Dunia kadang bekerja dalam proses-proses yang tidak sepenuhnya dapat kita pahami.
Mengutip dari status akun facebook yang pernah dibuat oleh kakak laki-laki saya pada suatu hari, entah darimana ia mendapatkan kalimat itu, tak perlulah saya memikirkannya.
Kadang dunia memang tampak gamang dan proses-proses yang terjadi didalamnya tidak cukup untuk membuat kita mengerti. Bahkan mungkin terlihat tragis ketika suatu proses yang kita harapkan tidak berjalan seperti apa yang kita inginkan, persis seperti apa yang bisa kita pahami. Jika sudah seperti itu, lantas kita mungkin mengutuk dunia dan semua proses yang terjadi didalamnya, kemudian tanpa sadar membuat lingkaran setan sambil melanjutkan hidup dengan bayang-bayang sebuah proses dimasa lalu yang belum kita pahami hingga saat ini.
Dunia kadang bekerja dalam prosesnya yang tidak dapat kita pahami, tapi satu hal yang pasti bahwa ia tidak pernah salah. Kesalahan terbesar kita adalah tidak mau memahaminya hingga kita selalu menganggap ia salah. Cobalah untuk memahami, bukan hanya meminta untuk dipahami. Percayalah bahwa segala sesuatu terjadi karena suatu alasan, ia tidak terjadi begitu saja. Semua orang berubah agar kita bisa belajar untuk melepaskannya menjadi apa yang ia inginkan, orang berbuat salah agar kita bisa belajar untuk memaafkannya dengan bijak, kita pernah percaya kebohongan dari orang lain agar suatu hari kita bisa percaya pada diri sendiri, kita pernah ditampar kesedihan yang membuat kita jatuh agar kesedihan yang mungkin akan datang dilain waktu tidak cukup kuat untuk menjatuhkan kita lagi, kita pernah gagal agar kita tahu bagaimana rasanya sukses, tanpa kegagalan kita tidak akan pernah bisa menggambarkan sebuah kesuksesan, kita pernah terlambat menyadari betapa spesialnya seseorang setelah kehilangannya agar kita tidak mengulang keterlambatan yang sama, kemudian belajar untuk lebih menghargai dan menjaga siapapun yang ada disisi kita nanti untuk tetap tinggal.
Dunia kadang bekerja dalam proses-proses yang tidak sepenuhnya dapat kita pahami, biarkan saja karena ia tidak salah. Jikapun terasa sakit, itu hanya karena kita tidak mau memahami.
Jogja, 30 oktober 2011
skip to main |
skip to sidebar
Somewhere
It's my life... I'm the one who will paint it...
Laman
Sabtu, 29 Oktober 2011
Sebuah Keterlambatan
Kadang kita baru menyadari betapa spesialnya seseorang, sesuatu, atau apapun itu setelah ia meninggalkan kita. Kutipan kalimat itu seringkali kita dengar, bahkan terlalu terlalu sering karena faktanya banyak orang yang pernah merasakannya.
Pertanyaan yang timbul kemudian adalah kenapa semuanya harus menjadi sedemikian terlambat, kenapa harus menunggu ia pergi terlebih dulu baru kita menyadari betapa ia ternyata spesial dalam hidup kita. Kenapa harus menunggu kehilangan baru kita sadar bahwa kita membutuhkannya. Tampak seperti sebuah kesalahan besar, lagi-lagi akan menyebabkan timbulnya penyesalan, penyesalan, dan penyesalan. Disaat seperti itu tiba-tiba saja kita menjadi rapuh, berharap agar waktu mau berputar kembali dan kita berjanji akan menjaganya untuk tetap disini, namun sayang waktu tak pernah bersahabat dengan kita untuk itu.
Ya, kenapa kita bisa sedemikian terlambat?
Itu kesalahan, dan tidak untuk diulang kembali.
Pertanyaan yang timbul kemudian adalah kenapa semuanya harus menjadi sedemikian terlambat, kenapa harus menunggu ia pergi terlebih dulu baru kita menyadari betapa ia ternyata spesial dalam hidup kita. Kenapa harus menunggu kehilangan baru kita sadar bahwa kita membutuhkannya. Tampak seperti sebuah kesalahan besar, lagi-lagi akan menyebabkan timbulnya penyesalan, penyesalan, dan penyesalan. Disaat seperti itu tiba-tiba saja kita menjadi rapuh, berharap agar waktu mau berputar kembali dan kita berjanji akan menjaganya untuk tetap disini, namun sayang waktu tak pernah bersahabat dengan kita untuk itu.
Ya, kenapa kita bisa sedemikian terlambat?
Itu kesalahan, dan tidak untuk diulang kembali.
Minggu, 16 Oktober 2011
Aku menjadi sarjana, itu cita-cita mamaku
Jika ada yang bertanya padaku tentang mamaku, maka aku akan menjawab "My Mom is my everything". Ya, mamaku adalah segalanya. Bagiku, ia bisa menjadi apapun dalam hidupnya. Jika sudah dewasa nanti aku bahkan tidak yakin apakah aku bisa menjadi sehebat mama. Masa lalu dan masa kecilnya yang pahit membuat mamaku tumbuh menjadi wanita yang tegar, dan bertekad bahwa anaknya tidak boleh sampai mengalami hal sulit seperti yang pernah ia alami dulu.
Mamaku adalah tipe orang yang berpikir panjang untuk masa depan, dan ia tidak pernah main-main dengan arti sebuah pendidikan, cita-cita terbesarnya adalah menjadikan ketiga anaknya sebagai sarjana, entah kenapa, mungkin karena menurutnya pendidikan adalah salah satu hal yang akan menyelamatkan masa depan kami nanti, ketika semua orang mau tidak mau harus bersaing semakin ketat dengan ijazah masing-masing yang mereka bawa.
Hal itu ia buktikan dengan betapa tanggapnya ia dalam berbagai hal-hal yang berkaitan dengan pendidikan kami, bahkan dalam hal sekecil apapun. Dari dulu, ketika hari pembagian rapor tiba, mamalah yang paling sering mengambilkan rapor. Dan jika dari kejauhan aku melihat guruku telah masuk dalam ruangan, aku tidak perlu begitu khawatir apakah mama sudah berada di ruang pembagian rapor itu atau belum, seperti yang sering kali dikhwatirkan oleh sebagian temanku tentang orang tua mereka. Didalam hati, aku yakin mama pasti datang, bahkan mungkin ia menjadi yang paling awal tiba disana. Mama bilang pembagian rapor itu penting, dan aku tahu bahwa ia akan meninggalkan semua aktivitasnya dihari itu demi segera mengetahui hasil raporku.
Kini aku telah duduk dibangku kuliah dengan predikat seorang mahasiswa, sebuah predikat yang baginya harus dimiliki oleh ketiga anaknya. Masih teringat setahun yang lalu, aku sempat berpikir bahwa mamaku adalah seorang yang egois, ketika dia menyatakan bahwa aku tidak boleh kuliah di universitas pilihanku di kota Jogja. Letaknya yang jauh dan berada diluar pulau membuat mama tampak berat untuk melepasku apalagi mengingat aku adalah anak bungsu, sehingga ia selalu berkata TIDAK untuk pilihanku itu. Namun ketika aku diam-diam mengikuti jalur PMDK dan ternyata diterima di universitas itu, tak kusangka, mamapun akhirnya berkata iya. Kadang tersirat ragu diwajahnya, namun aku berulangkali meyakinkan bahwa aku akan baik-baik saja disana, ia pun tersenyum sambil berkata "Orang lain bisa melepas anaknya pergi jauh untuk mengejar pendidikan, mamapun belajar untuk bisa, dan pasti bisa!"
Ketika hari dimana aku harus pergi ke Jogja tiba, ia mengantarku ke bandara, aku akan pergi sendiri ke Jogja dan ia tidak bisa menemaniku ke kota pelajar itu karena ada urusan yang lebih penting yang harus ia urus. Tidak banyak yang kami bicarakan selama di bandara, sesekali ia hanya mengulang nasehat yang sudah berkali-kali disampaikannya di rumah bersama bapak, agar aku bisa menjaga diri dengan baik disana. Ketika tiba saatnya aku harus check in, dipeluk dan diciumnya keningku. Seperti yang kukatakan, mamaku adalah orang yang kuat, ia tidak akan menangis melepasku, meski aku tahu dari raut wajahnya ada kesedihan, ada kecemasan, ada kekhawatiran, dan ada pula kenyataan yang harus ia terima, bahwa putri terkecilnya kini telah beranjak dewasa.
Kedua kakakku telah menjadi sarjana, dan kini tugasku adalah berusaha untuk menjadi seperti mereka. Tunggulah saatnya ma, suatu hari mama akan tersenyum bangga melihatku menggenapi cita-cita mama.
Jogja, April 2011.
Diikutsertakan dalam lomba Kartini Muda Indonesia, HONDA.
Alhamdulillah.. belum menang, heheee..
Selasa, 04 Oktober 2011
Forgettable note
"Why do you do this to me?
Why do you do this so easily?
You make it hard to smile because..
you make it hard to breathe..
Why do you do this to me..."
I could only say thanks for everything that has been pass by, for painting a big smile and dropping tears on my face, for giving some contrast colours on my "Painting of Life".
Just never guess it really had to be that fast through on my part of life.
I should really think that it's definitely a very wise decision of me, to stay away from you who can really break my wings worse till it can't be able to fly me higher anymore. My heart is not a toy, you shouldn't play with it..
No I don't blame you at all, perhaps the one who should be blamed is me, my self only, for the first time I let the meeting is ours, for the first time I let the conversations is ours.
Been so tired of all. One thing you maybe don't know about me is.. I'm not that strong, exactly not. Yeah, I'm not that strong to always act the disguises, said I'm okay then pretend that everything is alright.
Is there anybody gonna being hate to look up the sky now?
that should be me.
But no, please don't take it too long and don't make me hate the sparkling things there, seemed so unfair if it really happened just because it would remember me on you.
Thanks for the kindness, happiness, sadness, and all that I can't write on this forgettable note one by one.
Thanks for telling me a story or giving me lullabies when i was going to sleep in my fucking insomnia night. Being so sad when I have to say that I do miss it so bad right now, but I don't have any power to let the time goes back as I want.
For sure, you've colouring my paper, and that's my life.
Hopefully one day I could really strong to standing there with the wind, say that It so nice to know you in my life.
Hopefully I still strong enough to look up the things above me, every night.
In the corner of my room, oct 04 2011
Why do you do this so easily?
You make it hard to smile because..
you make it hard to breathe..
Why do you do this to me..."
I could only say thanks for everything that has been pass by, for painting a big smile and dropping tears on my face, for giving some contrast colours on my "Painting of Life".
Just never guess it really had to be that fast through on my part of life.
I should really think that it's definitely a very wise decision of me, to stay away from you who can really break my wings worse till it can't be able to fly me higher anymore. My heart is not a toy, you shouldn't play with it..
No I don't blame you at all, perhaps the one who should be blamed is me, my self only, for the first time I let the meeting is ours, for the first time I let the conversations is ours.
Been so tired of all. One thing you maybe don't know about me is.. I'm not that strong, exactly not. Yeah, I'm not that strong to always act the disguises, said I'm okay then pretend that everything is alright.
Is there anybody gonna being hate to look up the sky now?
that should be me.
But no, please don't take it too long and don't make me hate the sparkling things there, seemed so unfair if it really happened just because it would remember me on you.
Thanks for the kindness, happiness, sadness, and all that I can't write on this forgettable note one by one.
Thanks for telling me a story or giving me lullabies when i was going to sleep in my fucking insomnia night. Being so sad when I have to say that I do miss it so bad right now, but I don't have any power to let the time goes back as I want.
For sure, you've colouring my paper, and that's my life.
Hopefully one day I could really strong to standing there with the wind, say that It so nice to know you in my life.
Hopefully I still strong enough to look up the things above me, every night.
In the corner of my room, oct 04 2011
Jumat, 23 September 2011
Untuk Pagi yang Selalu Nyata
Untuk suatu hari yang lelah disudut ini
aku masih berdiri disini
menatap senja lekat-lekat bersama jejak kaki yang tertinggal
satu hari lagi telah berlalu
kemarin, dan kemarin lusa terucap pula kalimat itu
dan masih saja sama, dengan cahaya matahari yang hampir tak pernah kurasa lagi dalam sepenggal waktu
Ada sesuatu yang tersembunyi
sesuatu yang tak semua orang dapat mengerti, tidak pula memahami
ada langkah yang terpatri
ada cerita, barangkali pula itu anekdot yang terselip di bibir
Aku masih saja seperti orang yang tak waras, berdialog dengan waktu memintanya untuk kembali
untuk tahun, bulan, minggu, hari, menit, dan detik yang telah berlalu
nihil ketika aku sadar bahwa esok pagi adalah kenyataan
dan harusnya aku mampu berdamai dengan itu
Dan senja ini masih sama
tiada janji yang berani ia ukir disana, pada cakrawala yang sebentar lagi akan ia tinggalkan hingga kan lenyap perlahan di mataku...
janji tentang kenyataan disuatu pagi
Untuk suatu hari yang lelah disudut ini
dan pagi yang akan selalu nyata...
aku masih berdiri disini
menatap senja lekat-lekat bersama jejak kaki yang tertinggal
satu hari lagi telah berlalu
kemarin, dan kemarin lusa terucap pula kalimat itu
dan masih saja sama, dengan cahaya matahari yang hampir tak pernah kurasa lagi dalam sepenggal waktu
Ada sesuatu yang tersembunyi
sesuatu yang tak semua orang dapat mengerti, tidak pula memahami
ada langkah yang terpatri
ada cerita, barangkali pula itu anekdot yang terselip di bibir
Aku masih saja seperti orang yang tak waras, berdialog dengan waktu memintanya untuk kembali
untuk tahun, bulan, minggu, hari, menit, dan detik yang telah berlalu
nihil ketika aku sadar bahwa esok pagi adalah kenyataan
dan harusnya aku mampu berdamai dengan itu
Dan senja ini masih sama
tiada janji yang berani ia ukir disana, pada cakrawala yang sebentar lagi akan ia tinggalkan hingga kan lenyap perlahan di mataku...
janji tentang kenyataan disuatu pagi
Untuk suatu hari yang lelah disudut ini
dan pagi yang akan selalu nyata...
Sabtu, 10 September 2011
Kibar Kata Nusantara
Tulisan lama...
“Seorang laki-laki nekat panjat menara telkom”
Itu judul dari salah satu berita yang saya tonton pada siang itu. Berita yang cukup unik memang, karena penasaran akhirnya saya yang biasanya kurang tertarik menonton berita akhirnya duduk manis di depan Televisi. Wooow, pasti penasaran. Apa maksud orang ini? Mau terjun bebas? Memperbaiki system perkabelan ? atau mungkin mau duluan menangkap rejeki yang kata orang mungkin bisa jatuh dari langit ? Ternyata bukan ini dan bukan itu juga alasan dari laki-laki ini.
Pagi itu, ketika matahari masih malu-malu menampakkan wajahnya, salah satu sudut kota Jakarta dihebohkan oleh aksi seorang lelaki yang tiba-tiba saja sudah berada di atas menara tanpa alat pengaman satupun, salah langkah sedikit saja, bisa jadi aksinya menjadi ajang penghantar nyawa dirinya sendiri kepada Sang Pencipta. Orang-orang mulai berkerumun membuat keramaian dadakan di bawah menara, menyaksikan sebuah aksi nekat dari seseorang yang entah apa tujuannya. Sebagian ada yang panik, lalu menelpon pemadam kebakaran untuk menurunkan orang ini. Sebagian lagi ada yang tertawa, lalu sesekali meletakkan telunjuknya di kening, ada juga yang hanya lewat dan melongo sesaat melihat sesosok tubuh manusia di atas sana, bahkan mungkin ada yang berpikir begini, “Daripada lu manjat menara tinggi-tinggi ga jelas, mendingan perbaiki atap rumah gue yang bolong aja noh”. Memang berbagai macam reaksi yang bisa diungkapkan masyarakat atas peristiwa ini. Dan karena kita hanya manusia, bukan seperti Tuhan Yang Maha Tahu, maka hanya apa yang bisa ditangkap oleh mata saja yang menciptakan reaksi kita selanjutnya. Namun tahukah anda apa yang terjadi selanjutnya ? Apakah laki-laki ini akan mengejutkan penonton dengan benar-benar melompat hingga hidupnya berakhir tragis seperti cerita dalam sinetron? Ternyata tidak. Alangkah terkejutnya saya, ketika selanjutnya dia membentangkan sebuah spanduk merah bertuliskan NUSANTARA.
Woooww, apa maksud dari semua ini ? Tentu laki-laki ini memiliki pola pikir yang berbeda dari manusia-manusia lain pada umumnya, dan itulah yang disebut sebagian orang dengan kata gila. Padahal, kalau dipikir-pikir artinya jiwa nasionalisme orang ini sangat tinggi. Menurut saya, mungkin dia ingin menciptakan sesuatu yang beda, yaaahh, meski harus mempertaruhkan nyawanya. Di tengah kondisi Negara yang carut marut belakangan ini, barangkali ada satu atau mungkin dua pesan yang ingin disampaikannya dari satu kata bertuliskan NUSANTARA yang berkibar di atas ketinggian itu.
Berbagai masalah melanda Negara kita, Kasus Bank Century, Kasus Cicak dan Buaya, Korupsi yang merajalela, istilah menegakkan hukum seperti menegakkan benang basah, dan yang terakhir terdengar adalah heboh demo menuntut perbaikan 100 hari pemerintahan baru Pak SBY. Hmmmhh, rame juga ya Negara kita. Dan orang ini tiba-tiba mengagetkan salah satu sudut kota Jakarta di suatu pagi dengan aksinya. Hanya di salah satu sudut kota, tapi kemudian aksinya ditonton orang di seluruh penjuru negeri melalui televisi. Dan mungkin oknum-oknum yang terlibat kasus-kasus itupun menyaksikannya. Ya, seorang Indonesia melawan angin membawa kata NUSANTARA ke atas sana, agar bisa dilihat oleh semua orang. Mungkin ia ingin menyampaikan “Aku cinta Nusantara, kenapa kalian tidak ? Mungkin caraku gila, tapi jika tidak dengan cara ini, apakah kalian akan melihatku dan menyadari bahwa kalian telah kehilangan rasa cinta terhadap Nusantara ?”
Ingatkah kita pada Nusantara ? Jangan-jangan kita memang lupa…
Ya, semua orang sibuk dengan urusan ini dan itu, mementingkan diri sendiri, juga jabatan mereka masing masing. Tanpa mereka sadari bahwa masalah-masalah yang mereka buat ini hanya akan menambah warna carut marut Nusantara. Bukankah seharusnya kita semua bisa mencintai Nusantara dengan tidak melakukan hal-hal yang pada akhirnya dapat menghancurkan Nusantara itu sendiri? Katanya cinta nusantara, tapi kenapa rakyatnya tidak merasa dicintai dengan bukti banyaknya tanggapan bahwa pejabat bersenang-senang diatas penderitaan rakyat ?
Katanya cinta nusantara, tapi kenapa hutan kita sering dibabat, kekayaan alam kita dikeruk habis-habisan, hingga menyebabkan bencana banjir dan tanah longsor terjadi dimana-mana ?
Katanya cinta nusantara, cinta produk lokal, tapi kenapa para pejabat beberapa waktu lalu dibelikan 60 lebih mobil dari luar negeri dengan harga yang fantastis, lebih dari 1 M perbuahnya?
Dan masih banyak lagi fenomena “Katanya cinta… tapi kenapa…” yang lain.
Mungkin memang benar bahwa rasa cinta terhadap nusantara sudah luntur. Itulah yang mungkin ingin diungkapkan oleh laki-laki yang entah namanya siapa ini. Berhentilah berharap Nusantara akan maju jika kita tidak bisa mencintainya dengan menanamkan perilaku-perilaku yang baik untuk diri sendiri, orang lain, dan bangsa ini.
Memang saya hanya mereka-reka maksud dan tujuan dari pria yang akhirnya diturunkan oleh tim pemadam ini, hehe. Soalnya, belum sempat diwawancara wartawan, dia sudah dibawa oleh polisi untuk diperiksa kejiwaannya, meninggalkan berbagai komentar dari orang-orang yang menyaksikannya.
Namun, sebaiknya kita tidak usah meremehkan orang yang belum jelas apa maksud dan tindakannya, karena kita tidak tahu jika ternyata ada sesuatu yang mungkin baik dibalik tindakannya. Ambil positifnya saja. Dan jika nyatanya dia memang gila, toh ternyata dalam hal ini dia bisa lebih pintar dari orang-orang yang menyebutnya gila itu sendiri melalui makna dari kata NUSANTARA yang ia kibarkan diatas sana.
Tanjung, 04 Februari 2010.
“Seorang laki-laki nekat panjat menara telkom”
Itu judul dari salah satu berita yang saya tonton pada siang itu. Berita yang cukup unik memang, karena penasaran akhirnya saya yang biasanya kurang tertarik menonton berita akhirnya duduk manis di depan Televisi. Wooow, pasti penasaran. Apa maksud orang ini? Mau terjun bebas? Memperbaiki system perkabelan ? atau mungkin mau duluan menangkap rejeki yang kata orang mungkin bisa jatuh dari langit ? Ternyata bukan ini dan bukan itu juga alasan dari laki-laki ini.
