Laman


Minggu, 17 Agustus 2014

Indonesia di Satu Sisi Koin



Ini tentang sebuah negara yang kemerdekaannya dikumandangkan sejak tahun 1945. Terhitung 69 tahun sejak hari itu, hari ini kalimat itu menggema lagi dari ujung Sabang hingga Merauke. Semua merayakannya. Meskipun kondisi jobless pasca lulus ini membuat saya tidak bisa bernaung dibawah nama sebuah instansi untuk ikut serta memperingatinya dalam sebuah upacara, saya tetap memperingati 17 agustus walau hanya lewat cuap-cuap di blog ini saja.

Sesederhana dua sisi yang dimiliki oleh sebuah koin, Indonesia pun memiliki dua sisi yang secara garis besar dapat kita renungi, sisi baiknya dan sisi buruknya. Dan di hari ulang tahunnya ini, setelah memposisikan kepingan koin itu diantara ibu jari dan telunjuk tepat didepan mata, saya memilih untuk menjatuhkan koin tersebut dengan sisi baik tentang Indonesia berada di atas, membiarkan ia menjadi sisi satu-satunya yang saya lihat di hari spesial ini. Menatap satu sisi, bagaimanapun tak sama halnya dengan menatap dua sisi, yang kadang justru membuat bimbang dan ragu apakah benar kita bisa maju mengingat masih ada sisi buruk satunya yang melekat disisi yg lain. Satu sisi, yang jika keutuhannya sanggup kita lihat lebih dalam mungkin saja mampu membuat kita menjadi lebih bangga, lebih nasionalis, bahkan lebih optimis dari sebelumnya.

Saya bangga menjadi orang Indonesia. Jika melihat sejarah, bangsa ini berdiri dengan perjuangan sendiri yang didukung oleh kecerdasannya, keberaniannya, dan kerelaannya dalam berkorban. Dengan darah, serta semangat menyatukan segala perbedaan, proklamasi di 17 agustus 1945 dapat dikumandangkan.

Saya bangga tumbuh dalam keberagaman. Bangsa kita terdiri atas lebih dari 900 suku bangsa, 400 lebih bahasa daerah dan dialek dengan warisan adat istiadat, cara hidup dan kearifan masing-masing. Ada bermacam-macam upacara budaya, busana, tarian, musik, dan seni tradisional lainnya, serta berbagai makanan khas daerah. Berbagai karya budaya seperti wayang, keris, batik, angklung, dan tari saman serta banyak lagi kebudayaan lain telah diakui pula oleh organisasi dunia, UNESCO, sebagai warisan budaya dunia.

Saya bangga hidup di negeri indah yang dikenal dengan penduduknya yang ramah, tanahnya yang subur, dengan lebih dari 17.500 pulau yang membentang sepanjang tidak kurang dari 5.000 kilometer dari ujung timur hingga ujung barat. Sungguh, kita akan tersadar Indonesia itu indah kalau saja kita mau menjelajah dan mencari tahu sendiri keindahannya.

Indonesia juga memiliki banyak orang pintar. Posisi geografis tempat lahir dan tumbuhnya seseorang tidak mutlak menjadi factor penentu berkembangnya kualitas pemikiran seseorang. Yang terlahir di Indonesia pun bisa memiliki kualitas yang sama dengan mereka yang berasal dari negara lain yang lebih maju. Bahkan baru-baru ini, Erica Kaunang, gadis cilik berdarah Kawanua asal Indonesia berhasil masuk deretan siswa paling pintar di New York Amerika pada acara National Junior Society Induction Ceremony, award bergengsi di dunia pendidikan Amerika. Bukan hanya Erica Kaunang, bukan hanya Pak Habibi, tanyakan lebih lanjut pada mbah google dan dia akan memperkenalkan pada kita contoh orang-orang pintar Indonesia yang mungkin banyak dari kita tidak mengetahuinya.

Saya bangga menjadi orang Indonesia, saya bangga untuk banyak alasan-alasan lainnnya. Saya bangga untuk setiap langkah kedepan Indonesia yang jikapun masih satu, tetap dikatakan selangkah lebih maju, dan bukannya diam di tempat, apalagi mundur. 

Lalu bagaimana dengan sisi koin yang satunya?
          Pemberitaan di media masa tentang sejumlah problematika yang dihadapi oleh negara ini telah menjadi layaknya produk tak inovative yang ditawarkan oleh sesosok sales aneh yang tak bosan datang kerumah setiap harinya. Menemui hal yang sebenarnya itu-itu saja lama-kelamaan membuat kita muak. Bukannya apatis dan tak mau tahu, tapi kebanyakan mengkonsumsi berita negative mungkin saja akan membentuk pola pikir yang lebih mengarah ke sisi negative pula, maka jangan heran jika orang lebih banyak terbiasa meratapi masalah ketimbang memikirkan solusinya.

Jika tidak bisa setiap hari memulihkan ingatan kita sendiri tentang betapa hebatnya negeri ini, maka setidaknya untuk hari ini saja, biarkanlah mata kita melihat sisi hebat dari Indonesia, biarkanlah kita berbangga menjadi Indonesia. Bagaimanapun seseorang akan berani menghadapi masalah didepannya jika ia bangga dan percaya pada kehebatannya sendiri.


Saya produk Indonesia, bangga menjadi seorang Indonesia.
Selamat hari kemerdekaan !
Merdeka ! :D

Tanjung, 17 Agustus 2014

0 komentar: