Tulisan ini saya buat sebagai bentuk penepatan janji saya pada
seseorang yang baru sempat saya tepati sekarang… saya berjalan melalui labirin
panjang, kembali ke 20 Mei 2014.
Tinggal di
sebuah kota yang sebenarnya tidak terlalu jauh dari pantai, membuat kamu
sebenarnya bisa mendatangi tepi pantai kapan saja jika kamu mau, memandang ombak dan sunset
yang menyamping, dengan sebutir es kelapa yang bisa dengan mudah kamu dapatkan
kapan saja dari para penjual es kelapa disana. Lalu, apa yang spesial dari memandang gempuran
ombak kali ini? Tak ada, kecuali ketinggian tempatmu memandang ombak yang kali
ini tak sepeti biasanya dan percakapanmu dengan seorang asing yang belum lama kamu
kenal yang membawamu ketempat itu.
Apa yang ingin kamu
nikmati dari pemandangan laut dan langit yang bersanding merdeka di garis
cakrawala didepan sana? Entahlah. Satu hal yang kamu tahu, kalian menikmati
suasana itu. Dengan ditemani 2 butir es kelapa muda, suasana itu resmi
diperpanjang dalam hitungan sedotan demi sedotan air kelapa yang ternyata tak ingin
segera kalian tandaskan. Suasana di sore itu terlalu indah untuk dilewatkan
dengan cepat.
Kata demi kata tak lama kemudian meluncur
begitu saja dari mulut kalian yang selama ini lebih banyak bungkam. Dua orang
yang mulanya asing mendadak berubah menjadi seperti sepasang sahabat yang menahun sudah
saling mengenal satu sama lain. Bagaimana bisa? Entah. Kalian hanya
perlu menikmati aliran kata demi kata sebagaimana kalian menikmati laut dan langit
dari sudut ini.
Akhirnya kamu
sadar, kepercayaan ternyata tidak selalu tergantung pada berapa lama kita
mengenal seseorang, tidak selalu bergantung pada seberapa baik kamu
mengenalnya. Ketika bahasa mutual yang tidak teridentifikasi antara dua orang itu
tercipta, habislah sudah beberapa hal yang selama ini dikira orang menjadi
acuan untuk terbentuknya sebuah kepercayaan. Tinggal pintar-pintar kamu,
menyisakan sedikit celah untuk sedikit rasa tidak percaya yang kamu cipta sendiri
untuk dia yang kamu percaya, agar kelak jikapun kepercayaan itu hancur maka akan
ada sedikit rasa diselamatkan oleh sejumput ketidakpercayaan yang sebelumnya sudah kamu rekayasa.
Lantai dua, sebutan untuk dataran tinggi terbuka yang tingginya
sekian meter diatas permukaan laut, dengan kursi kayu tua tempat kalian duduk yang tepat menghadap
kepantai, dengan beberapa penjual es kelapa dan makanan
ringan yang turut pula menemani, ditambah lagi dengan rerumputan hijau dan
beberapa ekor wedhus gembel yang bebas berkelana tanpa digembala oleh
pemiliknya. Sebagian orang mungkin akan berpendapat bahwa sudut ini biasa saja sebenarnya, dibutuhkan rasa keingintahuan tingkat tinggi bagi mereka untuk tahu bahwa kalian menemukan
tempat ini seperti musafir yang menemukan oase ditengah gurun pasir setelah lelah berkelana.
Laut dan langit yang jadi satu. Lagi lagi
hanya itu yang kalian lihat diujung sana. Satu pemandangan konsisten yang tak
akan pernah berubah sapai kapanpun dari sudut kalian memandang saat ini. Kalimat
demi kalimat yang keluar dari dalam diri kalian semakin lama semakin berganti,
semakin bervariasi, semakin beragam, seberagam warna senja disebelah barat
sana. Jika memang kalimat itu adalah sampah masa lalu yang harus dibuang, hari
ini, kamu rela menjadi tempat sampahnya, sebagaimana kamu pikir diapun rela
menjadi tempat sampah yang nyaman bagimu. Jika ada yang perlu dideklarasikan dari pertemuan
kali ini, maka hari ini kalian resmi menjadi tempat sampah satu sama lain.
Mari sedikit berbicara
tentang ramalan, terlepas apakah itu akan menjadi benar atau tidak. Dia akan
menjadi tempat dimana kamu bisa merasa aman dan nyaman, dia akan menjadi sosok
yang tiba-tiba bisa merubah wujudmu menjadi seperti seorang anak kecil berusia
tidak lebih dari 6 tahun dimana kamu masih wajar untuk merengek dan bahkan
mencari perlindungan. Di lain waktu, dia akan membuatmu menjadi seorang teman
sebaya yang butuh berbagi dan bercerita tentang beberapa hal yang
kamu alami dalam hidup, kamu bisa menangis, tertawa lebih lepas dari sebelumnya, dan bahkan memasang wajah sebodoh patrick dihadapannya kapan saja kamu mau. Di lain waktu lagi, dia akan membuatmu tampak seperti
seorang dewasa yang 5 sampai 10 tahun lebih
tua dari usiamu saat ini. Itu yang kamu percaya tak lama lagi akan terjadi. Entah
kenapa komposisi itu terasa akan sangat adil dan menyenangkan bagimu, kamu menyebutnya dengan komposisi
yang hampir sempurna.
Kamu menjadi sedikit egois. Kamu tidak perduli apakah
menyenangkan baginya jika kamu tetap harus konsisten menjadi gadis pingit yang lebih
parah dari seorang Cinderella, yang harus pulang tidak lebih dari jam 10 malam.
Kamu tidak perduli apakah adil baginya memiliki lawan debat yang tidak pandai
mendebat lagi menjengkelkan karena tidak mau kalah dan selalu berusaha menyelamatkan
pendapatnya dengan kalimat “tidak harus
sama kan?”. Kamu tidak perduli apakah tidak akan membosankan baginya jika kamu tampak
seperti seorang gadis cerewet yang kekurangan kosakata dengan omelan yang
itu-itu saja jika kalian bertemu. Kamu tidak perduli, apakah komposisi itu itu
akan terasa adil dan menyenangkan baginya, apakah bisa ia menyebutnya dengan
komposisi yang hampir sempurna.
Itu yang tergambar didepan sana, ramalan yang
diwakili oleh luasnya hamparan laut dan langit yang menjadi satu, tempat matamu
tertuju, sekaligus hatimu dan semoga juga hatinya.
Matahari semakin
tergelincir, pertemuan ini harus segera diakhiri sebagaimana malam yang tak
lama lagi akan mengakhiri siang. Tik tok tik tok… Kalian berlatih membiasakan diri
untuk bermain dengan waktu.
“kapan-kapan
kita ke lantai dua lagi, ya?”
“Ya…”
Jogjakarta, 02 Juli 2014.



0 komentar:
Posting Komentar