Itu adalah
kali pertamanya saya mendaki gunung, mendaki gundukan tanah dengan puncak
ketinggian 3142 meter diatas permukaan laut di pulau Jawa ini, kenalkan... Merbabu
namanya. Pendakian ini sekaligus mencoret satu nomor yang tertera dalam daftar
“Things To Do Before I Die” yang saya punya, tanda telah terlaksana,
Alhamdulillah. Sudah sejak beberapa
tahun yang lalu saya ingin mendaki gunung, entah kenapa, mungkin karena saya
ingin menjadi seperti kakak saya yang sempat terlalu mencinta alam pada masa
mudanya, atau lebih karena saya ingin menyaksikan terbit dan tenggelamnya
matahari di garis horizon, atau merasakan sensasi berada di negeri atas awan, mengiring
awan putih yang berarak di siang hari, mendekat dengan langit, lalu memetik
bintang saat malam datang. Ya, semua alasan itu bisa jadi benar.
Bersama teman-teman
komunitas pecinta alam di kampus, sayapun akhirnya memberanikan diri untuk
mewujudkan satu keinginan ini. Setapak demi setapak kaki ini mulai melangkah,
semakin lama semakin keatas, lelah, sambil terus mencari tahu sensasi apa yang
membuat kakak saya dulu betah dengan dunianya yang semacam ini, sensasi apa
yang membuat orang-orang yang sesekali
kami temui disepanjang jalan menuju puncak ini terus semangat mendaki, sensasi
apa yang membuat Sabar Gorky, seorang tuna daksa asal Indonesia bisa terus
mendaki hingga berhasil mencapai puncak
Elbrus di Rusia.
Mendaki gunung
ternyata memang cukup menyenangkan, sekaligus melelahkan, apalagi untuk orang
yang belum berpengalaman seperti saya, sewajarnya kata lelah mungkin lebih
mendominasi pikiran saya ditengah pendakian itu. Tapi untuk orang-orang yang
sudah berpengalaman dan sudah mendapatkan chemistry dengan yang namanya
pendakian, lelah mungkin sudah tidak artinya, tertutupi dengan sensasi
menyenangkan, menantang, atau apalah namanya yang jauh lebih banyak mendominasi
pikiran mereka ketimbang kata lelah.
Seperti yang
saya ceritakan tadi, disepanjang jalan menuju puncak Merbabu kami bertemu
dengan banyak pendaki, ada yang sama-sama sedang naik namun ada juga yang
sedang menuruni gunung.
“Keatas masih
jauh mas/mba?”
“Enggak,
sedikit lagi kok, semangat!”
begitulah
salah satu jenis percakapan yang sering saya dengar dan sesekali juga saya
alami ketika berpapasan dengan pendaki lain, entah pendaki darimana. Dan
rupanya kata “sedikit lagi” dalam jawaban dari pertanyaan itu tadi bersifat
sangat relatif, yang dimaksud sedikit oleh mereka ternyata masih sangat jauh bagi saya -____-. Tapi.. yah, bisa jadi
itu memang menjadi salah satu cara umum bagi para pendaki untuk membakar
semangat satu sama lain dalam meneruskan pendakian.
Perjalanan
dari post 3 menuju puncak kami lakukan pada pukul 3 dini hari, perjalanan
sedini itu kami lakukan semata-mata hanya untuk mengejar sunrise diatas sana.
Semakin tinggi, jalan yang kami lalui semakin menanjak dan berbatu. Dan kacaunya,
ditengah-tengah perjalanan, angin bagi saya ternyata tidak terlalu bersahabat,
fenomena masuk anginpun menyerang tubuh saya pada waktu itu, akibatnya
sebentar-sebentar saya harus berhenti akibat kondisi tubuh yang seperti ini.
Tahu apa yang
saya lihat dan saya sadari dalam peristirahatan sejenak saat menuju puncak di
dini hari itu? Menakjubkan, saya melihat
sebuah lukisan malam yang tidak terlupakan, lukisan malam terindah yang pernah
saya lihat dalam hidup. Ketika saya memandang ke bawah, lampu kota terlihat
berkelap-kelip dibawah sana, indah luar biasa. Dan ketika saya memandang
keatas, wow... kelap-kelip bintang rupanya tidak mau kalah, bagaikan permata
yang menempel di kain permadani gelap bernama langit malam, dan disana.. bulan
mulai berjalan menuju horizon, beranjak pulang melepas malam. Dan saya duduk disini
diatas sebuah batu, di salah satu bagian kecil dari badan gunung, dibawah
kolong langit, di salah satu sudut kecil dunia. Betapa besarnya alam ini dan
betapa kecilnya saya.
“Ayo lanjut
lagi pelan-pelan, kalo jam setengah 5 nanti kita belum mencapai persimpangan
sana, maka mungkin kita bakal gak sempat dapet sunrise lho” kata salah satu
pendaki senior yang berjalan beriringin dengan saya sejak tadi. Tapi sungguh
kondisi badan saya rasanya hampir tidak mungkin dipaksakan untuk terus naik,
saya tetap duduk dan ngos-ngosan sambil berkata didalam hati,
“Waktu...
berhentilah, berhentilah sebentar, saya ingin melihat sunrise, tapi saya harus
istirahat dulu sebentar, waktu, berhentilah sebentar... pliiiss...tunggu
saya...”
saya bahkan hampir memutuskan untuk meyerah,
tidak apa-apalah jika memang saya harus melihat sinar sunrise dari balik sini
saja, rasanya saya butuh istirahat lebih lama disini.
“Kalau memang
gak sanggup naik lagi yaudah gapapa, kesehatan jauh lebih penting..” kata beliau
lagi, mungkin karena melihat kondisi tubuh saya yang tidak meyakinkan lagi
untuk melanjutkan perjalanan. Mendengar itu entah kenapa semangat saya justru
terpacu, saya pikir sudah kepalang tanggung, sudah terlanjur mendaki ya kudunya
harus sampai puncak. Dan akhirnya pula saya sadar, tidak ada gunanya berdialog
dengan waktu, adalah hal yang sangat sia-sia sejak tadi memintanya untuk
menunggu saya, bulan bahkan tetap semakin tergelincir, waktu tidak mau
berhenti, tidak mau menunggu, sebentarpun tidak. Jadi tidak ada pilihan lain,
sayalah yang harus mengejar. Kali ini, perlahan kaki ini mulai berjalan lagi,
bersiap menjemput bola emas di garis horizon
1 jam lagi.
Saya seperti
berada di negeri Teletubbies, berjalan di tengah-tengah satu bagian gunung yang
bentuknya seperti bukit-bukit sabana di atas sana, entah namanya apa. Dan
menakjubkan lagi, ketika berjalan di suatu jalan kecil yang sisi kanan kirinya
jurang itu saya sekaligus merasa berjalan di dua dunia, di sebelah kiri saya
langit masih cukup gelap dengan bulan yang siap menghilang, dan disisi kanan
saya langit mulai terang pertanda matahari sebentar lagi datang, dan horizon
menjadi penghubung diantara keduanya, dan
karenanya mereka damai mengikuti putaran alam.
Jogja, 24 Oktober 2012.


0 komentar:
Posting Komentar