Hari ini, sejenak sejarah seperti berulang. 17 agustus 1945, hari dimana pertama kali sang saka merah putih berkibar gagah bersama derasnya angin dan birunya langit di atas sana.
17 agustus 2010, butuh 65 tahun untuk menginjak dimensi waktu berbeda, apakah kibar kali ini adalah kibarannya yg paling gagah?
Ada yg mengatakan muak dengan negeri ini, bosan, kosong.
Ada yg bertanya dan berteriak MANA, sambil sibuk mencari zamrud khatulistiwa yg hampir tak tampak lagi wujudnya.
Ada yg berteriak BENARKAH, sambil mencari sisa2 nasi diatas jaminan nama negeri yg katanya kaya raya ini.
Ada suara tangis nyaring bayi yg baru lahir, yg ketakutan akan masa depan tempat ia dibesarkan kelak.
Suara2 itu berteriak siang dan malam, menggema, menyusur sudut kotor dibawah jembatan, mengikuti liku sungai, menyapu rata birunya samudra, menggelayut di dahan yg rapuh, meninggalkan jejak di istana negara, melesat ke ujung monas yg emas, hingga mendaki puncak tertinggi jaya wijaya.
Siapa? Teriakan siapa yg memekik hendak merobek gendang telinga itu? Indonesia? Ya, itu teriakan Indonesia sendiri.
Ketika hari ini kita mengucapkan selamat ulang taun pd Indonesia, lalu mendoakan semoga sejahtera, semoga maju, dan semoga berjaya, sesungguhnya kita sedang mendoakan diri kita sendiri, mendoakan semoga kita bisa menjadi salah satu yg berhenti berteriak, lalu meredam setiap lengkingnya yg memekakkan telinga, entah bagaimana caranya. Mendoakan semoga kita bisa menjadi salah satu yg membawa perubahan, berlari dari Sabang sampai Merauke dengan tongkat kemenangan d tangan kanan.
Perjuangan belum selesai. Menjadi yg berguna bagi nusa dan bangsa bukanlah cita2, tapi keharusan.
Semoga mampu, dan memang harus mampu.
Karena yg sedang berteriak dengan sejuta tanya itu adalah Indonesia..
Karena Indonesia itu aku, Indonesia itu kita..
_Jogja, 17 agustus 2010_
17 agustus 2010, butuh 65 tahun untuk menginjak dimensi waktu berbeda, apakah kibar kali ini adalah kibarannya yg paling gagah?
Ada yg mengatakan muak dengan negeri ini, bosan, kosong.
Ada yg bertanya dan berteriak MANA, sambil sibuk mencari zamrud khatulistiwa yg hampir tak tampak lagi wujudnya.
Ada yg berteriak BENARKAH, sambil mencari sisa2 nasi diatas jaminan nama negeri yg katanya kaya raya ini.
Ada suara tangis nyaring bayi yg baru lahir, yg ketakutan akan masa depan tempat ia dibesarkan kelak.
Suara2 itu berteriak siang dan malam, menggema, menyusur sudut kotor dibawah jembatan, mengikuti liku sungai, menyapu rata birunya samudra, menggelayut di dahan yg rapuh, meninggalkan jejak di istana negara, melesat ke ujung monas yg emas, hingga mendaki puncak tertinggi jaya wijaya.
Siapa? Teriakan siapa yg memekik hendak merobek gendang telinga itu? Indonesia? Ya, itu teriakan Indonesia sendiri.
Ketika hari ini kita mengucapkan selamat ulang taun pd Indonesia, lalu mendoakan semoga sejahtera, semoga maju, dan semoga berjaya, sesungguhnya kita sedang mendoakan diri kita sendiri, mendoakan semoga kita bisa menjadi salah satu yg berhenti berteriak, lalu meredam setiap lengkingnya yg memekakkan telinga, entah bagaimana caranya. Mendoakan semoga kita bisa menjadi salah satu yg membawa perubahan, berlari dari Sabang sampai Merauke dengan tongkat kemenangan d tangan kanan.
Perjuangan belum selesai. Menjadi yg berguna bagi nusa dan bangsa bukanlah cita2, tapi keharusan.
Semoga mampu, dan memang harus mampu.
Karena yg sedang berteriak dengan sejuta tanya itu adalah Indonesia..
Karena Indonesia itu aku, Indonesia itu kita..
_Jogja, 17 agustus 2010_


0 komentar:
Posting Komentar