Laman


Selasa, 15 Juli 2014

UNTITLED



Kawasan Bromo, 22 Juni 2014 pukul 01.00 WIB
Pesta langit dengan ribuan bintang itu tampak lagi malam ini, lengkap dengan formasi sungai susu yang membentang dari langit utara ke selatan. Sirius seolah tak lagi menjadi yg paling terang, banyak bintang lain dengan magnitude hampir sama menyainginya. Kamu tersenyum geli, pesta ini berlangsung setiap malam dan lampu-lampu dikotamu terlebih dulu menggusur mereka dari pandangan. Dibutuhkan pergi ke tepi pantai, tengah laut, atau ke dataran tinggi semacam ini untuk mencari eksistensi surga bagi para penikmat langit malam.
Dingin menginfeksi alam luas tak berbatas. Kamu tak banyak bicara, hanya menatap langit yang berserakan dengan bintang-bintang sambil merengkuh badanmu sendiri mencari kehangatan. Meski temperature ini terlalu asing bagimu, malam ini tiba-tiba rasanya menjadi nyaris sempurna, saat kamu melihat satu titik bersinar terang melesat dilangit sebelah sana, matamu terbelalak dan ketakjubanmu menjadi berlipat. Sebuah meteor baru saja melesat indah diatas sana. Sayangnya tak lama. Dalam hitungan detik kamu harus kembali kehilangannya.
***
Di kotamu beberapa hari setelah hari itu.

Kamu terduduk lunglai di tengah ruangan itu. Tenagamu hampir habis setelah memukul-mukul seseorang yang pasrah dan mempersilakan dirinya untuk menjadi objek tinju. Sebenarnya, ingin kamu cengkeram kerah bajunya lalu kamu serang lagi ia dengan pukulan bertubi-tubi dengan sisa tenagamu hingga ia dan kamu sama-sama menjadi gagu lalu habis daya. Ini kejadian langka, tak mungkin ia sembarang membiarkan tubuhnya pasrah dipukuli orang lain seperti itu. Dibalut rasa sesal membuat ia enggan berkutik apalagi melawan. Ia sodorkan lagi dirinya, nampaknya pukulanmu masih tak seberapa. Jika berprinsip bahwa hidup adalah tentang kalkulasi untung dan rugi tanpa melibatkan unsur perasaan didalamnya, harusnya kamu tidak membuang-buang kesempatan ini. 

Kamu lebih banyak menunduk, kehilangan keberanian menatap bola mata itu lekat-lekat seperti biasanya. Bola mata hitam kecoklatan dengan sedikit polesan kantung mata hitam akibat terlalu sering diajak membuka oleh pemiliknya. Disanalah, satu-satunya tempat dimana kamu bisa membaca siapa dirinya selama ini, satu-satunya tempat dimana kamu tahu bahwa kamu resmi menjadi bagian dari hidupnya yang baru. Hari ini kamu tak banyak menatapnya, enggan membaca pertanda atau takut menerima kenyataan lebih tepatnya. Kamu takut, jangan-jangan sorot mata itu menunjukkan bahwa dalam raganya memang tak lagi bersemayam jiwanya yang selama ini kamu kenal.

Raga itu tiba-tiba saja berubah menjadi semacam sangkar tak berpintu, rumah bagi jiwa-jiwa yang datang dan pergi semaunya dan kapan saja. Kemana perginya laki-laki itu? Batinmu mengeluarkan satu pertanyaan sederhana namun seolah tak berjodoh dengan jawaban manapun di dunia. Tak ada yang tahu kemana ia pergi. Patrick menghilang begitu saja, dimakan bulat-bulat oleh hiu atau mungkin ikan jadi-jadian hingga tak ada lagi yang tersisa. Tak heran jika kamu sama sekali tidak bisa menelusuri jejaknya.

Kamu ingin marah, ingin mengamuk bahkan. Tak ada yang bisa mengerti betapa takut dan bencinya kamu dengan sebuah rasa yang dinamakan kehilangan, bahkan ia pun tidak. Padahal selama ini dialah penerjemah ulung bahasa rasa dari planet manapun di jagat raya, begitu katamu. Segenap alam rasionalitasmu hampir mati. Kamu bahkan berpikir mungkin akan lebih baik jika kamu dibohongi jika hanya itu yang bisa menghindarkanmu dari rasa kehilangan ini lagi.

Kamu menatap matanya sembunyi-sembunyi dari pantulan cermin. Sorot mata yang tidak pernah membiarkan alam rasionalitasmu mati. Sorot mata yang memintamu untuk kembali menjadi logis dan realistis, dengan jalan berhenti berjuang. Tanpa ia sendiri bisa memahami apa yang terpancar dari sorot matamu, sorot mata yang memintanya pula untuk kembali menjadi logis dan realistis, dengan jalan kembali berjuang.

Didetik itu, kamu sadar bahwa kamu tidak lagi bisa berkomunikasi dengannya melalui mata, satu-satunya yang selama ini kamu anggap sebagai jembatan terakhir saat segalanya sungkan bersuara. Jembatan komunikasi itu telah runtuh.

***

Malam itu kamu memaksakan diri menjadi penikmat kopi. Kamu butuh belajar merasakan sensasi pahit dengan mereguknya sedikit demi sedikit, sembari membuang seberagam perasaan aneh itu pada angin malam, buang jauh-jauh, tak sanggup kamu mencernanya dengan akal.

 Kamu tak menyangka ia hadir pada jam kesekian saat kamu memutuskan untuk berhenti menunggu ia datang. Sekilas ia tampak masih sama dan tak ada yang berubah. Ia masih memakai gelang hitam pemberian teman baiknya yang jumlah butirnya 33 buah, yang selama ini kamu bilang butir itu adalah kayu, sedang dia bilang itu batu. Satu contoh perdebatan tak penting yang lumrah terjadi diantara kalian namun sialnya justru membuat kamu rindu.

“Kamu bawa tissue?” Dia bertanya saat membutuhkan benda yang biasa kamu bawa di dalam tas. 

Kamu menggeleng “Saya sudah tidak pernah membawa tissue. Tidak pernah membawa permen, tidak pernah membawa kipas” jawabmu datar. Harusnya saat itu ia tahu bahwa kamu tidaklah membatu. Kamu sudah bergerak dan membiasakan diri untuk tidak lagi bersama dirinya. Kamu tidak lagi membawa permen sebagai pengganti nikotinnya sewaktu-waktu, atau kipas sebagai media pengusir asapnya yang kadang mengganggu. Kamu pun sanggup membawa barang-barangmu sendiri tanpa harus mengandalkannya. Satu hal yang harus ia tahu, kamu baik-baik saja tanpa dia. Dia tersenyum, entah tersenyum lega, entah tersenyum tak percaya.

Namun entah kenapa, kamu masih rela bersusah payah mencari-cari bola matanya yang hitam kecoklatan itu disela-sela keramaian, disela warna lampu yang temaram. Kamu bahkan tak henti merutuk di dalam hati kenapa tempat ini harus didesain dengan penerangan buruk semacam ini hingga menyulitkan proses pencarianmu di kedua bola matanya. Tak ada yang perduli, tak seorangpun yang menyadari bahwa kamu sedang mencari-cari seseorang saat itu. 

“Apakah ia sudah kembali? apakah Patrick saya sudah pulang?” 

Nihil. Tak ada siapa-siapa disana. Lampu yang tidak cukup terang ini pasti menjadi penyebab kamu tak menemukan siapa-siapa dimatanya. Atau mungkin kamu kesulitan menangkap bola matanya karena pandangannya yang lebih banyak dibuang kekiri dan kekanan, tak lagi menatapmu dengan keberanian yang sama seperti dulu. Atau jangan-jangan kemampuanmu membaca sorot matanya lah yang sudah benar-benar hilang sama sekali karena tak pernah dilatih lagi. Kamu mencari-cari beberapa alasan yang cukup masuk akal atas ketiadaan dirinya di bola mata hitam kecoklatan itu. Tapi apapun itu, tak ada siapa-siapa disana. Tak ada lagi sesosok dia disana. 

Tiba-tiba saja kamu teringat dengan meteor yang beberapa waktu lalu kamu lihat melesat di langit malam. Itulah dia, Patrick dengan wajah bodoh yang dulu selalu kamu rindukan itu pergi secepat meteor, membuatmu takjub dalam hitungan waktu yang singkat, lalu kini lenyaplah sudah.

***

Sekali lagi, kamu menatap dirimu sendiri melalui pantulan cermin. Satu sosok yang selama ini kamu kenal cukup logis dan realistis. Harusnya dia tahu dan tidak perlu khawatir akan hal itu. Dia yang berdiri dibelakangmu dengan sorot mata itu… kamu berkesempatan untuk melihatnya kembali melalui pantulan cermin kali ini. Kamu memicingkan mata mengatur retina agar lebih fokus pada sesuatu yang samar-samar kamu temukan di sorot matanya. Kamu takjub, ada Patrick disana… masih ada… meski hanya dalam hitungan detik saja ia tampakkan wujudnya sebelum pergi lagi entah kemana. Yang kamu tahu, masih ada Patrick disana. Patrick belum benar-benar mati, ia hanya sedang pergi atau mungkin sembunyi. Kamu menarik kesimpulan.

***
 “Kamu mengisyaratkan bahwa alam rasionalitas saya tak boleh mati, sementara bagi saya alam rasionalitasmu sendiri justru tak hidup. Kadang kamu terlihat terlalu sibuk menjalankan alam rasionalitas saya dan malah tak sadar dengan berhentinya rotasi di alam rasionalitas kamu sendiri. Dengan segenap alam rasionalitas saya yang kamu hidupkan, pada akhirnya saya belajar mengerti dengan dunia tempat kamu berada, dengan berbagai hal yang tidak mau melibatkan saya didalamnya. Saya paham betul dengan apa yang kamu khawatirkan. Dan jika dunia itu adalah alam rasionalitas tempat kamu hidup nyaman untuk saat ini, maka saya tidak akan berbuat apa-apa, tidak pula memaksakan kamu untuk paham dengan kekhawatiran saya. Biarkan saja alam rasionalitas kita berbeda. Jangan khawatir, saya akan kembali membuat diri saya menjadi manusia yang logis dan realistis. Dan saya percaya, cepat atau lambat kamu pun juga akan menjadi logis dan realistis untuk tahu kemana harus beranjak.”

***


              Meteor melesat terang dilangit malam dalam waktu yang singkat. Ada yang habis di udara oleh gesekan atmosfer, ada pula meteor yang sampai di bumi. Yang kamu cari-cari adalah meteorit, meteor yang sampai di bumi. Ia  tak hanya melesat dilangit malam dalam waktu yang singkat, tapi juga sampai di duniamu pada akhirnya.

Pulanglah Patrick.

Jogja, 15 Juli 2014 

Rabu, 02 Juli 2014

TENTANG PILIHAN

Banyak orang yang mengatakan bahwa hidup itu adalah pilihan.
Hidup memang tentang memilih. Entah menjadi senang atau bahagia sebenarnya kita bisa memilihnya. Jangan selalu menuruti suasana hati, karena pasti akan ada saatnya dimana suasana hati kita menjadi kelabu dan jika kita selalu menurutinya maka warna kelabu itu akan sulit untuk berubah. Daripada menuruti suasana hati, lebih baik berusaha mengatur suasana hati. Lakukan hal-hal yang bisa membuat hati menjadi lebih baik hingga kemudian bahagia, sungguh kita bisa memilih untuk melakukan itu jika kita mau. Tergantung kita mau atau tidak.

Hidup adalah tentang memilih. Mau menjadi orang baik atau tidak, sebenarnya kita bisa memilihnya. Jangan selalu menyalahkan keadaan, keadaan tidak apa-apanya dengan pilihan yang kita ambil, pilihan kita sendiri adalah kekuatan terbesar jika saja kita menyadari. Tergantung kita, bisa mengenali pilihan yang baik atau tidak. Tergantung kita, mau memilihnya atau tidak.

Setiap pilihan itu dimiliki oleh setiap orang. Pada akhirnya kamu sadar, hanya orang tersebut sendirilah yang berhak untuk memilih. Orang lain hanya bisa berusaha memberikan pengaruh, tidak memiliki porsi memilih sebesar yang ia miliki. Itu murni haknya.

