Laman


Selasa, 15 Juli 2014

UNTITLED



Kawasan Bromo, 22 Juni 2014 pukul 01.00 WIB
Pesta langit dengan ribuan bintang itu tampak lagi malam ini, lengkap dengan formasi sungai susu yang membentang dari langit utara ke selatan. Sirius seolah tak lagi menjadi yg paling terang, banyak bintang lain dengan magnitude hampir sama menyainginya. Kamu tersenyum geli, pesta ini berlangsung setiap malam dan lampu-lampu dikotamu terlebih dulu menggusur mereka dari pandangan. Dibutuhkan pergi ke tepi pantai, tengah laut, atau ke dataran tinggi semacam ini untuk mencari eksistensi surga bagi para penikmat langit malam.
Dingin menginfeksi alam luas tak berbatas. Kamu tak banyak bicara, hanya menatap langit yang berserakan dengan bintang-bintang sambil merengkuh badanmu sendiri mencari kehangatan. Meski temperature ini terlalu asing bagimu, malam ini tiba-tiba rasanya menjadi nyaris sempurna, saat kamu melihat satu titik bersinar terang melesat dilangit sebelah sana, matamu terbelalak dan ketakjubanmu menjadi berlipat. Sebuah meteor baru saja melesat indah diatas sana. Sayangnya tak lama. Dalam hitungan detik kamu harus kembali kehilangannya.
***
Di kotamu beberapa hari setelah hari itu.

Kamu terduduk lunglai di tengah ruangan itu. Tenagamu hampir habis setelah memukul-mukul seseorang yang pasrah dan mempersilakan dirinya untuk menjadi objek tinju. Sebenarnya, ingin kamu cengkeram kerah bajunya lalu kamu serang lagi ia dengan pukulan bertubi-tubi dengan sisa tenagamu hingga ia dan kamu sama-sama menjadi gagu lalu habis daya. Ini kejadian langka, tak mungkin ia sembarang membiarkan tubuhnya pasrah dipukuli orang lain seperti itu. Dibalut rasa sesal membuat ia enggan berkutik apalagi melawan. Ia sodorkan lagi dirinya, nampaknya pukulanmu masih tak seberapa. Jika berprinsip bahwa hidup adalah tentang kalkulasi untung dan rugi tanpa melibatkan unsur perasaan didalamnya, harusnya kamu tidak membuang-buang kesempatan ini. 

Kamu lebih banyak menunduk, kehilangan keberanian menatap bola mata itu lekat-lekat seperti biasanya. Bola mata hitam kecoklatan dengan sedikit polesan kantung mata hitam akibat terlalu sering diajak membuka oleh pemiliknya. Disanalah, satu-satunya tempat dimana kamu bisa membaca siapa dirinya selama ini, satu-satunya tempat dimana kamu tahu bahwa kamu resmi menjadi bagian dari hidupnya yang baru. Hari ini kamu tak banyak menatapnya, enggan membaca pertanda atau takut menerima kenyataan lebih tepatnya. Kamu takut, jangan-jangan sorot mata itu menunjukkan bahwa dalam raganya memang tak lagi bersemayam jiwanya yang selama ini kamu kenal.

Raga itu tiba-tiba saja berubah menjadi semacam sangkar tak berpintu, rumah bagi jiwa-jiwa yang datang dan pergi semaunya dan kapan saja. Kemana perginya laki-laki itu? Batinmu mengeluarkan satu pertanyaan sederhana namun seolah tak berjodoh dengan jawaban manapun di dunia. Tak ada yang tahu kemana ia pergi. Patrick menghilang begitu saja, dimakan bulat-bulat oleh hiu atau mungkin ikan jadi-jadian hingga tak ada lagi yang tersisa. Tak heran jika kamu sama sekali tidak bisa menelusuri jejaknya.

Kamu ingin marah, ingin mengamuk bahkan. Tak ada yang bisa mengerti betapa takut dan bencinya kamu dengan sebuah rasa yang dinamakan kehilangan, bahkan ia pun tidak. Padahal selama ini dialah penerjemah ulung bahasa rasa dari planet manapun di jagat raya, begitu katamu. Segenap alam rasionalitasmu hampir mati. Kamu bahkan berpikir mungkin akan lebih baik jika kamu dibohongi jika hanya itu yang bisa menghindarkanmu dari rasa kehilangan ini lagi.

Kamu menatap matanya sembunyi-sembunyi dari pantulan cermin. Sorot mata yang tidak pernah membiarkan alam rasionalitasmu mati. Sorot mata yang memintamu untuk kembali menjadi logis dan realistis, dengan jalan berhenti berjuang. Tanpa ia sendiri bisa memahami apa yang terpancar dari sorot matamu, sorot mata yang memintanya pula untuk kembali menjadi logis dan realistis, dengan jalan kembali berjuang.

Didetik itu, kamu sadar bahwa kamu tidak lagi bisa berkomunikasi dengannya melalui mata, satu-satunya yang selama ini kamu anggap sebagai jembatan terakhir saat segalanya sungkan bersuara. Jembatan komunikasi itu telah runtuh.

***

Malam itu kamu memaksakan diri menjadi penikmat kopi. Kamu butuh belajar merasakan sensasi pahit dengan mereguknya sedikit demi sedikit, sembari membuang seberagam perasaan aneh itu pada angin malam, buang jauh-jauh, tak sanggup kamu mencernanya dengan akal.

 Kamu tak menyangka ia hadir pada jam kesekian saat kamu memutuskan untuk berhenti menunggu ia datang. Sekilas ia tampak masih sama dan tak ada yang berubah. Ia masih memakai gelang hitam pemberian teman baiknya yang jumlah butirnya 33 buah, yang selama ini kamu bilang butir itu adalah kayu, sedang dia bilang itu batu. Satu contoh perdebatan tak penting yang lumrah terjadi diantara kalian namun sialnya justru membuat kamu rindu.

“Kamu bawa tissue?” Dia bertanya saat membutuhkan benda yang biasa kamu bawa di dalam tas. 

Kamu menggeleng “Saya sudah tidak pernah membawa tissue. Tidak pernah membawa permen, tidak pernah membawa kipas” jawabmu datar. Harusnya saat itu ia tahu bahwa kamu tidaklah membatu. Kamu sudah bergerak dan membiasakan diri untuk tidak lagi bersama dirinya. Kamu tidak lagi membawa permen sebagai pengganti nikotinnya sewaktu-waktu, atau kipas sebagai media pengusir asapnya yang kadang mengganggu. Kamu pun sanggup membawa barang-barangmu sendiri tanpa harus mengandalkannya. Satu hal yang harus ia tahu, kamu baik-baik saja tanpa dia. Dia tersenyum, entah tersenyum lega, entah tersenyum tak percaya.

Namun entah kenapa, kamu masih rela bersusah payah mencari-cari bola matanya yang hitam kecoklatan itu disela-sela keramaian, disela warna lampu yang temaram. Kamu bahkan tak henti merutuk di dalam hati kenapa tempat ini harus didesain dengan penerangan buruk semacam ini hingga menyulitkan proses pencarianmu di kedua bola matanya. Tak ada yang perduli, tak seorangpun yang menyadari bahwa kamu sedang mencari-cari seseorang saat itu. 

“Apakah ia sudah kembali? apakah Patrick saya sudah pulang?” 

Nihil. Tak ada siapa-siapa disana. Lampu yang tidak cukup terang ini pasti menjadi penyebab kamu tak menemukan siapa-siapa dimatanya. Atau mungkin kamu kesulitan menangkap bola matanya karena pandangannya yang lebih banyak dibuang kekiri dan kekanan, tak lagi menatapmu dengan keberanian yang sama seperti dulu. Atau jangan-jangan kemampuanmu membaca sorot matanya lah yang sudah benar-benar hilang sama sekali karena tak pernah dilatih lagi. Kamu mencari-cari beberapa alasan yang cukup masuk akal atas ketiadaan dirinya di bola mata hitam kecoklatan itu. Tapi apapun itu, tak ada siapa-siapa disana. Tak ada lagi sesosok dia disana. 

Tiba-tiba saja kamu teringat dengan meteor yang beberapa waktu lalu kamu lihat melesat di langit malam. Itulah dia, Patrick dengan wajah bodoh yang dulu selalu kamu rindukan itu pergi secepat meteor, membuatmu takjub dalam hitungan waktu yang singkat, lalu kini lenyaplah sudah.

***

Sekali lagi, kamu menatap dirimu sendiri melalui pantulan cermin. Satu sosok yang selama ini kamu kenal cukup logis dan realistis. Harusnya dia tahu dan tidak perlu khawatir akan hal itu. Dia yang berdiri dibelakangmu dengan sorot mata itu… kamu berkesempatan untuk melihatnya kembali melalui pantulan cermin kali ini. Kamu memicingkan mata mengatur retina agar lebih fokus pada sesuatu yang samar-samar kamu temukan di sorot matanya. Kamu takjub, ada Patrick disana… masih ada… meski hanya dalam hitungan detik saja ia tampakkan wujudnya sebelum pergi lagi entah kemana. Yang kamu tahu, masih ada Patrick disana. Patrick belum benar-benar mati, ia hanya sedang pergi atau mungkin sembunyi. Kamu menarik kesimpulan.

***
 “Kamu mengisyaratkan bahwa alam rasionalitas saya tak boleh mati, sementara bagi saya alam rasionalitasmu sendiri justru tak hidup. Kadang kamu terlihat terlalu sibuk menjalankan alam rasionalitas saya dan malah tak sadar dengan berhentinya rotasi di alam rasionalitas kamu sendiri. Dengan segenap alam rasionalitas saya yang kamu hidupkan, pada akhirnya saya belajar mengerti dengan dunia tempat kamu berada, dengan berbagai hal yang tidak mau melibatkan saya didalamnya. Saya paham betul dengan apa yang kamu khawatirkan. Dan jika dunia itu adalah alam rasionalitas tempat kamu hidup nyaman untuk saat ini, maka saya tidak akan berbuat apa-apa, tidak pula memaksakan kamu untuk paham dengan kekhawatiran saya. Biarkan saja alam rasionalitas kita berbeda. Jangan khawatir, saya akan kembali membuat diri saya menjadi manusia yang logis dan realistis. Dan saya percaya, cepat atau lambat kamu pun juga akan menjadi logis dan realistis untuk tahu kemana harus beranjak.”

***


              Meteor melesat terang dilangit malam dalam waktu yang singkat. Ada yang habis di udara oleh gesekan atmosfer, ada pula meteor yang sampai di bumi. Yang kamu cari-cari adalah meteorit, meteor yang sampai di bumi. Ia  tak hanya melesat dilangit malam dalam waktu yang singkat, tapi juga sampai di duniamu pada akhirnya.

Pulanglah Patrick.

Jogja, 15 Juli 2014 

0 komentar: