Laman


Kamis, 25 Oktober 2012

THINGS TO LEARN ON THE MOUNTAIN



Itu adalah kali pertamanya saya mendaki gunung, mendaki gundukan tanah dengan puncak ketinggian 3142 meter diatas permukaan laut di pulau Jawa ini, kenalkan... Merbabu namanya. Pendakian ini sekaligus mencoret satu nomor yang tertera dalam daftar “Things To Do Before I Die” yang saya punya, tanda telah terlaksana, Alhamdulillah.  Sudah sejak beberapa tahun yang lalu saya ingin mendaki gunung, entah kenapa, mungkin karena saya ingin menjadi seperti kakak saya yang sempat terlalu mencinta alam pada masa mudanya, atau lebih karena saya ingin menyaksikan terbit dan tenggelamnya matahari di garis horizon, atau merasakan  sensasi berada di negeri atas awan, mengiring awan putih yang berarak di siang hari, mendekat dengan langit, lalu memetik bintang saat malam datang. Ya, semua alasan itu bisa jadi benar.

Bersama teman-teman komunitas pecinta alam di kampus, sayapun akhirnya memberanikan diri untuk mewujudkan satu keinginan ini. Setapak demi setapak kaki ini mulai melangkah, semakin lama semakin keatas, lelah, sambil terus mencari tahu sensasi apa yang membuat kakak saya dulu betah dengan dunianya yang semacam ini, sensasi apa yang membuat  orang-orang yang sesekali kami temui disepanjang jalan menuju puncak ini terus semangat mendaki, sensasi apa yang membuat Sabar Gorky, seorang tuna daksa asal Indonesia bisa terus mendaki hingga berhasil mencapai  puncak Elbrus di Rusia.

Mendaki gunung ternyata memang cukup menyenangkan, sekaligus melelahkan, apalagi untuk orang yang belum berpengalaman seperti saya, sewajarnya kata lelah mungkin lebih mendominasi pikiran saya ditengah pendakian itu. Tapi untuk orang-orang yang sudah berpengalaman dan sudah mendapatkan chemistry dengan yang namanya pendakian, lelah mungkin sudah tidak artinya, tertutupi dengan sensasi menyenangkan, menantang, atau apalah namanya yang jauh lebih banyak mendominasi pikiran mereka ketimbang kata lelah. 

Seperti yang saya ceritakan tadi, disepanjang jalan menuju puncak Merbabu kami bertemu dengan banyak pendaki, ada yang sama-sama sedang naik namun ada juga yang sedang menuruni gunung.
“Keatas masih jauh mas/mba?”
“Enggak, sedikit lagi kok, semangat!”
begitulah salah satu jenis percakapan yang sering saya dengar dan sesekali juga saya alami ketika berpapasan dengan pendaki lain, entah pendaki darimana. Dan rupanya kata “sedikit lagi” dalam jawaban dari pertanyaan itu tadi bersifat sangat relatif, yang dimaksud sedikit oleh mereka ternyata masih sangat  jauh bagi saya -____-. Tapi.. yah, bisa jadi itu memang menjadi salah satu cara umum bagi para pendaki untuk membakar semangat satu sama lain dalam meneruskan pendakian.

Perjalanan dari post 3 menuju puncak kami lakukan pada pukul 3 dini hari, perjalanan sedini itu kami lakukan semata-mata hanya untuk mengejar sunrise diatas sana. Semakin tinggi, jalan yang kami lalui semakin menanjak dan berbatu. Dan kacaunya, ditengah-tengah perjalanan, angin bagi saya ternyata tidak terlalu bersahabat, fenomena masuk anginpun menyerang tubuh saya pada waktu itu, akibatnya sebentar-sebentar saya harus berhenti akibat kondisi tubuh yang seperti ini.

Tahu apa yang saya lihat dan saya sadari dalam peristirahatan sejenak saat menuju puncak di dini hari itu?  Menakjubkan, saya melihat sebuah lukisan malam yang tidak terlupakan, lukisan malam terindah yang pernah saya lihat dalam hidup. Ketika saya memandang ke bawah, lampu kota terlihat berkelap-kelip dibawah sana, indah luar biasa. Dan ketika saya memandang keatas, wow... kelap-kelip bintang rupanya tidak mau kalah, bagaikan permata yang menempel di kain permadani gelap bernama langit malam, dan disana.. bulan mulai berjalan menuju horizon, beranjak pulang melepas malam. Dan saya duduk disini diatas sebuah batu, di salah satu bagian kecil dari badan gunung, dibawah kolong langit, di salah satu sudut kecil dunia. Betapa besarnya alam ini dan betapa kecilnya saya.

“Ayo lanjut lagi pelan-pelan, kalo jam setengah 5 nanti kita belum mencapai persimpangan sana, maka mungkin kita bakal gak sempat dapet sunrise lho” kata salah satu pendaki senior yang berjalan beriringin dengan saya sejak tadi. Tapi sungguh kondisi badan saya rasanya hampir tidak mungkin dipaksakan untuk terus naik, saya tetap duduk dan ngos-ngosan sambil berkata didalam hati,
“Waktu... berhentilah, berhentilah sebentar, saya ingin melihat sunrise, tapi saya harus istirahat dulu sebentar, waktu, berhentilah sebentar... pliiiss...tunggu saya...”
 saya bahkan hampir memutuskan untuk meyerah, tidak apa-apalah jika memang saya harus melihat sinar sunrise dari balik sini saja, rasanya saya butuh istirahat lebih lama disini.

“Kalau memang gak sanggup naik lagi yaudah gapapa, kesehatan jauh lebih penting..” kata beliau lagi, mungkin karena melihat kondisi tubuh saya yang tidak meyakinkan lagi untuk melanjutkan perjalanan. Mendengar itu entah kenapa semangat saya justru terpacu, saya pikir sudah kepalang tanggung, sudah terlanjur mendaki ya kudunya harus sampai puncak. Dan akhirnya pula saya sadar, tidak ada gunanya berdialog dengan waktu, adalah hal yang sangat sia-sia sejak tadi memintanya untuk menunggu saya, bulan bahkan tetap semakin tergelincir, waktu tidak mau berhenti, tidak mau menunggu, sebentarpun tidak. Jadi tidak ada pilihan lain, sayalah yang harus mengejar. Kali ini, perlahan kaki ini mulai berjalan lagi, bersiap menjemput bola emas di garis horizon  1 jam lagi.

Saya seperti berada di negeri Teletubbies, berjalan di tengah-tengah satu bagian gunung yang bentuknya seperti bukit-bukit sabana di atas sana, entah namanya apa. Dan menakjubkan lagi, ketika berjalan di suatu jalan kecil yang sisi kanan kirinya jurang itu saya sekaligus merasa berjalan di dua dunia, di sebelah kiri saya langit masih cukup gelap dengan bulan yang siap menghilang, dan disisi kanan saya langit mulai terang pertanda matahari sebentar lagi datang, dan horizon menjadi penghubung  diantara keduanya, dan karenanya mereka damai mengikuti putaran alam.


Matahari itu masih sembunyi dibawah sana, tapi bias sinarnya tidak, sang waktu membuat sinarnya berpijar memberi tanda pada dunia bahwa sebentar lagi matahari akan tiba, tidak bisa ditunda, tidak bisa berhenti, dan saya sudah tahu tentang hal itu. Tidak mengapa... karena saya sudah mengejarnya, saya sudah disini, dipuncaknya... 
 





 Jogja, 24 Oktober 2012.

Senin, 15 Oktober 2012

Sebatang Pohon dan Bintang (Part 2)



Sore hari di ruang astronomi, di sela-sela sang dosen astronomi sedang menerangkan materi kuliah astronomi tentang Gaya pasang surut yang berhubungan dengan bumi, bulan, dan matahari, percakapan kedua sahabat itu berlanjut..

A                 : Aku mau jadi sebatang pohon Oak..

B                 : Kamu mau jadi pohon Oak yang hidup berabad-abad lamanya itu? 

A                 : Iya...

B                 : Sampai semua pergi meninggalkanmu? Lalu kamu berdiri sendiri disitu?

                     .....

A                 : 

Aku memiliki seorang teman, sudah terlalu dekat, seperti sudah mengenal dekat. :)
Tapi.. aku tidak mungkin mencintainya :D, karena dia adalah wanita, dan aku juga.
Entah seperti apa kedekatan kami, aku sendiri tidak paham. :)

Katanya, gemintang terlalu memikat hatinya
Dan dia berharap, jika memang bisa dilahirkan kembali
Bisa turut berjejer menjadi gemintang
Berkedip, bercahaya, jauh disana...

Entah...
Biarkan saja
Aku lebih suka menjadi pohon Oak saja
Biar waktuku lama...
Aku akan bisa memandangmu setiap malam
Dan kamu akan terus memandangku setiap saat...
Walaupun kamu ada dibelahan sana...
Aku masih tetap disini, di tempat yang sama. :)

Ephul,
5 pm. 15 Okt 12

                 .....

             B :
Manusia jahil tingkat dewa yang satu ini benar-benar sukses membuatku speechless.
 Aku.. mungkin belum bisa menjadi sahabat baik baginya, tapi satu yang jelas... dia adalah salah satu sahabat terbaikku, sahabat dari satu mahkluk yang dia bilang irasional, aneh, dan sedikit konyol mungkin.

             Aku kekanak-kanakan, dan dia tidak kalah kekanak-kanakan. Kadang aku bertanya-tanya sendiri, kapan kami bisa menjadi dewasa jika tingkah kami begini terus? :D Tapi aku rasa tidak perlu khawatir akan hal itu, karena ternyata selalu ada saat-saat dimana aku bisa menjadi lebih dewasa dari dia, dan dia lebih dewasa dari aku.

       Kami tidak selalu bersama-sama sepanjang waktu, tidak. Aku paham dengan jadwal khususnya, dan dia paham dengan aku yang kadang butuh waktu sendiri. Tidak mengapa, bukankah deretan kata akan menjadi suatu kalimat yang lebih bermakna jika ada spasi disela-selanya. Aku tidak pernah menjanjikan solusi untuk masalah yang dia punya, dia juga tidak, tapi pada akhirnya kami tahu, bahwa persahabatan tidak selalu butuh itu, “selalu ada” saja sudah lebih dari cukup.

             Hal yang paling aku takutkan adalah jika kedua bola mataku tertangkap oleh bola matanya. Entah aku tak habis pikir dia mempunyai bakat terpendam dari nenek moyangnya atau apa sehingga tebakannya berkali-kali telah terbukti benar, aku berkata I’m okay dan dia tahu kapan waktunya untuk mengatakan padaku I know you’re not, seperti tidak ada yang bisa aku sembunyikan darinya.

             Dia tahu betul aku suka bintang, aku bilang kalau punya anak, anakku ingin kuberi nama Orion (Ion), Antares (Ares), dan Vega. Dan aku tahu dia ingin menjadi pohon, kuusulkan agar nama anaknya kelak diambil dari nama latin pepohonan saja, bagaimana kalau Zea Mays, atau Oriza Sativa ? Hihiii... no, no, akan kucarikan ide dari nama latin yang lebih bagus. :D

            Suatu hari pernah dia bertanya, apa aku kesepian. Kujawab tentu saja tidak, aku punya banyak hal, lagipula bintang dilangit itu kan tidak pernah sendirian, bukankah aku satu diantara jejeran bintang. Apalagi dibawah sana ada pohon Oak, yang kokoh tegar berdiri meski di hembus oleh angin kencang dari arah manapun. Pohon Oak hidup lama, meski makhluk –makhluk yang nyaman bernaung dibawahnya telah pergi atau berganti dimakan waktu, ia tetap tidak akan sendiri, karena bintang tidak akan pernah hilang, kalaupun harus pergi, suatu hari bintang itu pasti kembali pada posisi altitud dan azimuth yang sama, mengikuti putaran alam, takdirnya.

                Meski dia pernah bilang bahwa bintang itu rumit, sulit dimengerti, tapi sepertinya tidak juga. Untuk mengerti, dia tidak perlu menjadi astronom yang meneliti bintang secara detail, atau menjadi nelayan yang harus ahli membaca rasi gemintang ditengah lautan. Menjadi pohon oak saja, yang bertahan lama berdiri kokoh tidak kemana-mana, mengerti bintang selalu ada pada posisinya, dan bintang mengerti ia masih berdiri disana. Itu saja sudah mengerti.

Endud,
8 pm. 15 okt 12


Endud + Epul =














Jogja, 15 Oktober 2012

Jumat, 12 Oktober 2012

Sebatang Pohon dan Bintang



Percakapan tulisan geje dengan seorang sahabat di sela-sela sang dosen sedang memberikan materi kuliah, dikala keboringan hebat melanda di siang bolong. Oh Pak Dosen maafkanlah kami karena sejenak berpindah mengikuti kuliah yang hanya ada di dunia kami sendiri... -___-

A             : Jika aku dilahirkan kembali, aku ingin lahir sebagai sebatang pohon.





B             :  Kenapa? Pohon itu bisa ditebang sama orang lho :p

A             : -_____-
Karena pohon itu... dia tidak pernah berpindah, akarnya jauh kemana-mana, dan batangnya berkembang terus. :)

B             : Jika aku dilahirkan kembali, aku ingin lahir sebagai bintang, karena bintang itu selalu bersinar dan selalu ada, walau orang mengira ia tiada ketika awan tebal menutupinya.


A             : Tapi bintang itu suka berpindah, suka menggoda dari kejauhan, dan dia berkedip-kedip pada semua. :p

B             : Bintang itu tidak berpindah kok. Bumi saja, tempat orang memandangnyalah yang berputar. Dibutuhkan keterampilan yang tidak sembarangan untuk mengerti dan memahami posisinya. Bukan dia yang berkedip-kedip, bumi sajalah yang tertutupi suatu selubung yang akhirnya membuatnya terlihat berkedip-kedip.

A             : Rumit...  Gemintang ingin selalu ingin dimengerti dengan caranya. Karena tidak tampak, tersembunyi, dan jauh... Jika tidak sanggup, mungkin pengamat akan berhenti.

....

A             : Cepat dijawab -___-

B             : Bentar to -___-

                ....

B             : Tidak ada unsur paksaan untuk mengerti bintang, tuntutan budaya dan ilmu pengetahuan pun tidak bisa dijadikan paksaan untuk seseorang bisa mengerti bintang, itu dari hati. Itu sebabnya tidak banyak orang berprofesi sebagai astronom, juga tidak banyak orang berani jadi nelayan yang biasanya pergi ke laut dengan hanya mengandalkan gemintang, tidak semua orang pula bisa benar-benar merasa senang dengan memandang dan merasakan sinarnya, memang tidak. Biarkan saja ia hidup dengan caranya, Antares tetap menjadi si raksasa merah, Sirius tetap menjadi si putih yang cemerlang, bintang biarkan saja tetap menjadi bintang. Ngerti gak maksudnya apaan?

A             : Gak

B             : yasudah aku juga gak -______-

                ....

B             : Aku belum tanya tentang pohon...
(bersambung...)

Siang bolong di salah satu sudut kelas, 10 Oktober 2012

Double E

JAGA DIRIMU



Kamu mungkin terlalu sibuk, atau memang mencari sibuk entah untuk alasan apapun itu, berlari kesana kemari untuk mencari passionmu, mengejar cita2mu, mewujudkan setiap ambisimu...

Sampai-sampai sekilas tampak kamu seolah tidak menyayangi dirimu sendiri, membiarkannya kelelahan, merampas haknya ketika ia butuh berhenti sejenak dan mengambil nafas...

Kamu lupa pada seseorang disana yang pernah memintamu untuk menjaga dirimu baik-baik ketika dia tak lagi bisa secara penuh berada disampingmu untuk menjagamu, dia yg telah percayakan jiwamu untuk menjaga ragamu, ragamu untuk menjaga jiwamu...

Dia yang perduli pada dirimu melebihi pedulinya kamu terhadap dirimu sendiri, dia yang mengkhawatirkanmu melebihi khawatirnya kamu terhadap dirimu sendiri, dia yang pasti akan menjadi orang pertama yang paling cemas jika sesuatu yang buruk terjadi padamu, dia yang pernah berkata bahwa dia tidak akan menjadi bangga saat impianmu tercapai jika harus dibayar dengan rapuhnya ragamu...

Jaga dirimu, bukan untuk kamu, terserah, karena mungkin bagimu kamu sanggup untuk menahan atau mengatasinya sendiri...
Jaga dirimu, bukan demi kamu, karena mungkin kamu memang tidak begitu perduli, atau barangkali kamu anggap ambisimu jauh lebih penting daripada dirimu.
..

Jaga dirimu, bukan untuk dirimu, jaga dirimu untuk dia, untuk ibumu, demi ibumu, karena mungkin kamu tidak akan sanggup untuk menatap matanya yang tidak akan terpejam karena mengkhawatirkanmu saat sesuatu terjadi padamu, dengan getar bibirnya yang tak pernah berhenti berdoa pada Tuhan meminta agar kamu selalu baik-baik saja...
Kamu tahu itu bukan?
Jaga dirimu baik-baik.


 Jogja,12 Oktober 2012

Kamis, 06 September 2012

Thanks For Being The Best Father in The Whole Universe For Me


Hari ini, sebelas hari semenjak kepergiannya dari dunia ini...
Beberapa jam sebelum burung besi membawaku lepas landas meninggalkan kota tempat aku dibesarkan ini...

                 Hampir sebulan yang lalu, ketika aku harus tergesa-gesa dengan perasaan cemas tidak karuan mendatangi Airport di kota yang sudah kutinggali selama 2 tahun ini. Airport sebagai tempat yang selama ini kubenci ternyata hari ini berbaik hati padaku dengan membiarkanku lolos dari pintu check in dengan nama di tiket yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan nama depan, tengah, maupun nama akhirku. Ini darurat, dan Tuhan ternyata sudah menset Airport dan segala perangkatnya untuk mengerti aku.

Yang bisa kulakukan setelah mendengar berita bahwa ia harus masuk di salah satu sudut tergenting di rumah sakit hanyalah berdoa dan terus bertanya-tanya dalam hati bagaimana keadaannya saat ini, tanpa berani memastikan sendiri walau sebenarnya aku bisa melakukannya saat itu juga dengan menghubungi  mama di seberang sana lewat telepon, tapi aku tidak melakukannya, selain karena aku sudah bisa menebak jawaban mama yang selalu menghapus kekhawatiran dengan mengatakan bahwa semua baik-baik saja, aku pun ternyata masih seperti dulu, terlalu takut menerima kenyatan. Kekalutan terus menyelubung disekitarku melebihi dinginnya tiupan angin malam saat itu. Tuhan Maha Baik, Ia tahu aku mungkin tidak akan sanggup melewati perjalanan jauh ini seorang diri dalam kondisi yang seperti ini, dikirimkannya kakakku ke kota ini sejak beberapa hari yang lalu untuk suatu alasan yang mungkin terlihat kebetulan bagi orang lain, tapi tidak bagiku, aku percaya untuk alasan inilah Tuhan mengirimkannya, untuk menemani perjalanan pulangku, meski di sepanjang jalan kami lebih banyak membisu, namun diam sudah cukup untuk menggambarkan kegelisahan kami masing-masing, tanpa perlu ditambah dengan kata-kata lagi.

                Tidak seperti pada kepulanganku sebelumnya, yang menjadikan pintu rumah sebagai garis finish terindahku setiap kali kembali ke kampung halaman ini. Pukul 3 dini hari pintu ruang tergenting itulah yang menjadi tujuan kami berlari sesampainya disana.  Ia sadar akan kedatanganku, mengangguk-angguk tanda mengerti apa yang kuucap, kukatakan padanya sambil tersenyum bahwa semua akan baik-baik saja dan sebentar lagi ia pasti akan sembuh, ia mengangguk. Namun keesokan harinya, ia melewati hari dengan lebih banyak memejamkan mata, dan mereka bilang itu koma.

Tiba-tiba saja ingin rasanya aku menjadi seorang dokter, suatu profesi yang  selama ini paling tidak kuminati karena tidak tahan mental untuk menghadapi berbagai penyakit yang diderita oleh orang-orang, tapi kali ini aku sungguh berandai-andai menjadi seorang dokter, lengkap dengan gelar Sp. S dibelakang namaku agar aku tahu cara terbaik untuk mengobatinya, andai.  Stroke itu, merusak 12 saraf kranial yang bertumpu pada batang otaknya, sempat terbayang olehku, tanpa 12 saraf yang amat penting itu apa jadinya hidupnya kelak, dokter bilang obat-obatan mungkin akan bisa menghidupkan kembali saraf-saraf krusial itu, tapi mungkin akan butuh waktu lama, dan satu lagi, sulit.

                Beberapa hari mata itu kembali terbuka melihat dunia, meski masih lebih sering dihabiskan untuk tidur oleh pemiliknya, tak kuasa melawan pengaruh obat mungkin. Jika pagi tiba, ia selalu membuka mata, termasuk di pagi Hari Raya Idul Fitri ini. Kepadanya kuulangi kebiasaanku setiap harinya untuk menceritakan banyak hal disampingnya, tentang kuliahku, tentang pohon rambutan yang kutanam bersamanya di halaman rumah, tentang keluarga besar, tentang bintang yang suka kulihat, tentang nada-nada doremifasolasido yang diperkenalkannya sejak aku masih berusia 5 tahun, tentang rencanaku untuk memperdalam bahasa Inggris di Kampung Pare seperti yang pernah diharapkannya, “mungkin sekarang masih belum sempat, tapi suatu hari kamu harus belajar kesana” katanya dulu, tentang kalimat yang menyatakan bahwa aku sangat menyayanginya yang  sebelumnya amat jarang kuuucap, dan tentang banyak hal lainnya, termasuk syukurku untuk lebaran yang masih utuh dengan seluruh keluarga di tahun ini, kali ini meski harus ditempat ini, tanpa perduli lagi pada warna warni kembang api lebaran diluar sana. Aku masih bersamanya sudah cukup, dan aku percaya ia mendengar setiap kalimat yang kuucap.

                Langkahku selalu melambat setiap kali akan memasuki ruang tempat dimana alat-alat kesehatan dan para petugas kesehatan mondar-mandir selama 24 jam memantau keadaannya. Nada-nada yang terdengar dari monitor pendeteksi detak jantung yang ada di ruangan ini benar-benar membuat dadaku sesak dan ingin menutup telinga rapat-rapat, ialah nada penanda kehidupan seseorang yang seolah sedang menggantung pada seutas benang atau semacamnya. Nada itu, bagiku justru terdengar seolah mengancam, ada perasaan seakan tak terima kenapa ia harus dipasangi alat pendeteksi kehidupan seperti ini, ia akan terus hidup, kataku di dalam hati.  Ternyata ini rasanya, menatap orang yang kita sayang tengah berbaring dengan hidupnya yang bahkan harus dipantau setiap saat oleh alat-alat yang menempel dan bahkan mendominasi separuh tubuhnya. Udara dari tabung oksigen yang mengintervensi nafasnya dan berbagai macam cairan kimia yang menginjeksi tubuhnya setiap beberapa jam sekali itupun tetap tidak bisa memberikan semacam jaminan untuk ia bisa pulih seperti sedia kala. Hingga tiba saatnya, aku dan mereka harus belajar menerima bahwa inilah jalan terbaik yang Tuhan pilihkan.