Sebagaimana kamu, orang lain juga bebas untuk menentukan pilihan jalan hidupnya. Ketika kamu merasa ada pilihan yang baik untuk seseorang, kamu memang tidak dilarang untuk berusaha memilihkannya. Ada dua kemungkinan setelah itu, bisa jadi usahamu akan diperhitungkan oleh Tuhan dengan cepat, bisa jadi pula suatu saat kamu harus angkat tangan dan menyerah, jangan heran. Sadarilah bahwa kamu bukan seorang yang sempurna yang tahu pilihan mana yang terbaik baginya. Lagipula kamu hanya faktor pendukung, yang masih harus bersaing dengan faktor-faktor pengaruh lainnya. Selebihnya dia sendirilah yang harus memilih jalan hidupnya. Biarkan ia memilih, dan biarkan yang seharusnya mengarahkanlah yang akan mengarahkan.

LANTAI DUA



Tulisan ini saya buat sebagai bentuk penepatan janji saya pada seseorang yang baru sempat saya tepati sekarang… saya berjalan melalui labirin panjang, kembali ke 20 Mei 2014.

Tinggal di sebuah kota yang sebenarnya tidak terlalu jauh dari pantai, membuat kamu sebenarnya bisa mendatangi tepi pantai kapan saja jika kamu mau, memandang ombak dan sunset yang menyamping, dengan sebutir es kelapa yang bisa dengan mudah kamu dapatkan kapan saja dari para penjual es kelapa disana. Lalu,  apa yang spesial dari memandang gempuran ombak kali ini? Tak ada, kecuali ketinggian tempatmu memandang ombak yang kali ini tak sepeti biasanya dan percakapanmu dengan seorang asing yang belum lama kamu kenal yang membawamu ketempat itu.

Apa yang ingin kamu nikmati dari pemandangan laut dan langit yang bersanding merdeka di garis cakrawala didepan sana? Entahlah. Satu hal yang kamu tahu, kalian menikmati suasana itu. Dengan ditemani 2 butir es kelapa muda, suasana itu resmi diperpanjang dalam hitungan sedotan demi sedotan air kelapa yang ternyata tak ingin segera kalian tandaskan. Suasana di sore itu terlalu indah untuk dilewatkan dengan cepat.

 Kata demi kata tak lama kemudian meluncur begitu saja dari mulut kalian yang selama ini lebih banyak bungkam. Dua orang yang mulanya asing mendadak berubah menjadi seperti sepasang sahabat yang menahun sudah saling mengenal satu sama lain. Bagaimana bisa? Entah. Kalian hanya perlu menikmati aliran kata demi kata sebagaimana kalian menikmati laut dan langit dari sudut ini.

Akhirnya kamu sadar, kepercayaan ternyata tidak selalu tergantung pada berapa lama kita mengenal seseorang, tidak selalu bergantung pada seberapa baik kamu mengenalnya. Ketika bahasa mutual yang tidak teridentifikasi antara dua orang itu tercipta, habislah sudah beberapa hal yang selama ini dikira orang menjadi acuan untuk terbentuknya sebuah kepercayaan. Tinggal pintar-pintar kamu, menyisakan sedikit celah untuk sedikit rasa tidak percaya yang kamu cipta sendiri untuk dia yang kamu percaya, agar kelak jikapun kepercayaan itu hancur maka akan ada sedikit rasa diselamatkan oleh sejumput ketidakpercayaan yang sebelumnya sudah kamu rekayasa.

Lantai dua, sebutan untuk dataran tinggi terbuka yang tingginya sekian meter diatas permukaan laut, dengan kursi kayu tua tempat kalian duduk yang tepat menghadap kepantai, dengan beberapa penjual es kelapa dan makanan ringan yang turut pula menemani, ditambah lagi dengan rerumputan hijau dan beberapa ekor wedhus gembel yang bebas berkelana tanpa digembala oleh pemiliknya. Sebagian orang mungkin akan berpendapat bahwa sudut ini biasa saja sebenarnya, dibutuhkan rasa keingintahuan tingkat tinggi bagi mereka untuk tahu bahwa kalian menemukan tempat ini seperti musafir yang menemukan oase ditengah gurun pasir setelah lelah berkelana. 

Laut dan langit yang jadi satu. Lagi lagi hanya itu yang kalian lihat diujung sana. Satu pemandangan konsisten yang tak akan pernah berubah sapai kapanpun dari sudut kalian memandang saat ini. Kalimat demi kalimat yang keluar dari dalam diri kalian semakin lama semakin berganti, semakin bervariasi, semakin beragam, seberagam warna senja disebelah barat sana. Jika memang kalimat itu adalah sampah masa lalu yang harus dibuang, hari ini, kamu rela menjadi tempat sampahnya, sebagaimana kamu pikir diapun rela menjadi tempat sampah yang nyaman bagimu. Jika ada yang perlu dideklarasikan dari pertemuan kali ini, maka hari ini kalian resmi menjadi tempat sampah satu sama lain. 

Mari sedikit berbicara tentang ramalan, terlepas apakah itu akan menjadi benar atau tidak. Dia akan menjadi tempat dimana kamu bisa merasa aman dan nyaman, dia akan menjadi sosok yang tiba-tiba bisa merubah wujudmu menjadi seperti seorang anak kecil berusia tidak lebih dari 6 tahun dimana kamu masih wajar untuk merengek dan bahkan mencari perlindungan. Di lain waktu, dia akan membuatmu menjadi seorang teman sebaya yang butuh berbagi dan bercerita tentang beberapa hal yang kamu alami dalam hidup, kamu bisa menangis, tertawa lebih lepas dari sebelumnya, dan bahkan memasang wajah sebodoh patrick dihadapannya kapan saja kamu mau. Di lain waktu lagi, dia akan membuatmu tampak seperti seorang dewasa yang  5 sampai 10 tahun lebih tua dari usiamu saat ini. Itu yang kamu percaya tak lama lagi akan terjadi. Entah kenapa komposisi itu terasa akan sangat adil dan menyenangkan bagimu, kamu menyebutnya dengan komposisi yang hampir sempurna.

Kamu menjadi sedikit egois. Kamu tidak perduli apakah menyenangkan baginya jika kamu tetap harus konsisten menjadi gadis pingit yang lebih parah dari seorang Cinderella, yang harus pulang tidak lebih dari jam 10 malam. Kamu tidak perduli apakah adil baginya memiliki lawan debat yang tidak pandai mendebat lagi menjengkelkan karena tidak mau kalah dan selalu berusaha menyelamatkan pendapatnya dengan kalimat “tidak harus sama kan?”. Kamu tidak perduli apakah tidak akan membosankan baginya jika kamu tampak seperti seorang gadis cerewet yang kekurangan kosakata dengan omelan yang itu-itu saja jika kalian bertemu. Kamu tidak perduli, apakah komposisi itu itu akan terasa adil dan menyenangkan baginya, apakah bisa ia menyebutnya dengan komposisi yang hampir sempurna.

 Itu yang tergambar didepan sana, ramalan yang diwakili oleh luasnya hamparan laut dan langit yang menjadi satu, tempat matamu tertuju, sekaligus hatimu dan semoga juga hatinya.

Matahari semakin tergelincir, pertemuan ini harus segera diakhiri sebagaimana malam yang tak lama lagi akan mengakhiri siang. Tik tok tik tok… Kalian berlatih membiasakan diri untuk bermain dengan waktu.

“kapan-kapan kita ke lantai dua lagi, ya?”
“Ya…”



 Jogjakarta, 02 Juli 2014.

Kamis, 08 Mei 2014

PAKET MEMILIKI KEHILANGAN



Jika ada orang yang bertanya pada saya, apa  yang paling saya takuti dalam hidup? “Kehilangan” barangkali akan menjadi jawabannya. Kata orang, kehilangan adalah suatu proses yang akan dan pasti terjadi dalam hidup seseorang. Takut atau tidak, semua orang pasti akan mengalaminya. Memiliki lalu kehilangan, ini seperti semacam siklus kehidupan yang memang wajar dan harus terjadi, jadi barangkali benar bahwa yang perlu dilakukan adalah bersiap-siap, lalu menerima. Namun sayangnya kewajaran tersebut kadang masih belum benar-benar mampu mengusir rasa ketakutan berlebih saya akan konsep ini. 

Tulisan ini sebenarnya saya buat sebagai pengingat bagi diri saya sendiri, untuk mengurangi rasa takut saya akan kehilangan segala sesuatu yang sejatinya hanya milik Tuhan. Disadari atau tidak, kadang-kadang kita justru butuh diri sendiri untuk mengingatkan.

“Ada sesuatu dalam hidup ini yang ingin terus kita miliki namun suatu saat kita sadar bahwa kita tidak kuasa untuk mempertahankannya, ia pergi dan… kita kehilangan.”

            Jika ditanya seperti apa rasanya, tentu sakit. Berkali-kali telah merasakan kehilangan pun bukan jaminan seseorang akan lantas terbiasa, kebal, dan tak lagi merasakan sakitnya kehilangan. 

Beberapa kawan pernah mengatakan pada saya bahwa mereka tidak siap jika harus kehilangan siapapun yang berarti dalam hidup mereka. Kalau boleh jujur, sayapun sama tidak siapnya dengan mereka. Namun kadang perkara kesiapan itu berada diluar perkiraan kita, setidaknya itu yang saya rasakan saat saya mengalami kehilangan terbesar dalam hidup saya, saat ayah saya pergi untuk selama-lamanya. 

Jika ditanya apakah waktu itu saya siap, tentu saya menjawab tidak. Saya bahkan sempat berdoa agar Tuhan berkenan menjalankan kehidupan dengan menghentikan putaran waktu agar saya bisa lebih lama lagi bersama ayah saya. Permintaan konyol itu semata-mata saya minta hanya karena saya merasa tidak siap jika kehilangan itu benar-benar harus terjadi dalam waktu dekat. Tapi tanpa sepengetahuan saya,  Tuhan sudah mempersiapkan diri saya untuk menerima apa yang saya pikir saya tidak siap. Buktinya saya berhasil melewatinya. Jika bagi Tuhan saya memang belum siap, tentu Tuhan tidak akan memaksa, bukankah Tuhan tidak akan menimpakan suatu musibah diluar batas kemampuan hambanya? Mampu bahkan lebih dari sekedar siap.

Jika ditanya sakit dan sedihkah rasanya? Jelas. Barangkali diantara semua anggota keluarga saya, harusnya sayalah yang paling bersedih. Saya adalah yang paling muda diantara anggota keluarga saya, berarti logikanya saya adalah orang yang paling minim menghabiskan waktu dengan ayah saya sehingga otomatis butuh waktu lebih banyak untuk menunjukkan banyak hal lagi pada beliau.

“Ada sesuatu dalam hidup ini yang ingin terus kita miliki namun suatu saat kita sadar bahwa kita tidak kuasa untuk mempertahankannya, ia pergi dan.. kita kehilangan."

Satu-satunya yang bisa menyembuhkan rasa kehilangan itu adalah menerima bahwa ini memang siklus hidup yang wajar dan pasti harus dialami oleh setiap orang. Berani memiliki, maka berani pula untuk merasa kehilangan. Karena pada dasarnya semua milik Tuhan, kita cuma dikasih pinjam. Toh bagi saya ayah saya selalu tahu kemana arah kaki saya melangkah, selalu akan marah jika saya berbuat salah, dan selalu akan tersenyum jika saya berbuat benar. Saya tidak perlu lagi menunjukkan sebuah foto kemudian bercerita kepada beliau tentang apa saja yang saya lakukan dalam foto tersebut, beliau sudah melihat sendiri salah benar tindak tanduk saya dari sana. Ayah saya bahkan kadang terasa lebih dekat dari sebelumnya, bahasanya tidak lagi melalui raga, tapi rasa.

Kehilangan seseorang sebenarnya bisa diartikan lebih luas. Bisa diartikan sebagai kehilangan seseorang untuk selama-lamanya karena mereka harus pergi meninggalkan dunia, bisa juga diartikan sebagai perginya seseorang dari dalam hati kita. Dua hal yang sebenarnya berbeda, namun juga sama. Untuk yang manapun kasusnya, sederhananya, memiliki dan kehilangan itu satu paket. Jika takut kehilangan maka berhenti saja memberanikan diri untuk memiliki.

Yogyakarta, 08 Mei 2014

Minggu, 04 Mei 2014

PULANG KE JOGJAKARTA



 Sebenarnya saya benci harus menulis ini, menulis sesuatu yang tak lama lagi berubah menjadi kenangan karena mungkin harus segera ditinggalkan. Tapi kini memang tiba saatnya saya harus menuliskannya, menuliskan salah satu bagian dalam hidup yang wajib untuk saya abadikan agar kelak tak lekang oleh zaman. Seperti yang selama ini saya yakini, tulisan adalah simbol keabadian, usianya bahkan bisa lebih panjang daripada ingatan bahkan usia orang yang membuat tulisan itu sendiri. Jadi, bagian penting dalam hidup wajib hukumnya untuk diabadikan dalam tulisan.

            Kali ini tentang Jogjakarta. Saya tidak memaksa siapapun untuk percaya bahwa saya mencintai kota ini bahkan sejak sebelum saya menetap selama 4 tahun terakhir di kota ini, saya sendiri bingung entah bagaimana bisa. Empat tahun lalu, ada sesuatu yang secara naluriah tiba-tiba mendorong saya untuk mendaftarkan diri di salah satu Universitas Negeri di Jogjakarta secara diam-diam tanpa sepengetahuan orang tua saya. Itu saya lakukan karena pada awalnya mereka tidak mengijinkan saya untuk merantau jauh sampai ke kota ini. Beruntungnya, nasib berpihak kepada saya hingga saya diterima di universitas tersebut dan orang tuapun pada akhirnya merestui pilihan saya. 

Jogjakarta itu adem ayem. Jangan dikira adem ayemnya Jogjakarta karena masyarakatnya homogen, karena nyatanya masyarakat disini sama sekali tidak homogen. Jogjakarta justru kaya akan perbedaan, orang-orang dari berbagai suku dan agama hidup disini. Ajaibnya, di kota ini perbedaan justru menciptakan kenyamanan, toleransi tak perlu dikoar-koarkan karena sudah terjunjung tinggi dengan sendirinya, pemimpin menjadi sosok yang dicintai dan bukannya ditakuti, seni membumi disetiap sudut karena dihargai setiap denting dan lekuknya, keeleganan tradisi tetap terjaga dari waktu ke waktu, kesederhanaan dan ketradisionalan tak pernah kalah dan lenyap ditelan modernisasi, pemikiran-pemikiran kritis terus tumbuh di lingkungan pendidikan yang menjamur. Jogjakarta, miniatur kekayaan Indonesia.

Sementara bagi saya secara personal, Jogjakarta adalah tempat saya menimba ilmu, tempat saya belajar memanusiakan manusia dengan keramahan orang-orangnya, tempat saya melihat sebuah pertunjukkan spektakuler hujan meteor di langit malam pantai parangkusumo, tempat saya mencapai titik tertinggi dalam hidup saya dengan menanjaki dan menyusuri lekuk gunung merbabu, tempat saya menyebut orang-orang baru yang tadinya asing sebagai keluarga, tempat saya menemukan sahabat-sahabat sejati, tempat saya bertemu secara langsung dengan band legendaris favorit saya dari jaman SD, Sheila on 7, tempat saya belajar menjadi lebih dewasa, tempat saya mengerti betapa hidup itu perlu perjuangan, namun ada saatnya untuk mengambil nafas dan menikmati moment dari satu waktu ke waktu tanpa harus setiap saat memperlakukan hidup seperti arena balap lari.

Jogjakarta, tempat saya menemukan kamu, ya, kamu. Kamu adalah Jogjakarta atau Jogjakarta adalah kamu, mana yang benar? Entahlah, bagi saya itu tidak perlu diperdebatkan karena kamu dan Jogjakarta sama-sama pernah mewakili definisi cinta dalam hati saya. Kamu menjadi bagian abadi dari kota ini, tidaklah mengherankan jika kamu tidak pernah mau meninggalkan kota ini.

Ini seperti semacam sistem kontrak, masa studi sudah berakhir, dengan demikian izin tinggal saya di kota inipun tak lama lagi akan habis. Ketika saya masih merantau di Jogjakarta, kata “Pulang” sewajarnya didefinisikan sebagai kembalinya saya ke kota asal saya tercinta. Namun mendadak kata “Pulang” memiliki makna yang fleksibel bagi saya, tolong jangan protes. Kelak ketika saya sudah berada disana, kata “Pulang” bagi saya telah berubah definisinya. “Pulang” adalah kembalinya saya ke Jogjakarta, saya pasti pulang suatu hari nanti. 

Jogjakarta, jangan usir saya dari sini, ijinkanlah saya untuk selalu pulang lagi, bila hati mulai sepi tiada terobati.

Separuh dari hati saya, saya tinggalkan di kota cinta ini.




Di salah satu sudut kota Jogjakarta,
4 Mei 2014