Laman


Jumat, 12 Oktober 2012

JAGA DIRIMU



Kamu mungkin terlalu sibuk, atau memang mencari sibuk entah untuk alasan apapun itu, berlari kesana kemari untuk mencari passionmu, mengejar cita2mu, mewujudkan setiap ambisimu...

Sampai-sampai sekilas tampak kamu seolah tidak menyayangi dirimu sendiri, membiarkannya kelelahan, merampas haknya ketika ia butuh berhenti sejenak dan mengambil nafas...

Kamu lupa pada seseorang disana yang pernah memintamu untuk menjaga dirimu baik-baik ketika dia tak lagi bisa secara penuh berada disampingmu untuk menjagamu, dia yg telah percayakan jiwamu untuk menjaga ragamu, ragamu untuk menjaga jiwamu...

Dia yang perduli pada dirimu melebihi pedulinya kamu terhadap dirimu sendiri, dia yang mengkhawatirkanmu melebihi khawatirnya kamu terhadap dirimu sendiri, dia yang pasti akan menjadi orang pertama yang paling cemas jika sesuatu yang buruk terjadi padamu, dia yang pernah berkata bahwa dia tidak akan menjadi bangga saat impianmu tercapai jika harus dibayar dengan rapuhnya ragamu...

Jaga dirimu, bukan untuk kamu, terserah, karena mungkin bagimu kamu sanggup untuk menahan atau mengatasinya sendiri...
Jaga dirimu, bukan demi kamu, karena mungkin kamu memang tidak begitu perduli, atau barangkali kamu anggap ambisimu jauh lebih penting daripada dirimu.
..

Jaga dirimu, bukan untuk dirimu, jaga dirimu untuk dia, untuk ibumu, demi ibumu, karena mungkin kamu tidak akan sanggup untuk menatap matanya yang tidak akan terpejam karena mengkhawatirkanmu saat sesuatu terjadi padamu, dengan getar bibirnya yang tak pernah berhenti berdoa pada Tuhan meminta agar kamu selalu baik-baik saja...
Kamu tahu itu bukan?
Jaga dirimu baik-baik.


 Jogja,12 Oktober 2012

Kamis, 06 September 2012

Thanks For Being The Best Father in The Whole Universe For Me


Hari ini, sebelas hari semenjak kepergiannya dari dunia ini...
Beberapa jam sebelum burung besi membawaku lepas landas meninggalkan kota tempat aku dibesarkan ini...

                 Hampir sebulan yang lalu, ketika aku harus tergesa-gesa dengan perasaan cemas tidak karuan mendatangi Airport di kota yang sudah kutinggali selama 2 tahun ini. Airport sebagai tempat yang selama ini kubenci ternyata hari ini berbaik hati padaku dengan membiarkanku lolos dari pintu check in dengan nama di tiket yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan nama depan, tengah, maupun nama akhirku. Ini darurat, dan Tuhan ternyata sudah menset Airport dan segala perangkatnya untuk mengerti aku.

Yang bisa kulakukan setelah mendengar berita bahwa ia harus masuk di salah satu sudut tergenting di rumah sakit hanyalah berdoa dan terus bertanya-tanya dalam hati bagaimana keadaannya saat ini, tanpa berani memastikan sendiri walau sebenarnya aku bisa melakukannya saat itu juga dengan menghubungi  mama di seberang sana lewat telepon, tapi aku tidak melakukannya, selain karena aku sudah bisa menebak jawaban mama yang selalu menghapus kekhawatiran dengan mengatakan bahwa semua baik-baik saja, aku pun ternyata masih seperti dulu, terlalu takut menerima kenyatan. Kekalutan terus menyelubung disekitarku melebihi dinginnya tiupan angin malam saat itu. Tuhan Maha Baik, Ia tahu aku mungkin tidak akan sanggup melewati perjalanan jauh ini seorang diri dalam kondisi yang seperti ini, dikirimkannya kakakku ke kota ini sejak beberapa hari yang lalu untuk suatu alasan yang mungkin terlihat kebetulan bagi orang lain, tapi tidak bagiku, aku percaya untuk alasan inilah Tuhan mengirimkannya, untuk menemani perjalanan pulangku, meski di sepanjang jalan kami lebih banyak membisu, namun diam sudah cukup untuk menggambarkan kegelisahan kami masing-masing, tanpa perlu ditambah dengan kata-kata lagi.

                Tidak seperti pada kepulanganku sebelumnya, yang menjadikan pintu rumah sebagai garis finish terindahku setiap kali kembali ke kampung halaman ini. Pukul 3 dini hari pintu ruang tergenting itulah yang menjadi tujuan kami berlari sesampainya disana.  Ia sadar akan kedatanganku, mengangguk-angguk tanda mengerti apa yang kuucap, kukatakan padanya sambil tersenyum bahwa semua akan baik-baik saja dan sebentar lagi ia pasti akan sembuh, ia mengangguk. Namun keesokan harinya, ia melewati hari dengan lebih banyak memejamkan mata, dan mereka bilang itu koma.

Tiba-tiba saja ingin rasanya aku menjadi seorang dokter, suatu profesi yang  selama ini paling tidak kuminati karena tidak tahan mental untuk menghadapi berbagai penyakit yang diderita oleh orang-orang, tapi kali ini aku sungguh berandai-andai menjadi seorang dokter, lengkap dengan gelar Sp. S dibelakang namaku agar aku tahu cara terbaik untuk mengobatinya, andai.  Stroke itu, merusak 12 saraf kranial yang bertumpu pada batang otaknya, sempat terbayang olehku, tanpa 12 saraf yang amat penting itu apa jadinya hidupnya kelak, dokter bilang obat-obatan mungkin akan bisa menghidupkan kembali saraf-saraf krusial itu, tapi mungkin akan butuh waktu lama, dan satu lagi, sulit.

                Beberapa hari mata itu kembali terbuka melihat dunia, meski masih lebih sering dihabiskan untuk tidur oleh pemiliknya, tak kuasa melawan pengaruh obat mungkin. Jika pagi tiba, ia selalu membuka mata, termasuk di pagi Hari Raya Idul Fitri ini. Kepadanya kuulangi kebiasaanku setiap harinya untuk menceritakan banyak hal disampingnya, tentang kuliahku, tentang pohon rambutan yang kutanam bersamanya di halaman rumah, tentang keluarga besar, tentang bintang yang suka kulihat, tentang nada-nada doremifasolasido yang diperkenalkannya sejak aku masih berusia 5 tahun, tentang rencanaku untuk memperdalam bahasa Inggris di Kampung Pare seperti yang pernah diharapkannya, “mungkin sekarang masih belum sempat, tapi suatu hari kamu harus belajar kesana” katanya dulu, tentang kalimat yang menyatakan bahwa aku sangat menyayanginya yang  sebelumnya amat jarang kuuucap, dan tentang banyak hal lainnya, termasuk syukurku untuk lebaran yang masih utuh dengan seluruh keluarga di tahun ini, kali ini meski harus ditempat ini, tanpa perduli lagi pada warna warni kembang api lebaran diluar sana. Aku masih bersamanya sudah cukup, dan aku percaya ia mendengar setiap kalimat yang kuucap.

                Langkahku selalu melambat setiap kali akan memasuki ruang tempat dimana alat-alat kesehatan dan para petugas kesehatan mondar-mandir selama 24 jam memantau keadaannya. Nada-nada yang terdengar dari monitor pendeteksi detak jantung yang ada di ruangan ini benar-benar membuat dadaku sesak dan ingin menutup telinga rapat-rapat, ialah nada penanda kehidupan seseorang yang seolah sedang menggantung pada seutas benang atau semacamnya. Nada itu, bagiku justru terdengar seolah mengancam, ada perasaan seakan tak terima kenapa ia harus dipasangi alat pendeteksi kehidupan seperti ini, ia akan terus hidup, kataku di dalam hati.  Ternyata ini rasanya, menatap orang yang kita sayang tengah berbaring dengan hidupnya yang bahkan harus dipantau setiap saat oleh alat-alat yang menempel dan bahkan mendominasi separuh tubuhnya. Udara dari tabung oksigen yang mengintervensi nafasnya dan berbagai macam cairan kimia yang menginjeksi tubuhnya setiap beberapa jam sekali itupun tetap tidak bisa memberikan semacam jaminan untuk ia bisa pulih seperti sedia kala. Hingga tiba saatnya, aku dan mereka harus belajar menerima bahwa inilah jalan terbaik yang Tuhan pilihkan.

Dad, thanks for being the best father in the whole universe for me.
. . . .
Dulu sekali dia pernah bilang padaku bahwa menangis untuk seseorang itu tandanya sayang. Ya you’re right, I love you Bapak, so much.

Tanjung, 03 September 2012.

The Way You Learn How to Accept


Seperti orang pada umumnya, setiap malam kamu selalu tidur, tidur lelap, tak perduli apakah tidurmu memenuhi standar kuantitas dan kualitas tidur orang di dunia ini pada umumnya atau kah tidak. Kamu terlalu terlelap memaknai tidur bagi dirimu sendiri.


 Tidur bagimu adalah persembunyian yg paling aman, persembunyian dari kenyataan yang terus mengejar.  Kamu tahu, kenyataan tidak selalu mampu menjadi teman yang baik, menemanimu berjalan sesuai langkah yang bisa kamu jejak, kadang ia berlari, dan kamu lelah, lalu tidur mnjadi satu-satunya tempat kamu melupakan segalanya untuk sejenak, semacam dimensi lain yang bisa dijadikan sebagai markas persembunyian yg paling aman.  Sampai beberapa saat kemudian kamu harus bangun, untuk kenyataan.


Kamu rapatkan lagi kepalamu dengan bantal, seolah memaksanya untuk menina bobokan dirimu agar kamu bisa tertidur, kamu pejamkan matamu membunuh insomnia, kamu hanya ingin tidur, sebentar pun tak mengapa. Batinmu butuh tidur, melebihi kebutuhan tubuhmu sendiri untuk itu. Meski kamu tahu, bahwa tidur tidak selalu menjanjikan ketenangan, kadang kamu harus memainkan peran menghadapi hal yang menakutkan atau hal paling menyedihkan yang tidak bisa kamu bayangkan bila benar-benar terjadi dalam hidup nyatamu. Namun sejak awal kamu mengerti  bahwa tidur adalah tempat yang paling aman, semua yg menakutkan dan menyedihkan hanyalah kamuflase, kamu terbangun dan masih bisa bersyukur bahwa itu hanyalah mimpi buruk, kamu bisa menghentikan kehidupan di alam tidurmu ketika kamu akan memulai hari nyatamu.


Hingga suatu malam, kamu mengalami hal menakutkan lagi, hal menyedihkan lagi, dan kamu berusaha keras untuk bangun, atau setidaknya berharap ada seseorang yg berbaik hati membangunkanmu dari mimpi buruk ini meski ayam jantan bahkan belum memberi salam pada matahari. Tidak ada yang berubah, tidak ada ambang kesadaran yang kamu lewati seperti jika kamu baru terbangun dari tidurmu. Dan akhirnya kamu sadar bahwa kamu tidak sedang tidur, tiada siapapun yang perlu untuk dibangunkan, kamu tidak sedang berada pada persembunyianmu yang paling aman itu, ya, kali ini kamu tidak tidur, kamu tidak sedang bermimpi buruk, ini nyata, kamu.. sedari tadi sedang mencoba berdamai dengan kenyataan..


Tidur, kamu ingin tidur, kamu ingin pergi ke ruang yang mungkin memang paling aman, tapi hanya mampu sesaat saja menyembunyikanmu dari kenyataan. Sampai akhirnya kamu sadar bahwa tidur ataupun tidak, tidak ada pilihan terbaik selain berdamai dengan kenyataan. That's the way you learn how to accept the reality.


Tanjung, 27 agustus 2012

Sabtu, 04 Agustus 2012

Jauh Sebelum Hari itu Tiba

Jauh, jauh sbelum hari itu tiba, kamu sudah mempersiapkan segalanya agar cukup untuk  membuatnya merasa bahwa hari itu memang adalah miliknya.
Jauh, jauh sebelum hari itu tiba, sebegitu kerasnya kamu berusaha meredam pedihmu, amarahmu, rasamu, egoismu, agar jika tiba saatnya hari itu datang maka lenyaplah semua yang sedang kamu rasa, walau setidaknya untuk satu hari itu saja.
Sesuatu telah kamu persiapkan, dan kamu niatkan untuk diberikan. Tak begitu berharga mungkin, tapi kamu berharap itu sedikit bisa membantunya untuk lebih damai menjalani hidup, kamu seolah telah tahu banyak tentang hidupnya, meski mungkin akan terlihat sok tahu baginya.
Jauh, jauh sbelum hari itu tiba, kamu merancang kata-kata yang akan mencairkan suasana yg selama ini beku, kebekuan yang lebih banyak kamu buat sendiri, kebekuan yang kamu anggap sebagai benteng pertahananmu, kebekuan itu... harus cair walau setidaknya hanya untuk satu hari itu saja, pikirmu.
Dan kamu juga tahu, sesuatu yg harus kamu berikan itu, mungkin tidak akan kamu sodorkan tepat pada waktunya, mungkin terlambat sehari, seminggu, tapi entah kenapa kamu yakin bahwa tidak lama lagi kamu pasti akan memberikannya. Hingga kamu mempersiapkan segalanya dengan hampir sempurna, kotak bingkisan yg kamu beli sehari sebelumnya, warna yang matching dengan isinya, dan namun... satu hal yang memang tertinggal, belum kamu tuliskan dikotak itu bahwa itu diperuntukkan baginya, bahkan sampai sekarang kamu belum melakukannya.
Dan siapa yg menyangka, ternyata kamu mungkin tidak akan pernah melakukannya, kotak itu seolah tak akan beralamat, tak tahu kemana tujuannya. Keyakinanmu seketika berubah ketika hari itu tiba, sirna tepat beberapa jam sebelum hari itu berakhir, jawaban atas pertanyaan mengapa tidak akan berarti apa-apa.
Kini.. kamu bahkan tidak memiliki daya menggerakkan tanganmu untuk sekedar menuliskan namanya dan sedikit kata-kata diatas kotak itu, sebagaimana yang telah kamu rancang masak-masak diotakmu sebelumnya, sebagaimana seorang arsitek yang menggambar detail desain bangunannya.
Jauh, jauh sebelum hari itu tiba niatmu kamu tuliskan.. Dan tepat di hari itu pula niatmu tidak kamu wujudkan, entah akankah pernah kamu jadikan nyata, sepertinya tidak. Niatmu tiba-tiba hilang tersapu ombak karena kamu seakan hanya menulisnya diatas pasir pantai yg tak bisa berdamai dgn ombak dalam hal semacam itu..
Lama kamu berdiri mematung, memangkas ingatan tentang jauh jauh hari yg telah kamu persiapkan. Menghanguskan jauh jauh hari bodoh yang pernah kamu pikirkan lalu membuang seluruh abunya ke lautan lepas hingga tak ada lagi yang membekas.
Takkan ada apa-apa yang diberikan, takkan ada apa-apa yang dicairkan...
Begitu mungkin lebih baik.

