Sore hari di ruang astronomi, di
sela-sela sang dosen astronomi sedang menerangkan materi kuliah astronomi
tentang Gaya pasang surut yang berhubungan dengan bumi, bulan, dan matahari,
percakapan kedua sahabat itu berlanjut..
A :
Aku mau jadi sebatang pohon Oak..
B :
Kamu mau jadi pohon Oak yang hidup berabad-abad lamanya itu?
A :
Iya...
B :
Sampai semua pergi meninggalkanmu? Lalu kamu berdiri sendiri disitu?
.....
A :
Aku memiliki seorang teman, sudah terlalu dekat,
seperti sudah mengenal dekat. :)
Tapi.. aku tidak mungkin mencintainya :D, karena dia adalah wanita, dan aku juga.
Entah seperti apa kedekatan kami, aku sendiri tidak paham. :)
Tapi.. aku tidak mungkin mencintainya :D, karena dia adalah wanita, dan aku juga.
Entah seperti apa kedekatan kami, aku sendiri tidak paham. :)
Katanya, gemintang terlalu memikat
hatinya
Dan dia berharap, jika memang bisa dilahirkan kembali
Bisa turut berjejer menjadi gemintang
Berkedip, bercahaya, jauh disana...
Dan dia berharap, jika memang bisa dilahirkan kembali
Bisa turut berjejer menjadi gemintang
Berkedip, bercahaya, jauh disana...
Entah...
Biarkan saja
Aku lebih suka menjadi pohon Oak saja
Biar waktuku lama...
Aku akan bisa memandangmu setiap malam
Dan kamu akan terus memandangku setiap saat...
Walaupun kamu ada dibelahan sana...
Aku masih tetap disini, di tempat yang sama. :)
Ephul,
5 pm. 15 Okt 12
Biarkan saja
Aku lebih suka menjadi pohon Oak saja
Biar waktuku lama...
Aku akan bisa memandangmu setiap malam
Dan kamu akan terus memandangku setiap saat...
Walaupun kamu ada dibelahan sana...
Aku masih tetap disini, di tempat yang sama. :)
Ephul,
5 pm. 15 Okt 12
.....
B :
Manusia jahil
tingkat dewa yang satu ini benar-benar sukses membuatku speechless.
Aku.. mungkin belum bisa menjadi sahabat baik baginya, tapi satu yang jelas... dia adalah salah satu sahabat terbaikku, sahabat dari satu mahkluk yang dia bilang irasional, aneh, dan sedikit konyol mungkin.
Aku.. mungkin belum bisa menjadi sahabat baik baginya, tapi satu yang jelas... dia adalah salah satu sahabat terbaikku, sahabat dari satu mahkluk yang dia bilang irasional, aneh, dan sedikit konyol mungkin.
Aku kekanak-kanakan, dan dia tidak kalah kekanak-kanakan. Kadang aku bertanya-tanya sendiri, kapan kami bisa menjadi dewasa jika tingkah kami begini terus? :D Tapi aku rasa tidak perlu khawatir akan hal itu, karena ternyata selalu ada saat-saat dimana aku bisa menjadi lebih dewasa dari dia, dan dia lebih dewasa dari aku.
Kami
tidak selalu bersama-sama sepanjang waktu, tidak. Aku paham dengan jadwal khususnya,
dan dia paham dengan aku yang kadang butuh waktu sendiri. Tidak mengapa,
bukankah deretan kata akan menjadi suatu kalimat yang lebih bermakna jika ada
spasi disela-selanya. Aku tidak pernah menjanjikan solusi untuk masalah yang
dia punya, dia juga tidak, tapi pada akhirnya kami tahu, bahwa persahabatan
tidak selalu butuh itu, “selalu ada” saja sudah lebih dari cukup.
Hal
yang paling aku takutkan adalah jika kedua bola mataku tertangkap oleh bola
matanya. Entah aku tak habis pikir dia mempunyai bakat terpendam dari nenek
moyangnya atau apa sehingga tebakannya berkali-kali telah terbukti benar, aku
berkata I’m okay dan dia tahu kapan waktunya untuk mengatakan padaku I know you’re
not, seperti tidak ada yang bisa aku sembunyikan darinya.
Dia
tahu betul aku suka bintang, aku bilang kalau punya anak, anakku ingin kuberi
nama Orion (Ion), Antares (Ares), dan Vega. Dan aku tahu dia ingin menjadi
pohon, kuusulkan agar nama anaknya kelak diambil dari nama latin pepohonan
saja, bagaimana kalau Zea Mays, atau Oriza Sativa ? Hihiii... no, no, akan
kucarikan ide dari nama latin yang lebih bagus. :D
Suatu
hari pernah dia bertanya, apa aku kesepian. Kujawab tentu saja tidak, aku punya
banyak hal, lagipula bintang dilangit itu kan tidak pernah sendirian, bukankah aku
satu diantara jejeran bintang. Apalagi dibawah sana ada pohon Oak, yang kokoh tegar berdiri meski di hembus
oleh angin kencang dari arah manapun. Pohon Oak hidup lama, meski makhluk –makhluk
yang nyaman bernaung dibawahnya telah pergi atau berganti dimakan waktu, ia tetap
tidak akan sendiri, karena bintang tidak akan pernah hilang, kalaupun harus
pergi, suatu hari bintang itu pasti kembali pada posisi altitud dan azimuth yang sama,
mengikuti putaran alam, takdirnya.
Meski
dia pernah bilang bahwa bintang itu rumit, sulit dimengerti, tapi sepertinya
tidak juga. Untuk mengerti, dia tidak perlu menjadi astronom yang meneliti
bintang secara detail, atau menjadi nelayan yang harus ahli membaca rasi
gemintang ditengah lautan. Menjadi pohon oak saja, yang bertahan lama berdiri
kokoh tidak kemana-mana, mengerti bintang selalu ada pada posisinya, dan
bintang mengerti ia masih berdiri disana. Itu saja sudah mengerti.
Endud,
8 pm. 15 okt 12
Jogja, 15 Oktober 2012



0 komentar:
Posting Komentar