Laman


Minggu, 16 Oktober 2011

Aku menjadi sarjana, itu cita-cita mamaku



Jika ada yang bertanya padaku tentang mamaku, maka aku akan menjawab "My Mom is my everything". Ya, mamaku adalah segalanya. Bagiku, ia bisa menjadi apapun dalam hidupnya. Jika sudah dewasa nanti aku bahkan tidak yakin apakah aku bisa menjadi sehebat mama. Masa lalu dan masa kecilnya yang pahit membuat mamaku tumbuh menjadi wanita yang tegar, dan bertekad bahwa anaknya tidak boleh sampai mengalami hal sulit seperti yang pernah ia alami dulu.

Mamaku adalah tipe orang yang berpikir panjang untuk masa depan, dan ia tidak pernah main-main dengan arti sebuah pendidikan, cita-cita terbesarnya adalah menjadikan ketiga anaknya sebagai sarjana, entah kenapa, mungkin karena menurutnya pendidikan adalah salah satu hal yang akan menyelamatkan masa depan kami nanti, ketika semua orang mau tidak mau harus bersaing semakin ketat dengan ijazah masing-masing yang mereka bawa.

Hal itu ia buktikan dengan betapa tanggapnya ia dalam berbagai hal-hal yang berkaitan dengan pendidikan kami, bahkan dalam hal sekecil apapun. Dari dulu, ketika hari pembagian rapor tiba, mamalah yang paling sering mengambilkan rapor. Dan jika dari kejauhan aku melihat guruku telah masuk dalam ruangan, aku tidak perlu begitu khawatir apakah mama sudah berada di ruang pembagian rapor itu atau belum, seperti yang sering kali dikhwatirkan oleh sebagian temanku tentang orang tua mereka. Didalam hati, aku yakin mama pasti datang, bahkan mungkin ia menjadi yang paling awal tiba disana. Mama bilang pembagian rapor itu penting, dan aku tahu bahwa ia akan meninggalkan semua aktivitasnya dihari itu demi segera mengetahui hasil raporku.

Kini aku telah duduk dibangku kuliah dengan predikat seorang mahasiswa, sebuah predikat yang baginya harus dimiliki oleh ketiga anaknya. Masih teringat setahun yang lalu, aku sempat berpikir bahwa mamaku adalah seorang yang egois, ketika dia menyatakan bahwa aku tidak boleh kuliah di universitas pilihanku di kota Jogja. Letaknya yang jauh dan berada diluar pulau membuat mama tampak berat untuk melepasku apalagi mengingat aku adalah anak bungsu, sehingga ia selalu berkata TIDAK untuk pilihanku itu. Namun ketika aku diam-diam mengikuti jalur PMDK dan ternyata diterima di universitas itu, tak kusangka, mamapun akhirnya berkata iya. Kadang tersirat ragu diwajahnya, namun aku berulangkali meyakinkan bahwa aku akan baik-baik saja disana, ia pun tersenyum sambil berkata "Orang lain bisa melepas anaknya pergi jauh untuk mengejar pendidikan, mamapun belajar untuk bisa, dan pasti bisa!"

Ketika hari dimana aku harus pergi ke Jogja tiba, ia mengantarku ke bandara, aku akan pergi sendiri ke Jogja dan ia tidak bisa menemaniku ke kota pelajar itu karena ada urusan yang lebih penting yang harus ia urus. Tidak banyak yang kami bicarakan selama di bandara, sesekali ia hanya mengulang nasehat yang sudah berkali-kali disampaikannya di rumah bersama bapak, agar aku bisa menjaga diri dengan baik disana. Ketika tiba saatnya aku harus check in, dipeluk dan diciumnya keningku. Seperti yang kukatakan, mamaku adalah orang yang kuat, ia tidak akan menangis melepasku, meski aku tahu dari raut wajahnya ada kesedihan, ada kecemasan, ada kekhawatiran, dan ada pula kenyataan yang harus ia terima, bahwa putri terkecilnya kini telah beranjak dewasa.

Kedua kakakku telah menjadi sarjana, dan kini tugasku adalah berusaha untuk menjadi seperti mereka. Tunggulah saatnya ma, suatu hari mama akan tersenyum bangga melihatku menggenapi cita-cita mama.

Jogja, April 2011.
Diikutsertakan dalam lomba Kartini Muda Indonesia, HONDA.
Alhamdulillah.. belum menang, heheee..

0 komentar: