Malam itu Boeing
737 itu membawa kamu pergi, mengudara semakin jauh dengan kelap-kelip lampu
kota yang semakin redup tertinggal dibawah sana. Kamu selalu memimpikan bisa
melihat bintang dalam penerbangan malam semacam ini, setidaknya untuk menenangkan
hatimu yang sesungguhnya selalu ketakutan berada di dalam burung besi.
Dalam hitungan
jam kamu akan tiba dirumah, tempat keluarga dan segalanya yang selama ini kamu
tinggalkan. Ada sebuncah kegembiraan yang selama ini mengendap karena terhalang
bendungan besar bernama jarak, tapi malam ini bendungan itu runtuh sudah, ditubruk
burung besi yang sekaligus mengembalikanmu ke titik koordinat dimana kamu
pernah menetap lama sebelumnya. Sensasi itu, semua perantau pasti merasakannya.
Di sisi lain kamu kebingungan, lama menginjakkan kaki di tanah orang lain menjadikan
kamu bingung untuk menyebut mana yang harusnya disebut sebagai rumah. Kamu mendadak
menjadi seperti manusia setengah amfibi
yang nyaman hidup di dua alam.
Pesawat berguncang
lagi, kali ini cukup lama. Mereka bilang cuaca buruk dan tetaplah gunakan sabuk
pengaman demi keselamatan. Kamu diam mendengarkan degup jantungmu sendiri
sambil mencoba percaya apa kata mereka. Sebenarnya otakmu sibuk bertanya-tanya
bagaimana bisa sabuk pengaman berbuat banyak jika seandainya pesawat harus jatuh
dari ketinggian sekian ribu kaki. Bagian otakmu yang lain sibuk membayangkan hiu-hiu
dibawah sana yang siap merobek dinding pesawat dengan taring-taringnya
yang tajam, lalu akhirnya menemukanmu
yang terperangkap didalam. Satu-satunya yang bisa menetralkan otak hiperaktifmu
dalam keadaan seperti ini adalah mengingat mereka yang sedang menunggumu
dirumah.
Kamu membayangkan
akan tiba dirumah sekian jam lagi. Saat semua barangkali masih terlelap kamu akan mengetuk
pintu rumah dan menghambur seolah kamu tak akan pergi lagi. Lalu ketika hari
sudah cukup terang kamu akan melihat arena dimana dulu kamu kecil sering
menghabiskan waktu. Melihat pohon rambutan yang delapan tahun lalu kamu tanam
didepan rumah. Ibumu bilang pohon itu sudah berbuah dalam 4 musim, tapi tak
sekalipun kamu melihat dan merasakannya di indra kecapmu. Kamu selalu pulang
saat mereka tak berbuah. Kamu lalu melihat anak-anak di lingkungan rumahmu, mereka
pasti sudah menjadi lebih besar sekarang.
Tapi masalahnya adalah mereka pasti akan sesaat menatapmu seolah kamu
ini orang asing yang sedang singgah di lingkungan mereka sebelum akhirnya sadar
bahwa kamu adalah orang yang sebenarnya mereka kenal.
Apa rasanya sesaat menjadi orang asing di
tanah sendiri seperti itu? Kamu melewatkan banyak hal, melewatkan saat ada
orang yang datang lalu pergi, melewatkan saat kamu harusnya bisa berbangga menjumpai
pohon rambutanmu sudah bisa berproduksi, melewatkan momentum-momentum kekeluargaan
yang harusnya melibatkanmu serta, melewatkan segalanya yang semakin menua, dan
banyak hal lainnya. Kamu kehilangan moment demi moment ketika kamu pergi,
ketika kamu sibuk mengejar cita-cita, ketika kamu sibuk mencari tahu siapa
dirimu diluar sana. Kamu tukar moment demi moment itu dengan sibukmu di pulau antah-berantah. Lalu
masih… kamu membayangkan akan pergi lagi setelah ini. Demi apa?
Ada yang bilang
bahwa anak panah tidak akan pernah mencapai sasaran jika tidak tinggalkan
busurnya. Kamu rasa kata-kata itu sangat masuk akal dan wajar. Ada kalanya
seorang anak harus pergi demi mencapai apa yang ia ingin tuju, dengan berbagai resiko
tentunya, termasuk kehilangan moment-moment itu, ditambah lagi kadang ia harus menghadapi
tatapan sinis dari orang lain, saat ia bisa saja justru terlihat kejam karena terlalu
lama memutuskan untuk meninggalkan keluarganya, rumahnya, tempat ia dibesarkan.
Tak semua orang bisa memahaminya. Resiko itu adalah harga yang harus dibayar
dan ia bukannya tidak tahu hal itu ketika memutuskan.
Dimanapun
berada, anak panah tetaplah anak panah, busur sesungguhnya selalu tahu kenapa
ia harus melepaskan, hanya busur yang paham, orang lain tidak. Bagaimanapun setiap
orang punya pilihannya sendiri, punya jalan yang ingin dilaluinya masing-masing. Jika sekarang ia ingin A maka bukan tak mungkin suatu saat ia ingin B. Jika sekarang ia ingin pergi maka bukan tak mungkin suatu saat ia ingin
kembali. Tapi hanya sedikit yang mengerti bahwa dibutuhkan serentetan peristiwa atau proses untuk membawanya hijrah dari A menjadi B. That’s the way they are happy, that’s the way they live. Moga-moga
tak terlalu egois bagi seseorang untuk berani mengatakan itu.
Tak semua orang bisa mengerti hidup macam apa yang bisa membuat seseorang bahagia, hidup macam apa yang membuat dunianya tetap berotasi. Dunia itu bukan seperti planet bumi yang tetap berotasi bahkan ketika dirinya diam ditempat. Dunianya butuh dirinya sebagai penggerak, semacam mainan putar-putaran yang seringkali dijumpai di arena bermain taman kanak-kanak, baru berputar ketika ia sendiri bergerak.
Tak semua orang bisa mengerti hidup macam apa yang bisa membuat seseorang bahagia, hidup macam apa yang membuat dunianya tetap berotasi. Dunia itu bukan seperti planet bumi yang tetap berotasi bahkan ketika dirinya diam ditempat. Dunianya butuh dirinya sebagai penggerak, semacam mainan putar-putaran yang seringkali dijumpai di arena bermain taman kanak-kanak, baru berputar ketika ia sendiri bergerak.
Terdengar nada
tanda lampu sabuk pengaman telah dimatikan. Kamu boleh lega karena cuaca buruk
sudah lewat meskipun pesawat masih sesekali berguncang. Tak apa, Pak Habibi
bilang itu justru tanda bahwa pesawat normal dan tak ada bagiannya yang retak. Bagaimanapun
kamu harus berterima kasih padanya, ia akan mengantarmu pulang, juga masih
mungkin untuk membawamu pergi lagi.


0 komentar:
Posting Komentar