Laman


Kamis, 25 Oktober 2012

THINGS TO LEARN ON THE MOUNTAIN



Itu adalah kali pertamanya saya mendaki gunung, mendaki gundukan tanah dengan puncak ketinggian 3142 meter diatas permukaan laut di pulau Jawa ini, kenalkan... Merbabu namanya. Pendakian ini sekaligus mencoret satu nomor yang tertera dalam daftar “Things To Do Before I Die” yang saya punya, tanda telah terlaksana, Alhamdulillah.  Sudah sejak beberapa tahun yang lalu saya ingin mendaki gunung, entah kenapa, mungkin karena saya ingin menjadi seperti kakak saya yang sempat terlalu mencinta alam pada masa mudanya, atau lebih karena saya ingin menyaksikan terbit dan tenggelamnya matahari di garis horizon, atau merasakan  sensasi berada di negeri atas awan, mengiring awan putih yang berarak di siang hari, mendekat dengan langit, lalu memetik bintang saat malam datang. Ya, semua alasan itu bisa jadi benar.

Bersama teman-teman komunitas pecinta alam di kampus, sayapun akhirnya memberanikan diri untuk mewujudkan satu keinginan ini. Setapak demi setapak kaki ini mulai melangkah, semakin lama semakin keatas, lelah, sambil terus mencari tahu sensasi apa yang membuat kakak saya dulu betah dengan dunianya yang semacam ini, sensasi apa yang membuat  orang-orang yang sesekali kami temui disepanjang jalan menuju puncak ini terus semangat mendaki, sensasi apa yang membuat Sabar Gorky, seorang tuna daksa asal Indonesia bisa terus mendaki hingga berhasil mencapai  puncak Elbrus di Rusia.

Mendaki gunung ternyata memang cukup menyenangkan, sekaligus melelahkan, apalagi untuk orang yang belum berpengalaman seperti saya, sewajarnya kata lelah mungkin lebih mendominasi pikiran saya ditengah pendakian itu. Tapi untuk orang-orang yang sudah berpengalaman dan sudah mendapatkan chemistry dengan yang namanya pendakian, lelah mungkin sudah tidak artinya, tertutupi dengan sensasi menyenangkan, menantang, atau apalah namanya yang jauh lebih banyak mendominasi pikiran mereka ketimbang kata lelah. 

Seperti yang saya ceritakan tadi, disepanjang jalan menuju puncak Merbabu kami bertemu dengan banyak pendaki, ada yang sama-sama sedang naik namun ada juga yang sedang menuruni gunung.
“Keatas masih jauh mas/mba?”
“Enggak, sedikit lagi kok, semangat!”
begitulah salah satu jenis percakapan yang sering saya dengar dan sesekali juga saya alami ketika berpapasan dengan pendaki lain, entah pendaki darimana. Dan rupanya kata “sedikit lagi” dalam jawaban dari pertanyaan itu tadi bersifat sangat relatif, yang dimaksud sedikit oleh mereka ternyata masih sangat  jauh bagi saya -____-. Tapi.. yah, bisa jadi itu memang menjadi salah satu cara umum bagi para pendaki untuk membakar semangat satu sama lain dalam meneruskan pendakian.

Perjalanan dari post 3 menuju puncak kami lakukan pada pukul 3 dini hari, perjalanan sedini itu kami lakukan semata-mata hanya untuk mengejar sunrise diatas sana. Semakin tinggi, jalan yang kami lalui semakin menanjak dan berbatu. Dan kacaunya, ditengah-tengah perjalanan, angin bagi saya ternyata tidak terlalu bersahabat, fenomena masuk anginpun menyerang tubuh saya pada waktu itu, akibatnya sebentar-sebentar saya harus berhenti akibat kondisi tubuh yang seperti ini.

Tahu apa yang saya lihat dan saya sadari dalam peristirahatan sejenak saat menuju puncak di dini hari itu?  Menakjubkan, saya melihat sebuah lukisan malam yang tidak terlupakan, lukisan malam terindah yang pernah saya lihat dalam hidup. Ketika saya memandang ke bawah, lampu kota terlihat berkelap-kelip dibawah sana, indah luar biasa. Dan ketika saya memandang keatas, wow... kelap-kelip bintang rupanya tidak mau kalah, bagaikan permata yang menempel di kain permadani gelap bernama langit malam, dan disana.. bulan mulai berjalan menuju horizon, beranjak pulang melepas malam. Dan saya duduk disini diatas sebuah batu, di salah satu bagian kecil dari badan gunung, dibawah kolong langit, di salah satu sudut kecil dunia. Betapa besarnya alam ini dan betapa kecilnya saya.

“Ayo lanjut lagi pelan-pelan, kalo jam setengah 5 nanti kita belum mencapai persimpangan sana, maka mungkin kita bakal gak sempat dapet sunrise lho” kata salah satu pendaki senior yang berjalan beriringin dengan saya sejak tadi. Tapi sungguh kondisi badan saya rasanya hampir tidak mungkin dipaksakan untuk terus naik, saya tetap duduk dan ngos-ngosan sambil berkata didalam hati,
“Waktu... berhentilah, berhentilah sebentar, saya ingin melihat sunrise, tapi saya harus istirahat dulu sebentar, waktu, berhentilah sebentar... pliiiss...tunggu saya...”
 saya bahkan hampir memutuskan untuk meyerah, tidak apa-apalah jika memang saya harus melihat sinar sunrise dari balik sini saja, rasanya saya butuh istirahat lebih lama disini.

“Kalau memang gak sanggup naik lagi yaudah gapapa, kesehatan jauh lebih penting..” kata beliau lagi, mungkin karena melihat kondisi tubuh saya yang tidak meyakinkan lagi untuk melanjutkan perjalanan. Mendengar itu entah kenapa semangat saya justru terpacu, saya pikir sudah kepalang tanggung, sudah terlanjur mendaki ya kudunya harus sampai puncak. Dan akhirnya pula saya sadar, tidak ada gunanya berdialog dengan waktu, adalah hal yang sangat sia-sia sejak tadi memintanya untuk menunggu saya, bulan bahkan tetap semakin tergelincir, waktu tidak mau berhenti, tidak mau menunggu, sebentarpun tidak. Jadi tidak ada pilihan lain, sayalah yang harus mengejar. Kali ini, perlahan kaki ini mulai berjalan lagi, bersiap menjemput bola emas di garis horizon  1 jam lagi.

Saya seperti berada di negeri Teletubbies, berjalan di tengah-tengah satu bagian gunung yang bentuknya seperti bukit-bukit sabana di atas sana, entah namanya apa. Dan menakjubkan lagi, ketika berjalan di suatu jalan kecil yang sisi kanan kirinya jurang itu saya sekaligus merasa berjalan di dua dunia, di sebelah kiri saya langit masih cukup gelap dengan bulan yang siap menghilang, dan disisi kanan saya langit mulai terang pertanda matahari sebentar lagi datang, dan horizon menjadi penghubung  diantara keduanya, dan karenanya mereka damai mengikuti putaran alam.


Matahari itu masih sembunyi dibawah sana, tapi bias sinarnya tidak, sang waktu membuat sinarnya berpijar memberi tanda pada dunia bahwa sebentar lagi matahari akan tiba, tidak bisa ditunda, tidak bisa berhenti, dan saya sudah tahu tentang hal itu. Tidak mengapa... karena saya sudah mengejarnya, saya sudah disini, dipuncaknya... 
 





 Jogja, 24 Oktober 2012.

Senin, 15 Oktober 2012

Sebatang Pohon dan Bintang (Part 2)



Sore hari di ruang astronomi, di sela-sela sang dosen astronomi sedang menerangkan materi kuliah astronomi tentang Gaya pasang surut yang berhubungan dengan bumi, bulan, dan matahari, percakapan kedua sahabat itu berlanjut..

A                 : Aku mau jadi sebatang pohon Oak..

B                 : Kamu mau jadi pohon Oak yang hidup berabad-abad lamanya itu? 

A                 : Iya...

B                 : Sampai semua pergi meninggalkanmu? Lalu kamu berdiri sendiri disitu?

                     .....

A                 : 

Aku memiliki seorang teman, sudah terlalu dekat, seperti sudah mengenal dekat. :)
Tapi.. aku tidak mungkin mencintainya :D, karena dia adalah wanita, dan aku juga.
Entah seperti apa kedekatan kami, aku sendiri tidak paham. :)

Katanya, gemintang terlalu memikat hatinya
Dan dia berharap, jika memang bisa dilahirkan kembali
Bisa turut berjejer menjadi gemintang
Berkedip, bercahaya, jauh disana...

Entah...
Biarkan saja
Aku lebih suka menjadi pohon Oak saja
Biar waktuku lama...
Aku akan bisa memandangmu setiap malam
Dan kamu akan terus memandangku setiap saat...
Walaupun kamu ada dibelahan sana...
Aku masih tetap disini, di tempat yang sama. :)

Ephul,
5 pm. 15 Okt 12

                 .....

             B :
Manusia jahil tingkat dewa yang satu ini benar-benar sukses membuatku speechless.
 Aku.. mungkin belum bisa menjadi sahabat baik baginya, tapi satu yang jelas... dia adalah salah satu sahabat terbaikku, sahabat dari satu mahkluk yang dia bilang irasional, aneh, dan sedikit konyol mungkin.

             Aku kekanak-kanakan, dan dia tidak kalah kekanak-kanakan. Kadang aku bertanya-tanya sendiri, kapan kami bisa menjadi dewasa jika tingkah kami begini terus? :D Tapi aku rasa tidak perlu khawatir akan hal itu, karena ternyata selalu ada saat-saat dimana aku bisa menjadi lebih dewasa dari dia, dan dia lebih dewasa dari aku.

       Kami tidak selalu bersama-sama sepanjang waktu, tidak. Aku paham dengan jadwal khususnya, dan dia paham dengan aku yang kadang butuh waktu sendiri. Tidak mengapa, bukankah deretan kata akan menjadi suatu kalimat yang lebih bermakna jika ada spasi disela-selanya. Aku tidak pernah menjanjikan solusi untuk masalah yang dia punya, dia juga tidak, tapi pada akhirnya kami tahu, bahwa persahabatan tidak selalu butuh itu, “selalu ada” saja sudah lebih dari cukup.

             Hal yang paling aku takutkan adalah jika kedua bola mataku tertangkap oleh bola matanya. Entah aku tak habis pikir dia mempunyai bakat terpendam dari nenek moyangnya atau apa sehingga tebakannya berkali-kali telah terbukti benar, aku berkata I’m okay dan dia tahu kapan waktunya untuk mengatakan padaku I know you’re not, seperti tidak ada yang bisa aku sembunyikan darinya.

             Dia tahu betul aku suka bintang, aku bilang kalau punya anak, anakku ingin kuberi nama Orion (Ion), Antares (Ares), dan Vega. Dan aku tahu dia ingin menjadi pohon, kuusulkan agar nama anaknya kelak diambil dari nama latin pepohonan saja, bagaimana kalau Zea Mays, atau Oriza Sativa ? Hihiii... no, no, akan kucarikan ide dari nama latin yang lebih bagus. :D

            Suatu hari pernah dia bertanya, apa aku kesepian. Kujawab tentu saja tidak, aku punya banyak hal, lagipula bintang dilangit itu kan tidak pernah sendirian, bukankah aku satu diantara jejeran bintang. Apalagi dibawah sana ada pohon Oak, yang kokoh tegar berdiri meski di hembus oleh angin kencang dari arah manapun. Pohon Oak hidup lama, meski makhluk –makhluk yang nyaman bernaung dibawahnya telah pergi atau berganti dimakan waktu, ia tetap tidak akan sendiri, karena bintang tidak akan pernah hilang, kalaupun harus pergi, suatu hari bintang itu pasti kembali pada posisi altitud dan azimuth yang sama, mengikuti putaran alam, takdirnya.

                Meski dia pernah bilang bahwa bintang itu rumit, sulit dimengerti, tapi sepertinya tidak juga. Untuk mengerti, dia tidak perlu menjadi astronom yang meneliti bintang secara detail, atau menjadi nelayan yang harus ahli membaca rasi gemintang ditengah lautan. Menjadi pohon oak saja, yang bertahan lama berdiri kokoh tidak kemana-mana, mengerti bintang selalu ada pada posisinya, dan bintang mengerti ia masih berdiri disana. Itu saja sudah mengerti.

Endud,
8 pm. 15 okt 12


Endud + Epul =














Jogja, 15 Oktober 2012

Jumat, 12 Oktober 2012

Sebatang Pohon dan Bintang



Percakapan tulisan geje dengan seorang sahabat di sela-sela sang dosen sedang memberikan materi kuliah, dikala keboringan hebat melanda di siang bolong. Oh Pak Dosen maafkanlah kami karena sejenak berpindah mengikuti kuliah yang hanya ada di dunia kami sendiri... -___-

A             : Jika aku dilahirkan kembali, aku ingin lahir sebagai sebatang pohon.





B             :  Kenapa? Pohon itu bisa ditebang sama orang lho :p

A             : -_____-
Karena pohon itu... dia tidak pernah berpindah, akarnya jauh kemana-mana, dan batangnya berkembang terus. :)

B             : Jika aku dilahirkan kembali, aku ingin lahir sebagai bintang, karena bintang itu selalu bersinar dan selalu ada, walau orang mengira ia tiada ketika awan tebal menutupinya.


A             : Tapi bintang itu suka berpindah, suka menggoda dari kejauhan, dan dia berkedip-kedip pada semua. :p

B             : Bintang itu tidak berpindah kok. Bumi saja, tempat orang memandangnyalah yang berputar. Dibutuhkan keterampilan yang tidak sembarangan untuk mengerti dan memahami posisinya. Bukan dia yang berkedip-kedip, bumi sajalah yang tertutupi suatu selubung yang akhirnya membuatnya terlihat berkedip-kedip.

A             : Rumit...  Gemintang ingin selalu ingin dimengerti dengan caranya. Karena tidak tampak, tersembunyi, dan jauh... Jika tidak sanggup, mungkin pengamat akan berhenti.

....

A             : Cepat dijawab -___-

B             : Bentar to -___-

                ....

B             : Tidak ada unsur paksaan untuk mengerti bintang, tuntutan budaya dan ilmu pengetahuan pun tidak bisa dijadikan paksaan untuk seseorang bisa mengerti bintang, itu dari hati. Itu sebabnya tidak banyak orang berprofesi sebagai astronom, juga tidak banyak orang berani jadi nelayan yang biasanya pergi ke laut dengan hanya mengandalkan gemintang, tidak semua orang pula bisa benar-benar merasa senang dengan memandang dan merasakan sinarnya, memang tidak. Biarkan saja ia hidup dengan caranya, Antares tetap menjadi si raksasa merah, Sirius tetap menjadi si putih yang cemerlang, bintang biarkan saja tetap menjadi bintang. Ngerti gak maksudnya apaan?

A             : Gak

B             : yasudah aku juga gak -______-

                ....

B             : Aku belum tanya tentang pohon...
(bersambung...)

Siang bolong di salah satu sudut kelas, 10 Oktober 2012

Double E

JAGA DIRIMU



Kamu mungkin terlalu sibuk, atau memang mencari sibuk entah untuk alasan apapun itu, berlari kesana kemari untuk mencari passionmu, mengejar cita2mu, mewujudkan setiap ambisimu...

Sampai-sampai sekilas tampak kamu seolah tidak menyayangi dirimu sendiri, membiarkannya kelelahan, merampas haknya ketika ia butuh berhenti sejenak dan mengambil nafas...

Kamu lupa pada seseorang disana yang pernah memintamu untuk menjaga dirimu baik-baik ketika dia tak lagi bisa secara penuh berada disampingmu untuk menjagamu, dia yg telah percayakan jiwamu untuk menjaga ragamu, ragamu untuk menjaga jiwamu...

Dia yang perduli pada dirimu melebihi pedulinya kamu terhadap dirimu sendiri, dia yang mengkhawatirkanmu melebihi khawatirnya kamu terhadap dirimu sendiri, dia yang pasti akan menjadi orang pertama yang paling cemas jika sesuatu yang buruk terjadi padamu, dia yang pernah berkata bahwa dia tidak akan menjadi bangga saat impianmu tercapai jika harus dibayar dengan rapuhnya ragamu...

Jaga dirimu, bukan untuk kamu, terserah, karena mungkin bagimu kamu sanggup untuk menahan atau mengatasinya sendiri...
Jaga dirimu, bukan demi kamu, karena mungkin kamu memang tidak begitu perduli, atau barangkali kamu anggap ambisimu jauh lebih penting daripada dirimu.
..

Jaga dirimu, bukan untuk dirimu, jaga dirimu untuk dia, untuk ibumu, demi ibumu, karena mungkin kamu tidak akan sanggup untuk menatap matanya yang tidak akan terpejam karena mengkhawatirkanmu saat sesuatu terjadi padamu, dengan getar bibirnya yang tak pernah berhenti berdoa pada Tuhan meminta agar kamu selalu baik-baik saja...
Kamu tahu itu bukan?
Jaga dirimu baik-baik.


 Jogja,12 Oktober 2012