Laman


Rabu, 07 Desember 2011

Be Comfortable, Feel Like Home, and That's Your Home

Well I'm going home,
Back to the place where I belong,
And where your love has always been enough for me.
(Chris Daughtry)

Mama said home is where the heart is
When I left that town
I made it all the way to West Virginia
And that's where my heart found
(Lady Antabellum)

I’m On My Way
I’m On My Way
Home Sweet Home
Tonight, Tonight
I’m On My Way
Just Set Me Free
Home Sweet Home
(Carrie Underword)

Let me go home
I’m just too far from where you are
I wanna come home
(Michael Buble)

Lebih baik disini
rumah kita sendiri
segala nikmat dan anugerah
yang kuasa
semuanya .. ada disini
rumah kita ...
(Indonesian Voice)




Home, tiba-tiba saja saya ingin menulis tentang itu ketika teringat dengan rumah saya yang berada di kampung halaman nan jauh di mato. Beberapa kutipan kalimat diatas mungkin hanyalah sedikit dari sekian banyak contoh lagu yang bertemakan rumah, hasil sentuhan pena dan alunan nada dari sang musisi yang entah bagaimana perasaannya ketika ia menciptakan kalimat-kalimat tersebut dalam bentuk lagu.

Kebanyakan dari lirik lagu tersebut menunjukkan bahwa mereka ingin pulang ke suatu tempat yang mereka sebut dengan rumah, I’m going home back to the place where I belong, home is where the heart is, home sweet home, let me go home, dan Lebih baik disini rumah kita sendiri, demikian penggalan-penggalan lirik dari beberapa lagu yang menyatakan bahwa penulisnya ingin pulang ke suatu tempat berarti yang disebut dengan rumah, rumah seperti apa yang mereka maksudkan? kenapa harus ke rumah? Mungkin jawabannya adalah karena setiap orang pasti memiliki rumah...

Generally, orang menganggap bahwa rumah adalah suatu tempat yang bisa membuat kita merasa nyaman berada disana, saya juga setuju dengan kalimat itu. Sebagaimana orang lain pada umumnya, saya bisa mengatakan bahwa tempat yang saya tinggali bersama keluarga saya semenjak saya lahir itu adalah rumah, saya bisa mengatakan bangunan yang ditandai dengan surat kepemilikan resmi yang dimiliki oleh keluarga saya itu sebagai rumah. Tapi sebenarnya bukan karena saya dibesarkan disitu selama belasan tahun, dan bukan karena itu sebuah bangunan yang ditandai dengan surat kepemilikan resmi itulah maka saya mengatakan tempat itu sebagai rumah, bukan itu alasannya, tapi karena tempat itu bisa memberikan rasa nyaman bagi saya pribadi ketika saya berada didalamnya, dengan kasih sayang dari keluarga saya tentunya. Disisi lain, mungkin saja saudara saya mengatakan bahwa tempat itu bukanlah rumah baginya, dan itu sah-sah saja ketika ia memang merasa tidak nyaman berada disana.

Home is not always a house. Memaknai kata rumah yang sesungguhnya tidak harus selalu dilihat dalam bentuk bangunan reyot, megah, atau mungkin bergaya eropa yang bisa dilihat secara fisik dan ditandai dengan kepemilikan resmi diatas kertas secara sah. Lebih dari itu, bagi saya memaknai rumah yang sesungguhnya bukan dengan cara melihat, tetapi merasakan. Merasakan hal-hal yang mungkin tidak bisa kita rasakan ditempat lain. Ketika kita merasa tidak nyaman berada didalam suatu tempat yang bahkan secara kepemilikan sah sebagai milik kita, maka bagaimanapun tempat itu bukanlah rumah, itu hanya tempat tinggal, atau mungkin persinggahan karena mungkin kita tidak akan selamanya berada disana.

By money, you can build a a house but not a home. Kita perlu bekerja keras mengumpulkan uang untuk membangun sebuah bangunan yang disini dikatakan sebagai House, tapi barangkali kita bahkan tidak perlu uang sepeserpun untuk bisa memiliki tempat yang bisa membuat kita merasa nyaman yang disini disebut sebagai Home. Tergantung cara masing-masing orang saja merasakannya hingga ia dapat memiliki sebuah rumah (home).

Mungkin rumah itu adalah gunung dan hutan bagi para pecinta alam dimana mereka merasa nyaman ketika masih bisa berdamai dengan alam saat manusia lain justru sibuk mengeksploitasi alam secara besar-besaran, mungkin rumah itu adalah jalanan bagi sekelompok anak punk berbaju hitam dengan rambut mohawk dimana mereka bisa nyaman menjadi diri mereka sendiri walau harus tampak seperti alien dimata masyarakat, mungkin rumah itu adalah rumah kardus tanpa sekat dibawah kolong jembatan bagi para pemulung dimana mereka bisa merasakan kebersamaan makan bersama dengan pemulung lainnya disiang hari yang terik ketika kota terlalu sibuk dengan hiruk pikuknya, mungkin rumah itu adalah studio musik bagi para musisi dimana alat musik setia berkawan dengannya hingga membuat dirinya merasa nyaman menumpahkan apa yang ia rasakan dalam lagu-lagu sederhana, mungkin rumah itu adalah sekretariat organisasi bagi para aktivis dimana kesibukannya dalam melakukan hal-hal yang bermanfaat bagi orang lain dapat membuat mereka merasa senang, mungkin pula rumah itu adalah setiap kota yang berbeda bagi para traveler yang bahkan mungkin merasa lebih nyaman hidup secara nomaden, berpindah dari satu tempat ke tempat lain untuk menikmati ragam budaya dan segala jenis ciptaan Tuhan, mungkin pula rumah itu adalah luasnya lautan biru bagi para pelayar dimana mereka merasa nyaman menjelajahi samudera dengan menantang angin dan badai diatas ombak.

Setiap tempat, gunung, hutan, laut, jalan raya, bangjo, kost, sekret, setiap tempat bisa menjadi rumah bagi siapa saja. Karena itu, harusnya tidak ada alasan untuk mengatakan bahwa kita tidak memiliki rumah (home), pasti ada suatu tempat yang bisa membuat kita merasa nyaman, dimanapun itu. Entah karena kasih sayang yang ada didalamnya, entah karena tempat itu selalu dapat membuat kita tertawa, entah karena tempat itu selalu bisa membuat kita bersyukur, entah karena disana kita bisa menjadi diri kita sendiri, entah karena tempat itu selalu menganggap kita ada, dan entah karena apa saja.

Personally, bagi saya kita tidak selalu butuh sebuah tempat dalam bentuk bangunan untuk bisa disebut sebagai rumah yang sesungguhnya, atau jikapun kita memilikinya maka yang menjadi hal paling penting adalah apa yang ada disana hingga mampu membuat kita merasa comfortable berada didalamnya, merasa nyaman ketika harus menjadikannya sebagai tempat yang dituju ketika ingin pulang. Namun jika kita jauh darinya dan hal itu tidak memungkinkan kita untuk selalu kesana, tidak menjadi masalah karena kita tetap bisa memiliki rumah, dimanapun yang kita mau. Kita selalu memiliki tempat untuk pulang ketika tempat itu nyaman untuk kita, dan itupun adalah rumah, rumah yang juga sesungguhnya.
I'm always on the way back home...

Jogja, 07 Desember 2011

0 komentar: