Ini tentang
sebuah negara yang kemerdekaannya dikumandangkan sejak tahun 1945. Terhitung 69
tahun sejak hari itu, hari ini kalimat itu menggema lagi dari ujung Sabang
hingga Merauke. Semua merayakannya. Meskipun kondisi jobless pasca lulus ini
membuat saya tidak bisa bernaung dibawah nama sebuah instansi untuk ikut serta memperingatinya
dalam sebuah upacara, saya tetap memperingati 17 agustus walau hanya
lewat cuap-cuap di blog ini saja.
Sesederhana dua
sisi yang dimiliki oleh sebuah koin, Indonesia pun memiliki dua sisi yang secara
garis besar dapat kita renungi, sisi baiknya dan sisi buruknya. Dan di hari
ulang tahunnya ini, setelah memposisikan kepingan koin itu diantara ibu jari
dan telunjuk tepat didepan mata, saya memilih untuk menjatuhkan koin tersebut dengan
sisi baik tentang Indonesia berada di atas, membiarkan ia menjadi sisi satu-satunya
yang saya lihat di hari spesial ini. Menatap satu sisi, bagaimanapun tak sama
halnya dengan menatap dua sisi, yang kadang justru membuat bimbang dan ragu
apakah benar kita bisa maju mengingat masih ada sisi buruk satunya yang melekat
disisi yg lain. Satu sisi, yang jika keutuhannya sanggup kita lihat lebih dalam
mungkin saja mampu membuat kita menjadi lebih bangga, lebih nasionalis, bahkan
lebih optimis dari sebelumnya.
Saya bangga
menjadi orang Indonesia. Jika melihat sejarah, bangsa ini berdiri dengan
perjuangan sendiri yang didukung oleh kecerdasannya, keberaniannya, dan
kerelaannya dalam berkorban. Dengan darah, serta semangat menyatukan segala
perbedaan, proklamasi di 17 agustus 1945 dapat dikumandangkan.
Saya bangga
tumbuh dalam keberagaman. Bangsa kita terdiri atas lebih dari 900 suku bangsa,
400 lebih bahasa daerah dan dialek dengan warisan adat istiadat, cara hidup dan
kearifan masing-masing. Ada bermacam-macam upacara budaya, busana, tarian,
musik, dan seni tradisional lainnya, serta berbagai makanan khas daerah. Berbagai
karya budaya seperti wayang, keris, batik, angklung, dan tari saman serta
banyak lagi kebudayaan lain telah diakui pula oleh organisasi dunia, UNESCO,
sebagai warisan budaya dunia.
Saya bangga hidup
di negeri indah yang dikenal dengan penduduknya yang ramah, tanahnya yang subur, dengan lebih dari
17.500 pulau yang membentang sepanjang tidak kurang dari 5.000 kilometer dari ujung
timur hingga ujung barat. Sungguh, kita akan tersadar Indonesia itu indah kalau
saja kita mau menjelajah dan mencari tahu sendiri keindahannya.
Indonesia juga
memiliki banyak orang pintar. Posisi geografis tempat lahir dan tumbuhnya
seseorang tidak mutlak menjadi factor penentu berkembangnya kualitas pemikiran
seseorang. Yang terlahir di Indonesia pun bisa memiliki kualitas yang sama
dengan mereka yang berasal dari negara lain yang lebih maju. Bahkan baru-baru ini, Erica Kaunang, gadis cilik berdarah Kawanua asal
Indonesia berhasil masuk deretan siswa paling pintar di New York Amerika pada
acara National Junior
Society Induction Ceremony, award bergengsi di
dunia pendidikan Amerika. Bukan hanya Erica Kaunang, bukan hanya Pak Habibi,
tanyakan lebih lanjut pada mbah google dan dia akan memperkenalkan pada kita
contoh orang-orang pintar Indonesia yang mungkin banyak dari kita tidak
mengetahuinya.
Saya bangga menjadi orang Indonesia, saya bangga untuk banyak
alasan-alasan lainnnya. Saya bangga untuk setiap langkah kedepan Indonesia yang
jikapun masih satu, tetap dikatakan selangkah lebih maju, dan bukannya diam di tempat,
apalagi mundur.
Lalu bagaimana
dengan sisi koin yang satunya?
Pemberitaan di media masa tentang sejumlah problematika yang dihadapi oleh negara ini telah menjadi layaknya produk tak inovative yang ditawarkan oleh sesosok sales aneh yang tak bosan datang kerumah setiap harinya. Menemui hal yang sebenarnya itu-itu saja lama-kelamaan membuat kita muak. Bukannya apatis dan tak mau tahu, tapi kebanyakan mengkonsumsi berita negative mungkin saja akan membentuk pola pikir yang lebih mengarah ke sisi negative pula, maka jangan heran jika orang lebih banyak terbiasa meratapi masalah ketimbang memikirkan solusinya.
Pemberitaan di media masa tentang sejumlah problematika yang dihadapi oleh negara ini telah menjadi layaknya produk tak inovative yang ditawarkan oleh sesosok sales aneh yang tak bosan datang kerumah setiap harinya. Menemui hal yang sebenarnya itu-itu saja lama-kelamaan membuat kita muak. Bukannya apatis dan tak mau tahu, tapi kebanyakan mengkonsumsi berita negative mungkin saja akan membentuk pola pikir yang lebih mengarah ke sisi negative pula, maka jangan heran jika orang lebih banyak terbiasa meratapi masalah ketimbang memikirkan solusinya.
Jika tidak bisa
setiap hari memulihkan ingatan kita sendiri tentang betapa hebatnya negeri ini,
maka setidaknya untuk hari ini saja, biarkanlah mata kita melihat sisi hebat
dari Indonesia, biarkanlah kita berbangga menjadi Indonesia. Bagaimanapun
seseorang akan berani menghadapi masalah didepannya jika ia bangga dan percaya
pada kehebatannya sendiri.
Saya produk
Indonesia, bangga menjadi seorang Indonesia.
Selamat hari
kemerdekaan !
Merdeka ! :D
Tanjung, 17 Agustus 2014


0 komentar:
Posting Komentar