Laman


Rabu, 19 November 2014

HELLO, SELAMAT BERTEMU LAGI



“Heh, Kembalikan sepatuku !” Teriak seorang gadis kecil di sela keramaian kelasnya di jam pelajaran yang saat itu sedang kosong. Seorang bocah lelaki kecil penghuni kelas yang sama bukannya mengembalikan, malah melempar-lempar sepatunya kesana-kemari sambil menjulurkan lidahnya memancing amarah. Gadis kecil itu geram bukan kepalang. Menyeruak keramaian anak-anak lainnya, melompati kursi dan meja, dikejarnya bocah lelaki yang membawa sebelah sepatunya. Si bocah lelaki semakin berlari tak terkendali, ke tengah, kesudut, hingga ke luar ruangan seraya tertawa penuh kemenangan menggondol sebelah sepatu layaknya sebuah piala.

Si gadis kecil duduk diatas kursi sambil satu demi satu menyusun nafasnya yang berantakan, tertunduk, lalu segalanya tiba-tiba menghitam. Kekesalan, kejengkelan, kemarahan, dan entah apalagi itu namanya yang menyesakkan, tiba-tiba menjadi satu dan mengalir dari hati yang kemudian bermuara di pelupuk mata, bertransformasi menjadi sebulir air  yang buru-buru ia hapus sebelum ada orang lain yang melihat. Ditengadahkannya kembali wajahnya, didapatinya bocah lelaki itu disalah satu sudut ruangan, sedang menatapnya tanpa sedikitpun rasa bersalah, sesekali tertawa mengejek, belum mau mengakhiri peperangan konyol itu.

“Saya benci kamu !”  teriak gadis itu.
***

2 tahun kemudian…

“Halo pendek.” Sebaris kalimat terbaca di layar handphone gadis yang beranjak remaja itu dari nomor yang tidak dikenal.
“Siapa ini? Darimana tahu nomor saya?”
“Hahaha. Tidak bisa mengenali saya? Saya dapat nomor kamu dari Tito.” Gadis itu mengernyitkan kening sejenak. Tito? Tito adalah teman sekelasnya di sekolah sebelumnya. Dan selama mereka kenal, setahunya Tito hanya memiliki satu teman akrab,  dan itu adalah…. Gadis itu menghela nafas panjang, tak lagi bertanya-tanya. Ia tahu betul siapa pemilik nomor itu. Tidak salah lagi, itu pasti si pencuri sepatu. Ini mungkin akan menjadi serangan ke sekian setelah 2 tahun mereka tidak lagi berjumpa karena tempat menuntut ilmu yang tak lagi sama.
“Ada apa, pendek?” dibalasnya pesan itu.
“Enak aja pendek-pendek, kamu yang pendek.”
“Heh, ngacaa, kamu juga pendek, dan kamu… blablabla…” balas gadis itu lagi. Bocah lelaki itu masih menyebalkan hingga gadis itu mau tak mau harus membalas dengan cara yang tak kalah menyebalkan.

Begitulah. Dan peperangan semacam itu terulang kembali tak jauh beda dengan yang dulu. Wajah bocah lelaki yang dulu seringkali menjulurkan lidah padanya, kali ini terwakilkan dengan emoticon :p di layar kaca. Nada mengejeknya yang dulu khas, kali ini tercetak lewat huruf pada layar kaca yang seolah mengiang-ngiangkan bagaimana kalimat-kalimat itu terucap langsung dari bibirnya. Peperangan itu, kali ini dibungkus dalam bahasa teknologi tanpa menghilangkan esensi ketidakberesan yang telah tertanam diantara mereka sejak 2 tahun lalu. 

Bulan berlalu. Pesan-pesan singkat itu masih berseliweran di udara, tanpa raga yang pernah bersua. Tema dari pesan-pesan itu hampir tiap harinya hanyalah guyonan, ejekan, saling menakuti, dan sebenarnya sah-sah saja untuk sekedar hiburan. Tak perlu ada perjumpaan. Berjumpa kemungkinan besar hanya akan membuat segalanya bertambah runyam.