Jogja, 04 Agustus 2012

Kamis, 26 Juli 2012

Perahu Kertas

Banyak yang gak ngerti...
lalu terluka, dan saling menyalahkan...
karena itu aku takut bicara tentang hati...
makanya kutuliskan saja, lalu kusimpan...
dan mungkin kukirimkan ke... entah kemana...
(Kugy-Perahu Kertas)


Senin, 02 Juli 2012

BERSAMA SHEILA ON 7 HINGGA UJUNG WAKTU


Hmmm... ngomongin band favorit Indonesia, omonganku gak bakalan jauh-jauh dari yang namanya Sheila On 7.  Buat aku, Sheila on 7 adalah band nomor satu Indonesia, the best, n the legend lah pokoknya.  Pertama kali aku kenal Sheila On 7 adalah ketika aku berusia 6 tahun dan masih duduk sebagai anak kecil di bangku kelas 1 SD. Waktu itu, kakak pertamaku ngebawain kaset tape yang ternyata merupakan album perdananya Sheila On 7, dan kemudian terdengarlah lagu-lagu mereka di telingaku, salah satu lagunya berjudul Dan, dan itu bikin aku bener2 jatuh cinta sama mereka. Sebenernya pada waktu itu aku masih jamannya suka sama lagu Diobok-oboknya Joshua, lagu-lagunya Tasya, Cikita Meddi, Mesyi, Sherina, dan lagu-lagu artis cilik lainnya. Tapi gak tau kenapa lagu-lagu Sheila On 7 yang sering diputer sama kakakku itu akhirnya jadi bikin aku seolah dewasa sebelum waktunya, padahal belum cukup umur banget buat aku ngerti arti dari liriknya, hehe.
Cover album pertama Sheila On 7

Dua tahun kemudian aku ikut keluargaku pergi ke suatu kota diluar pulau buat nganterin kakakku kuliah, dan tau gak itu kota apa? Jogja dab, Jogja! Kota dimana Band favoritku itu berasal.  Sebelum berangkat, si Endah kecil ngebayangin bahwa dia bakal pergi ke Jogja dan bakal ada suatu hari dimana dia berpapasan sama semua personil Sheila On7 yang lagi jalan-jalan di pasar terkenal Jogja yang namanya Malioboro,  haha. Tapi sayangnya, kota Jogja ternyata masih terlalu besar bagi si Endah kecil buat bisa ketemu sama mas Duta, Eross, Sakti, Adam, dan mas Anton. Yaah, apa boleh buat.
Dari Kalimantan tempat aku tinggal, beberapa bulan kemudian aku ngirim surat buat kakakku di Jogja, maklum ya jaman dulu, gak ada tuh yang istilahnya sms-smsan kaya sekarang, paling mentok nelpon, itu pula ke telpon kost2an yang masih umum kepemilikannya. Isi dari suratku itu salah satunya adalah minta dia buat nyariin foto Sheila On7 . Maklum jaman dulu belum booming yang namanya internet, so foto artis susah didapetin, gak bisa tinggal download kaya jaman sekarang. Gak berapa lama kemudian dikirimin juga itu foto sama kakakku, aku masih simpen foto mereka sampe sekarang.  Tiga tahun kemudian aku ke Jogja lagi, aku yang sekarang udah agak gedean berharap kali ini dunia bakalan jadi lebih kecil dan lebih sempit supaya gak begitu susah buat nemuin Sheila On 7, tapi ternyata salah, menghabiskan waktu dua minggu di Kota Jogja kali inipun masih belum bisa membuatku ketemu sama SO7 kaya yang kuimpi-impiin dari dulu. Beberapa tahun kemudian aku kembali ke Jogja mewakili daerahku buat  ikut suatu lomba, kali ini pun aku masih membawa mimpi supaya bisa ketemu sama SO7, tapi hasilnya masih nihil.
Nah Alhamdulillahnya nih, aku akhirnya kesampaian juga kuliah di Jogja. Selain karena emang aku udah cinta banget sama kota ini, alasan lainku pengen banget ngelanjutin studi disini juga sebenernya karena pengen ketemu Sheila On 7, hehe. Temen-temenku di Kalimantan juga pada berharap aku bisa ketemu Band itu di Jogja nanti. Oh ya, tau gak, temen-temen yang pada akhirnya jadi sahabat2ku sampe sekarang ternyata adalah para penggemar berat SO7 juga, ada Dewi, Adrew, Aya, dan Septian. Emang ya, orang-orang berarti disekeliling kita pada umumnya punya banyak kesamaan dengan kita, salah satunya dalam selera musik, kita sama-sama ngegandrungin band yang satu ini.
Ternyata oh ternyata, gak segampang itu buat ketemu SO7 walaupun aku udah berada di kota mereka, berkali-kali aku bahkan kehilangan kesempatan buat ketemu mereka, bahkan sampe ketika mereka ngisi acara kampanye pilkada di stadion deket kostku sendiripun aku ketinggalan. Karena ketinggalan infolah, karena kehabisan tiket lah, apalah. Kasus kehabisan tiket, itu salahku juga sih karena menunda-nunda beli tiket, rupa-rupanya waktu itu aku lupa kalo aku ini jadi fans dari band 1 juta copy Indonesia yang penggemarnya masih buanyak banget sampe sekarang, ckck. Pernah juga aku sama temenku Arfina yang juga Sheila Gank, sore2, ujan2an pake jas ujan ke jalan magelang nyari yang namanya Liquid Futsal karena kabarnya SO7 sore itu bakal main futsal disana. Waktu itu kita masih belum lama tinggal di Jogja, jadi belum hapal tempat-tempat di Jogja, dan ujung-ujungnya apa coba? Kita malah berhenti di depan Liquid tempat orang biasa clubbing. Gubraaakk... karena menduga salah info lokasi akhirnya kitapun pulang, padahal Liquid Futsal itu beneran ada, dan tempatnya gak jauh dari situ.
Hingga tiba di suatu malam di bulan Februari, aku diajak seorang temen ke acara Tribute to Sheila on 7 di sebuah Cafe di Jogja. Pergi ke acara tributenya, gak ada pilihan lain, cuman itu yang bisa aku lakuin daripada nyesel gak jelas. Nyesel  karena sebenernya aku kehabisan tiket konser SO7 yang diadain pada malam itu juga di tempat yang berbeda. Yah masih mendinglah di tribute ntar bakal bisa ngedengerin lagu-lagu mereka dibawain sama band-band lokal Jogja daripada cuma bisa gigit jari doang di kos.
                Sampe disana, suasana cafe ternyata rame buanget. Ada yang sekedar nongkrong ngumpul rame-rame sama temen masing-masing dan ada juga mereka yang emang sengaja datang buat acara tribute. Hmm.. dan kayanya aku bukan satu-satunya orang yang kecewa berat karena kehilangan kesempatan buat nonton konser SO7 langsung malem itu, toh yg pada dateng ke acara tribute itu kyanya nasibnya sama kayak aku, keabisan tiket dan gak bisa nonton S07nya langsung, hehe. Nah terus, di tengah-tengah acara si MC tiba-tiba bilang bahwa setelah selesai konser nanti Sheila On 7 bakal ngusahain dateng ke Cafe itu, mungkin jam 11an malem ntar. Wooww, aku dan temenku akhirnya memutusin untuk nungguin mereka, pokoknya nungguin sampe mereka dateng ke itu Cafe.
Pas baru dateng..
                Tik tok tik tok... jam 11 malam, waktu lagu DAN dibawain oleh salah satu band yang tampil, aku dengar dari luar sana ada yang neriakin nama mas Duta, but hey are they really coming?? Sampe kemudian akhirnya masuklah sesosok cowok tinggi pake baju merah dengan wajah yang dari jaman SD sampe beberapa menit yang lalu cuma bisa aku liat di layar kaca itu sekarang bener-bener berjalan tepat dihadapanku, yang jaraknya bahkan gak sampe satu meter  didepanku, itu beneran mas Duta! Wowww... unbelievable! rasanya bener-bener gak percaya, akhirnya malam ini aku bener-bener ketemu sama band paling Te o Pe Be Ge Te yang juga kukagumi karena kesederhanaannya itu.
 
Dia berjalan menuju panggung sambil tersenyum, kemudian membius semua yang ada disana dengan suara khasnya melanjutkan lagu DAN yang musiknya masih terus mengalun sejak kedatangannya tadi.  Jelas aja, semua sheilagank yang dari tadi nungguin langsung berebut tempat didepan panggung, gak terkecuali aku, dengan jurus nyusup sana nyusup sini akhirnya posisi tepat didepan panggungpun berhasil aku dapatkan. Gak lama kemudian, menyusullah mas Adam, Eross, dan Brian. Dengan versi akustik, akhirnya lagu-lagu hits mereka pun kemudian menggema diruangan itu. Dan... Dan itu bener-bener mereka, Sheila on 7!

Finally I met them !

Aaaaa...... Sheila on 7 sampe nanti pokoknya tetep jalan terus yaaa, aku juga bakal jalan terus mengiringimu hingga ujung waktu... :*

Rabu, 27 Juni 2012

When Silence Tells You One Thing

Dan kalimat itu, kenapa kalimat itu pernah terluncur dari bibir kamu. Kalimat yang pernah membuat saya mengambil keputusan untuk percaya, kepercayaan yang sebenarnya bahkan tidak mengetuk gerbang logika saya, dan saya memutuskan untuk tetap percaya. Kalimat yang membuat saya melayang cukup lama diantara langit dan bumi, tanpa menjejak tanah, hampir sulit untuk dicerna oleh logika.
Dan kamu, satu-satunya orang yang telah berhasil menyimpangkan persepsi saya mengenai masa lalu. Bertahun-tahun saya menjadi seseorang yang bersahabat baik dengan masa lalu, tak perduli mereka indah ataukah kelam. Seringkali saya tetap menyapa mereka meski saya telah berjalan meninggalkan mereka semakin jauh didepan. Tapi tidak lagi kini, keduanya telah terkotak dengan dinding pemisah yang tebal, satu kotak akan tetap ada, dan satu lagi...
Kini saya tahu, bahwa cukuplah kita mengambil suatu pelajaran untuk dibawa ke masa depan dari masa lalu yang kelam, tanpa perlu membawa masa lalu itu lagi karena mungkin akan menyakitkan, tanpa perlu membiarkannya menjadi bayang-bayang pada masa depan kita. Sama halnya ketika kita melakukan sebuah kesalahan, cukuplah kita mengambil pelajaran dari sebuah kesalahan tanpa perlu mengingat kesalahan itu sendiri lagi, dan memaafkan menjadi satu-satunya pilihan. Dan bahkan, masa lalu pun perlu untuk dimaafkan...  Tapi waktu memang adalah sebuah rahasia alam, saya bahkan tidak tahu, harus berapa lama saya menunggu sampai ia benar-benar menghentikan masa lalu yang sedang membayang-bayangi langkah-langkah saya.
Bukan, bukanlah kamu yang ingin saya lupakan, tapi semua yang pernah terjadi, dan suatu hal yang terlanjur terciptalah yang ingin saya lupakan. Tiada siapa yang salah, tidak saya, tidak pula kamu, nyatanya saya tidak mungkin bisa membenci kamu, tidak akan pernah bisa. Barangkali kita hanya pernah terjebak dalam satu permainan, tidak mengapa, bukankah menjadi dewasapun harus melalui masa kanak-kanak yang selalu dipenuhi dengan permainan? Tapi setidaknya setelah ini saya ingin kamu mampu berucap kepada siapapun nanti,  bahwa kamu tidak sedang bermain-main lagi, tidak dengan hatinya.
                Tidak banyak orang yang bisa menterjemahkan kebisuan, tidak banyak orang yang bisa mencerna makna kata dibalik diam. Dan pada akhirnya saya tahu, bagi kamu, diamnya saya memang tidak pernah berkata-kata,  diamnya saya bahkan tidak memiliki makna.
Bersama warna senja yang mengantar matahari pulang, saya berterima kasih kepada kamu untuk banyak hal. Semoga kamu selalu baik-baik saja. :)

Jogja, 27 Agustus 2012