Laman


Rabu, 03 Agustus 2011

MALU DONK SAMA KUCING...

Hari ini saya kembali belajar tentang suatu hal, suatu hal yang sebenarnya telah saya ketahui karena pengalaman yang saya rasakan, dan mungkin suatu hal yang telah dianggap wajar oleh banyak orang, bahwa setiap orang tua memang sudah seharusnya menyayangi anaknya. Namun tadi pagi saya mendapatkan pelajaran ini pada suatu pemandangan yang sebenarnya sederhana saja, pemandangan antara sepiring makanan dan dua ekor kucing peliharaan keluarga saya.
Duduk manis dan diam. Itulah yang dilakukan oleh induk kucing itu ketika disuguhi campuran sepiring nasi beserta tulang belulang dan daging ikan sisa yang kami makan untuk sahur pagi ini. Diam melihat makanan, tentu saja bukan karena ia kucing yang bodoh atau tidak cukup pintar untuk mengetahui bahwa itu adalah makanan yang harusnya ia makan. Entah apa yang ada dibenaknya, namun jelas sekali saat itu ia sedang memperhatikan seekor kucing kecil lain berusia beberapa bulan yang tidak lain adalah anaknya sedang menyantap makanan tersebut dihadapannya. Tertegun saya melihatnya, ya, induk kucing itu hanya memperhatikan anaknya makan dan tidak mau menyantap makanan sedikitpun sebelum mendahulukan anaknya.
Mungkin selama ini kita sudah tahu dan mungkin adalah hal yang lumrah, bahwa kebanyakan orang tua di dunia ini pasti rela berkorban demi anaknya, mendahulukan kepentingan anaknya diatas kepentingannya sendiri. Namun kali ini saya mendapatinya pada seekor kucing, binatang yang memang tidak dikaruniai akal namun saya yakini memiliki perasaan. Ya, kucing itu tidak mau ikut memakan nasi diatas piring yang sebenarnya cukup besar untuk ia makan berdua dengan anaknya saat itu, setelah anaknya berhenti makan barulah ia mau memakan nasi tersebut. Ini tidak hanya terjadi sekali, namun berkali-kali setiap mereka diberi makan, selalu begitu dan selalu begitu. Betapa ia sangat menyayangi anaknya.
Dalam hal ini saya rasa ia sebagai binatang jauh lebih hebat daripada orang tua di dunia ini yang mungkin masih banyak tidak perduli pada anaknya, seperti yang sering kali muncul dalam banyaknya kasus kekerasan orang tua pada anak yang banyak kita lihat dalam tayangan berita kriminal ditelevisi. Jangankan menyayangi anaknya, mereka bahkan tidak perduli sedikitpun pada anaknya, memperlakukan anaknya layaknya budak dengan mempekerjakan mereka entah di jalanan atau dimanapun sementara mereka hanya duduk menunggu hasilnya, atau mereka tidak cukup berperasaan dengan membiarkan kaki anak kecilnya terlindas kereta api seperti yang pernah terjadi beberapa waktu lalu, atau bahkan sampai ada yang tega membunuh manusia yang tidak lain adalah darah dagingnya sendiri. Suatu perlakuan orang tua yang sama sekali tidak sebanding dengan kasih sayang seekor kucing yang saya perhatikan dengan hal sederhana yang ia tunjukkan.
Mungkin para orang tua tersebut sebenarnya mengetahui apa yang layak dan tidak layak mereka lakukan dan kasih sayang seperti apa yang harusnya mereka peruntukkan bagi anaknya, namun bisa jadi hanya sekedar diketahui tanpa benar-benar diresapi, sebuah teori belaka. Karena itulah mungkin jika tadi pagi mereka ada disini bersama saya dan melihat pemandangan ini sebentar saja, barangkali mereka akan malu karena seekor binatang yang tidak cukup pandai untuk disuruh berakting dihadapan mereka itu telah menunjukkan bahwa mereka benar-benar kalah dalam hal pengorbanan dan kasih sayang kepada anak.

Tanjung, 4 agustus 2011

0 komentar: