Laman


Kamis, 24 Juli 2014

ADA YANG HILANG



Saya sedang bosan dengan prolog, saya malas berbasa basi. 

Begini saja, apakah kamu mau tahu? Saya kehilangan seseorang yang entah kenapa rasanya begitu nyaman untuk diajak berbicara, baik empat mata maupun dengan sekian ratus pasang mata disekitar saya dan dia. Seseorang yang bukannya menutup telinganya rapat-rapat jika saya mengomel tetapi justru menatap mata saya sambil tersenyum seolah menanti kalimat demi kalimat  yang keluar dari mulut saya, hingga membuat saya bingung sendiri dan tak tahu harus seperti apa lagi menghadapinya. Seseorang yang kuantitas bicaranya kadang melebihi kuantitas bicara saya hingga saya kewalahan memotong pembicaraannya dan harus setengah berseru “Hei dengerin aku, dengerin aku dulu”, barulah setelah itu saya bisa bicara. Seseorang yang jarang marah, tapi sekali marah jelek sekali, diam seribu bahasa. Kalau sudah begitu, maka saya harus membiasakan diri untuk rela menjadi seperti seorang loper koran yang mengantarkan koran untuk ia baca di layar gadgetnya tanpa dikirimi balasan.

Apakah kamu mau tahu? Saya kehilangan seseorang yang seringkali mengaku bahwa dirinya adalah penjahat. “Harusnya kamu buru-buru pergi dan menjauh” bukan sekali dua ia memperingatkan. Sesekali saya menatap matanya sambil tersenyum seolah ingin bilang “Iya. Apalagi ? katakan saja semuanya”. Saya bukannya tidak tahu dan tidak sadar dengan siapa saya sedang berhadapan. Dia penjahat yang paham betul dengan apa yang disebut dengan kejahatan, hanya saja kadang perkara salah dan benar yang hakiki tidak berlaku dalam dunianya, dia punya undang-undangnya sendiri disana, begitu saya menyimpulkan. Sesekali, terbersit keinginan saya untuk mencalonkan diri sebagai anggota legislatif di dunianya agar punya sedikit hak untuk mengamandemen peraturannya, tapi tidak bisa, aturan itu dia yang punya. Saya lalu belajar mengerti tentang hak prerogative seseorang atas hidupnya. Saya kalah melawan penjahat. Kalau begitu saya ingin menjadi teman penjahat saja tanpa harus ikut-ikutan jadi penjahat, itu yang ada di benak saya. Toh dia adalah penjahat yang baik hati sebenarnya. Tapi dia tidak mau. Agaknya ia khawatir saya akan ikut-ikutan menjadi penjahat. Katanya saya tidak boleh menjadi bodoh seperti itu, padahal dia sendiri tidak kalah bodoh dibanding saya. Kami memang sama-sama bodoh, kadang memang begitulah kenyataannya. 

Adalagi yang ingin kamu tahu? Saya kehilangan lawan debat. Susah sekali bagi saya untuk menemukan lawan debat yang sepadan, yang kualitasnya tidak berada dilevel atas juga tidak dilevel bawah, yang tertarik untuk memperdebatkan apa saja bahkan hal yang tidak begitu penting sekalipun. Dia bilang A saya bilang B, begitu seterusnya. Tapi yang membuat saya senang adalah karena pada akhirnya kami selalu berdamai, tanpa ada yang keluar sebagai juara. Pendapat tidak harus selalu sama kan? Begitu kebenaran tertinggi kami, satu-satunya hal yang bisa kami sepakati diantara ketidaksepakatan kami pada beberapa hal yang kami perdebatkan sebelumnya.

Mau tahu lagi? Saya kehilangan seseorang yang seringkali bilang bahwa saya ini sok tahu. Seseorang yang biasanya menginjak pedal rem jika saya mulai berbicara dan memprediksi setelah ini semua akan blablabla, setelah itu  semua akan blablabla, mereka tidak akan begini karena blablabla, mereka tidak akan begitu karena blablabla. Saya kehilangan seseorang yang dengan tegas berkata “sok tau” ketika saya berbicara semua hal yang sebenarnya saya sendiri ragu akan kebenarannya. Saya harus menginjak pedal rem itu sendiri sekarang.

Sudah cukup, adalagi yang ingin kamu tahu? Saya kehilangan seorang dewasa yang kadang tak bisa menyembunyikan jiwa bocahnya, otomatis saya juga kehilangan moment dimana saya bisa menjadi dewasa seutuhnya dihadapannya. Saya kehilangan seseorang yang dilain waktu gantian membuat saya tak bisa menyembunyikan jiwa kekanak-kanakan saya. Saya kehilangan seseorang yang berkata “Gak usah sok tegar” saat saya sebenarnya  memang sedang tidak baik-baik saja.

Mau tahu lagi apa saja yang hilang? Kebisuannya menggambarkan kehilangan saya akan banyak hal, dan itu tidak bisa dijabarkan satu persatu. Kalau mau tahu, lihat saja bagaimana ia diam. Diamnya adalah bentuk kehilangan saya. Itulah kenyataannya. Satu hal lagi yang harus kamu tahu, tak butuh waktu lama memiliki untuk pada akhirnya merasa kehilangan sebanyak itu.

Saya tidak mengerti kenapa orang sering berbicara mengenai perkara pantas dan tidak pantas.  Sementara yang saya tahu jika dua orang saling cinta dan berkomitmen untuk setia sampai lanjut usia berhak untuk saling memiliki satu sama lain. Masa lalu selalu memiliki hak untuk dimaafkan, dan masa depan selalu memiliki hak untuk diberi kesempatan. 

Saya tetap disini, tidak mencarinya lagi. Dia akan pulang jika ia mau, tepat pada kesempatan kesekian yang ia punya, saat ia sanggup berkata  “Mulai kini dan seterusnya saya akan baik-baik saja, kamu akan baik-baik saja, kita akan baik-baik saja.”



Tanjung, 24 Juli 2014.

0 komentar: