontrakan walaupun seringkali diprotes karena dianggap membangunkan terlalu subuh. Tyas, yang khas dengan nada piyee panjangnya yang akhirnya jadi trendsetter didalam kelompok.  Aris yang khas dengan wajah tenang dan innosencenya. An’an yang jago main hulahop dan selalu tidur dengan Busepalus boneka beruang ungunya. Nia, yang paling gagah diantara jejeran rekan cewek lainnya. Raras, yang juga suka sama lagu-lagunya Avril. Boni, yang hobbi menanyakan perihal kebahagiaan orang “terus koe bahagia nek.... blablabla.”. Qonik, choniah yang dari luar keliatan kalem dan anteng tapi aslinya suka bikin orang ketawa.  Dan Eva, Epul si gadis geje  yang suka usil, yang pelor sekali nempel langsung molor,  dan yang paling sering membersamai saya kesana kemari.

                     Saya, si mba endach yang kalau nginap di kontrakan tidurnya paling telat sendiri dan kadang bikin kalian susah memejamkan mata karena lampu ruangan yang masih cetar benderang, yang paling anti dengan serangan ranjau udara anak-anak kontrakan,  yang sering telat datang ke sekolah karena tidak sempurna dalam melakukan misi penyeruputan jogja-bantul, yang sedih gundah gulana kalo pas lagi gak bawa uang kas saat kalian menyerahkan lembaran kuitansi persis kaya debt collector lagi nagih utang, bakal kangen kalian semua teman-teman...  Terima kasih sudah menyelipkan saya diantara kalian, suatu kehormatan bisa menjalankan tugas bersama kalian. :)


Sejauh apapun seseorang melangkah, ia pasti selalu memiliki orang-orang yang disebut dengan keluarga, dan ia pasti selalu memiliki tempat untuk pulang... dan orang itu kalian, dan tempat itu kalian, karena bersama kalian saya merasa nyaman.

Jumat, 16 Agustus 2013

FIRASAT


Firasat, kalau kata Dee bilang, firasat adalah cara bagaimana alam berbicara kepada kita. Banyak penelitian-penelitian yang mengungkapkan bahwa alam sebenarnya memang memiliki hubungan yang erat dengan manusia, tidak hanya dari sisi lahiriah namun juga batiniah. Bahkan Rhonda Bryne dalam bukunya The Secret mengatakan bahwa alam berhubungan erat dengan pikiran seseorang, seperti apa kita berfikir tentang suatu hal,  maka seperti itu pulalah alam akan mendukung apa yang kita pikirkan hingga alam mewujudkan apa yang kita pikirkan agar menjadi nyata, begitulah cara alam memperlakukan kita.

Bagaimana dengan firasat? rasanya firasat lebih dulu datang mendahului apa yang belum  terpikirkan di benak kita, dan firasat seringkali berbicara kepada kita melalui alam, baik melalui alam sadar maupun alam bawah sadar. Firasat barangkali benar adalah cara alam berbahasa kepada kita, tapi mengendalikannya adalah diluar kuasa kita, mengenai kapan dan untuk suatu pertanda apa.

Pernahkah disuatu pagi anda bangun dari tidur anda dengan suatu mimpi buruk yang masih meninggalkan jejak yang bahkan terlalu menakutkan dalam ingatan anda ketika anda bangun? mimpi yang membuat sepanjang  hari anda menjadi suram, mimpi yang membuat anda kebingungan harus berbuat apa. Anda terpikir bahwa mimpi itu membawa suatu pertanda yang akan terjadi dalam hidup anda, namun sayangnya itu pertanda yang sama sekali tidak anda inginkan, dan anda berusaha sekuat tenaga untuk menganggap itu pertanda yang terlalu jauh untuk masuk dalam kategori fakta yang dapat dipercaya. Anda bertanya kepada siapa saja, tapi sayangnya mereka sama saja, percaya sebagaimana semua orang selama ini percaya, pertanda sesuatu akan hilang, begitu katanya. Anda memutuskan untuk tidak lagi bertanya karena hanya akan membuang-buang waktu saja, toh mereka menjawabpun anda menolak untuk percaya. Anda baru tahu seperti apa beratnya melawan arus sendirian, tidak percaya apa yang orang lain percaya bahwa itu pertanda. Anda tidak perduli pada akhirnya siapa yang akan menang, anda atau mereka, anda hanya perlu menentang didalam hati anda, itu yang anda tahu.

Entah apa itu namanya,  anda benar-benar tidak percaya atau hanya berpura-pura tidak percaya, ketika selanjutnya anda memberanikan diri untuk menghubungi seseorang diujung sana, mendengar suaranya tanpa menanyakan kabarnya, bertingkah seolah tidak ada yang sedang anda khawatirkan, lalu menghela nafas lega dan menarik kesimpulan bahwa seseorang yang anda khawatirkan ternyata baik-baik saja. Itu menjadi bukti yang sudah cukup bagi anda untuk tidak percaya lalu menenggelamkan mimpi buruk itu seolah tak pernah ada. Anda bukanlah orang yang pandai menangkap suatu pertanda dari alam, termasuk pertanda yang dikirim dari alam bawah sadar, itu yang anda percaya.

Sampai pada suatu ketika, semuanya telah terjadi, sesuatu telah benar-benar hilang, anda benar-benar merasakan kehilangan besar dalam hidup anda. Butuh waktu cukup lama bagi anda untuk menyadari bahwa alam pernah berbicara kepada anda sebelumnya, saat dimana anda menolak mentah-mentah untuk membangun komunikasi dua arah dengannya, anda tidak menyadari bahwa saat itu suatu pertanda telah diberikan alam bawah sadar anda, dengan izin Tuhan tentunya.

Setiap orang pasti punya pengalaman sendiri-sendiri tentang firasat, sayapun demikian. Firasat seringkali menyelinap masuk dalam kehidupan seseorang tanpa permisi, tanpa diminta, dan mewujud dalam berbagai cara, entah apa tujuannya, meminta seseorang yang diberi firasat agar bersiap-siap untuk menerima apa yang akan terjadi, tapi untuk apa jika hanya itu saja alasannya? Untuk apa jika pada akhirnya kita tetap tidak bisa mencegah dan merubah apa-apa?

“Jika kamu dimampukan untuk mencegah, kamu pasti mampu. Tapi jika tidak, seberapa besarpun usaha kamu untuk mencegah, maka kamu tetap tidak akan bisa. Saat mendapatkan pertanda, yang perlu kamu lakukan hanyalah menerima, menerima saat pertanda itu datang, dan menerima apa yang akan terjadi setelahnya...” itu inti dari jawaban yang ditulis Dee dalam cerita firasat dalam buku Rectoverso yang menjadi salah satu buku favorit saya. Barangkali benar bahwa firasat mengajarkan kita untuk terlebih dulu berdamai dengan kenyataan, lalu menerima dan mengikhlaskan apa yang akan terjadi.

 Tanjung, 11 Agustus 2013

Kamis, 04 Juli 2013

TERLALU MAHAL UNTUK SEKEDAR SENSASI


Beberapa hari lalu secara tidak sengaja google menuntun saya menemukan sebuah artikel menarik bertajuk Foto Menyentuh: Pengantin Wanita Menangis di Makam Ayahnya. Artikel itu menarik bagi saya, dan menjadi lebih menarik lagi setelah menyimak tanggapan-tanggapan orang di dunia maya setelah berita tersebut disebarluaskan. Berikut saya tampilkan cuplikan teks dari artikel yang saya baca.

Foto tersebut ditampilkan dalam akun Facebook perusahaan fotografi Zander & Breck Photography. Adalah fotografer bernama Kari Wieringa yang membuat foto itu saat kliennya bernama Paige Eding menikah 7 Juni lalu.
Sebelum pergi ke gereja untuk menikah, Paige yang sudah memakai gaun pengantin meminta agar bisa datang ke kuburan ayahnya terlebih dulu. Ayah Paige, Mark Winia, meninggal 18 bulan lalu dalam usia 45 tahun karena sakit infeksi paru-paru.
Dengan dandanan sudah siap berjalan di altar, Paige mendatangi makam ayahnya. Dia kemudian menjadi sangat emosional saat tiba di depan kuburang sang ayah. Wanita 23 tahun itu terduduk lemas dan tampak menangis. Momen itu diabadikan oleh Kari sang fotografer.
Foto yang menampilkan kesedihan Paige tersebut kemudian ditaruh Kari di akun Facebook perusahaan fotografinya seminggu setelah pernikahan. Tentunya sudah dengan izin sang mempelai wanita. Tidak lama setelah ditampilkan di Facebook, foto tersebut langsung menjadi buah bibir.

Banyak orang menanggapi foto tersebut dengan komentar positif namun banyak pula yang menanggapinya dengan komentar negatif. Yah sah-sah saja mengingat semua orang merdeka untuk bersuara. Dan “Paige hanya sekedar mencari sensasi”. Wooow, kalimat tersebut sukses menyita perhatian saya. Mencari sensasi dalam moment seperti ini? Mungkinkah?

Menurut apa yang dikatakan oleh sebagian  orang, anak perempuan biasanya memiliki rasa sayang yang amat besar kepada ayahnya. Sebagai seseorang yang terlahir sebagai seorang perempuan saya turut mengiyakan apa yang mereka katakan tentang hal ini. Sosok ayah, bapak, abah, abi, daddy, papa, atau apalah gelar yang diberikan anak kepada lelaki terhormat ini, adalah sosok seorang laki-laki yang membimbing, melindungi, mengayomi, dan membuat anak perempuannya merasa aman.

Dan tentang pernikahan. Katakan saja bahwa saya tidak tahu banyak tentang pernikahan karena saya sendiri belum mengalami :p. Sedikit yang saya tahu tentang pernikahan barangkali adalah nilainya,  dan “penting” adalah representasi nilai kualitatif yang saya tahu untuk sebuah pernikahan.

Dalam sebuah momen penting, setiap orang pasti ingin dihadiri oleh orang yang berperan penting pula dalam hidupnya.  Dan dalam kondisi normal, saya rasa tidak ada seorang anak perempuanpun yang ingin menikah tanpa dihadiri oleh ayahnya. Bagaimana tidak? Seorang putri yang dalam hitungan belasan bahkan puluhan tahun telah dilindungi dan didampingi oleh seorang laki-laki dengan titel ayah kini harus berpindah dibawah perlindungan dan bimbingan laki-laki lainnya. Permohonan izin untuk hal itu, pastilah menjadi kalimat  yang ingin ia ucapkan langsung kepada orang yang seharusnya, hanya kepada ayahnya saja dan bukan melalui orang lain sebagai wakilnya. Seperti orang ingin berupacara, dengan ayahnya saja yang bisa menempati posisi sebagai inspektur upacara.

Adalah sebuah hak, mengatakan bahwa adegan gadis yang berhasil ditahan dalam sebuah jepretan kamera tersebut hanyalah sensasi belaka. Tapi tahukah apa rasanya kehilangan dan merindukan seseorang yang tidak mungkin kembali?  Banyak dari orang-orang mengaku mengerti akan hal ini tapi nyatanya gagal dalam hal turut merasakan. Setiap orang pernah kehilangan, setidaknya itu membuat saya yakin bahwa semua orang pasti tahu bagaimana rasanya kehilangan walaupun bukan ia yang mengalaminya secara langsung, dan nyatanya mungkin saya keliru. Jika saya benar, bagaimana bisa airmata kerinduan akan sosok yang telah hilang dari gadis itu dikatakan oleh sebagian orang sebagai harga yang pantas untuk sebuah sensasi? Pernikahan itu penting, dan rasa  kehilangan kadang membekas lama dalam hati seseorang. Tidak secuilpun dari kedua hal tersebut memungkinkan untuk dijadikan sebagai modal  untuk sekedar mencari sensasi bagi seseorang. Setidaknya itu kata saya, terserah apa kata mereka.

Jogja, 4 Juli 2013.

............
Suatu hari saat mata semua orang tertuju padamu dan orang yang sedang duduk disampingmu, mata kamu akan mencari-cari seseorang, lalu kamu sadar bahwa indra penglihatanmu tidak cukup mampu untuk menembus jiwa yang tidak lagi menempati raga. Hatimu yang akan merasa, bahwa ia hadir disana, menjadi inspektur dalam upacaramu dan menempati posisi yang seharusnya. Lalu moment itu akan berjalan sempurna.
............