Laman


Senin, 11 Juni 2012

PEKAN JURNALISTIK FISIKA 2012


Tahun ini Hima Fisika FMIPA UNY kembali menyuguhkan rentetan acara dan lomba jurnalistik dalam Pekan Jurnalistik Fisika (PJF). Kali ini Pekan Jurnalistik mengusung Tema “Abadikan Diri Dengan Tulisan”. Manusia bisa saja lekang dimakan waktu, tetapi tulisan akan selamanya menjadi sejarah hidup.
Setelah diawali dengan lomba cerpen dan esai yang semuanya setingkat UNY pada tanggal 7 Mei 2012, puncak acara adalah Talkshow Jurnalistik yang dilangsungkan pada 26 Mei 2012. Acara puncak dari PJF menghadirkan seorang penulis (novelis) yang merangkap sebagai pimred majalah Jelita (diproduksi dan didistribusikan di Taiwan) dan produser Lookout Picture Indonesia, Endik Koeswoyo.
Sesuai dengan tema PJF, Endik membagi cerita sukses untuk menghasilkan suatu karya yang dapat dinikmati oleh khalayak umum. Ide yang kita miliki tidak akan berbuah apa-apa jika hanya dipendam. Langkah awal untuk menciptakan karya yang berkualitas tentu saja dengan minat dari dalam diri yang diikuti dengan tujuan real serta ide-ide. Selanjutnya perkaya wawasan dengan banyak membaca dan mengamati. Jika sudah tulislah dan promosikanlah!
Puncak acara pada talkshow dilakukan dengan pengumuman dan pembagian hadiah pemenang lomba.  Berikut adalah nama pemenang lomba:
1.       Lomba menulis cerpen
Juara I: Nur Izatil Hasanah (FMIPA) dengan judul Mimpi Kidang dari Gunung Madang
Juara II: Apriyani Puji Lestari (FT) dengan judul Tiupan Mata Angin.
2.       Lomba menulis esai
Juara I: Deni Aryati  (FMIPA) dengan judul Optimalisasi Penggunaan Hybrid Learning Model dalam Perkuliahan Program Studi
Juara II: Linda Nur Ramly (FIS) dengan judul Facebook dan membangun Intelektual Pendidikan.

Yogyakarta, 26 Mei 2012
Reported by LASER HIMA FISIKA UNY
*Dokumen Para Pencari Berita

TRANSIT VENUS


Bertepatan dengan terjadinya fenomena langka transit venus yang terjadi pada hari Rabu tanggal 6 Juni 2012, pihak Jurusan Pendidikan Fisika UNY turut melakukan pengamatan bersama para mahasiswa. Bertempat di Laboratorium Astronomi Fisika UNY, sejumlah mahasiswa dan beberapa dosen tampak antusias mengamati peristiwa melintasnya planet venus di depan matahari, yang terlihat sebagai titik kecil dan hitam bila dipandang dari bumi. Pengamatan kali ini dilakukan dengan menggunakan dua buah teleskop yang dilengkapi dengan filter matahari.
                Transit venus biasa juga disebut dengan istilah Gerhana Venus. Peristiwa ini terjadi ketika matahari, venus, dan bumi terletak sebidang. Pada 6 Juni 2012 kali ini fenomena melintasnya venus di depan matahari ini dapat disaksikan pada pukul 05.10-11.50 WIB, peristiwa ini mungkin hanya bisa disaksikan sekali seumur hidup bagi sebagian orang yang hidup saat ini karena fenomena ini akan terjadi lagi pada 11 Desember 2117 mendatang.
                Bapak Drs. Slamet MT. yang membersamai mahasiswa dalam pengamatan ini menjelaskan bahwa sebenarnya setiap beberapa tahun sekali sesuai waktu edarnya, venus melintas di depan matahari. Akan tetapi, karena bidang edar venus itu sendiri membentuk sudut 3,5° terhadap ekliptika, maka ada kemungkinan pada waktu melintas di depan matahari kita melihat planet venus seolah berada di atas atau di bawah matahari. Posisi venus yang membentuk sudut yang besar terhadap bumi ini menyebabkan venus tidak tampak melintas di depan matahari. Karena itulah periode melintasnya venus yang dapat disaksikan ini tidak sama. Peristiwa transit venus sebelumnya terjadi pada 8 juni 2004 yang lalu, namun untuk selanjutnya fenomena ini akan terjadi 105 tahun lagi.



Yogyakarta, 06 Juni 2012
Reported by LASER HIMAFI UNY
*Dokumen Para Pencari Berita Kampus

Senin, 21 Mei 2012

Harusnya, harusnya kedua kakiku menjejak bumi.



Harusnya, harusnya, dan harusnya, kepala gadis itu sudah sesak dipenuhi oleh kata harusnya yang ia ucapkan dengan lirih pada posisi yang sama di tiap harinya. Baginya, harusnya kemarin tidak seperti itu, harusnya dulu tidak ada awal mula itu, harusnya ia tidak menjadi seperti ini. Tiada siapa yang salah, sejauh ini hanya itu yang ia tahu. Bukannya tak pernah mau mencari akarnya, tapi ia terlalu lelah mendapati jawaban-jawaban irasional, jawaban yang tidak dapat sama sekali dicerna oleh akal, jawaban yang tidak berdasar, jawaban yang tidak berlogika. Hanya ada satu bagian di dalam tubuhnya yang dapat mencerna jawaban itu, hanya satu dari sekian banyak organ pun saraf yang berseliweran di dalam tubuhnya yang bisa mengerti jawaban itu, hati. Hati yang terlalu pintar untuk memahami, ataukah hati yang telah menjelma sebagai satu-satunya suatu zat aneh yang bisa paham diatas ketidakrasionalan yang hampir sempurna, entah mana yang benar.

                Ia masih berdiri diatas sana. Sebelah kakinya tak beralas menginjak bumi, sebelah lagi melayang di udara, seraya terlentang kedua tangannya menyeimbangkan posisi yang dibuatnya sekarang. Sesekali ia oleng ke kiri dan kekanan hampir terjatuh ketika angin menubruk tubuhnya hingga menciut. Sebentar-sebentar kepalanya mendongak keatas. Dengan satu kali lompatan ia ingin melesat menembus awan, atau menaiki tangga yang jumlah anaknya tak lagi bisa dihitung, untuk kemudian akhirnya menemukan dunia baru disana yang entah berada di langit keberapa. Yang jelas disana akan ada cengkerama hangat orang itu dengan Ratu Luna, Raja Canopus, Ratu Capella, Raja Sirius, Raja Antares, dan Ratu Raja lain pemilik istana-istana di negeri biru nan damai. Sebuah dunia baru yang mampu membuatnya tersenyum, sebuah dunia baru yang meretas kegalauan, sebuah dunia baru diatas bumi, sebuah dunia khayal diatas nyata, sebuah dunia baru yang berdiri diatas ketidakrasioanalan alam sadarnya.

                Harusnya, harusnya kedua kakiku menjejak bumi yang nyata, dan semua akan seimbang... begitu katanya. Namun entah kekuatan dahsyat macam apa yang membuatnya terus saja membentuk sudut alpha 45 derajat pada kedua kakinya hingga ia harus bersusah payah bertahan dengan cara semacam itu hingga bahkan sesekali tubuhnya limbung dihantam angin. Ada sesuatu yang tidak bisa dinalar, sesuatu yang berhenti dibatas pintu masuk gerbang logika, antara percaya dan tidak, ia masih meyakini tentang dunia baru diatas sana, dunia yang tidak akan pernah ada. Harusnya, lagi-lagi ia hanya bisa berkata harusnya... harusnya ia sadar betul akan hal itu, harusnya ia berhenti meyakini keberadaan orang itu pun dunia konyol  diatas sana...

                Harusnya, harusnya aku berhenti menjadi bodoh dan irasional macam ini... begitu katanya. Namun entah kenapa hatinya bisa memiliki kemampuan luar biasa hingga diluar batas ambang normal untuk merasionalkan semua ini.  Ia menangis sejadinya, menangisi hati yang tak sejalan dengan logika, menangis untuk jawaban yang tak cukup mampu ia pahami bahkan hingga detik ini, untuk jawaban yang hanya bisa dipahami oleh satu organ tak terlihat bernama hati.

                Sampai detik ini, harusnya, harusnya kedua kakiku menjejak bumi... begitu katanya, lirih, pada posisi yang sama ditiap harinya.
Jogja, 21 Mei 2012

Minggu, 20 Mei 2012

SURAT YANG TAK PERNAH SAMPAI


Dewi Lestari yang dikenal dengan nama pena Dee adalah salah satu penulis favorit saya. Yah, mungkin belum cukup list bacaan saya untuk dikatakan sebagai salah satu penggemar berat Dee karena pada kenyataannya saya memang belum menghabiskan semua karya-karya Dee, hehe. tapi Perahu Kertas, Filosofi Kopi,  dan  sebagian kisah dari Rectoverso yang sudah saya baca sejauh ini telah cukup untuk membuat saya yakin bahwa saya benar-benar jatuh hati pada karya-karyanya. Ajaib bagi saya, karena Tulisan Dee membuat saya mengenali tulisan-tulisan yang bahkan tak bisa saya kenali sebelumnya, tulisan yang selalu saya pertanyakan pada diri saya sendiri mengenai wujudnya, tulisan yang akrab tapi terkadang menjadi asing jika saya mencoba mengenali wujudnya, tulisan saya.

Dibawah ini adalah satu dari sekian karya Dee yang menjadi favorit saya. Entah kenapa saya menyukainya. Sekedar ingin share saja kepada pemirsa pembaca.  Cekidottt :D

SURAT YANG TAK PERNAH SAMPAI
Suratmu itu tidak akan pernah terkirim, karena sebenarnya kamu hanya ingin berbicara kepada dirimu sendiri. Kamu ingin berdiskusi dengan angin, dengan wangi sebelas tangkai sedap malam yangkamu beli dari tukang bunga berwajah memelas, dengan nyamuk-nyamuk yang cari makan, dengan malam, dengan detik jam...tentang dia.
                Dia, yang tidak pernah kamu mengerti. Dia, racun yang membunuhmu perlahan. Dia, yang kamu reka dan kamu cipta.
                Sebelah darimu menginginkan agar dia datang, membencimu hingga muak dia mendekati gila, menertawakan segala kebodohannya,  kekhilafannya untuk sampai jatuh hati kepadamu, menyesalkan magis yang hadir naluriah setiap kali kalian berjumpa. Akan kamu kirimkan lagi tiket bioskop, bon restauran, semua tulisannya, dari mulai nota sebaris hingga doa berbait-bait. Dan beceklah pipinya karena geli, karena asap, dan abu dari benda-benda yang dia hanguskan, bukti-bukti bahwa kalian pernah saling tergila-gila beterbangan masuk kematanya. Semoga dia pergi dan tak pernah menoleh lagi. Hidupmu, hidupnya, pasti akan lebih mudah.
                Namun sebelah dari kamu menginginkan agar dia datang menjemputmu, mengamini kalian dan untuk kesekian, jatuh hati lagi, segila-gilanya, sampai batas gila dan waras pupus dalam kesadaran murni akan cinta. Kemudian, mendamparkan dirilah kalian di sebuah alam tak dikenal untuk membaca ulang semua kalimat, mengenang setiap inci perjalanan, perjuangan, dan ketabahan hati. Betapa sebelah darimu percaya bahwa setetes air mata pun akan terhitung, tak ada yang mengalir mubazir, segalanya pasti bermuara di satu samudra tak terbatas, lautan merdeka yang bersanding sejajar dengan cakrawala... dan itulah tujuan kalian.

***

                Kalau saja hidup tidak berevolusi, kalau saja sebuah moment dapat selamanya menjadi fosil tanpa terganggu, kalau saja kekuatan kosmik mampu stagnan di satu titik, maka... tanpa ragu kamu akan memilih satu detik bersamanya untuk diabadikan. Cukup satu.
Satu detik yang segenap keberadaannya dipersembahkan untuk bersamamu, dan bukan dengan ribuan hal lain yang menanti untuk dilirik pada detik berikutnya. Betapa kamu rela membatu untuk itu.
Akan tetapi, hidup ini cair. Semesta ini bergerak. Realitas berubah. Seluruh simpul dari kesadaran kita berkembang mekar. Hidup akan mengikis apa saja yang memilih diam, memaksa kita untuk mengikuti arus agungnya yang jujur tapi penuh rahasia. Kamu, tidak terkecuali.
***
Kamu takut.
                Kamu takut karena ingin jujur. Dan kejujuran menyudutkanmu untuk mengakui kamu mulai ragu. Dialah bagian terbesar dalam hidupmu, tetapi kamu cemas. Kata “Sejarah” mulai menggantung hati-hati diatas sana. Sejarah kalian. Konsep itu menakutkan sekali
                Sejarah memiliki tampuk istimewa dalam hidup manusia, tetapi tidak lagi melekat utuh pada realitas. Sejarah seperti awan yang tampak padat berisi tetapi ketika disentuh menjadi embun yang rapuh.  Skenario perjalanan kalian mengharuskanmu untuk menyejarahkannya, merekamnya, sang tujuan, sang inspirasi bagi segala mahakarya yang termuntahkan ke dunia. Sementara dalam setiap detik yang berjalan, kalian seperti musafir yang tersesat di padang. Berjalan dengan kompas masing-masing, tanpa ada usaha saling mencocokkan. Sesekali kalian bertemu, berusaha saling toleransi atas nama cinta dan perjuangan yang tidak boleh sia-sia. Kamu sudah membayar mahal untuk perjalanan ini. Kamu pertaruhkan segalanya demi apa yang kamu rasa benar. Dan mencintainya menjadi kebenaran tertinggimu.
                Lama, baru kamu menyadari bahwa pengalaman merupakan bagian tak terpisahkan dari hubungan yang diikat oleh seutas perasaan mutual.
                Lama, bagi kamu untuk berani menoleh kebelakang, menghitung, berapa banyakkahpengalaman nyata yang kalian alami bersama.
                Sebuah hubungan yang dibiarkan tumbuh tanpa keteraturan akan menjadi hantu yang tidak menjejak bumi, dan alasan cinta yang tadinya diagungkan bisa berubah menjadi utang moral, investasi waktu, perasaan, serta perdagangan kalkulatif antara dua pihak.
                Cinta butuh dipelihara. Bahwa di dalam sepak terjangnya yang serba mengejutkan, cinta ternyata masih butuh mekanisme agar mampu bertahan. Cinta jangan selalu ditempatkan sebagai iming-iming besar, atau seperti ranjau yang tahu-tahu meledakkanmu, entah kapan dan kenapa. Cinta yang sudah dipilih sebaiknya diikutkan disetiap langkah kaki, merekatkan jemari, dan berjalanlah kalian bergandengan...karena cinta adalah mengalami.
                Cinta tidak hanya pikiran dan kenangan. Lebih besar, cinta adalah dia dan kamu. Interaksi. Perkembangan dua manusia yang terpantau agar tetap harmonis. Karena cinta pun hidup dan bukan maskot untuk disembah sujud.
                Kamu ingin berhenti memencet tombol tunda. Kamu ingin berhenti menyumbat denyut alami hidup dan membiarkannya bergulir tanpa beban. Dan kamu tahu, itulah yang tidak bisa dia berikan kini.
Hingga akhirnya...

***

                Di meja itu, kamu dikelilingi tulisan tangannya yang tersisa (kamu baru sadar betapa tidak adilnya ini semua. Kenapa harus kamu yang kebagian tugas dokumentasi dan arsip sehingga cuma kamulah yang tersiksa?)
                Jangan heran kalau kamu menangis sejadi-jadinya.
Dia, yang tidak pernah menyimpan gambar rupamu, pasti tidak tau apa rasanya menatap lekat-lekat satu sosok, membayangkan rasa sentuh dari helai rambut yang polos tanpa busa pengeras, rasa hangat uap tubuh yang kamu hafal betul temperaturnya.
                Dan kamu hanya bisa berbagi kesedihan itu, ketidakrelaan itu, kelemahan itu, dengan wangi bunga yang melangu, dengan malam yang pasrah digusur pagi, dengan detik jam dinding yang gagu karena habis daya.