Pagi itu, ketika matahari masih malu-malu menampakkan wajahnya, salah satu sudut kota Jakarta dihebohkan oleh aksi seorang lelaki yang tiba-tiba saja sudah berada di atas menara tanpa alat pengaman satupun, salah langkah sedikit saja, bisa jadi aksinya menjadi ajang penghantar nyawa dirinya sendiri kepada Sang Pencipta. Orang-orang mulai berkerumun membuat keramaian dadakan di bawah menara, menyaksikan sebuah aksi nekat dari seseorang yang entah apa tujuannya. Sebagian ada yang panik, lalu menelpon pemadam kebakaran untuk menurunkan orang ini. Sebagian lagi ada yang tertawa, lalu sesekali meletakkan telunjuknya di kening, ada juga yang hanya lewat dan melongo sesaat melihat sesosok tubuh manusia di atas sana, bahkan mungkin ada yang berpikir begini, “Daripada lu manjat menara tinggi-tinggi ga jelas, mendingan perbaiki atap rumah gue yang bolong aja noh”. Memang berbagai macam reaksi yang bisa diungkapkan masyarakat atas peristiwa ini. Dan karena kita hanya manusia, bukan seperti Tuhan Yang Maha Tahu, maka hanya apa yang bisa ditangkap oleh mata saja yang menciptakan reaksi kita selanjutnya. Namun tahukah anda apa yang terjadi selanjutnya ? Apakah laki-laki ini akan mengejutkan penonton dengan benar-benar melompat hingga hidupnya berakhir tragis seperti cerita dalam sinetron? Ternyata tidak. Alangkah terkejutnya saya, ketika selanjutnya dia membentangkan sebuah spanduk merah bertuliskan NUSANTARA.
Woooww, apa maksud dari semua ini ? Tentu laki-laki ini memiliki pola pikir yang berbeda dari manusia-manusia lain pada umumnya, dan itulah yang disebut sebagian orang dengan kata gila. Padahal, kalau dipikir-pikir artinya jiwa nasionalisme orang ini sangat tinggi. Menurut saya, mungkin dia ingin menciptakan sesuatu yang beda, yaaahh, meski harus mempertaruhkan nyawanya. Di tengah kondisi Negara yang carut marut belakangan ini, barangkali ada satu atau mungkin dua pesan yang ingin disampaikannya dari satu kata bertuliskan NUSANTARA yang berkibar di atas ketinggian itu.
Berbagai masalah melanda Negara kita, Kasus Bank Century, Kasus Cicak dan Buaya, Korupsi yang merajalela, istilah menegakkan hukum seperti menegakkan benang basah, dan yang terakhir terdengar adalah heboh demo menuntut perbaikan 100 hari pemerintahan baru Pak SBY. Hmmmhh, rame juga ya Negara kita. Dan orang ini tiba-tiba mengagetkan salah satu sudut kota Jakarta di suatu pagi dengan aksinya. Hanya di salah satu sudut kota, tapi kemudian aksinya ditonton orang di seluruh penjuru negeri melalui televisi. Dan mungkin oknum-oknum yang terlibat kasus-kasus itupun menyaksikannya. Ya, seorang Indonesia melawan angin membawa kata NUSANTARA ke atas sana, agar bisa dilihat oleh semua orang. Mungkin ia ingin menyampaikan “Aku cinta Nusantara, kenapa kalian tidak ? Mungkin caraku gila, tapi jika tidak dengan cara ini, apakah kalian akan melihatku dan menyadari bahwa kalian telah kehilangan rasa cinta terhadap Nusantara ?”
Ingatkah kita pada Nusantara ? Jangan-jangan kita memang lupa…
Ya, semua orang sibuk dengan urusan ini dan itu, mementingkan diri sendiri, juga jabatan mereka masing masing. Tanpa mereka sadari bahwa masalah-masalah yang mereka buat ini hanya akan menambah warna carut marut Nusantara. Bukankah seharusnya kita semua bisa mencintai Nusantara dengan tidak melakukan hal-hal yang pada akhirnya dapat menghancurkan Nusantara itu sendiri? Katanya cinta nusantara, tapi kenapa rakyatnya tidak merasa dicintai dengan bukti banyaknya tanggapan bahwa pejabat bersenang-senang diatas penderitaan rakyat ?
Katanya cinta nusantara, tapi kenapa hutan kita sering dibabat, kekayaan alam kita dikeruk habis-habisan, hingga menyebabkan bencana banjir dan tanah longsor terjadi dimana-mana ?
Katanya cinta nusantara, cinta produk lokal, tapi kenapa para pejabat beberapa waktu lalu dibelikan 60 lebih mobil dari luar negeri dengan harga yang fantastis, lebih dari 1 M perbuahnya?
Dan masih banyak lagi fenomena “Katanya cinta… tapi kenapa…” yang lain.
Mungkin memang benar bahwa rasa cinta terhadap nusantara sudah luntur. Itulah yang mungkin ingin diungkapkan oleh laki-laki yang entah namanya siapa ini. Berhentilah berharap Nusantara akan maju jika kita tidak bisa mencintainya dengan menanamkan perilaku-perilaku yang baik untuk diri sendiri, orang lain, dan bangsa ini.
Memang saya hanya mereka-reka maksud dan tujuan dari pria yang akhirnya diturunkan oleh tim pemadam ini, hehe. Soalnya, belum sempat diwawancara wartawan, dia sudah dibawa oleh polisi untuk diperiksa kejiwaannya, meninggalkan berbagai komentar dari orang-orang yang menyaksikannya.
Namun, sebaiknya kita tidak usah meremehkan orang yang belum jelas apa maksud dan tindakannya, karena kita tidak tahu jika ternyata ada sesuatu yang mungkin baik dibalik tindakannya. Ambil positifnya saja. Dan jika nyatanya dia memang gila, toh ternyata dalam hal ini dia bisa lebih pintar dari orang-orang yang menyebutnya gila itu sendiri melalui makna dari kata NUSANTARA yang ia kibarkan diatas sana.
Tanjung, 04 Februari 2010.
Jumat, 12 Agustus 2011
EVERYTHING IS CHANGING
Bukankah dalam hidup segala sesuatu memang bisa berubah?
Bukankah setiap orang harus siap dengan segala perubahan?
Alam raya ini tidak diam, matahari tidak berada pada altitud dan azimut yang sama sepanjang masa,
Jupiter tidak selamanya berada pada zenith, tepat diatas kepalamu sebagaimana yang kau lihat di dini hari itu,
Sirius tidak selamanya mengantar matahari pulang dalam senjamu, pada waktu yang selalu kau tunggu disepanjang harimu, dimana kau biasa duduk atau berdiri didepan kamarmu untuk sekedar menyapa ia yang paling terang dalam bias senja yang jingga di ufuk barat sana,
Bila tiba saatnya, ia bisa saja justru menjemput sang surya saat kau bahkan mungkin masih terlelap dalam tidurmu, dan saat itu kau kecewa karena seringkali hanya sempat melihat sisa cahayanya yang bahkan hampir dibuat tak berarti lagi oleh tibanya sang mentari.
Langit malammu berubah, bukankah memang harusnya seperti itu?
Jika tak memahaminya, mungkin suatu hari nanti kau akan berhenti mencintai Siriusmu, kau pikir ia terlalu jahat karena tak pernah membiarkanmu lebih lama melihat kedipannya yang selalu kau kagumi itu...
Perubahan itu pasti...
Segala yang ada disekelilingmu bisa saja berubah, apapun dan siapapun, siapapun, ya, siapapun.
Dan bukankah harusnya kau siap dengan itu, peduli perubahan itu akan melukis sebuah senyuman dengan warna cerah dalam Painting of Lifemu atau bahkan melukis kesedihan dan gurat kekecewaan dengan warna yang bahkan tak ingin kau miliki dalam daftar cat warna di hidupmu.
Tapi cat warna itu selalu lengkap bahkan sejak kau belum memahami artinya, lengkap dengan 12 warna inti yang selalu siap menggores kanvas putih untuk setiap perubahan yang terjadi dalam hidupmu..
Untuk setiap perubahan yang terjadi, untuk dia dan jiwa-jiwa yang telah berubah, untuk semua yang tak sama lagi dengan yang dulu...
Tanjung, 13 agustus 2011
Bukankah setiap orang harus siap dengan segala perubahan?
