Laman


Minggu, 04 Mei 2014

PULANG KE JOGJAKARTA



 Sebenarnya saya benci harus menulis ini, menulis sesuatu yang tak lama lagi berubah menjadi kenangan karena mungkin harus segera ditinggalkan. Tapi kini memang tiba saatnya saya harus menuliskannya, menuliskan salah satu bagian dalam hidup yang wajib untuk saya abadikan agar kelak tak lekang oleh zaman. Seperti yang selama ini saya yakini, tulisan adalah simbol keabadian, usianya bahkan bisa lebih panjang daripada ingatan bahkan usia orang yang membuat tulisan itu sendiri. Jadi, bagian penting dalam hidup wajib hukumnya untuk diabadikan dalam tulisan.

            Kali ini tentang Jogjakarta. Saya tidak memaksa siapapun untuk percaya bahwa saya mencintai kota ini bahkan sejak sebelum saya menetap selama 4 tahun terakhir di kota ini, saya sendiri bingung entah bagaimana bisa. Empat tahun lalu, ada sesuatu yang secara naluriah tiba-tiba mendorong saya untuk mendaftarkan diri di salah satu Universitas Negeri di Jogjakarta secara diam-diam tanpa sepengetahuan orang tua saya. Itu saya lakukan karena pada awalnya mereka tidak mengijinkan saya untuk merantau jauh sampai ke kota ini. Beruntungnya, nasib berpihak kepada saya hingga saya diterima di universitas tersebut dan orang tuapun pada akhirnya merestui pilihan saya. 

Jogjakarta itu adem ayem. Jangan dikira adem ayemnya Jogjakarta karena masyarakatnya homogen, karena nyatanya masyarakat disini sama sekali tidak homogen. Jogjakarta justru kaya akan perbedaan, orang-orang dari berbagai suku dan agama hidup disini. Ajaibnya, di kota ini perbedaan justru menciptakan kenyamanan, toleransi tak perlu dikoar-koarkan karena sudah terjunjung tinggi dengan sendirinya, pemimpin menjadi sosok yang dicintai dan bukannya ditakuti, seni membumi disetiap sudut karena dihargai setiap denting dan lekuknya, keeleganan tradisi tetap terjaga dari waktu ke waktu, kesederhanaan dan ketradisionalan tak pernah kalah dan lenyap ditelan modernisasi, pemikiran-pemikiran kritis terus tumbuh di lingkungan pendidikan yang menjamur. Jogjakarta, miniatur kekayaan Indonesia.

Sementara bagi saya secara personal, Jogjakarta adalah tempat saya menimba ilmu, tempat saya belajar memanusiakan manusia dengan keramahan orang-orangnya, tempat saya melihat sebuah pertunjukkan spektakuler hujan meteor di langit malam pantai parangkusumo, tempat saya mencapai titik tertinggi dalam hidup saya dengan menanjaki dan menyusuri lekuk gunung merbabu, tempat saya menyebut orang-orang baru yang tadinya asing sebagai keluarga, tempat saya menemukan sahabat-sahabat sejati, tempat saya bertemu secara langsung dengan band legendaris favorit saya dari jaman SD, Sheila on 7, tempat saya belajar menjadi lebih dewasa, tempat saya mengerti betapa hidup itu perlu perjuangan, namun ada saatnya untuk mengambil nafas dan menikmati moment dari satu waktu ke waktu tanpa harus setiap saat memperlakukan hidup seperti arena balap lari.

Jogjakarta, tempat saya menemukan kamu, ya, kamu. Kamu adalah Jogjakarta atau Jogjakarta adalah kamu, mana yang benar? Entahlah, bagi saya itu tidak perlu diperdebatkan karena kamu dan Jogjakarta sama-sama pernah mewakili definisi cinta dalam hati saya. Kamu menjadi bagian abadi dari kota ini, tidaklah mengherankan jika kamu tidak pernah mau meninggalkan kota ini.

Ini seperti semacam sistem kontrak, masa studi sudah berakhir, dengan demikian izin tinggal saya di kota inipun tak lama lagi akan habis. Ketika saya masih merantau di Jogjakarta, kata “Pulang” sewajarnya didefinisikan sebagai kembalinya saya ke kota asal saya tercinta. Namun mendadak kata “Pulang” memiliki makna yang fleksibel bagi saya, tolong jangan protes. Kelak ketika saya sudah berada disana, kata “Pulang” bagi saya telah berubah definisinya. “Pulang” adalah kembalinya saya ke Jogjakarta, saya pasti pulang suatu hari nanti. 

Jogjakarta, jangan usir saya dari sini, ijinkanlah saya untuk selalu pulang lagi, bila hati mulai sepi tiada terobati.

Separuh dari hati saya, saya tinggalkan di kota cinta ini.




Di salah satu sudut kota Jogjakarta,
4 Mei 2014

2 komentar:

Rifqie mengatakan...

Wajib hukumnya dalam agama apa tuh menuliskan pulang dari jogja,hahaha

Endah Tri Wahyuni mengatakan...

hei, ternyata mas tukiman ada disini ? aku baru tau. hahaha