Hingga suatu hari di sela-sela hari mereka yang baik-baik saja, si bocah lelaki mengirim pesan paling aneh yang isinya menyudutkan dan menyalahkan gadis itu. Si gadis berkerut keningnya ketika membaca pesan, sungguh ia tak tahu gerangan apa yang membuat bocah lelaki itu marah besar padanya, tanpa angin tanpa hujan. Merasa tak salah apapun, si gadis malah balik marah dan melakukan serangan balik. Pada akhirnya ia tahu bahwa bocah lelaki itu memang tak pernah berubah, ia masih tetap orang yang sama menjengkelkan dengan yang pernah ia kenal sejak dulu, suka bertindak semaunya.

Masih tak lepas dari ingatan, dulu pada saat ulangan bahasa Indonesia, bocah lelaki yang saat itu memang duduk tepat dibelakang gadis itu tidak bisa melihat soal dengan jelas sehingga ia harus meminjam lembaran soal padanya. Gadis itu pun meminjamkan. Giliran gadis itu yang tidak bisa melihat soal dengan jelas,   ia pun menoleh kebelakang bermaksud meminjam lembaran soal pada bocah lelaki itu. Tahu apa yang selanjutnya bocah lelaki itu lakukan? Tak disangka dan tak diduga, di tengah suasana ulangan yang tentu saja sepi, tiba-tiba suara cemprengnya itu memenuhi segenap ruangan, “Bu guru, dia mau nyontek jawaban saya !”. Oh God.

Kali ini bocah lelaki itu kembali bertindak semaunya. Si gadis pun tak perduli dan membiarkan bahasa teknologi mereka hancur, ia pun berhak marah, pikirnya. Sejak itu, segalanya berubah. Dan suatu malam, si gadis menatap layar handphonenya, tanpa sadar menunggu kicauan-kicauan tak penting dari bocah lelaki yang biasa mengganggunya, yang membuatnya jengkel namun kadang juga tertawa. Sebenarnya tak ada yang special, tak ada yang istimewa, sama sekali tidak ada. Lalu kini pertanyaannya adalah… kenapa harus ada lubang yang kosong? Kenapa harus ada sesuatu yang rasanya hilang? Kenapa harus ada yang dirindukan? Ia tidak mengerti. Dan betapa tidak adil ketika kehilangan itu harus disertai dengan ketidakmengertian akan apa penyebabnya. Tak ada yang lebih konyol daripada disalahkan untuk kesalahan yang kita tidak tahu apa, dan tak ada yang lebih membingungkan ketika yang menyalahkan tak mau menjelaskannya.

“Saya salah apa?”
“…….”
***

5 tahun kemudian…

                Lima tahun bukanlah kurun waktu yang singkat. Tentu saja banyak hal yang terjadi didalamnya, dalam kehidupan gadis itu yang tak melibatkan bocah lelaki itu serta, dan dalam kehidupan bocah lelaki itu yang tak melibatkan gadis itu pula didalamnya. Mereka resmi hidup sendiri-sendiri dalam planet yang berbeda tanpa pernah berpapasan satu sama lain dalam jalannya revolusi. 

Hari ini, jalur revolusi itu berkata lain. Tanpa sengaja mereka bertemu setelah hampir 7 tahun tak  bertatap muka, setelah 5 tahun tak pernah mencipta bahasa satu sama lain dan pasrah dalam kebekuan tanya yang tak pernah terjawab. Segala ingatan kembali menyusuri lorong masa lalu saat mereka sama-sama diam, tersendat kaku saat sesekali mata bertemu mata. Bagaimanapun sekian tahun yang telah beku tak bisa cair oleh sekejap pertemuan tak disengaja. Selengkung senyum,sedikit tawa, dan secuplik obrolan yang tercipta diantara dua manusia yang beranjak dewasa ini hanyalah atas nama kesamaan almamater belaka, terasa jelas sebagai basa-basi yang tawar. Kenapa harus sekaku ini?

Untuk problematika usang yang entah meninggalkan jejak atau hanya sekedar lewat,  untuk sebuah permintaan dan pemberian maaf agar cukup beralasan, untuk mencairkan kebekuan, mampukah gadis itu kembali mengulang tanya dan mampukah lelaki itu menjelaskan jawaban usangnya?

Parahnya, gadis dan lelaki yang telah dewasa itu sama-sama tidak tahu bagaimana cara memulainya.

Tanjung, 18 November 2014

0 komentar: