Laman


Selasa, 27 Desember 2011

People whom I Thank To

Tidak seorangpun manusia bisa menjalani hidup sendiri. Sudah menjadi suatu hukum alam bahwa sejak memulai kehidupan sampai dengan menutup mata seseorang tidak akan bisa hidup tanpa bantuan orang lain. Hal ini menuntut adanya interaksi antar manusia, karena faktanya kita memang butuh orang lain, terutama orang-orang yang berada disekitar kita. Dan berbagai hal kecil sampai hal besar yang mereka lakukan pada kita selama ini pastinya akan memberi arti, ada value yang terselip disana meski tidak selalu dapat disadari secara langsung, barangkali value itu terlihat ketika kita telah berada dalam dimensi waktu yang berbeda, it’s okay. Dan dari semua yang berarti, ada yang paling berarti yang bisa ku lihat sampai pada detik ini, thats why I should really thanks to these people..

1. Mama
Thanks for being the greatest mother in the world for me, terima kasih untuk selalu tidur disampingku dan meletakkan tanganmu ditubuhku ketika aku sakit, dan aku benar2 speechless ketika kau bilang barangkali saja panas ditubuhku akan mengalir ketubuhmu dengan cara itu. Terima kasih untuk cerita Bobo, Oki & Nirmala, Donal Bebek, Bona dan Rong Rong yang kau bacakan padaku ketika kau tahu aku menyukai buku-buku itu saat aku bahkan belum bisa membaca. Thanks for saying it’s okay when I said I need. Terima kasih karena selalu mengajariku untuk berdiri sendiri selama aku bisa tanpa harus selalu merepotkan dan bergantung pada orang lain. Thanks for always making me happy. You’re my everything mom, dan aku berterima kasih untuk segalanya.

2. Bapak
Thanks for being the greatest father in the world for me, terima kasih untuk selalu tidak jadi memberiku uang ketika aku menyodorkan tangan kiriku untuk menerimanya, terima kasih untuk selalu bersabar, terima kasih untuk doremifasolasido yang kau perkenalkan padaku sejak kecil dan mendengarkan apa yang bisa kumainkan sampai saat ini, terima kasih untuk kata “terima kasih” yang kau ajarkan, thanks for sometimes being so nice to my cats walaupun sebenarnya kau tidak begitu menyukainya, terima kasih mengajariku mencangkok pohon rambutan hingga aku bisa bangga melihat pohon rambutan hasil cangkokanku beberapa tahun yang lalu itu kini berdiri gagah didepan rumah. You do it well as my dad, thanks

3. My sister
Terima kasih mbak nunce ku sayang karena menjadi kakak yang menyenangkan, thank for being so nice to me, terima kasih untuk tidak pernah pelit, terima kasih untuk kucing-kucing lucu dirumah, kalo bukan mba siapa lagi yg merawat mereka? Terima kasih untuk selalu memotongkan kuku-kuku pada jemari mungilku ketika aku masih belum bisa menggunakan pemotong kuku dengan benar, terima kasih untuk menelponku, mengkhawatirkanku, lalu pulang lebih cepat dari jam kantor dengan membawa 6 kotak jus jambu untukku ketika aku mengirimi pesan bahwa aku sedang sakit dirumah dan mama terlanjur pergi ke luar kota tadi pagi, terima kasih untuk menemaniku bersama bapak sampai mama datang. Terima kasih untuk mau mendengarkan ocehan2ku atau lagu-lagu dari gitar tuaku saat listrik mati dimalam hari dan aku kesepian tak tau apa yang harus kulakukan selain memperdengarkan lagu yang mungkin sumbang itu dikamarmu, padahal aku tahu saat itu adalah waktu yang tepat bagimu jika memilih untuk tidur. Dan aku suka mendengar cerita-cerita petualanganmu menaklukan gunung ini dan gunung itu bersama teman-temanmu dimayapala, kau hebat sekali, dan sampai saat ini aku tidak bisa menjadi sepertimu.

4. My Brader
Jahil, nakal, dan tidak bisa diam, itulah kakak laki-lakiku. Bahkan hingga sampai saat ini bila aku pulang ia masih sangat sangat sering menjahiliku, yah anggap saja itu karena ia rindu padaku. Meski begitu, aku berterima kasih padanya untuk banyak hal. He is my hero, terima kasih untuk memarahi teman laki-laki jahil yang sering menggangguku dengan cacing tanah ketika aku duduk di kelas satu SD, sejak itu anak itu tidak berani menggangguku lagi. Terima kasih untuk membersihkan seragam merah putihku yang kotor saat aku jatuh terpeleset di halaman sekolah hingga membuatku menangis waktu itu. Terima kasih untuk tidak menjadi komandan menwa dirumah saat kau memang seharusnya menjadi seorang kakak saja bagiku. Terima kasih untuk mengajariku bersepeda, melepas satu persatu roda empat sepedaku hingga aku pada akhirnya benar-benar bisa mengendarainya diatas dua roda. Terima kasih sudah memperkenalkanku dengan musik, untuk bermain musik bersama, untuk lagu-lagu yang dulu menjadi familiar di telingaku dan aku masih menyukainya hingga saat ini. Tapi kau begitu cerewet dan gampang marah hingga kadang membuatku kesal -_- . Aku ingat dulu kita pernah bertengkar hebat ketika mama sedang tidak ada dirumah dan tidak ada yang melerai, terucap dengan keras dari bibirku bahwa aku menyesal memiliki kakak sepertimu, tapi kau harus tahu bahwa saat itu aku sedang berbohong, bohong besar.

5. Old man
How should I call you? When my tongue is really hard to say a word describing who you are. Aku hanya ingin berterima kasih untuk satu hal, karena kau pernah ada maka dia pun ada dan aku memilikinya dalam hidup ini. Aku tidak berterima kasih atas langkah panjang yang telah kau buat, untuk tak pernah menengok ke belakang. We’re not a part of you anymore and we don’t even need to know each other.

6. Sobat-sobat kecilku
Especially Erliani (Inay), Sylvia Humaira (Via), Pusva Rahayu Sekarwati (Ayu).
Terima kasih untuk warna warni indah di masa kecil kita, warna-warna yang tercipta itu bahkan lebih indah dari warna pelangi yang pernah kulukis diatas kertas gambarku dulu. Masa-masa itu terlalu indah, bahkan sampai saat ini pun aku masih sering berandai-andai bisa kembali ke masa itu, masa 6 tahun kebersamaan kita. Terima kasih untuk selalu tertawa bersama, menanggung resiko bersama atas segala ulah yang pernah kita perbuat, untuk menyanyi dan tampil bersama, untuk selalu kompak n teriak2 saying goodbye diatas sepeda sebelum berpisah setiap pulang sekolah, terima kasih untuk tingkah2 nyeleneh yang tak terlupakan, untuk tawa tanpa beban yang tak terbayarkan. However it was colouring my childhood, love you 4sleif 

7. Acil
Usianya mungkin masih jauh diatas mamaku, tapi aku memanggilnya Acil, seperti orang-orang di lingkingan sekitarku sering memanggilnya. Beliau tetanggaku, lebih dari tetangga sebenarnya. Seorang wanita sederhana yang sudah sangat dekat dengan keluargaku jauh sebelum aku lahir ke dunia ini. Beliau juga adalah guru ngajiku, mengajariku dari mengenal huruf alif ba ta sampai aku tamat Al Qur’an di juz 30. Waktu kecil aku merasa sangat dekat dengan beliau, terima kasih untuk tidak pernah memarahiku ketika teras rumahmu kukotori dengan mainan masak-masakanku, terima kasih untuk menyediakan rumahmu sebagai pelarianku ketika aku dimarahi mama, terima kasih untuk menjaga aku dan kakakku dirumah ketika mama harus menjaga bapak yang sedang dirawat dirumah sakit. Terima kasih untuk selalu menunjukkan sebuah kesabaran atas banyak hal yang telah terjadi.

8. Mbah yang sering kutemui bersama sobat-sobat kecilku di tepi jalan.
Waktu SD, ketika pergi ke sekolah bersama sobat-sobatku, aku sering melihat mbah itu sedang membersihkan tanaman dan rumput liar dipinggir jalan dengan sebuah sepeda onthel tua tak jauh darinya. Usianya sudah sepuh sekali, kami tidak mengenalnya, namun tiap kali melewati beliau kami memanggilnya “mbaaahhh”, kemudian beliau menoleh, menjawab sembari tersenyum “nuuunn”. Dengan pekerjaan yang dilakukan bahkan di usianya yang telah lanjut, ia tetap bisa tersenyum ramah kepada semua orang, bahkan kepada anak2 tengil macam kami. Ia pun mampu tersenyum ikhlas atas apa yang harus dilakukan bahkan di usianya yang telah lanjut, terima kasih untuk menunjukkannya kepadaku, itu sebuah pelajaran.

9. Teachers
Pak Amrullah guru SD ku, thanks for being sooo patience dan selalu tersenyum dalam menghadapi ulahku dan ketiga sobatku itu di sekolah, terima kasih untuk mempercayakan banyak hal kepada kami. Pak Rakidi guru matematika SMP ku, terima kasih untuk mengajari kami banyak hal “Dengan berbagi ilmu, ilmu kita tidak akan berkurang, justru akan bertambah, buktikan saja” itu salah satu pesan beliau yang masih kuingat. Ibu Wijati, terima kasih untuk selalu mengajarkan kedisiplinan meski belum sepenuhnya bisa kuikuti sampai sekarang. Ibu Saidah, kepala SMA yang super duper tegas, ketegasan beliau benar-benar kuacungi jempol, terima kasih untuk menunjukkan cara kepemimpian itu kepada kami.
Mereka tidak memberikan suatu aba2 atau arahan, tapi contoh nyata. Saat ini kita tidak butuh lagi dengan apa yang namanya panduan, aba-aba, atau arahan yang sekedar dimulut saja, yang kita butuhkan adalah contoh nyata, tindakan yang bisa dilihat dan dijadikan teladan.

10. Keluarga besar OSIS SMANTA
Aku tidak menyangka ternyata diluar sana sulit sekali bagiku untuk menemukan tempat senyaman Osis smanta. Tempat ini terlalu nyaman, lika liku tajam didalamnya tidak membuatku terhenti, justru aku menikmatinya layaknya sedang bermain rooler coaster, berhenti pada waktunya diujung rel dengan senyum mengembang, semua karena mereka ada bersamaku. Terima kasih untuk mempercayakan banyak hal padaku saat aku bahkan tidak cukup percaya pada diriku sendiri, terima kasih untuk kakak-kakakku, ka Patria, Ka Retno, Ka Muz, Ka Saufi buntal, Ka Rory, dan kakak2 lainnya, adik2ku Fina, Ayu, Gusti, Luvi, Dina, Isnan, Jabal, Fendi, dan semua yang gak bisa kusebutin satu-satu. Dan terima kasih yang sangat amat kepada kawan-kawan seperjuanganku Adrew, Thoni, Vivi, Eza, Siska, Maretta, Tika, Rini, Rian, Septian, bagiku kalian telah menjadi lebih dari sekedar kawan, tapi saudara. Terima kasih untuk rasa nano nano yang tak terlupakan, semuanya terajut menjadi cerita indah yang akan kurindukan suatu hari nanti. Terima kasih untuk persaudaraan yang tercipta hingga detik ini, persaudaraan untuk selamanya.

11. Sahabat-sahabat SMP dan SMA
Sahabat-sahabatku di SMP Plus murung pudak, kawan2 SMAN 1 Tanjung, terima kasih untuk hadirnya kalian dalam warna-warni kehidupanku, kalian memberi banyak pelajaran tentang hidup. Sahabat-sahabat dekatku dan semua teman-teman di Ipa 2, terima kasih untuk menyelipkan aku diantara kalian, nyaman sekali rasanya berada bersama kalian, dengan kebersamaan dan tingkah-tingkah gila yang tak terlupakan. Tak perlulah kusebutkan nama kalian satu persatu, aku tahu siapa kalian bagiku dan kalian tahu siapa kalian. Janji ya, kita kawan selamanya, kita untuk slamanya.

12. Semua yang kutemui di kota Jogja.
Terima kasih untuk teman2 dan semua yang kutemui di Jogja, terima kasih untuk membuatku merasa nyaman di kota ini. Masih banyak cerita yang akan terangkai disini.

13. .........
And, this is I thank to you for being so nice, for being different than the others, for being the one whom has taken a part on the story, actually on my fairytale. For making me laugh, cry, smile without any reason, and yeah that’s crazy anyway. And also Thanks for letting me get lost, don’t know which way I should step my foot on. And I’d also have to say thanks if someday I find we’re in far away, but I wish something better is waiting us there, no matter how's the ending should be.



Thank you very much,
Jogja, 27 Desember 2011

Rabu, 07 Desember 2011

Be Comfortable, Feel Like Home, and That's Your Home

Well I'm going home,
Back to the place where I belong,
And where your love has always been enough for me.
(Chris Daughtry)

Mama said home is where the heart is
When I left that town
I made it all the way to West Virginia
And that's where my heart found
(Lady Antabellum)

I’m On My Way
I’m On My Way
Home Sweet Home
Tonight, Tonight
I’m On My Way
Just Set Me Free
Home Sweet Home
(Carrie Underword)

Let me go home
I’m just too far from where you are
I wanna come home
(Michael Buble)

Lebih baik disini
rumah kita sendiri
segala nikmat dan anugerah
yang kuasa
semuanya .. ada disini
rumah kita ...
(Indonesian Voice)




Home, tiba-tiba saja saya ingin menulis tentang itu ketika teringat dengan rumah saya yang berada di kampung halaman nan jauh di mato. Beberapa kutipan kalimat diatas mungkin hanyalah sedikit dari sekian banyak contoh lagu yang bertemakan rumah, hasil sentuhan pena dan alunan nada dari sang musisi yang entah bagaimana perasaannya ketika ia menciptakan kalimat-kalimat tersebut dalam bentuk lagu.

Kebanyakan dari lirik lagu tersebut menunjukkan bahwa mereka ingin pulang ke suatu tempat yang mereka sebut dengan rumah, I’m going home back to the place where I belong, home is where the heart is, home sweet home, let me go home, dan Lebih baik disini rumah kita sendiri, demikian penggalan-penggalan lirik dari beberapa lagu yang menyatakan bahwa penulisnya ingin pulang ke suatu tempat berarti yang disebut dengan rumah, rumah seperti apa yang mereka maksudkan? kenapa harus ke rumah? Mungkin jawabannya adalah karena setiap orang pasti memiliki rumah...

Generally, orang menganggap bahwa rumah adalah suatu tempat yang bisa membuat kita merasa nyaman berada disana, saya juga setuju dengan kalimat itu. Sebagaimana orang lain pada umumnya, saya bisa mengatakan bahwa tempat yang saya tinggali bersama keluarga saya semenjak saya lahir itu adalah rumah, saya bisa mengatakan bangunan yang ditandai dengan surat kepemilikan resmi yang dimiliki oleh keluarga saya itu sebagai rumah. Tapi sebenarnya bukan karena saya dibesarkan disitu selama belasan tahun, dan bukan karena itu sebuah bangunan yang ditandai dengan surat kepemilikan resmi itulah maka saya mengatakan tempat itu sebagai rumah, bukan itu alasannya, tapi karena tempat itu bisa memberikan rasa nyaman bagi saya pribadi ketika saya berada didalamnya, dengan kasih sayang dari keluarga saya tentunya. Disisi lain, mungkin saja saudara saya mengatakan bahwa tempat itu bukanlah rumah baginya, dan itu sah-sah saja ketika ia memang merasa tidak nyaman berada disana.

Home is not always a house. Memaknai kata rumah yang sesungguhnya tidak harus selalu dilihat dalam bentuk bangunan reyot, megah, atau mungkin bergaya eropa yang bisa dilihat secara fisik dan ditandai dengan kepemilikan resmi diatas kertas secara sah. Lebih dari itu, bagi saya memaknai rumah yang sesungguhnya bukan dengan cara melihat, tetapi merasakan. Merasakan hal-hal yang mungkin tidak bisa kita rasakan ditempat lain. Ketika kita merasa tidak nyaman berada didalam suatu tempat yang bahkan secara kepemilikan sah sebagai milik kita, maka bagaimanapun tempat itu bukanlah rumah, itu hanya tempat tinggal, atau mungkin persinggahan karena mungkin kita tidak akan selamanya berada disana.

By money, you can build a a house but not a home. Kita perlu bekerja keras mengumpulkan uang untuk membangun sebuah bangunan yang disini dikatakan sebagai House, tapi barangkali kita bahkan tidak perlu uang sepeserpun untuk bisa memiliki tempat yang bisa membuat kita merasa nyaman yang disini disebut sebagai Home. Tergantung cara masing-masing orang saja merasakannya hingga ia dapat memiliki sebuah rumah (home).

Mungkin rumah itu adalah gunung dan hutan bagi para pecinta alam dimana mereka merasa nyaman ketika masih bisa berdamai dengan alam saat manusia lain justru sibuk mengeksploitasi alam secara besar-besaran, mungkin rumah itu adalah jalanan bagi sekelompok anak punk berbaju hitam dengan rambut mohawk dimana mereka bisa nyaman menjadi diri mereka sendiri walau harus tampak seperti alien dimata masyarakat, mungkin rumah itu adalah rumah kardus tanpa sekat dibawah kolong jembatan bagi para pemulung dimana mereka bisa merasakan kebersamaan makan bersama dengan pemulung lainnya disiang hari yang terik ketika kota terlalu sibuk dengan hiruk pikuknya, mungkin rumah itu adalah studio musik bagi para musisi dimana alat musik setia berkawan dengannya hingga membuat dirinya merasa nyaman menumpahkan apa yang ia rasakan dalam lagu-lagu sederhana, mungkin rumah itu adalah sekretariat organisasi bagi para aktivis dimana kesibukannya dalam melakukan hal-hal yang bermanfaat bagi orang lain dapat membuat mereka merasa senang, mungkin pula rumah itu adalah setiap kota yang berbeda bagi para traveler yang bahkan mungkin merasa lebih nyaman hidup secara nomaden, berpindah dari satu tempat ke tempat lain untuk menikmati ragam budaya dan segala jenis ciptaan Tuhan, mungkin pula rumah itu adalah luasnya lautan biru bagi para pelayar dimana mereka merasa nyaman menjelajahi samudera dengan menantang angin dan badai diatas ombak.

Setiap tempat, gunung, hutan, laut, jalan raya, bangjo, kost, sekret, setiap tempat bisa menjadi rumah bagi siapa saja. Karena itu, harusnya tidak ada alasan untuk mengatakan bahwa kita tidak memiliki rumah (home), pasti ada suatu tempat yang bisa membuat kita merasa nyaman, dimanapun itu. Entah karena kasih sayang yang ada didalamnya, entah karena tempat itu selalu dapat membuat kita tertawa, entah karena tempat itu selalu bisa membuat kita bersyukur, entah karena disana kita bisa menjadi diri kita sendiri, entah karena tempat itu selalu menganggap kita ada, dan entah karena apa saja.

Personally, bagi saya kita tidak selalu butuh sebuah tempat dalam bentuk bangunan untuk bisa disebut sebagai rumah yang sesungguhnya, atau jikapun kita memilikinya maka yang menjadi hal paling penting adalah apa yang ada disana hingga mampu membuat kita merasa comfortable berada didalamnya, merasa nyaman ketika harus menjadikannya sebagai tempat yang dituju ketika ingin pulang. Namun jika kita jauh darinya dan hal itu tidak memungkinkan kita untuk selalu kesana, tidak menjadi masalah karena kita tetap bisa memiliki rumah, dimanapun yang kita mau. Kita selalu memiliki tempat untuk pulang ketika tempat itu nyaman untuk kita, dan itupun adalah rumah, rumah yang juga sesungguhnya.
I'm always on the way back home...

Jogja, 07 Desember 2011