Laman


Rabu, 02 Juli 2014

LANTAI DUA



Tulisan ini saya buat sebagai bentuk penepatan janji saya pada seseorang yang baru sempat saya tepati sekarang… saya berjalan melalui labirin panjang, kembali ke 20 Mei 2014.

Tinggal di sebuah kota yang sebenarnya tidak terlalu jauh dari pantai, membuat kamu sebenarnya bisa mendatangi tepi pantai kapan saja jika kamu mau, memandang ombak dan sunset yang menyamping, dengan sebutir es kelapa yang bisa dengan mudah kamu dapatkan kapan saja dari para penjual es kelapa disana. Lalu,  apa yang spesial dari memandang gempuran ombak kali ini? Tak ada, kecuali ketinggian tempatmu memandang ombak yang kali ini tak sepeti biasanya dan percakapanmu dengan seorang asing yang belum lama kamu kenal yang membawamu ketempat itu.

Apa yang ingin kamu nikmati dari pemandangan laut dan langit yang bersanding merdeka di garis cakrawala didepan sana? Entahlah. Satu hal yang kamu tahu, kalian menikmati suasana itu. Dengan ditemani 2 butir es kelapa muda, suasana itu resmi diperpanjang dalam hitungan sedotan demi sedotan air kelapa yang ternyata tak ingin segera kalian tandaskan. Suasana di sore itu terlalu indah untuk dilewatkan dengan cepat.

 Kata demi kata tak lama kemudian meluncur begitu saja dari mulut kalian yang selama ini lebih banyak bungkam. Dua orang yang mulanya asing mendadak berubah menjadi seperti sepasang sahabat yang menahun sudah saling mengenal satu sama lain. Bagaimana bisa? Entah. Kalian hanya perlu menikmati aliran kata demi kata sebagaimana kalian menikmati laut dan langit dari sudut ini.

Akhirnya kamu sadar, kepercayaan ternyata tidak selalu tergantung pada berapa lama kita mengenal seseorang, tidak selalu bergantung pada seberapa baik kamu mengenalnya. Ketika bahasa mutual yang tidak teridentifikasi antara dua orang itu tercipta, habislah sudah beberapa hal yang selama ini dikira orang menjadi acuan untuk terbentuknya sebuah kepercayaan. Tinggal pintar-pintar kamu, menyisakan sedikit celah untuk sedikit rasa tidak percaya yang kamu cipta sendiri untuk dia yang kamu percaya, agar kelak jikapun kepercayaan itu hancur maka akan ada sedikit rasa diselamatkan oleh sejumput ketidakpercayaan yang sebelumnya sudah kamu rekayasa.

Lantai dua, sebutan untuk dataran tinggi terbuka yang tingginya sekian meter diatas permukaan laut, dengan kursi kayu tua tempat kalian duduk yang tepat menghadap kepantai, dengan beberapa penjual es kelapa dan makanan ringan yang turut pula menemani, ditambah lagi dengan rerumputan hijau dan beberapa ekor wedhus gembel yang bebas berkelana tanpa digembala oleh pemiliknya. Sebagian orang mungkin akan berpendapat bahwa sudut ini biasa saja sebenarnya, dibutuhkan rasa keingintahuan tingkat tinggi bagi mereka untuk tahu bahwa kalian menemukan tempat ini seperti musafir yang menemukan oase ditengah gurun pasir setelah lelah berkelana. 

Laut dan langit yang jadi satu. Lagi lagi hanya itu yang kalian lihat diujung sana. Satu pemandangan konsisten yang tak akan pernah berubah sapai kapanpun dari sudut kalian memandang saat ini. Kalimat demi kalimat yang keluar dari dalam diri kalian semakin lama semakin berganti, semakin bervariasi, semakin beragam, seberagam warna senja disebelah barat sana. Jika memang kalimat itu adalah sampah masa lalu yang harus dibuang, hari ini, kamu rela menjadi tempat sampahnya, sebagaimana kamu pikir diapun rela menjadi tempat sampah yang nyaman bagimu. Jika ada yang perlu dideklarasikan dari pertemuan kali ini, maka hari ini kalian resmi menjadi tempat sampah satu sama lain. 

Mari sedikit berbicara tentang ramalan, terlepas apakah itu akan menjadi benar atau tidak. Dia akan menjadi tempat dimana kamu bisa merasa aman dan nyaman, dia akan menjadi sosok yang tiba-tiba bisa merubah wujudmu menjadi seperti seorang anak kecil berusia tidak lebih dari 6 tahun dimana kamu masih wajar untuk merengek dan bahkan mencari perlindungan. Di lain waktu, dia akan membuatmu menjadi seorang teman sebaya yang butuh berbagi dan bercerita tentang beberapa hal yang kamu alami dalam hidup, kamu bisa menangis, tertawa lebih lepas dari sebelumnya, dan bahkan memasang wajah sebodoh patrick dihadapannya kapan saja kamu mau. Di lain waktu lagi, dia akan membuatmu tampak seperti seorang dewasa yang  5 sampai 10 tahun lebih tua dari usiamu saat ini. Itu yang kamu percaya tak lama lagi akan terjadi. Entah kenapa komposisi itu terasa akan sangat adil dan menyenangkan bagimu, kamu menyebutnya dengan komposisi yang hampir sempurna.

Kamu menjadi sedikit egois. Kamu tidak perduli apakah menyenangkan baginya jika kamu tetap harus konsisten menjadi gadis pingit yang lebih parah dari seorang Cinderella, yang harus pulang tidak lebih dari jam 10 malam. Kamu tidak perduli apakah adil baginya memiliki lawan debat yang tidak pandai mendebat lagi menjengkelkan karena tidak mau kalah dan selalu berusaha menyelamatkan pendapatnya dengan kalimat “tidak harus sama kan?”. Kamu tidak perduli apakah tidak akan membosankan baginya jika kamu tampak seperti seorang gadis cerewet yang kekurangan kosakata dengan omelan yang itu-itu saja jika kalian bertemu. Kamu tidak perduli, apakah komposisi itu itu akan terasa adil dan menyenangkan baginya, apakah bisa ia menyebutnya dengan komposisi yang hampir sempurna.

 Itu yang tergambar didepan sana, ramalan yang diwakili oleh luasnya hamparan laut dan langit yang menjadi satu, tempat matamu tertuju, sekaligus hatimu dan semoga juga hatinya.

Matahari semakin tergelincir, pertemuan ini harus segera diakhiri sebagaimana malam yang tak lama lagi akan mengakhiri siang. Tik tok tik tok… Kalian berlatih membiasakan diri untuk bermain dengan waktu.

“kapan-kapan kita ke lantai dua lagi, ya?”
“Ya…”



 Jogjakarta, 02 Juli 2014.

0 komentar: