Tidak seorangpun manusia bisa menjalani hidup sendiri. Sudah menjadi suatu hukum alam bahwa sejak memulai kehidupan sampai dengan menutup mata seseorang tidak akan bisa hidup tanpa bantuan orang lain. Hal ini menuntut adanya interaksi antar manusia, karena faktanya kita memang butuh orang lain, terutama orang-orang yang berada disekitar kita. Dan berbagai hal kecil sampai hal besar yang mereka lakukan pada kita selama ini pastinya akan memberi arti, ada value yang terselip disana meski tidak selalu dapat disadari secara langsung, barangkali value itu terlihat ketika kita telah berada dalam dimensi waktu yang berbeda, it’s okay. Dan dari semua yang berarti, ada yang paling berarti yang bisa ku lihat sampai pada detik ini, thats why I should really thanks to these people..
1. Mama
Thanks for being the greatest mother in the world for me, terima kasih untuk selalu tidur disampingku dan meletakkan tanganmu ditubuhku ketika aku sakit, dan aku benar2 speechless ketika kau bilang barangkali saja panas ditubuhku akan mengalir ketubuhmu dengan cara itu. Terima kasih untuk cerita Bobo, Oki & Nirmala, Donal Bebek, Bona dan Rong Rong yang kau bacakan padaku ketika kau tahu aku menyukai buku-buku itu saat aku bahkan belum bisa membaca. Thanks for saying it’s okay when I said I need. Terima kasih karena selalu mengajariku untuk berdiri sendiri selama aku bisa tanpa harus selalu merepotkan dan bergantung pada orang lain. Thanks for always making me happy. You’re my everything mom, dan aku berterima kasih untuk segalanya.
2. Bapak
Thanks for being the greatest father in the world for me, terima kasih untuk selalu tidak jadi memberiku uang ketika aku menyodorkan tangan kiriku untuk menerimanya, terima kasih untuk selalu bersabar, terima kasih untuk doremifasolasido yang kau perkenalkan padaku sejak kecil dan mendengarkan apa yang bisa kumainkan sampai saat ini, terima kasih untuk kata “terima kasih” yang kau ajarkan, thanks for sometimes being so nice to my cats walaupun sebenarnya kau tidak begitu menyukainya, terima kasih mengajariku mencangkok pohon rambutan hingga aku bisa bangga melihat pohon rambutan hasil cangkokanku beberapa tahun yang lalu itu kini berdiri gagah didepan rumah. You do it well as my dad, thanks
3. My sister
Terima kasih mbak nunce ku sayang karena menjadi kakak yang menyenangkan, thank for being so nice to me, terima kasih untuk tidak pernah pelit, terima kasih untuk kucing-kucing lucu dirumah, kalo bukan mba siapa lagi yg merawat mereka? Terima kasih untuk selalu memotongkan kuku-kuku pada jemari mungilku ketika aku masih belum bisa menggunakan pemotong kuku dengan benar, terima kasih untuk menelponku, mengkhawatirkanku, lalu pulang lebih cepat dari jam kantor dengan membawa 6 kotak jus jambu untukku ketika aku mengirimi pesan bahwa aku sedang sakit dirumah dan mama terlanjur pergi ke luar kota tadi pagi, terima kasih untuk menemaniku bersama bapak sampai mama datang. Terima kasih untuk mau mendengarkan ocehan2ku atau lagu-lagu dari gitar tuaku saat listrik mati dimalam hari dan aku kesepian tak tau apa yang harus kulakukan selain memperdengarkan lagu yang mungkin sumbang itu dikamarmu, padahal aku tahu saat itu adalah waktu yang tepat bagimu jika memilih untuk tidur. Dan aku suka mendengar cerita-cerita petualanganmu menaklukan gunung ini dan gunung itu bersama teman-temanmu dimayapala, kau hebat sekali, dan sampai saat ini aku tidak bisa menjadi sepertimu.
4. My Brader
Jahil, nakal, dan tidak bisa diam, itulah kakak laki-lakiku. Bahkan hingga sampai saat ini bila aku pulang ia masih sangat sangat sering menjahiliku, yah anggap saja itu karena ia rindu padaku. Meski begitu, aku berterima kasih padanya untuk banyak hal. He is my hero, terima kasih untuk memarahi teman laki-laki jahil yang sering menggangguku dengan cacing tanah ketika aku duduk di kelas satu SD, sejak itu anak itu tidak berani menggangguku lagi. Terima kasih untuk membersihkan seragam merah putihku yang kotor saat aku jatuh terpeleset di halaman sekolah hingga membuatku menangis waktu itu. Terima kasih untuk tidak menjadi komandan menwa dirumah saat kau memang seharusnya menjadi seorang kakak saja bagiku. Terima kasih untuk mengajariku bersepeda, melepas satu persatu roda empat sepedaku hingga aku pada akhirnya benar-benar bisa mengendarainya diatas dua roda. Terima kasih sudah memperkenalkanku dengan musik, untuk bermain musik bersama, untuk lagu-lagu yang dulu menjadi familiar di telingaku dan aku masih menyukainya hingga saat ini. Tapi kau begitu cerewet dan gampang marah hingga kadang membuatku kesal -_- . Aku ingat dulu kita pernah bertengkar hebat ketika mama sedang tidak ada dirumah dan tidak ada yang melerai, terucap dengan keras dari bibirku bahwa aku menyesal memiliki kakak sepertimu, tapi kau harus tahu bahwa saat itu aku sedang berbohong, bohong besar.
5. Old man
How should I call you? When my tongue is really hard to say a word describing who you are. Aku hanya ingin berterima kasih untuk satu hal, karena kau pernah ada maka dia pun ada dan aku memilikinya dalam hidup ini. Aku tidak berterima kasih atas langkah panjang yang telah kau buat, untuk tak pernah menengok ke belakang. We’re not a part of you anymore and we don’t even need to know each other.
6. Sobat-sobat kecilku
Especially Erliani (Inay), Sylvia Humaira (Via), Pusva Rahayu Sekarwati (Ayu).
Terima kasih untuk warna warni indah di masa kecil kita, warna-warna yang tercipta itu bahkan lebih indah dari warna pelangi yang pernah kulukis diatas kertas gambarku dulu. Masa-masa itu terlalu indah, bahkan sampai saat ini pun aku masih sering berandai-andai bisa kembali ke masa itu, masa 6 tahun kebersamaan kita. Terima kasih untuk selalu tertawa bersama, menanggung resiko bersama atas segala ulah yang pernah kita perbuat, untuk menyanyi dan tampil bersama, untuk selalu kompak n teriak2 saying goodbye diatas sepeda sebelum berpisah setiap pulang sekolah, terima kasih untuk tingkah2 nyeleneh yang tak terlupakan, untuk tawa tanpa beban yang tak terbayarkan. However it was colouring my childhood, love you 4sleif
7. Acil
Usianya mungkin masih jauh diatas mamaku, tapi aku memanggilnya Acil, seperti orang-orang di lingkingan sekitarku sering memanggilnya. Beliau tetanggaku, lebih dari tetangga sebenarnya. Seorang wanita sederhana yang sudah sangat dekat dengan keluargaku jauh sebelum aku lahir ke dunia ini. Beliau juga adalah guru ngajiku, mengajariku dari mengenal huruf alif ba ta sampai aku tamat Al Qur’an di juz 30. Waktu kecil aku merasa sangat dekat dengan beliau, terima kasih untuk tidak pernah memarahiku ketika teras rumahmu kukotori dengan mainan masak-masakanku, terima kasih untuk menyediakan rumahmu sebagai pelarianku ketika aku dimarahi mama, terima kasih untuk menjaga aku dan kakakku dirumah ketika mama harus menjaga bapak yang sedang dirawat dirumah sakit. Terima kasih untuk selalu menunjukkan sebuah kesabaran atas banyak hal yang telah terjadi.
8. Mbah yang sering kutemui bersama sobat-sobat kecilku di tepi jalan.
Waktu SD, ketika pergi ke sekolah bersama sobat-sobatku, aku sering melihat mbah itu sedang membersihkan tanaman dan rumput liar dipinggir jalan dengan sebuah sepeda onthel tua tak jauh darinya. Usianya sudah sepuh sekali, kami tidak mengenalnya, namun tiap kali melewati beliau kami memanggilnya “mbaaahhh”, kemudian beliau menoleh, menjawab sembari tersenyum “nuuunn”. Dengan pekerjaan yang dilakukan bahkan di usianya yang telah lanjut, ia tetap bisa tersenyum ramah kepada semua orang, bahkan kepada anak2 tengil macam kami. Ia pun mampu tersenyum ikhlas atas apa yang harus dilakukan bahkan di usianya yang telah lanjut, terima kasih untuk menunjukkannya kepadaku, itu sebuah pelajaran.
9. Teachers
Pak Amrullah guru SD ku, thanks for being sooo patience dan selalu tersenyum dalam menghadapi ulahku dan ketiga sobatku itu di sekolah, terima kasih untuk mempercayakan banyak hal kepada kami. Pak Rakidi guru matematika SMP ku, terima kasih untuk mengajari kami banyak hal “Dengan berbagi ilmu, ilmu kita tidak akan berkurang, justru akan bertambah, buktikan saja” itu salah satu pesan beliau yang masih kuingat. Ibu Wijati, terima kasih untuk selalu mengajarkan kedisiplinan meski belum sepenuhnya bisa kuikuti sampai sekarang. Ibu Saidah, kepala SMA yang super duper tegas, ketegasan beliau benar-benar kuacungi jempol, terima kasih untuk menunjukkan cara kepemimpian itu kepada kami.
Mereka tidak memberikan suatu aba2 atau arahan, tapi contoh nyata. Saat ini kita tidak butuh lagi dengan apa yang namanya panduan, aba-aba, atau arahan yang sekedar dimulut saja, yang kita butuhkan adalah contoh nyata, tindakan yang bisa dilihat dan dijadikan teladan.
10. Keluarga besar OSIS SMANTA
Aku tidak menyangka ternyata diluar sana sulit sekali bagiku untuk menemukan tempat senyaman Osis smanta. Tempat ini terlalu nyaman, lika liku tajam didalamnya tidak membuatku terhenti, justru aku menikmatinya layaknya sedang bermain rooler coaster, berhenti pada waktunya diujung rel dengan senyum mengembang, semua karena mereka ada bersamaku. Terima kasih untuk mempercayakan banyak hal padaku saat aku bahkan tidak cukup percaya pada diriku sendiri, terima kasih untuk kakak-kakakku, ka Patria, Ka Retno, Ka Muz, Ka Saufi buntal, Ka Rory, dan kakak2 lainnya, adik2ku Fina, Ayu, Gusti, Luvi, Dina, Isnan, Jabal, Fendi, dan semua yang gak bisa kusebutin satu-satu. Dan terima kasih yang sangat amat kepada kawan-kawan seperjuanganku Adrew, Thoni, Vivi, Eza, Siska, Maretta, Tika, Rini, Rian, Septian, bagiku kalian telah menjadi lebih dari sekedar kawan, tapi saudara. Terima kasih untuk rasa nano nano yang tak terlupakan, semuanya terajut menjadi cerita indah yang akan kurindukan suatu hari nanti. Terima kasih untuk persaudaraan yang tercipta hingga detik ini, persaudaraan untuk selamanya.
11. Sahabat-sahabat SMP dan SMA
Sahabat-sahabatku di SMP Plus murung pudak, kawan2 SMAN 1 Tanjung, terima kasih untuk hadirnya kalian dalam warna-warni kehidupanku, kalian memberi banyak pelajaran tentang hidup. Sahabat-sahabat dekatku dan semua teman-teman di Ipa 2, terima kasih untuk menyelipkan aku diantara kalian, nyaman sekali rasanya berada bersama kalian, dengan kebersamaan dan tingkah-tingkah gila yang tak terlupakan. Tak perlulah kusebutkan nama kalian satu persatu, aku tahu siapa kalian bagiku dan kalian tahu siapa kalian. Janji ya, kita kawan selamanya, kita untuk slamanya.
12. Semua yang kutemui di kota Jogja.
Terima kasih untuk teman2 dan semua yang kutemui di Jogja, terima kasih untuk membuatku merasa nyaman di kota ini. Masih banyak cerita yang akan terangkai disini.
13. .........
And, this is I thank to you for being so nice, for being different than the others, for being the one whom has taken a part on the story, actually on my fairytale. For making me laugh, cry, smile without any reason, and yeah that’s crazy anyway. And also Thanks for letting me get lost, don’t know which way I should step my foot on. And I’d also have to say thanks if someday I find we’re in far away, but I wish something better is waiting us there, no matter how's the ending should be.
Thank you very much,
Jogja, 27 Desember 2011
skip to main |
skip to sidebar
Somewhere
It's my life... I'm the one who will paint it...
Laman
Selasa, 27 Desember 2011
Rabu, 07 Desember 2011
Be Comfortable, Feel Like Home, and That's Your Home
Well I'm going home,
Back to the place where I belong,
And where your love has always been enough for me.
(Chris Daughtry)
Mama said home is where the heart is
When I left that town
I made it all the way to West Virginia
And that's where my heart found
(Lady Antabellum)
I’m On My Way
I’m On My Way
Home Sweet Home
Tonight, Tonight
I’m On My Way
Just Set Me Free
Home Sweet Home
(Carrie Underword)
Let me go home
I’m just too far from where you are
I wanna come home
(Michael Buble)
Lebih baik disini
rumah kita sendiri
segala nikmat dan anugerah
yang kuasa
semuanya .. ada disini
rumah kita ...
(Indonesian Voice)
Home, tiba-tiba saja saya ingin menulis tentang itu ketika teringat dengan rumah saya yang berada di kampung halaman nan jauh di mato. Beberapa kutipan kalimat diatas mungkin hanyalah sedikit dari sekian banyak contoh lagu yang bertemakan rumah, hasil sentuhan pena dan alunan nada dari sang musisi yang entah bagaimana perasaannya ketika ia menciptakan kalimat-kalimat tersebut dalam bentuk lagu.
Kebanyakan dari lirik lagu tersebut menunjukkan bahwa mereka ingin pulang ke suatu tempat yang mereka sebut dengan rumah, I’m going home back to the place where I belong, home is where the heart is, home sweet home, let me go home, dan Lebih baik disini rumah kita sendiri, demikian penggalan-penggalan lirik dari beberapa lagu yang menyatakan bahwa penulisnya ingin pulang ke suatu tempat berarti yang disebut dengan rumah, rumah seperti apa yang mereka maksudkan? kenapa harus ke rumah? Mungkin jawabannya adalah karena setiap orang pasti memiliki rumah...
Generally, orang menganggap bahwa rumah adalah suatu tempat yang bisa membuat kita merasa nyaman berada disana, saya juga setuju dengan kalimat itu. Sebagaimana orang lain pada umumnya, saya bisa mengatakan bahwa tempat yang saya tinggali bersama keluarga saya semenjak saya lahir itu adalah rumah, saya bisa mengatakan bangunan yang ditandai dengan surat kepemilikan resmi yang dimiliki oleh keluarga saya itu sebagai rumah. Tapi sebenarnya bukan karena saya dibesarkan disitu selama belasan tahun, dan bukan karena itu sebuah bangunan yang ditandai dengan surat kepemilikan resmi itulah maka saya mengatakan tempat itu sebagai rumah, bukan itu alasannya, tapi karena tempat itu bisa memberikan rasa nyaman bagi saya pribadi ketika saya berada didalamnya, dengan kasih sayang dari keluarga saya tentunya. Disisi lain, mungkin saja saudara saya mengatakan bahwa tempat itu bukanlah rumah baginya, dan itu sah-sah saja ketika ia memang merasa tidak nyaman berada disana.
Home is not always a house. Memaknai kata rumah yang sesungguhnya tidak harus selalu dilihat dalam bentuk bangunan reyot, megah, atau mungkin bergaya eropa yang bisa dilihat secara fisik dan ditandai dengan kepemilikan resmi diatas kertas secara sah. Lebih dari itu, bagi saya memaknai rumah yang sesungguhnya bukan dengan cara melihat, tetapi merasakan. Merasakan hal-hal yang mungkin tidak bisa kita rasakan ditempat lain. Ketika kita merasa tidak nyaman berada didalam suatu tempat yang bahkan secara kepemilikan sah sebagai milik kita, maka bagaimanapun tempat itu bukanlah rumah, itu hanya tempat tinggal, atau mungkin persinggahan karena mungkin kita tidak akan selamanya berada disana.
By money, you can build a a house but not a home. Kita perlu bekerja keras mengumpulkan uang untuk membangun sebuah bangunan yang disini dikatakan sebagai House, tapi barangkali kita bahkan tidak perlu uang sepeserpun untuk bisa memiliki tempat yang bisa membuat kita merasa nyaman yang disini disebut sebagai Home. Tergantung cara masing-masing orang saja merasakannya hingga ia dapat memiliki sebuah rumah (home).
Mungkin rumah itu adalah gunung dan hutan bagi para pecinta alam dimana mereka merasa nyaman ketika masih bisa berdamai dengan alam saat manusia lain justru sibuk mengeksploitasi alam secara besar-besaran, mungkin rumah itu adalah jalanan bagi sekelompok anak punk berbaju hitam dengan rambut mohawk dimana mereka bisa nyaman menjadi diri mereka sendiri walau harus tampak seperti alien dimata masyarakat, mungkin rumah itu adalah rumah kardus tanpa sekat dibawah kolong jembatan bagi para pemulung dimana mereka bisa merasakan kebersamaan makan bersama dengan pemulung lainnya disiang hari yang terik ketika kota terlalu sibuk dengan hiruk pikuknya, mungkin rumah itu adalah studio musik bagi para musisi dimana alat musik setia berkawan dengannya hingga membuat dirinya merasa nyaman menumpahkan apa yang ia rasakan dalam lagu-lagu sederhana, mungkin rumah itu adalah sekretariat organisasi bagi para aktivis dimana kesibukannya dalam melakukan hal-hal yang bermanfaat bagi orang lain dapat membuat mereka merasa senang, mungkin pula rumah itu adalah setiap kota yang berbeda bagi para traveler yang bahkan mungkin merasa lebih nyaman hidup secara nomaden, berpindah dari satu tempat ke tempat lain untuk menikmati ragam budaya dan segala jenis ciptaan Tuhan, mungkin pula rumah itu adalah luasnya lautan biru bagi para pelayar dimana mereka merasa nyaman menjelajahi samudera dengan menantang angin dan badai diatas ombak.
Setiap tempat, gunung, hutan, laut, jalan raya, bangjo, kost, sekret, setiap tempat bisa menjadi rumah bagi siapa saja. Karena itu, harusnya tidak ada alasan untuk mengatakan bahwa kita tidak memiliki rumah (home), pasti ada suatu tempat yang bisa membuat kita merasa nyaman, dimanapun itu. Entah karena kasih sayang yang ada didalamnya, entah karena tempat itu selalu dapat membuat kita tertawa, entah karena tempat itu selalu bisa membuat kita bersyukur, entah karena disana kita bisa menjadi diri kita sendiri, entah karena tempat itu selalu menganggap kita ada, dan entah karena apa saja.
Personally, bagi saya kita tidak selalu butuh sebuah tempat dalam bentuk bangunan untuk bisa disebut sebagai rumah yang sesungguhnya, atau jikapun kita memilikinya maka yang menjadi hal paling penting adalah apa yang ada disana hingga mampu membuat kita merasa comfortable berada didalamnya, merasa nyaman ketika harus menjadikannya sebagai tempat yang dituju ketika ingin pulang. Namun jika kita jauh darinya dan hal itu tidak memungkinkan kita untuk selalu kesana, tidak menjadi masalah karena kita tetap bisa memiliki rumah, dimanapun yang kita mau. Kita selalu memiliki tempat untuk pulang ketika tempat itu nyaman untuk kita, dan itupun adalah rumah, rumah yang juga sesungguhnya.
I'm always on the way back home...
Jogja, 07 Desember 2011
Back to the place where I belong,
And where your love has always been enough for me.
(Chris Daughtry)
Mama said home is where the heart is
When I left that town
I made it all the way to West Virginia
And that's where my heart found
(Lady Antabellum)
I’m On My Way
I’m On My Way
Home Sweet Home
Tonight, Tonight
I’m On My Way
Just Set Me Free
Home Sweet Home
(Carrie Underword)
Let me go home
I’m just too far from where you are
I wanna come home
(Michael Buble)
Lebih baik disini
rumah kita sendiri
segala nikmat dan anugerah
yang kuasa
semuanya .. ada disini
rumah kita ...
(Indonesian Voice)
Home, tiba-tiba saja saya ingin menulis tentang itu ketika teringat dengan rumah saya yang berada di kampung halaman nan jauh di mato. Beberapa kutipan kalimat diatas mungkin hanyalah sedikit dari sekian banyak contoh lagu yang bertemakan rumah, hasil sentuhan pena dan alunan nada dari sang musisi yang entah bagaimana perasaannya ketika ia menciptakan kalimat-kalimat tersebut dalam bentuk lagu.
Kebanyakan dari lirik lagu tersebut menunjukkan bahwa mereka ingin pulang ke suatu tempat yang mereka sebut dengan rumah, I’m going home back to the place where I belong, home is where the heart is, home sweet home, let me go home, dan Lebih baik disini rumah kita sendiri, demikian penggalan-penggalan lirik dari beberapa lagu yang menyatakan bahwa penulisnya ingin pulang ke suatu tempat berarti yang disebut dengan rumah, rumah seperti apa yang mereka maksudkan? kenapa harus ke rumah? Mungkin jawabannya adalah karena setiap orang pasti memiliki rumah...
Generally, orang menganggap bahwa rumah adalah suatu tempat yang bisa membuat kita merasa nyaman berada disana, saya juga setuju dengan kalimat itu. Sebagaimana orang lain pada umumnya, saya bisa mengatakan bahwa tempat yang saya tinggali bersama keluarga saya semenjak saya lahir itu adalah rumah, saya bisa mengatakan bangunan yang ditandai dengan surat kepemilikan resmi yang dimiliki oleh keluarga saya itu sebagai rumah. Tapi sebenarnya bukan karena saya dibesarkan disitu selama belasan tahun, dan bukan karena itu sebuah bangunan yang ditandai dengan surat kepemilikan resmi itulah maka saya mengatakan tempat itu sebagai rumah, bukan itu alasannya, tapi karena tempat itu bisa memberikan rasa nyaman bagi saya pribadi ketika saya berada didalamnya, dengan kasih sayang dari keluarga saya tentunya. Disisi lain, mungkin saja saudara saya mengatakan bahwa tempat itu bukanlah rumah baginya, dan itu sah-sah saja ketika ia memang merasa tidak nyaman berada disana.
Home is not always a house. Memaknai kata rumah yang sesungguhnya tidak harus selalu dilihat dalam bentuk bangunan reyot, megah, atau mungkin bergaya eropa yang bisa dilihat secara fisik dan ditandai dengan kepemilikan resmi diatas kertas secara sah. Lebih dari itu, bagi saya memaknai rumah yang sesungguhnya bukan dengan cara melihat, tetapi merasakan. Merasakan hal-hal yang mungkin tidak bisa kita rasakan ditempat lain. Ketika kita merasa tidak nyaman berada didalam suatu tempat yang bahkan secara kepemilikan sah sebagai milik kita, maka bagaimanapun tempat itu bukanlah rumah, itu hanya tempat tinggal, atau mungkin persinggahan karena mungkin kita tidak akan selamanya berada disana.
By money, you can build a a house but not a home. Kita perlu bekerja keras mengumpulkan uang untuk membangun sebuah bangunan yang disini dikatakan sebagai House, tapi barangkali kita bahkan tidak perlu uang sepeserpun untuk bisa memiliki tempat yang bisa membuat kita merasa nyaman yang disini disebut sebagai Home. Tergantung cara masing-masing orang saja merasakannya hingga ia dapat memiliki sebuah rumah (home).
Mungkin rumah itu adalah gunung dan hutan bagi para pecinta alam dimana mereka merasa nyaman ketika masih bisa berdamai dengan alam saat manusia lain justru sibuk mengeksploitasi alam secara besar-besaran, mungkin rumah itu adalah jalanan bagi sekelompok anak punk berbaju hitam dengan rambut mohawk dimana mereka bisa nyaman menjadi diri mereka sendiri walau harus tampak seperti alien dimata masyarakat, mungkin rumah itu adalah rumah kardus tanpa sekat dibawah kolong jembatan bagi para pemulung dimana mereka bisa merasakan kebersamaan makan bersama dengan pemulung lainnya disiang hari yang terik ketika kota terlalu sibuk dengan hiruk pikuknya, mungkin rumah itu adalah studio musik bagi para musisi dimana alat musik setia berkawan dengannya hingga membuat dirinya merasa nyaman menumpahkan apa yang ia rasakan dalam lagu-lagu sederhana, mungkin rumah itu adalah sekretariat organisasi bagi para aktivis dimana kesibukannya dalam melakukan hal-hal yang bermanfaat bagi orang lain dapat membuat mereka merasa senang, mungkin pula rumah itu adalah setiap kota yang berbeda bagi para traveler yang bahkan mungkin merasa lebih nyaman hidup secara nomaden, berpindah dari satu tempat ke tempat lain untuk menikmati ragam budaya dan segala jenis ciptaan Tuhan, mungkin pula rumah itu adalah luasnya lautan biru bagi para pelayar dimana mereka merasa nyaman menjelajahi samudera dengan menantang angin dan badai diatas ombak.
Setiap tempat, gunung, hutan, laut, jalan raya, bangjo, kost, sekret, setiap tempat bisa menjadi rumah bagi siapa saja. Karena itu, harusnya tidak ada alasan untuk mengatakan bahwa kita tidak memiliki rumah (home), pasti ada suatu tempat yang bisa membuat kita merasa nyaman, dimanapun itu. Entah karena kasih sayang yang ada didalamnya, entah karena tempat itu selalu dapat membuat kita tertawa, entah karena tempat itu selalu bisa membuat kita bersyukur, entah karena disana kita bisa menjadi diri kita sendiri, entah karena tempat itu selalu menganggap kita ada, dan entah karena apa saja.
Personally, bagi saya kita tidak selalu butuh sebuah tempat dalam bentuk bangunan untuk bisa disebut sebagai rumah yang sesungguhnya, atau jikapun kita memilikinya maka yang menjadi hal paling penting adalah apa yang ada disana hingga mampu membuat kita merasa comfortable berada didalamnya, merasa nyaman ketika harus menjadikannya sebagai tempat yang dituju ketika ingin pulang. Namun jika kita jauh darinya dan hal itu tidak memungkinkan kita untuk selalu kesana, tidak menjadi masalah karena kita tetap bisa memiliki rumah, dimanapun yang kita mau. Kita selalu memiliki tempat untuk pulang ketika tempat itu nyaman untuk kita, dan itupun adalah rumah, rumah yang juga sesungguhnya.
I'm always on the way back home...
Jogja, 07 Desember 2011
Selasa, 22 November 2011
Jumat, 04 November 2011
THIS IS ME ON MY BIRTHDAY
Sampai saat ini, saya masih tidak tau bagaimana cara terbaik untuk memaknai sebuah hari kelahiran di setiap tahun, harus sedih ataukah bahagia. Kebanyakan orang mungkin akan bahagia di hari ulang tahun mereka, bersyukur atas udara yang masih bisa dirasakan hingga di usia ini, bersyukur atas rangkaian moment menyenangkan yang telah terjadi atau moment melelahkan yang berhasil dilewati semenjak pertama kali hadir di dunia hingga di usia ini, bersyukur karena orang-orang yang kita kenal belum kehabisan cara untuk menunjukkan perhatian dan sayang mereka entah dengan ucapan selamat, hadiah, atau doa untuk kita di suatu malam yang bahkan tak terdengar ditelinga kita, dan bersyukur untuk puluhan atau mungkin ratusan alasan lain lagi.
Saya juga begitu, moment ulang tahun lebih banyak membuat saya gembira sebenarnya. Namun layaknya sebuah koin, ada dua sisi sudut pandang pula yang mungkin harus kita miliki disetiap kita mengawali usia yang baru. Turut berduka cita, bertambahnya usia berarti berkurang pula jatah hidup kita di dunia ini. Tidak ada yang salah dengan kalimat itu bukan? Tidak salah mengingat setiap orang memang berjalan menuju kematian, pertambahan langkah berarti pemendekan jarak menuju tujuan, dan masa lalu menjadi semakin jauh tertinggal di belakang.
Di tiap ulang tahun pula saya sadar betul bahwa saya sudah semakin jauh meninggalkan masa kecil saya, usia saya telah bertambah menjadi lebih dewasa persis seperti apa yang pernah saya inginkan di kala itu. Waktu itu saya membaca majalah Bobo buku favorit saya, ada suatu kalimat di buku itu yang menyebutkan “Jika saat ini kamu merasa ingin cepat menjadi dewasa, bersenang-senanglah dan puaskan dirimu dulu saat ini, sebab di usia dewasa kamu mungkin akan sangat rindu menjadi kamu yang sekarang”,tidak seperti dulu, kali ini saya benar-benar harus mempercayai kalimat itu, karena faktanya saya memang rindu, rindu sekali memiliki wajah bebas dan tanpa beban seperti saat itu, rindu akan masa lalu yang semakin jauh tertinggal di belakang.
Tapi inilah misteri waktu yang sebenarnya, ia terus berjalan. Mesin waktu dalam film Doraemon yang bisa mengembalikan kita ke masa lalu atau melangkah lebih cepat ke masa depan pun masih diyakini oleh banyak orang sebagai suatu kemustahilan. Mungkin yang bisa kita lakukan adalah menyadari dimana kita berdiri saat ini, dan menyadari bahwa kita tak akan pernah bisa berjalan mundur juga berjalan lebih cepat dari saat ini, dimana kita hanya dapat melihat masa lalu jika menengok ke belakang, dan melihat masa depan (meski masih samar) jika mengembalikan pandangan yang seharusnya sambil terus berjalan kedepan.
Salah satu cara menikmati hidup, menikmati moment saat menjalani hidup dari satu waktu ke waktu.
And this is me on my birthday, ingin menikmati tiap moment saat menjalani hidup di usia ini..
Thanks God for everything..
Jogja, 04 November 2011
Saya juga begitu, moment ulang tahun lebih banyak membuat saya gembira sebenarnya. Namun layaknya sebuah koin, ada dua sisi sudut pandang pula yang mungkin harus kita miliki disetiap kita mengawali usia yang baru. Turut berduka cita, bertambahnya usia berarti berkurang pula jatah hidup kita di dunia ini. Tidak ada yang salah dengan kalimat itu bukan? Tidak salah mengingat setiap orang memang berjalan menuju kematian, pertambahan langkah berarti pemendekan jarak menuju tujuan, dan masa lalu menjadi semakin jauh tertinggal di belakang.
Di tiap ulang tahun pula saya sadar betul bahwa saya sudah semakin jauh meninggalkan masa kecil saya, usia saya telah bertambah menjadi lebih dewasa persis seperti apa yang pernah saya inginkan di kala itu. Waktu itu saya membaca majalah Bobo buku favorit saya, ada suatu kalimat di buku itu yang menyebutkan “Jika saat ini kamu merasa ingin cepat menjadi dewasa, bersenang-senanglah dan puaskan dirimu dulu saat ini, sebab di usia dewasa kamu mungkin akan sangat rindu menjadi kamu yang sekarang”,tidak seperti dulu, kali ini saya benar-benar harus mempercayai kalimat itu, karena faktanya saya memang rindu, rindu sekali memiliki wajah bebas dan tanpa beban seperti saat itu, rindu akan masa lalu yang semakin jauh tertinggal di belakang.
Tapi inilah misteri waktu yang sebenarnya, ia terus berjalan. Mesin waktu dalam film Doraemon yang bisa mengembalikan kita ke masa lalu atau melangkah lebih cepat ke masa depan pun masih diyakini oleh banyak orang sebagai suatu kemustahilan. Mungkin yang bisa kita lakukan adalah menyadari dimana kita berdiri saat ini, dan menyadari bahwa kita tak akan pernah bisa berjalan mundur juga berjalan lebih cepat dari saat ini, dimana kita hanya dapat melihat masa lalu jika menengok ke belakang, dan melihat masa depan (meski masih samar) jika mengembalikan pandangan yang seharusnya sambil terus berjalan kedepan.
Salah satu cara menikmati hidup, menikmati moment saat menjalani hidup dari satu waktu ke waktu.
And this is me on my birthday, ingin menikmati tiap moment saat menjalani hidup di usia ini..
Thanks God for everything..
Jogja, 04 November 2011
Sabtu, 29 Oktober 2011
Dunia kadang bekerja dalam proses-proses yang tidak sepenuhnya dapat kita pahami
Dunia kadang bekerja dalam proses-proses yang tidak sepenuhnya dapat kita pahami.
Mengutip dari status akun facebook yang pernah dibuat oleh kakak laki-laki saya pada suatu hari, entah darimana ia mendapatkan kalimat itu, tak perlulah saya memikirkannya.
Kadang dunia memang tampak gamang dan proses-proses yang terjadi didalamnya tidak cukup untuk membuat kita mengerti. Bahkan mungkin terlihat tragis ketika suatu proses yang kita harapkan tidak berjalan seperti apa yang kita inginkan, persis seperti apa yang bisa kita pahami. Jika sudah seperti itu, lantas kita mungkin mengutuk dunia dan semua proses yang terjadi didalamnya, kemudian tanpa sadar membuat lingkaran setan sambil melanjutkan hidup dengan bayang-bayang sebuah proses dimasa lalu yang belum kita pahami hingga saat ini.
Dunia kadang bekerja dalam prosesnya yang tidak dapat kita pahami, tapi satu hal yang pasti bahwa ia tidak pernah salah. Kesalahan terbesar kita adalah tidak mau memahaminya hingga kita selalu menganggap ia salah. Cobalah untuk memahami, bukan hanya meminta untuk dipahami. Percayalah bahwa segala sesuatu terjadi karena suatu alasan, ia tidak terjadi begitu saja. Semua orang berubah agar kita bisa belajar untuk melepaskannya menjadi apa yang ia inginkan, orang berbuat salah agar kita bisa belajar untuk memaafkannya dengan bijak, kita pernah percaya kebohongan dari orang lain agar suatu hari kita bisa percaya pada diri sendiri, kita pernah ditampar kesedihan yang membuat kita jatuh agar kesedihan yang mungkin akan datang dilain waktu tidak cukup kuat untuk menjatuhkan kita lagi, kita pernah gagal agar kita tahu bagaimana rasanya sukses, tanpa kegagalan kita tidak akan pernah bisa menggambarkan sebuah kesuksesan, kita pernah terlambat menyadari betapa spesialnya seseorang setelah kehilangannya agar kita tidak mengulang keterlambatan yang sama, kemudian belajar untuk lebih menghargai dan menjaga siapapun yang ada disisi kita nanti untuk tetap tinggal.
Dunia kadang bekerja dalam proses-proses yang tidak sepenuhnya dapat kita pahami, biarkan saja karena ia tidak salah. Jikapun terasa sakit, itu hanya karena kita tidak mau memahami.
Jogja, 30 oktober 2011
Mengutip dari status akun facebook yang pernah dibuat oleh kakak laki-laki saya pada suatu hari, entah darimana ia mendapatkan kalimat itu, tak perlulah saya memikirkannya.
Kadang dunia memang tampak gamang dan proses-proses yang terjadi didalamnya tidak cukup untuk membuat kita mengerti. Bahkan mungkin terlihat tragis ketika suatu proses yang kita harapkan tidak berjalan seperti apa yang kita inginkan, persis seperti apa yang bisa kita pahami. Jika sudah seperti itu, lantas kita mungkin mengutuk dunia dan semua proses yang terjadi didalamnya, kemudian tanpa sadar membuat lingkaran setan sambil melanjutkan hidup dengan bayang-bayang sebuah proses dimasa lalu yang belum kita pahami hingga saat ini.
Dunia kadang bekerja dalam prosesnya yang tidak dapat kita pahami, tapi satu hal yang pasti bahwa ia tidak pernah salah. Kesalahan terbesar kita adalah tidak mau memahaminya hingga kita selalu menganggap ia salah. Cobalah untuk memahami, bukan hanya meminta untuk dipahami. Percayalah bahwa segala sesuatu terjadi karena suatu alasan, ia tidak terjadi begitu saja. Semua orang berubah agar kita bisa belajar untuk melepaskannya menjadi apa yang ia inginkan, orang berbuat salah agar kita bisa belajar untuk memaafkannya dengan bijak, kita pernah percaya kebohongan dari orang lain agar suatu hari kita bisa percaya pada diri sendiri, kita pernah ditampar kesedihan yang membuat kita jatuh agar kesedihan yang mungkin akan datang dilain waktu tidak cukup kuat untuk menjatuhkan kita lagi, kita pernah gagal agar kita tahu bagaimana rasanya sukses, tanpa kegagalan kita tidak akan pernah bisa menggambarkan sebuah kesuksesan, kita pernah terlambat menyadari betapa spesialnya seseorang setelah kehilangannya agar kita tidak mengulang keterlambatan yang sama, kemudian belajar untuk lebih menghargai dan menjaga siapapun yang ada disisi kita nanti untuk tetap tinggal.
Dunia kadang bekerja dalam proses-proses yang tidak sepenuhnya dapat kita pahami, biarkan saja karena ia tidak salah. Jikapun terasa sakit, itu hanya karena kita tidak mau memahami.
Jogja, 30 oktober 2011
Sebuah Keterlambatan
Kadang kita baru menyadari betapa spesialnya seseorang, sesuatu, atau apapun itu setelah ia meninggalkan kita. Kutipan kalimat itu seringkali kita dengar, bahkan terlalu terlalu sering karena faktanya banyak orang yang pernah merasakannya.
Pertanyaan yang timbul kemudian adalah kenapa semuanya harus menjadi sedemikian terlambat, kenapa harus menunggu ia pergi terlebih dulu baru kita menyadari betapa ia ternyata spesial dalam hidup kita. Kenapa harus menunggu kehilangan baru kita sadar bahwa kita membutuhkannya. Tampak seperti sebuah kesalahan besar, lagi-lagi akan menyebabkan timbulnya penyesalan, penyesalan, dan penyesalan. Disaat seperti itu tiba-tiba saja kita menjadi rapuh, berharap agar waktu mau berputar kembali dan kita berjanji akan menjaganya untuk tetap disini, namun sayang waktu tak pernah bersahabat dengan kita untuk itu.
Ya, kenapa kita bisa sedemikian terlambat?
Itu kesalahan, dan tidak untuk diulang kembali.
Pertanyaan yang timbul kemudian adalah kenapa semuanya harus menjadi sedemikian terlambat, kenapa harus menunggu ia pergi terlebih dulu baru kita menyadari betapa ia ternyata spesial dalam hidup kita. Kenapa harus menunggu kehilangan baru kita sadar bahwa kita membutuhkannya. Tampak seperti sebuah kesalahan besar, lagi-lagi akan menyebabkan timbulnya penyesalan, penyesalan, dan penyesalan. Disaat seperti itu tiba-tiba saja kita menjadi rapuh, berharap agar waktu mau berputar kembali dan kita berjanji akan menjaganya untuk tetap disini, namun sayang waktu tak pernah bersahabat dengan kita untuk itu.
Ya, kenapa kita bisa sedemikian terlambat?
Itu kesalahan, dan tidak untuk diulang kembali.
Minggu, 16 Oktober 2011
Aku menjadi sarjana, itu cita-cita mamaku
Jika ada yang bertanya padaku tentang mamaku, maka aku akan menjawab "My Mom is my everything". Ya, mamaku adalah segalanya. Bagiku, ia bisa menjadi apapun dalam hidupnya. Jika sudah dewasa nanti aku bahkan tidak yakin apakah aku bisa menjadi sehebat mama. Masa lalu dan masa kecilnya yang pahit membuat mamaku tumbuh menjadi wanita yang tegar, dan bertekad bahwa anaknya tidak boleh sampai mengalami hal sulit seperti yang pernah ia alami dulu.
Mamaku adalah tipe orang yang berpikir panjang untuk masa depan, dan ia tidak pernah main-main dengan arti sebuah pendidikan, cita-cita terbesarnya adalah menjadikan ketiga anaknya sebagai sarjana, entah kenapa, mungkin karena menurutnya pendidikan adalah salah satu hal yang akan menyelamatkan masa depan kami nanti, ketika semua orang mau tidak mau harus bersaing semakin ketat dengan ijazah masing-masing yang mereka bawa.
Hal itu ia buktikan dengan betapa tanggapnya ia dalam berbagai hal-hal yang berkaitan dengan pendidikan kami, bahkan dalam hal sekecil apapun. Dari dulu, ketika hari pembagian rapor tiba, mamalah yang paling sering mengambilkan rapor. Dan jika dari kejauhan aku melihat guruku telah masuk dalam ruangan, aku tidak perlu begitu khawatir apakah mama sudah berada di ruang pembagian rapor itu atau belum, seperti yang sering kali dikhwatirkan oleh sebagian temanku tentang orang tua mereka. Didalam hati, aku yakin mama pasti datang, bahkan mungkin ia menjadi yang paling awal tiba disana. Mama bilang pembagian rapor itu penting, dan aku tahu bahwa ia akan meninggalkan semua aktivitasnya dihari itu demi segera mengetahui hasil raporku.
Kini aku telah duduk dibangku kuliah dengan predikat seorang mahasiswa, sebuah predikat yang baginya harus dimiliki oleh ketiga anaknya. Masih teringat setahun yang lalu, aku sempat berpikir bahwa mamaku adalah seorang yang egois, ketika dia menyatakan bahwa aku tidak boleh kuliah di universitas pilihanku di kota Jogja. Letaknya yang jauh dan berada diluar pulau membuat mama tampak berat untuk melepasku apalagi mengingat aku adalah anak bungsu, sehingga ia selalu berkata TIDAK untuk pilihanku itu. Namun ketika aku diam-diam mengikuti jalur PMDK dan ternyata diterima di universitas itu, tak kusangka, mamapun akhirnya berkata iya. Kadang tersirat ragu diwajahnya, namun aku berulangkali meyakinkan bahwa aku akan baik-baik saja disana, ia pun tersenyum sambil berkata "Orang lain bisa melepas anaknya pergi jauh untuk mengejar pendidikan, mamapun belajar untuk bisa, dan pasti bisa!"
Ketika hari dimana aku harus pergi ke Jogja tiba, ia mengantarku ke bandara, aku akan pergi sendiri ke Jogja dan ia tidak bisa menemaniku ke kota pelajar itu karena ada urusan yang lebih penting yang harus ia urus. Tidak banyak yang kami bicarakan selama di bandara, sesekali ia hanya mengulang nasehat yang sudah berkali-kali disampaikannya di rumah bersama bapak, agar aku bisa menjaga diri dengan baik disana. Ketika tiba saatnya aku harus check in, dipeluk dan diciumnya keningku. Seperti yang kukatakan, mamaku adalah orang yang kuat, ia tidak akan menangis melepasku, meski aku tahu dari raut wajahnya ada kesedihan, ada kecemasan, ada kekhawatiran, dan ada pula kenyataan yang harus ia terima, bahwa putri terkecilnya kini telah beranjak dewasa.
Kedua kakakku telah menjadi sarjana, dan kini tugasku adalah berusaha untuk menjadi seperti mereka. Tunggulah saatnya ma, suatu hari mama akan tersenyum bangga melihatku menggenapi cita-cita mama.
Jogja, April 2011.
Diikutsertakan dalam lomba Kartini Muda Indonesia, HONDA.
Alhamdulillah.. belum menang, heheee..
Total Tayangan Halaman
Lencana Facebook
Lencana Facebook
About this blog
welcome to my blog...
welcome to my words...
welcome to my world...^^
welcome to my words...
welcome to my world...^^
That's who I am...
Somewhere
This is who I am
- Endah Tri Wahyuni
- A little girl in a big world. A dreamer. Love music, travelling, writing, reading, skygazing, firework, beach, mountain. Unbreakable. Mistaken. Careless. Moody. Strong enough. Friendly. Have so much to be thankfull for. Deserve to be happy. Best daughter wanna be.
Labels
- Family (4)
- Friendship (5)
- Indonesia (3)
- Jurnalism (3)
- Love (17)
- My Birthday (3)
- My Mind and Soul (37)
- sirius (1)
- Travelling (7)
Entri Populer
-
Dewi Lestari yang dikenal dengan nama pena Dee adalah salah satu penulis favorit saya. Yah, mungkin belum cukup list bacaan saya untuk dik...
-
Hmmm... ngomongin band favorit Indonesia, omonganku gak bakalan jauh-jauh dari yang namanya Sheila On 7. Buat aku, Sheila on 7 adalah ...
-
“Kamu hanya butuh waktu. Luka dibadan saja butuh waktu untuk sembuh.” Kata seorang sahabat dalam perbincangan kami pada suatu malam...
-
Tadi pagi, di sela-sela sarapan sebelum berangkat ke kantor, tidak sengaja tangan saya yang sedang memegang remote control menemukan channe...
-
Tiada yang mengerti, dan mungkin diapun tidak memahami, betapa tidak nyamannya matamu memandang kepingan-kepingan kendi kalian yang kini ...
-
"Dunia adalah sebuah buku, dan anda yang tidak melakukan travelling kemana-mana hanya membaca satu halaman saja." (Sa...
-
Sebenarnya cukup terlambat jika baru sekarang saya menuliskan cerita perjalanan terbaru saya bersama teman-teman Lepo mania ke Puerto Rico...
-
I know you're somewhere out there Somewhere far away I want you back I want you back My neighbors think I'm crazy But they don...
-
Tahun ini Hima Fisika FMIPA UNY kembali menyuguhkan rentetan acara dan lomba jurnalistik dalam Pekan Jurnalistik Fisika (PJF). Kali ini Pe...
-
Beberapa tahun yang lalu, saya pernah menceritakan tentang sebuah kampung kepada seseorang. Saya bercerita tentang bagaimana kampung it...
Thanks
Thanks for inviting my blog ! ^^
Pengikut
Diberdayakan oleh Blogger.