Alam raya ini tidak diam, matahari tidak berada pada altitud dan azimut yang sama sepanjang masa,
Jupiter tidak selamanya berada pada zenith, tepat diatas kepalamu sebagaimana yang kau lihat di dini hari itu,
Sirius tidak selamanya mengantar matahari pulang dalam senjamu, pada waktu yang selalu kau tunggu disepanjang harimu, dimana kau biasa duduk atau berdiri didepan kamarmu untuk sekedar menyapa ia yang paling terang dalam bias senja yang jingga di ufuk barat sana,
Bila tiba saatnya, ia bisa saja justru menjemput sang surya saat kau bahkan mungkin masih terlelap dalam tidurmu, dan saat itu kau kecewa karena seringkali hanya sempat melihat sisa cahayanya yang bahkan hampir dibuat tak berarti lagi oleh tibanya sang mentari.
Langit malammu berubah, bukankah memang harusnya seperti itu?
Jika tak memahaminya, mungkin suatu hari nanti kau akan berhenti mencintai Siriusmu, kau pikir ia terlalu jahat karena tak pernah membiarkanmu lebih lama melihat kedipannya yang selalu kau kagumi itu...
Perubahan itu pasti...
Segala yang ada disekelilingmu bisa saja berubah, apapun dan siapapun, siapapun, ya, siapapun.
Dan bukankah harusnya kau siap dengan itu, peduli perubahan itu akan melukis sebuah senyuman dengan warna cerah dalam Painting of Lifemu atau bahkan melukis kesedihan dan gurat kekecewaan dengan warna yang bahkan tak ingin kau miliki dalam daftar cat warna di hidupmu.
Tapi cat warna itu selalu lengkap bahkan sejak kau belum memahami artinya, lengkap dengan 12 warna inti yang selalu siap menggores kanvas putih untuk setiap perubahan yang terjadi dalam hidupmu..
Untuk setiap perubahan yang terjadi, untuk dia dan jiwa-jiwa yang telah berubah, untuk semua yang tak sama lagi dengan yang dulu...
Tanjung, 13 agustus 2011
Total Tayangan Halaman
Lencana Facebook
Lencana Facebook
About this blog
welcome to my blog...
welcome to my words...
welcome to my world...^^
welcome to my words...
welcome to my world...^^
That's who I am...
Somewhere
This is who I am
- Endah Tri Wahyuni
- A little girl in a big world. A dreamer. Love music, travelling, writing, reading, skygazing, firework, beach, mountain. Unbreakable. Mistaken. Careless. Moody. Strong enough. Friendly. Have so much to be thankfull for. Deserve to be happy. Best daughter wanna be.
Labels
- Family (4)
- Friendship (5)
- Indonesia (3)
- Jurnalism (3)
- Love (17)
- My Birthday (3)
- My Mind and Soul (37)
- sirius (1)
- Travelling (7)
Entri Populer
-
Dewi Lestari yang dikenal dengan nama pena Dee adalah salah satu penulis favorit saya. Yah, mungkin belum cukup list bacaan saya untuk dik...
-
Hmmm... ngomongin band favorit Indonesia, omonganku gak bakalan jauh-jauh dari yang namanya Sheila On 7. Buat aku, Sheila on 7 adalah ...
-
“Kamu hanya butuh waktu. Luka dibadan saja butuh waktu untuk sembuh.” Kata seorang sahabat dalam perbincangan kami pada suatu malam...
-
Tadi pagi, di sela-sela sarapan sebelum berangkat ke kantor, tidak sengaja tangan saya yang sedang memegang remote control menemukan channe...
-
Tiada yang mengerti, dan mungkin diapun tidak memahami, betapa tidak nyamannya matamu memandang kepingan-kepingan kendi kalian yang kini ...
-
"Dunia adalah sebuah buku, dan anda yang tidak melakukan travelling kemana-mana hanya membaca satu halaman saja." (Sa...
-
Sebenarnya cukup terlambat jika baru sekarang saya menuliskan cerita perjalanan terbaru saya bersama teman-teman Lepo mania ke Puerto Rico...
-
I know you're somewhere out there Somewhere far away I want you back I want you back My neighbors think I'm crazy But they don...
-
Tahun ini Hima Fisika FMIPA UNY kembali menyuguhkan rentetan acara dan lomba jurnalistik dalam Pekan Jurnalistik Fisika (PJF). Kali ini Pe...
-
Beberapa tahun yang lalu, saya pernah menceritakan tentang sebuah kampung kepada seseorang. Saya bercerita tentang bagaimana kampung it...
Thanks
Thanks for inviting my blog ! ^^
Pengikut
Diberdayakan oleh Blogger.



