Laman


Senin, 15 Oktober 2012

Sebatang Pohon dan Bintang (Part 2)



Sore hari di ruang astronomi, di sela-sela sang dosen astronomi sedang menerangkan materi kuliah astronomi tentang Gaya pasang surut yang berhubungan dengan bumi, bulan, dan matahari, percakapan kedua sahabat itu berlanjut..

A                 : Aku mau jadi sebatang pohon Oak..

B                 : Kamu mau jadi pohon Oak yang hidup berabad-abad lamanya itu? 

A                 : Iya...

B                 : Sampai semua pergi meninggalkanmu? Lalu kamu berdiri sendiri disitu?

                     .....

A                 : 

Aku memiliki seorang teman, sudah terlalu dekat, seperti sudah mengenal dekat. :)
Tapi.. aku tidak mungkin mencintainya :D, karena dia adalah wanita, dan aku juga.
Entah seperti apa kedekatan kami, aku sendiri tidak paham. :)

Katanya, gemintang terlalu memikat hatinya
Dan dia berharap, jika memang bisa dilahirkan kembali
Bisa turut berjejer menjadi gemintang
Berkedip, bercahaya, jauh disana...

Entah...
Biarkan saja
Aku lebih suka menjadi pohon Oak saja
Biar waktuku lama...
Aku akan bisa memandangmu setiap malam
Dan kamu akan terus memandangku setiap saat...
Walaupun kamu ada dibelahan sana...
Aku masih tetap disini, di tempat yang sama. :)

Ephul,
5 pm. 15 Okt 12

                 .....

             B :
Manusia jahil tingkat dewa yang satu ini benar-benar sukses membuatku speechless.
 Aku.. mungkin belum bisa menjadi sahabat baik baginya, tapi satu yang jelas... dia adalah salah satu sahabat terbaikku, sahabat dari satu mahkluk yang dia bilang irasional, aneh, dan sedikit konyol mungkin.

             Aku kekanak-kanakan, dan dia tidak kalah kekanak-kanakan. Kadang aku bertanya-tanya sendiri, kapan kami bisa menjadi dewasa jika tingkah kami begini terus? :D Tapi aku rasa tidak perlu khawatir akan hal itu, karena ternyata selalu ada saat-saat dimana aku bisa menjadi lebih dewasa dari dia, dan dia lebih dewasa dari aku.

       Kami tidak selalu bersama-sama sepanjang waktu, tidak. Aku paham dengan jadwal khususnya, dan dia paham dengan aku yang kadang butuh waktu sendiri. Tidak mengapa, bukankah deretan kata akan menjadi suatu kalimat yang lebih bermakna jika ada spasi disela-selanya. Aku tidak pernah menjanjikan solusi untuk masalah yang dia punya, dia juga tidak, tapi pada akhirnya kami tahu, bahwa persahabatan tidak selalu butuh itu, “selalu ada” saja sudah lebih dari cukup.

             Hal yang paling aku takutkan adalah jika kedua bola mataku tertangkap oleh bola matanya. Entah aku tak habis pikir dia mempunyai bakat terpendam dari nenek moyangnya atau apa sehingga tebakannya berkali-kali telah terbukti benar, aku berkata I’m okay dan dia tahu kapan waktunya untuk mengatakan padaku I know you’re not, seperti tidak ada yang bisa aku sembunyikan darinya.

             Dia tahu betul aku suka bintang, aku bilang kalau punya anak, anakku ingin kuberi nama Orion (Ion), Antares (Ares), dan Vega. Dan aku tahu dia ingin menjadi pohon, kuusulkan agar nama anaknya kelak diambil dari nama latin pepohonan saja, bagaimana kalau Zea Mays, atau Oriza Sativa ? Hihiii... no, no, akan kucarikan ide dari nama latin yang lebih bagus. :D

            Suatu hari pernah dia bertanya, apa aku kesepian. Kujawab tentu saja tidak, aku punya banyak hal, lagipula bintang dilangit itu kan tidak pernah sendirian, bukankah aku satu diantara jejeran bintang. Apalagi dibawah sana ada pohon Oak, yang kokoh tegar berdiri meski di hembus oleh angin kencang dari arah manapun. Pohon Oak hidup lama, meski makhluk –makhluk yang nyaman bernaung dibawahnya telah pergi atau berganti dimakan waktu, ia tetap tidak akan sendiri, karena bintang tidak akan pernah hilang, kalaupun harus pergi, suatu hari bintang itu pasti kembali pada posisi altitud dan azimuth yang sama, mengikuti putaran alam, takdirnya.

                Meski dia pernah bilang bahwa bintang itu rumit, sulit dimengerti, tapi sepertinya tidak juga. Untuk mengerti, dia tidak perlu menjadi astronom yang meneliti bintang secara detail, atau menjadi nelayan yang harus ahli membaca rasi gemintang ditengah lautan. Menjadi pohon oak saja, yang bertahan lama berdiri kokoh tidak kemana-mana, mengerti bintang selalu ada pada posisinya, dan bintang mengerti ia masih berdiri disana. Itu saja sudah mengerti.

Endud,
8 pm. 15 okt 12


Endud + Epul =














Jogja, 15 Oktober 2012

0 komentar: