Sebenarnya saya benci harus menulis ini, menulis
sesuatu yang tak lama lagi berubah menjadi kenangan karena mungkin harus segera
ditinggalkan. Tapi kini memang tiba saatnya saya harus menuliskannya, menuliskan
salah satu bagian dalam hidup yang wajib untuk saya abadikan agar kelak tak
lekang oleh zaman. Seperti yang selama ini saya yakini, tulisan adalah simbol
keabadian, usianya bahkan bisa lebih panjang daripada ingatan bahkan usia orang
yang membuat tulisan itu sendiri. Jadi, bagian penting dalam hidup wajib hukumnya
untuk diabadikan dalam tulisan.
Kali ini
tentang Jogjakarta. Saya tidak memaksa siapapun untuk percaya bahwa saya
mencintai kota ini bahkan sejak sebelum saya menetap selama 4 tahun terakhir di
kota ini, saya sendiri bingung entah bagaimana bisa. Empat tahun lalu, ada sesuatu
yang secara naluriah tiba-tiba mendorong saya untuk mendaftarkan diri di salah
satu Universitas Negeri di Jogjakarta secara diam-diam tanpa sepengetahuan
orang tua saya. Itu saya lakukan karena pada awalnya mereka tidak mengijinkan
saya untuk merantau jauh sampai ke kota ini. Beruntungnya, nasib berpihak
kepada saya hingga saya diterima di universitas tersebut dan orang tuapun pada
akhirnya merestui pilihan saya.
Jogjakarta itu adem ayem. Jangan
dikira adem ayemnya Jogjakarta karena masyarakatnya homogen, karena nyatanya
masyarakat disini sama sekali tidak homogen. Jogjakarta justru kaya akan
perbedaan, orang-orang dari berbagai suku dan agama hidup disini. Ajaibnya, di
kota ini perbedaan justru menciptakan kenyamanan, toleransi tak perlu
dikoar-koarkan karena sudah terjunjung tinggi dengan sendirinya, pemimpin
menjadi sosok yang dicintai dan bukannya ditakuti, seni membumi disetiap sudut
karena dihargai setiap denting dan lekuknya, keeleganan tradisi tetap terjaga dari waktu ke
waktu, kesederhanaan dan ketradisionalan tak pernah kalah dan lenyap ditelan
modernisasi, pemikiran-pemikiran kritis terus tumbuh di lingkungan pendidikan yang
menjamur. Jogjakarta, miniatur kekayaan Indonesia.
Sementara bagi saya secara personal, Jogjakarta
adalah tempat saya menimba ilmu, tempat saya belajar memanusiakan manusia
dengan keramahan orang-orangnya, tempat saya melihat sebuah pertunjukkan
spektakuler hujan meteor di langit malam pantai parangkusumo, tempat saya
mencapai titik tertinggi dalam hidup saya dengan menanjaki dan menyusuri lekuk gunung merbabu, tempat
saya menyebut orang-orang baru yang tadinya asing sebagai keluarga, tempat saya menemukan
sahabat-sahabat sejati, tempat saya bertemu secara langsung dengan band legendaris
favorit saya dari jaman SD, Sheila on 7, tempat saya belajar menjadi lebih
dewasa, tempat saya mengerti betapa hidup itu perlu perjuangan, namun ada
saatnya untuk mengambil nafas dan menikmati moment dari satu waktu ke waktu tanpa
harus setiap saat memperlakukan hidup seperti arena balap lari.
Jogjakarta, tempat saya menemukan
kamu, ya, kamu. Kamu adalah Jogjakarta atau Jogjakarta adalah kamu, mana yang
benar? Entahlah, bagi saya itu tidak perlu diperdebatkan karena kamu dan Jogjakarta
sama-sama pernah mewakili definisi cinta dalam hati saya. Kamu menjadi bagian
abadi dari kota ini, tidaklah mengherankan jika kamu tidak pernah mau
meninggalkan kota ini.
Ini seperti semacam sistem kontrak, masa studi sudah
berakhir, dengan demikian izin tinggal saya di kota inipun tak lama lagi akan
habis. Ketika saya masih merantau di Jogjakarta, kata “Pulang” sewajarnya didefinisikan
sebagai kembalinya saya ke kota asal saya tercinta. Namun mendadak kata “Pulang” memiliki makna yang fleksibel bagi saya,
tolong jangan protes. Kelak ketika saya sudah berada disana, kata “Pulang” bagi
saya telah berubah definisinya. “Pulang” adalah kembalinya saya ke Jogjakarta,
saya pasti pulang suatu hari nanti.
Jogjakarta, jangan usir saya dari sini, ijinkanlah saya untuk
selalu pulang lagi, bila hati mulai sepi tiada terobati.
Separuh dari hati saya, saya tinggalkan di kota cinta ini.
Di salah satu sudut kota Jogjakarta,
4 Mei 2014



2 komentar:
Wajib hukumnya dalam agama apa tuh menuliskan pulang dari jogja,hahaha
hei, ternyata mas tukiman ada disini ? aku baru tau. hahaha
Posting Komentar