Laman


Kamis, 07 Agustus 2014

Pulang dan Pergi



Malam itu Boeing 737 itu membawa kamu pergi, mengudara semakin jauh dengan kelap-kelip lampu kota yang semakin redup tertinggal dibawah sana. Kamu selalu memimpikan bisa melihat bintang dalam penerbangan malam semacam ini, setidaknya untuk menenangkan hatimu yang sesungguhnya selalu ketakutan berada di dalam burung besi. 

Dalam hitungan jam kamu akan tiba dirumah, tempat keluarga dan segalanya yang selama ini kamu tinggalkan. Ada sebuncah kegembiraan yang selama ini mengendap karena terhalang bendungan besar bernama jarak, tapi malam ini bendungan itu runtuh sudah, ditubruk burung besi yang sekaligus mengembalikanmu ke titik koordinat dimana kamu pernah menetap lama sebelumnya. Sensasi itu, semua perantau pasti merasakannya. Di sisi lain kamu kebingungan, lama menginjakkan kaki di tanah orang lain menjadikan kamu bingung untuk menyebut mana yang harusnya disebut sebagai rumah. Kamu mendadak menjadi  seperti manusia setengah amfibi yang nyaman hidup di dua alam.  

Pesawat berguncang lagi, kali ini cukup lama. Mereka bilang cuaca buruk dan tetaplah gunakan sabuk pengaman demi keselamatan. Kamu diam mendengarkan degup jantungmu sendiri sambil mencoba percaya apa kata mereka. Sebenarnya otakmu sibuk bertanya-tanya bagaimana bisa sabuk pengaman berbuat banyak jika seandainya pesawat harus jatuh dari ketinggian sekian ribu kaki. Bagian otakmu yang lain sibuk membayangkan hiu-hiu dibawah sana yang siap merobek dinding pesawat dengan taring-taringnya yang  tajam, lalu akhirnya menemukanmu yang terperangkap didalam. Satu-satunya yang bisa menetralkan otak hiperaktifmu dalam keadaan seperti ini adalah mengingat mereka yang sedang menunggumu dirumah.

Kamu membayangkan akan tiba dirumah sekian jam lagi. Saat semua  barangkali masih terlelap kamu akan mengetuk pintu rumah dan menghambur seolah kamu tak akan pergi lagi. Lalu ketika hari sudah cukup terang kamu akan melihat arena dimana dulu kamu kecil sering menghabiskan waktu. Melihat pohon rambutan yang delapan tahun lalu kamu tanam didepan rumah. Ibumu bilang pohon itu sudah berbuah dalam 4 musim, tapi tak sekalipun kamu melihat dan merasakannya di indra kecapmu. Kamu selalu pulang saat mereka tak berbuah. Kamu lalu melihat anak-anak di lingkungan rumahmu, mereka pasti sudah menjadi lebih besar sekarang.  Tapi masalahnya adalah mereka pasti akan sesaat menatapmu seolah kamu ini orang asing yang sedang singgah di lingkungan mereka sebelum akhirnya sadar bahwa kamu adalah orang yang sebenarnya mereka kenal.

 Apa rasanya sesaat menjadi orang asing di tanah sendiri seperti itu? Kamu melewatkan banyak hal, melewatkan saat ada orang yang datang lalu pergi, melewatkan saat kamu harusnya bisa berbangga menjumpai pohon rambutanmu sudah bisa berproduksi, melewatkan momentum-momentum kekeluargaan yang harusnya melibatkanmu serta, melewatkan segalanya yang semakin menua, dan banyak hal lainnya. Kamu kehilangan moment demi moment ketika kamu pergi, ketika kamu sibuk mengejar cita-cita, ketika kamu sibuk mencari tahu siapa dirimu diluar sana. Kamu tukar moment demi moment  itu dengan sibukmu di pulau antah-berantah. Lalu masih… kamu membayangkan akan pergi lagi setelah ini. Demi apa?

Ada yang bilang bahwa anak panah tidak akan pernah mencapai sasaran jika tidak tinggalkan busurnya. Kamu rasa kata-kata itu sangat masuk akal dan wajar. Ada kalanya seorang anak harus pergi demi mencapai apa yang ia ingin tuju, dengan berbagai resiko tentunya, termasuk kehilangan moment-moment itu, ditambah lagi kadang ia harus menghadapi tatapan sinis dari orang lain, saat ia bisa saja justru terlihat kejam karena terlalu lama memutuskan untuk meninggalkan keluarganya, rumahnya, tempat ia dibesarkan. Tak semua orang bisa memahaminya. Resiko itu adalah harga yang harus dibayar dan ia bukannya tidak tahu hal itu ketika memutuskan.

Dimanapun berada, anak panah tetaplah anak panah, busur sesungguhnya selalu tahu kenapa ia harus melepaskan, hanya busur yang paham, orang lain tidak. Bagaimanapun setiap orang punya pilihannya sendiri, punya jalan yang ingin dilaluinya masing-masing. Jika sekarang ia ingin A maka bukan tak mungkin suatu saat ia ingin B. Jika sekarang ia ingin pergi maka bukan tak mungkin suatu saat ia ingin kembali.  Tapi hanya sedikit yang mengerti bahwa dibutuhkan serentetan peristiwa atau proses untuk membawanya hijrah dari A menjadi B. That’s the way they are happy, that’s the way they live. Moga-moga tak terlalu egois bagi seseorang untuk berani mengatakan itu.

Tak semua orang bisa mengerti hidup macam apa yang bisa membuat seseorang bahagia, hidup macam apa yang membuat dunianya tetap berotasi. Dunia itu bukan seperti planet bumi yang tetap berotasi bahkan ketika dirinya diam ditempat. Dunianya butuh dirinya sebagai penggerak, semacam mainan putar-putaran yang seringkali dijumpai di arena bermain taman kanak-kanak, baru berputar ketika ia sendiri bergerak.

Terdengar nada tanda lampu sabuk pengaman telah dimatikan. Kamu boleh lega karena cuaca buruk sudah lewat meskipun pesawat masih sesekali berguncang. Tak apa, Pak Habibi bilang itu justru tanda bahwa pesawat normal dan tak ada bagiannya yang retak. Bagaimanapun kamu harus berterima kasih padanya, ia akan mengantarmu pulang, juga masih mungkin untuk membawamu pergi lagi.

0 komentar: