Kawasan Bromo, 22 Juni 2014 pukul 01.00 WIB
Pesta langit dengan ribuan bintang
itu tampak lagi malam ini, lengkap dengan formasi sungai susu yang membentang
dari langit utara ke selatan. Sirius seolah tak lagi menjadi yg paling terang,
banyak bintang lain dengan magnitude hampir sama menyainginya. Kamu tersenyum
geli, pesta ini berlangsung setiap malam dan lampu-lampu dikotamu terlebih dulu
menggusur mereka dari pandangan. Dibutuhkan pergi ke tepi pantai, tengah laut,
atau ke dataran tinggi semacam ini untuk mencari eksistensi surga bagi para
penikmat langit malam.
Dingin menginfeksi alam luas tak
berbatas. Kamu tak banyak bicara, hanya menatap langit yang berserakan dengan
bintang-bintang sambil merengkuh badanmu sendiri mencari kehangatan. Meski temperature ini terlalu asing bagimu, malam ini tiba-tiba rasanya menjadi nyaris sempurna,
saat kamu melihat satu titik bersinar terang melesat dilangit sebelah sana,
matamu terbelalak dan ketakjubanmu menjadi berlipat. Sebuah meteor baru saja
melesat indah diatas sana. Sayangnya tak lama. Dalam hitungan detik kamu harus kembali
kehilangannya.
***
Di kotamu beberapa hari setelah hari itu.
Kamu terduduk lunglai di tengah ruangan
itu. Tenagamu hampir habis setelah memukul-mukul seseorang yang pasrah dan
mempersilakan dirinya untuk menjadi objek tinju. Sebenarnya, ingin kamu
cengkeram kerah bajunya lalu kamu serang lagi ia dengan pukulan bertubi-tubi dengan
sisa tenagamu hingga ia dan kamu sama-sama menjadi gagu lalu habis daya. Ini kejadian
langka, tak mungkin ia sembarang membiarkan tubuhnya pasrah dipukuli orang lain
seperti itu. Dibalut rasa sesal membuat ia enggan berkutik apalagi melawan. Ia sodorkan lagi dirinya, nampaknya pukulanmu masih tak seberapa.
Jika berprinsip bahwa hidup adalah tentang kalkulasi untung dan rugi tanpa
melibatkan unsur perasaan didalamnya, harusnya kamu tidak membuang-buang kesempatan
ini.
Kamu lebih banyak menunduk,
kehilangan keberanian menatap bola mata itu lekat-lekat seperti biasanya. Bola
mata hitam kecoklatan dengan sedikit polesan kantung mata hitam akibat terlalu sering
diajak membuka oleh pemiliknya. Disanalah, satu-satunya tempat dimana kamu bisa
membaca siapa dirinya selama ini, satu-satunya tempat dimana kamu tahu bahwa
kamu resmi menjadi bagian dari hidupnya yang baru. Hari ini kamu tak banyak
menatapnya, enggan membaca pertanda atau takut menerima kenyataan lebih
tepatnya. Kamu takut, jangan-jangan sorot mata itu menunjukkan bahwa dalam
raganya memang tak lagi bersemayam jiwanya yang selama ini kamu kenal.
Raga itu tiba-tiba saja berubah
menjadi semacam sangkar tak berpintu, rumah bagi jiwa-jiwa yang datang dan pergi
semaunya dan kapan saja. Kemana perginya laki-laki itu? Batinmu mengeluarkan
satu pertanyaan sederhana namun seolah tak berjodoh dengan jawaban manapun di
dunia. Tak ada yang tahu kemana ia pergi. Patrick menghilang begitu saja, dimakan bulat-bulat oleh hiu atau mungkin ikan jadi-jadian hingga tak ada lagi yang
tersisa. Tak heran jika kamu sama sekali tidak bisa menelusuri jejaknya.
Kamu ingin marah, ingin mengamuk
bahkan. Tak ada yang bisa mengerti betapa takut dan bencinya kamu dengan sebuah
rasa yang dinamakan kehilangan, bahkan ia pun tidak. Padahal selama ini dialah penerjemah
ulung bahasa rasa dari planet manapun di jagat raya, begitu katamu.
Segenap alam rasionalitasmu hampir mati. Kamu bahkan berpikir mungkin akan
lebih baik jika kamu dibohongi jika hanya itu yang bisa menghindarkanmu dari
rasa kehilangan ini lagi.
Kamu menatap matanya sembunyi-sembunyi dari
pantulan cermin. Sorot mata yang tidak pernah membiarkan alam rasionalitasmu mati. Sorot mata yang memintamu
untuk kembali menjadi logis dan realistis, dengan jalan berhenti berjuang. Tanpa
ia sendiri bisa memahami apa yang terpancar dari sorot matamu, sorot mata yang
memintanya pula untuk kembali menjadi logis dan realistis, dengan jalan kembali
berjuang.
Didetik itu, kamu sadar bahwa kamu
tidak lagi bisa berkomunikasi dengannya melalui mata, satu-satunya yang selama ini kamu
anggap sebagai jembatan terakhir saat segalanya sungkan bersuara. Jembatan
komunikasi itu telah runtuh.
***
Malam itu kamu memaksakan diri
menjadi penikmat kopi. Kamu butuh belajar merasakan sensasi pahit dengan
mereguknya sedikit demi sedikit, sembari membuang seberagam perasaan aneh itu
pada angin malam, buang jauh-jauh, tak sanggup kamu mencernanya dengan akal.
Kamu tak menyangka ia hadir pada jam kesekian
saat kamu memutuskan untuk berhenti menunggu ia datang. Sekilas ia tampak masih
sama dan tak ada yang berubah. Ia masih memakai gelang hitam pemberian teman
baiknya yang jumlah butirnya 33 buah, yang selama ini kamu bilang butir itu
adalah kayu, sedang dia bilang itu batu. Satu contoh perdebatan tak penting yang lumrah
terjadi diantara kalian namun sialnya justru membuat kamu rindu.
“Kamu bawa tissue?” Dia bertanya saat membutuhkan benda yang
biasa kamu bawa di dalam tas.
Kamu menggeleng “Saya sudah tidak pernah membawa tissue. Tidak pernah membawa permen, tidak pernah membawa kipas” jawabmu datar. Harusnya saat itu ia
tahu bahwa kamu tidaklah membatu. Kamu sudah bergerak dan membiasakan diri untuk tidak lagi
bersama dirinya. Kamu tidak lagi membawa permen sebagai pengganti nikotinnya
sewaktu-waktu, atau kipas sebagai media pengusir asapnya yang kadang mengganggu. Kamu pun sanggup
membawa barang-barangmu sendiri tanpa harus mengandalkannya. Satu hal yang
harus ia tahu, kamu baik-baik saja tanpa dia. Dia tersenyum, entah
tersenyum lega, entah tersenyum tak percaya.
Namun entah kenapa, kamu masih rela
bersusah payah mencari-cari bola matanya yang hitam kecoklatan itu disela-sela
keramaian, disela warna lampu yang temaram. Kamu bahkan tak henti merutuk di
dalam hati kenapa tempat ini harus didesain dengan penerangan buruk semacam ini hingga menyulitkan proses
pencarianmu di kedua bola matanya. Tak ada yang perduli, tak seorangpun yang
menyadari bahwa kamu sedang mencari-cari seseorang saat itu.
“Apakah ia sudah kembali? apakah Patrick saya sudah pulang?”
Nihil. Tak ada siapa-siapa disana.
Lampu yang tidak cukup terang ini pasti menjadi penyebab kamu tak menemukan
siapa-siapa dimatanya. Atau mungkin kamu kesulitan menangkap bola matanya karena
pandangannya yang lebih banyak dibuang kekiri dan kekanan, tak lagi menatapmu
dengan keberanian yang sama seperti dulu. Atau jangan-jangan kemampuanmu membaca
sorot matanya lah yang sudah benar-benar hilang sama sekali karena tak pernah
dilatih lagi. Kamu mencari-cari beberapa alasan yang cukup masuk akal atas
ketiadaan dirinya di bola mata hitam kecoklatan itu. Tapi apapun itu, tak ada
siapa-siapa disana. Tak ada lagi sesosok dia disana.
Tiba-tiba saja kamu
teringat dengan meteor yang beberapa waktu lalu kamu lihat melesat di langit
malam. Itulah dia, Patrick dengan wajah bodoh yang dulu selalu kamu rindukan itu pergi secepat
meteor, membuatmu takjub dalam hitungan waktu yang singkat, lalu kini lenyaplah
sudah.
***
Sekali lagi, kamu menatap dirimu
sendiri melalui pantulan cermin. Satu sosok yang selama ini kamu kenal cukup
logis dan realistis. Harusnya dia tahu dan tidak perlu khawatir akan hal
itu. Dia yang berdiri dibelakangmu dengan sorot mata itu… kamu berkesempatan
untuk melihatnya kembali melalui pantulan cermin kali ini. Kamu memicingkan
mata mengatur retina agar lebih fokus pada sesuatu yang samar-samar kamu
temukan di sorot matanya. Kamu takjub, ada Patrick disana… masih ada… meski
hanya dalam hitungan detik saja ia tampakkan wujudnya sebelum pergi lagi entah
kemana. Yang kamu tahu, masih ada Patrick disana. Patrick belum benar-benar
mati, ia hanya sedang pergi atau mungkin sembunyi. Kamu menarik kesimpulan.
***
“Kamu mengisyaratkan
bahwa alam rasionalitas saya tak boleh mati, sementara bagi saya alam
rasionalitasmu sendiri justru tak hidup. Kadang kamu terlihat terlalu sibuk
menjalankan alam rasionalitas saya dan malah tak sadar dengan berhentinya
rotasi di alam rasionalitas kamu sendiri. Dengan segenap alam rasionalitas saya
yang kamu hidupkan, pada akhirnya saya belajar mengerti dengan dunia tempat kamu
berada, dengan berbagai hal yang tidak mau melibatkan saya didalamnya. Saya paham
betul dengan apa yang kamu khawatirkan. Dan jika dunia itu adalah alam rasionalitas
tempat kamu hidup nyaman untuk saat ini, maka saya tidak akan berbuat apa-apa,
tidak pula memaksakan kamu untuk paham dengan kekhawatiran saya. Biarkan saja alam
rasionalitas kita berbeda. Jangan khawatir, saya akan kembali membuat diri saya
menjadi manusia yang logis dan realistis. Dan saya percaya, cepat atau lambat
kamu pun juga akan menjadi logis dan realistis untuk tahu kemana harus beranjak.”
***
Meteor melesat terang dilangit malam dalam waktu yang
singkat. Ada yang habis di udara oleh gesekan atmosfer, ada pula meteor yang sampai
di bumi. Yang kamu cari-cari adalah meteorit, meteor yang sampai di bumi. Ia tak hanya melesat dilangit malam dalam waktu
yang singkat, tapi juga sampai di duniamu pada akhirnya.
Pulanglah Patrick.
Pulanglah Patrick.
Jogja, 15 Juli 2014


0 komentar:
Posting Komentar