***


                Sampai pada halaman kedua suratmu, kamu yakin dia akan paham, atau setidaknya setengah memahami, betapa sulitnya perpisahan yang dilakukan sendirian.
                Tidak ada sepasang mata lain yang mampu meyakinkanmu bahwa ini memang sudah usai. Tidak ada kata atau langkah kaki beranjak pergi yang mampu menjadi penanda dramatis bahwa sebuah akhir telah diputuskan bersama.
                Atau sebaliknya, tidak ada sergahan yang membuatmu berubah pikiran, tidak ada kata “jangan” yang mungkin apabila diucapkan dan ditindakkan dengan tepat akan membuatmu menghambur kembali dan tak mau pergi lagi.
                Kamu pun tersadar, itulah perpisahan paling sepi yang pernah kamu alami.

***

                Ketika surat itu tiba dititiknya yang terakhir, masih akan ada sejumput kamu yang bertengger tak mau pergi dari perbatasan usai dan tidak usai. Bagian dari dirimu yang merasa paling bertanggung jawab atas semua yang sudah kalian bayarkan bersama demi mengalami perjalanan hati sedahsyat itu.  Dirimu yang mini, tapi keras kepala, memilih untuk tidak ikut pergi bersama yang lain, menetap untuk terus menemani sejarah. Dan karena waktu semakin larut, tenagamu pun sudah menyurut, maka kamu akan membiarkan si kecil itu bertahan semaunya.
                Mungkin, suatu saat, apabila sekelumit dirimu itu mulai kesepian dan bosan, ia akan berteriak ingin pulang. Dan kamu akan menjemputnya, lalu mebiarkan sejarah membentengi dirinya dengan tembok tebal yang tak lagi bisa ditembus. Atau mungkin, ketika sebuah keajaiban mampu menguak kekeruhan ini, jadilah ia semacam mercu suar, kompas, atau bintang selatan.. yang menunjukkan jalan pulang bagi hatimu untuk, akhirnya, menemuiku.

***

                Aku, yang merasakan apa yang kau rasakan. Yang mendamba untuk mengalami. Aku yang telah menuliskan surat-surat cinta kepadamu. Surat-surat yang tak pernah sampai.
(Karya Dewi “Dee” Lestari (2001))


Jogja, 20 Mei 2012

Selasa, 17 April 2012

Aku dan Waktu

Secarik senja baru saja memudar lalu menghitam, dan aku masih saja berdiri disini setelah menjadi saksi perginya sang matahari. Aku menyelami hari ini, putaran jam dinding yang takkan bisa kembali, orang-orangan awan yang tadi siang dibentuk oleh angin, dan kepercayaanku yang tidak pernah berubah tentang itu, bahwa langit sedang mendongengkan sebuah cerita. Aku tidak ingin bergerak, ingin rasanya mengulang beberapa detik yang lalu, tentang lukisan senja tempat dimana aku seolah pernah pernah menuliskan satu kata itu. Senja telah berlalu, namun warna emasnya masih bergelayut dalam ingatanku, sebagaimana jejak-jejak masa lalu yang juga masih tertinggal disana.

Kurasa kini aku harus sedikit menyimpangkan sedikit persepsiku mengenai masa lalu, dimana aku pernah berkata bahwa masa lalu adalah sesuatu yang berharga, tak perduli masa lalu itu baik ataukah buruk. Barangkali dulu aku tak berpikir cukup panjang ketika mengatakan itu pada diriku sendiri, hanya ucapan seseorang yang kala itu sedang dilanda ketakutan tentang alzheimer yang entah dari mana asalnya, yang aku tau ia bisa menyerang siapa saja, lalu dengan ganas bisa membuat masa lalu menjadi lembaran-lembaran tak berarti lagi. Nyatanya barangkali aku rela menjadi seorang alzheimer jika saja otak ini bisa menyeleksi setiap lembaran buruk untuk dihapuskan.

Benda-benda kecil berkilauan itu kemudian bermunculan, tamu-tamu malam itu telah datang. Aku tak pernah menantang waktu, tapi entah mengapa saat ini aku seperti sedang bertarung dengannya. Ia terus meninggalkanku bahkan ketika aku bertanya dengan sedikit memohon padanya, "berhentilah sejenak dan bisakah kau kembalikan senja itu?" Namun aku memang terlalu lemah dan bukan lawan yang sepadan bagimu wahai waktu, aku tau aku kalah ketika merasakan dengan bengisnya kau terus saja menyeret satu bagian tubuhku yang telah rapuh.

Kerlap-kerlip itu membuatku lupa sejenak akan pertarunganku dengan waktu, ia begitu indah, satu mahakarya lagi dilangit malam. Satu, dua, tiga,... banyak dan banyak sekali. Aku tidak sedang melakukan hal yang bodoh ketika aku terus menghitung jumlahnya bukan? Aku terus saja sibuk menghitung mereka satu persatu, setidaknya ini bisa melupakanku pada seretan sang waktu. Hingga kudengar suara bulan berbisik ditelingaku, “Hei, tidak kah kau merasa kehilangan aku ketika kau terlalu sibuk menghitung bintang-bintang itu? Padahal kau tahu jumlah mereka sangat banyak dan kau tidak akan cukup mampu untuk menghitungnya. Mengapa tidak menikmati kami dalam satu waktu?” Aku tersentak, sungguh aku tidak ingin kehilangan cahayamu wahai bulan.

Kusambut kedipan bintang yang sedang bermain mata, kurasakan cahaya bulan yang menerpa wajahku dengan lembut. Namun cahaya itu tiba-tiba saja mengingatkanku pada sebuah lukisan senja yang telah berlalu, dan ketakutanku pada waktu yang terus saja menyeretku sejak tadi. Kututup mata ini rapat-rapat. Jika kau tak akan pernah bisa kembali wahai waktu, berhentilah, berhentilah, biarkan aku lebih lama bersama bintang-bintang dan bulan itu disini, berhentilah menyeretku...

“Aku tak pernah menyeretmu, dan aku tak habis pikir dengan caramu memandang setiap detik yang ada dibelakangmu dan setiap detik yang ada dihadapanmumu, tapi aku yakin itulah yang membuatmu merasa terseret. Selamanya akan terseret jika kau terus merasakannya dengan cara itu, seretan itu tak akan berhenti sampai kau percaya bahwa masih ada yang berarti selain senja yang telah berlalu, tak akan berhenti sampai kau percaya bahwa pagimu masih bisa lebih menakjubkan daripada senjamu beberapa waktu yang lalu. Bukankah kau selalu percaya bahwa cara menikmati hidup adalah menikmati moment dari satu waktu ke waktu? Jikapun hidup ini hanya untuk 86.400 detik, tidak kah setiap detik begitu berharga untuk kau nikmati? Pagi itu pasti datang dan kau akan berjumpa matahari, menjumpai kembali bentuk orang orangan awan yang terbentuk oleh angin. Semoga saat itu kau telah sadar bahwa langit biru itu bukan sedang mendongeng, melainkan sedang mengikuti hukum alam yang nyata, hukum alam yang indah, dan kau harus mempercayainya." Bisik waktu.

Jogja, 17 April 2012


Sabtu, 10 Maret 2012

Diam

Satu demi satu akhirnya terasa, bernaung awan hitam yang masih enggan beranjak diatas sana.
Disatu sisi melegakan bumi yang kehausan, meski ada setitik keindahan yang harus terpudarkan.
Salah jika mengira bahwa kelopak mawar yang merekah itu begitu kuat, rintik yang baru saja turun bahkan telah merapuhkan, meruntuhkannya satu demi satu, sirna sudah indahnya, merah hampir tak ada lagi artinya.
Kata terlalu mudah untuk diucap, terlalu ringan untuk dituliskan.
Tapi makna terlalu sulit untuk diungkap, arti terlalu sulit untuk dimengerti, dan jejak terlalu sulit untuk dihapuskan, meski bumi telah berselimut hujan.
Diam biar saja diam, sunyi biar saja sunyi.
Laksana air yang kemarin masih bergantung pada awan hitam,
atau embun pagi yang masih betah bergelayut pada dedaunan, hingga sang surya perlahan harus memusnahkan setiap tetesannya dari pandangan.




Jogja, 10 maret 2012

Minggu, 26 Februari 2012

Risk of Love

It’s amazing how at one point in our lives we will be extremely close with someone and then later they will become a complete stranger.
You will pass by them without a word.
Without a single acknowledging look.
This person, who once knew you so well,
who once knew your fears, your desires, your dreams, your past,
is now walking right past you, seeing right through you

copied from Best Quotes