Dad, thanks for being the best father in the whole universe for me.
. . . .
Dulu sekali dia pernah bilang padaku bahwa menangis untuk seseorang itu tandanya sayang. Ya you’re right, I love you Bapak, so much.

Tanjung, 03 September 2012.

The Way You Learn How to Accept


Seperti orang pada umumnya, setiap malam kamu selalu tidur, tidur lelap, tak perduli apakah tidurmu memenuhi standar kuantitas dan kualitas tidur orang di dunia ini pada umumnya atau kah tidak. Kamu terlalu terlelap memaknai tidur bagi dirimu sendiri.


 Tidur bagimu adalah persembunyian yg paling aman, persembunyian dari kenyataan yang terus mengejar.  Kamu tahu, kenyataan tidak selalu mampu menjadi teman yang baik, menemanimu berjalan sesuai langkah yang bisa kamu jejak, kadang ia berlari, dan kamu lelah, lalu tidur mnjadi satu-satunya tempat kamu melupakan segalanya untuk sejenak, semacam dimensi lain yang bisa dijadikan sebagai markas persembunyian yg paling aman.  Sampai beberapa saat kemudian kamu harus bangun, untuk kenyataan.


Kamu rapatkan lagi kepalamu dengan bantal, seolah memaksanya untuk menina bobokan dirimu agar kamu bisa tertidur, kamu pejamkan matamu membunuh insomnia, kamu hanya ingin tidur, sebentar pun tak mengapa. Batinmu butuh tidur, melebihi kebutuhan tubuhmu sendiri untuk itu. Meski kamu tahu, bahwa tidur tidak selalu menjanjikan ketenangan, kadang kamu harus memainkan peran menghadapi hal yang menakutkan atau hal paling menyedihkan yang tidak bisa kamu bayangkan bila benar-benar terjadi dalam hidup nyatamu. Namun sejak awal kamu mengerti  bahwa tidur adalah tempat yang paling aman, semua yg menakutkan dan menyedihkan hanyalah kamuflase, kamu terbangun dan masih bisa bersyukur bahwa itu hanyalah mimpi buruk, kamu bisa menghentikan kehidupan di alam tidurmu ketika kamu akan memulai hari nyatamu.


Hingga suatu malam, kamu mengalami hal menakutkan lagi, hal menyedihkan lagi, dan kamu berusaha keras untuk bangun, atau setidaknya berharap ada seseorang yg berbaik hati membangunkanmu dari mimpi buruk ini meski ayam jantan bahkan belum memberi salam pada matahari. Tidak ada yang berubah, tidak ada ambang kesadaran yang kamu lewati seperti jika kamu baru terbangun dari tidurmu. Dan akhirnya kamu sadar bahwa kamu tidak sedang tidur, tiada siapapun yang perlu untuk dibangunkan, kamu tidak sedang berada pada persembunyianmu yang paling aman itu, ya, kali ini kamu tidak tidur, kamu tidak sedang bermimpi buruk, ini nyata, kamu.. sedari tadi sedang mencoba berdamai dengan kenyataan..


Tidur, kamu ingin tidur, kamu ingin pergi ke ruang yang mungkin memang paling aman, tapi hanya mampu sesaat saja menyembunyikanmu dari kenyataan. Sampai akhirnya kamu sadar bahwa tidur ataupun tidak, tidak ada pilihan terbaik selain berdamai dengan kenyataan. That's the way you learn how to accept the reality.


Tanjung, 27 agustus 2012